
Hanya sedikit penat, ingin melambung dan melayang berharap meleburkan diri dengan mimpi. Untuk sesaat aku menjadi tuna rasa. (yuliashafira14)
Sudah hampir seminggu ini Gibran menjadi lebih pendiam dari biasanya, dia lebih banyak menyibukkan dan menenggelamkan diri pada pekerjaan. Apa yang dilakukan Gibran tidak terlepas dari pantauan kedua sahabatnya.
“Fahar apa Gibran punya masalah ?? Akhir-akhir ini dia terlihat lebih sering menghabiskan waktu untuk bekerja” tanyanya dengan mengambil secangkir kopi dari meja.
“Aku tidak yakin, sudah sepekan dia seperti itu, ketika aku bertanya jawabannya selalu sama kalau dia tidak apa-apa” ucapnya dengan nafas berat.
“Bagaimana saat kita pulang nanti kita mengajaknya makan malam di luar, aku akan menghubungi Kalya sebentar” sarannya dan segera mengambil handphone yang tergeletak sembarangan, tapi karena tidak diangkat Kalya mengharuskan Darel menghubungi Qiandra dan meminta dia memberitahukan pada Kalya akan kedatangan mereka.
“Apa kau yakin dia akan ikut ??” tanya Fahar penasaran.
“Tentu tidak, kalau dia menolak aku akan memaksa sampai dia bosan” jawabnya dengan tawa dan Fahar hanya bisa tersenyum mendengarnya.
Waktu sangat cepat berlalu dan benar saja sudah hampir satu jam Darel memaksa Gibran untuk ikut bersamanya dan Fahar, seperti dugaan Gibran menolak tapi tidak hilang akal Darel melakukan semua hal agar sahabatnya itu ikut.
“Kita akan ke mana ?? Aku benar-benar lelah hari ini” keluhnya di dalam mobil.
“Aku tahu kau lelah makanya kita akan pergi makan malam untuk mengisi energi, sebentar lagi sampai” jawabnya di belakang kemudi, sementara Fahar berada di sisi kiri. Karena Gibran terlihat sangat lelah akhir-akhir ini dan itu membuat kedua sahabatnya khawatir jika dia menyetir sendiri.
“Turunlah” dengan malas Gibran membuka matanya “Apa kita akan makan di Restoran ini ??” tanyanya penasaran.
“Tentu saja, kita tidak hanya bertiga tapi berlima. Aku akan kenalkan kalian pada tunanganku” jawabnya kemudian keluar dari mobil berkelas itu.
“Ayolah Ran, Darel sangat bahagia saat ini dan dia ingin membaginya bersama kita” ucap Fahar yang ikut menyusul Darel, dan Gibran tentu saja hanya bisa terdiam. Seminggu ini waktu yang sulit untuknya, menghilangkan seseorang tidak semudah itu ditambah dia akan bertemu saat ingin melupakan. Bukankah ini terasa sia-sia ?? Pikirnya !!
__ADS_1
“Qia mana Kalya” tanya Darel saat sudah masuk dan tidak melihat pujaannya di sana.
“Masih di ruangannya, dia menyuruhku untuk tetap di sini untuk menunggu kalian. Tapi sudah hampir 30 menit dia belum juga datang aku sudah menelpon tapi dia tidak mengangkatnya, tadi aku sudah meminta teman kerjaku menyusul ke ruangan Kalya” jelasnya.
“Aku akan ke ruangannya, bisakah kau pesankan makanan terlebih dulu ??” ujar Darel.
“Tentu saja” jawabnya kemudian menunggu kedua sahabat Darel, bukan tanpa alasan Qiandra melakukan ini. Dia hanya ingin menyambut orang-orang yang berharga dari tunangan sahabatnya tidak lebih.
Tok
Tok
Tok
Karena tidak mendapatkan sambutan dari dalam membuat Darel langsung berinisiatif untuk membuka daun pintu dengan pelan.
“Sedang apa kau, kenapa masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu terlebih dulu ?? Menyebalkan” gerutunya sambil menggeser kotak P3K yang ada di atas meja kerja, setelah ada yang mengantar kotak itu Kalya tidak mengizinkan untuk mengobatinya karena merasa itu hanya luka kecil yang masih bisa diatasi sendiri dan meminta teman kerja itu untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Kenapa tanganmu bisa terluka ??” entah sejak kapan Darel sudah berada dekat dengan Kalya, dan memeriksa tangannya yang terluka. Dengan cepat dia mencoba menarik tangannya tapi tentu saja tidak membuat Darel mengikuti permintaannya.
“Duduklah” pintanya dengan paksa menarik Kalya untuk mengikuti ke arah sofa dan mengambil kotak P3K tadi.
“Sudahlah ini hanya luka kecil, berhentilah bersikap berlebihan jangan melewati batasanmu Darel” ucapnya dengan sedikit emosi, ada yang mengganggu Kalya akhir-akhir ini tapi sulit sekali untuk mengatakannya.
“Siapa yang bersikap berlebihan, aku ingin melewati batas karena kau tunanganku. Karena ini luka kecil jadi harus diobati bukan ?? Apa kau ingin mengurusnya saat sudah terinfeksi begitu ??” tanyanya dengan sedikit membentak tentu saja membuat Kalya terkejut “Kemarikan tanganmu” lanjutnya dan tanpa bantahan Kalya membiarkan Darel membersihkan serta mengobati lukanya, entah karena luka itu terasa perih atau hatinya yang sakit membuat matanya kini berkaca-kaca.
__ADS_1
“Keluar sana” pintanya dengan suara menahan tangis, setelah selesai dia berdiri dan akan berlalu ke kamar mandi untuk menumpahkan kesedihan di sana tapi langkahnya terhenti saat Darel memeluk Kalya dengan erat dari belakang.
“Sayang maaf, aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Aku hanya tidak suka dengan semua perkataanmu tadi” dengan pelan Darel membalikkan badan Kalya untuk melihatnya.
“Aku tahu kau tidak menyukaiku, tapi mendengar perkataanmu tadi membuat aku benar-benar tidak diharapkan. Aku menyayangimu Kalya tentu saja ada rasa khawatir bukan ??” tanya dengan nada rendah. “Aku hanya ingin tahu apa yang mengganggumu tapi kau selalu saja marah padaku, sebaiknya aku pergi karena kehadiranku selalu membuatmu terganggu” ucapnya dengan rasa kecewa dan sedetik kemudian berbalik dan ingin meninggalkan ruangan tapi langkahnya tertahan oleh suara gadisnya.
“Kenapa kau tidak menghubungiku lebih dulu saat akan kemari ??” tanyanya dengan penuh rasa kesal dan masih di posisi yang sama, Darel berbalik dan semakin mendekatinya.
“Aku menelpon dan mengirim pesan padamu tapi kau selalu mengabaikannya bukan ?? Aku tidak punya pilihan selain menghubungi Qia, setiap saat aku ingin melihatmu jadi dengan tidak tahu malu aku memintanya mengambil gambarmu secara diam-diam. Qiandra membantuku agar tetap dekat denganmu walau harus menggunakan cara seperti itu !!” jawabnya.
“Kau tahu aku rasa aku tidak bisa memaksamu lagi untuk pertunangan ini” ucapnya dan menggenggam tangan Kalya untuk di kecup tepat di mana lukanya berada, Kalya hanya mengatur nafasnya antara rasa kesal dan rasa gugup atas perlakuan Darel.
“A-apa maksudmu” tanyanya penuh selidik.
“Yaaa aku rasa kau terbebani dengan pertunangan ini, aku ingin memperjuangkanmu tapi kau tidak menginginkan hal itu bukan ?? Aku sangat menyukaimu selama ini Kalya, tapi aku tidak ingin memaksamu lagi kalau kau tidak bahagia” lanjutnya mendengar hal itu membuat Kalya kembali meradang.
“Siapa yang mengatakan kalau aku tidak menyukaimu dan terbebani dengan pertunangan ini hah ?? Aku hanya berpikir kau menyukai Qia dan itu membuatku marah tanpa sadar” jawabnya dengan menggebu dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
“Awalnya aku memang tidak menyukaimu tapi sekarang berbeda, kau menyebalkan !! Bagaimana mungkin kau berkata tidak ingin memaksaku lagi, seharusnya kau membujukku dengan lebih giat bukannya menyerah begitu saja” ucapnya dengan nada rendah kemudian berbalik agar wajah sedihnya tidak terlihat Darel.
“Haruskah ??” tanya dengan senyum usil dan kembali memeluk Kalya dari belakang “Sepertinya cara ini sangat ampuh membuatmu jujur dengan perasaanmu sendiri” lanjutnya dan membuat Kalya berbalik.
“Apa saat ini kau sedang mempermainkanku” dengan cepat melepas kasar pelukan dari tubuhnya agar bisa melihat Darel yang saat ini tengah tersenyum “Kau benar-benar menyebalkan” lanjutnya memberontak dan akan memukul Darel dengan kedua tangan tapi hal itu hanya sebatas keinginan, dengan gerakan cepat tangan mulusnya ditahan oleh Darel dan di paksa melingkari pinggangnya.
“Berhentilah menghindariku sayang” ucapnya lembut merapikan anak rambut yang menghalaunya untuk melihat wajah cantik itu, Darel menatap Kalya penuh cinta dan tentu saja Kalya hanya terdiam mengalihkan pandangan dengan perasaan tidak karuan.
__ADS_1
“Apa kau bisa menatapku sayang” pintanya dan Kalya menuruti hal itu, Darel semakin mendekatkan wajahnya kemudian melanjutkan.
“Aku mencintaimu Kalya, bisakah aku melewati batas kali ini ??” Kalya hanya diam dan tanpa sadar menganggukkan kepala menatap Darel, seakan terbius akan kalimat yang didengar. Mata pria itu penuh cinta di dalamnya tanpa menunggu lama dia mengecup lama kening gadis pujaannya itu, perasaan hangat memenuhi Kalya tanpa sadar dia memejamkan mata dan membuka kembali saat kecupan itu usai “Bisakah kita memulai hubungan dengan benar kali ini ?? Aku benar-benar ingin bersamamu” ujar Darel dan di angguki Kalya dengan senyum cantik yang menghiasi wajahnya.