
Terlalu lama berdiri dititian yang rapuh, aku mengambil beberapa langkah agar mampu membuatmu keluar dari lingkaran itu. (yuliashafira14)
2 pekan berakhir dan Gibran semakin gencar menunjukkan ketertarikan pada Qiandra, kediaman dan sikapnya yang acuh tidak membuat Gibran menyerah. Sebaliknya !! Perasaan itu tumbuh semakin subur dan memenuhi hatinya.
Mood Gibran benar-benar mempengaruhi apapun yang di kerjakan, mungkin sebagian orang akan berpikir bahwa dia berlebihan dalam mengekspresikannya. Bukankah cinta memang seperti itu ?? Sering datang sesukanya dan mengendalikan apapun !!
“20 menit lagi waktu makan siang, bagaimana kalau kita ke Restoran tunanganku” ajak Darel, mereka baru selesai mengadakan rapat rutin bulanan. Menjadi perusahaan besar membuat mereka harus berkerja lebih keras dari yang lain.
“Apa kau harus menyebut Kalya sejelas itu” ungkap Fahar dan Darel tentu saja dia tersenyum mengejek, seakan berkata dasar jomblo berkarat.
“Beri aku waktu 5 menit untuk menyelesaikan ini, setelah itu kita pergi” sela Gibran tanpa menoleh, mereka masih berada di ruang rapat saat ini.
“5 menit apa itu waktu yang cukup, kalau kau sibuk ka-“ ucapan Darel disela Gibran “Selesai, ayo” ajaknya langsung berdiri dan langsung keluar tanpa menunggu kedua sahabatnya, seakan saat ini dia berburu dengan waktu.
“Secepat itu ??” tanya Darel dan Fahar hanya tertawa menepuk pundaknya.
“Apa dia tidak sabar sekarang, astaga ternyata begini sikapnya kalau menyukai seseorang” entah harus sukacita atau jengkel saat ini, Gibran benar-benar mendahului kedua sahabatnya.
“Aku rasa kau keliru, Gibran tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Tentu saja Qia yang menjadi gadis pertama yang membuat dia seperti itu” ungkapnya menunjuk Gibran dengan dagu, saat ini pria itu sudah memasuki mobil silver miliknya, kali ini mereka memutuskan menggunakan mobil berbeda.
“Ck yaaa kau benar” ucap Darel sebelum menyusul mobil Gibran yang telah membelah jalanan.
******
Restoran saat ini 2 kali lipat lebih ramai dari biasanya, tentu saja hal ini tidak lepas dari launcingnya menu baru di tempat itu. Yaaa, mereka yang berdesakan saat ini ingin menikmati beberapa makanan dengan rasa baru, Kalya dan Qiandra benar-benar kerepotan.
“Ramai sekali, apa ada acara khusus hari ini ??” tanya Gibran pada Darel, dan Fahar hanya mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban.
“Aku lupa, hari ini mereka meluncurkan menu baru untuk Restoran sebagai menu utama. Tapi kalian tidak perlu khawatir aku sudah memesan tempat” langkah mereka membawa untuk mendekati Kalya.
__ADS_1
“Bukan itu yang aku khawatirkan” gumam Gibran menoleh pada Qiandra yang terlihat sangat sibuk sampai tidak menyadari kedatangan mereka.
“Hai kasihku” sapa Darel, panggilannya selalu saja berubah untuk Kalya. Yang jelas sebutannya merujuk pada kepemilikan, kepunyaan dan status. Benar-benar menyebalkan di mata Fahar sebagai seorang jomblo sejati.
“Hai juga” jawab Kalya semringah menyapa ketiga pria tampan itu. “Pergilah ke meja biasa aku akan menyusul nanti” saat kedua sahabatnya menuju meja Gibran masih menatap Qiandra yang berada lebih jauh dari jarak mereka saat ini. Sesaat arah pandangnya teralihkan pada pelanggan yang akan menubruk Qiandra dengan sup di tangannya.
Cccaaarrr...
Bbbrrruuukkk…
Bunyi yang mampu mengalihkan fokus orang-orang ke arah suara itu, dan terlihat Gibran melindungi Qiandra dari tumpahan sup yang lumayan panas. Akibatnya dia tidak bisa menopang tubuh dan saat ini posisi mereka di lantai dengan Gibran yang menumpu di kedua lutut. Bahu kanan yang hanya terbalut kemeja putih itu terasa perih, untuk pertama kalinya Gibran merasa menyesal menanggalkan jas di mobil silver itu.
“Kau tidak apa-apa” tanyanya dengan menyentuh bahu Qiandra yang terkejut.
“Astaga maafkan saya tuan, maaf” ucap seorang wanita paruh baya, dia benar-benar merasa bersalah dan semakin gemetar karena jadi pusat perhatian.
“Qia bawalah Gibran ke ruanganmu, dan Fahar hubungilah dokter untuk memeriksa kulitnya. Aku dan Kalya akan mengurus hal ini” ucap Darel dan diangguki tunangannya, tanpa di perintah 2 kali Qiandra menarik tangan pria itu untuk mengikutinya. Demi apapun, rasa perih yang dirasakan Gibran meluap begitu saja dan di gantikan perasaan bahagia saat ini. Tangannya hanya di genggam dan itu mampu membuat dia tidak merasakan dampak dari kejadian tadi.
“Duduklah dan cepat buka kemejamu” perintah Qiandra sedikit panik dan berhasil membuat Gibran berpikiran lain.
“Apa ??” tanyanya tidak percaya “Aku ingin melihat bahumu, kalau masih pakai kemeja bagaimana aku tahu separah apa kulitmu melepuh” ucapnya memperjelas dan mengambil kotak P3K dari lemari kecil di sudut ruangan.
“A-a-ah begitu, aku pikir apa. Bahuku baik-baik saja” semua berbeda, wajah dan ucapannya tidak sejalan saat ini. Tidak memedulikan kalimat lawan bicaranya Qiandra mendekati Gibran dengan kotak di tangannya.
“Kau yang buka atau aku yang buka” wow orang akan berpikir gadis ini mulai agresif dengan keinginannya, “Aku aku saja” ucapnya gagu tiba-tiba dengan pelan dia membuka kancing kemeja miliknya tapi tidak benar-benar membuka seluruhnya tanpa sehelai benang di bagian tubuh atas itu, entah gadis itu mungkin sudah kembali kepikiran normal atau apa ??? Qiandra mengalihkan wajahnya saat melihat tubuh orang lain.
"Kau tidak perlu melakukannya kalau tidak nyaman” ucap Gibran.
“Aku menginginkannya” jawaban cepat Qiandra ambigu, entah ini keberanian dari mana tapi itu keluar dari mulut manisnya.
__ADS_1
“Kau baik-baik saja ??” untuk memecah keheningan pertanyaan itu dia lontarkan dan melirik Qiandra dengan wajah tanpa ekspresi.
“Aku yang seharusnya bertanya seperti itu, lihatlah bahumu melepuh dan begitu merah” jawabnya menatap Gibran dengan dagu yang di angkat menunjukkan objek dan mulai membersihkan untuk diobati.
“Maaf tapi aku tidak bisa melihatnya” membuat Qiandra tersenyum mendengar kebenaran itu, Gibran dengan betah masih memandang gadis manis di hadapannya. Dia tersenyum dan itu membuat Gibran terpanah untuk kesekian kalinya.
“Terima kasih Gibran” untuk pertama kali pria itu mendengar Qiandra berkata lembut dan sangat manis “Dan maaf” lanjutnya dengan wajah menunduk dan nada yang sepenuhnya merasa bersalah. “Selama kau baik-baik saja aku bersyukur untuk itu” entah sadar atau tidak Gibran mengangkat dagu Qiandra memastikan sendiri bahwa sinar rembulan masih berada di tempat yang seharusnya, yakni wajah Qiandra !!! saat ini mereka bersitatap tanpa bicara. Dan wah ini membuat kedua insan itu terbang dengan pikiran masing-masing.
“Qia” panggil Kalya yang membuka pintu dan tentu terkejut disajikan pemandangan yang mana Qiandra mengikis jarak dekat seorang pria yang mati-matian ingin dijauhinya, kemajuan kata itu yang ada di pikiran Kalya.
“Apa aku boleh masuk” ucapnya dengan diiringi batuk buatan.
“A-ah masuklah, aku hanya mengobati lukanya” jelas Qia dan bangkit dari sofa untuk memberi jarak dirinya dan Gibran padahal Kalya tidak bertanya. "A-ah masuklah" goda Kalya dan hanya di lirik Qiandra “Kenapa wajahmu ???” dengan seksama dia memeriksa inci wajah itu“Apa kau demam, pipimu bersemu” ejeknya dan Gibran pria itu hanya tersenyum.
“Bagaimana keadaanmu ???” tanya Fahar yang telah memasuki ruangan bersama Darel dan seorang pria berjas putih.
“Seperti yang kau lihat, Qia membantuku untuk merasa lebih baik” tentu saja semua mata melihat kearahnya.
“Baiklah saya akan mengeceknya” ucap dokter memutus perhatian, dengan sangat teliti pria itu menyentuh bahu kanan itu. “Sepertinya nona sudah melakukan pertolongan pertama, untung saja supnya tidak sepanas air mendidih jadi lukanya pun tidak begitu parah. Hanya butuh waktu beberapa hari untuk menghilangkan tanda ini” menunjuk kulit Gibran “Saya sarankan untuk selalu di bersihkan dan diobati, dan satu hal lagi jangan sampai terkena air” sambungnya.
“Mari saya antar dok” ucap Fahar setelah segala pemeriksaan dilakukan dokter itu.
“Mana ponselmu” pinta Qiandra tiba-tiba membuat mereka terdiam “Mana ponselmu” ulangnya dan Gibran sibuk mengeluarkan benda pipih itu dari saku “Kalau kau perlu bantuan hubungi aku” ucapnya sambil menekan beberapa digit angka di sana. Kalya tersenyum melihat Gibran yang tidak bisa menyembunyikan rasa senang saat ini, benar dugaannya pria itu punya minat pada Qiandra.
“Apa yang kau lihat ???” tanya Darel membuyarkan lamunan Kalya.
“Apa yang ku lihat ???” tanyanya balik dengan bingung “Kenapa melihat tubuh Gibran membuatmu tersenyum seperti itu, tutup matamu. Kau hanya di izinkan menggunakan matamu melihatku” sambungnya menutup kedua kelopak mata Kalya dengan tangannya. “Tubuhku bahkan lebih bagus dari punya pria itu” membuat Kalya geli mendengarnya. “Kau ini benar-benar, menggemaskan” Kalya tidak habis pikir dengan Darel yang tingkat kepedeannya melebihi gunung Himalaya, tapi yang aneh Kalya menyukai hal itu.
“Aku akan ambilkan makanan untuk Gibran, kalian temanilah dia” Qiandra dan Gibran sedari tadi hanya diam tidak habis pikir dengan sepasang manusia itu, menyadari pria yang menolongnya belum makan dia berinisiatif mengambilkan sesuatu daripada mendengar ocehan yang tidak ada habisnya itu.
__ADS_1