
Apa kau tahu? Aku bahkan sulit berbagi pada langit, hamparan luas itu mampu menyita perhatianmu. Sekali saja, bisakah kau melakukan hal yang sama padaku? (yuliashafira14)
“Permisi…saya mau bertemu dengan pak Gibran, apa beliau berada di tempat?” Qiandra saat ini berada di perusahaan milik pria itu, saat pertama kali masuk saja sudah membuatnya begitu terpukau. Bagaimana tidak, tempat ini jauh berbeda dari tempat yang pernah dia datangi sebelumnya.
“Maaf nona, apa anda sudah membuat janji temu?” karena begitu terburu-buru Qiandra mendadak lupa cara kerja perusahaan, janji temu? Dia bahkan sudah lama tidak melakukannya.
“Bagaimana aku bisa membuat janji kalau panggilanku saja dia abaikan?” jawab gadis itu polos, astaga apa dia tidak pernah membuat janji sebelumnya?!
“Jika ingin membuat janji temu silahkan hubungi sekretaris beliau, karena pak Gibran bukan orang sembarangan yang dengan mudah bisa dihubungi oleh orang lain.” Ucap Resepsionis itu dengan nada remeh, ck apa dia tidak tahu seberapa semangatnya Gibran jika Qiandra sampai menelpon!?
Bagaimana ini? Sulit sekali bertemu pria itu, apa Qiandra harus menyelinap agar bisa masuk? Tunggu, menyelinap? Apa yang Qiandra pikirkan!? ruang kerja Gibran saja dia tidak tahu di lantai berapa. Otaknya berputar, pasti selalu ada jalan untuk setiap hambatan bukan? Tiba-tiba, dia mengotak atik ponselnya untuk mencari kontak seseorang di sana.
“Darel di lantai berapa ruang kerja Gibran?” ucapnya tanpa sapaan atau sekedar basa-basi.
“Lantai 30, kenapa kau tidak tanyakan pada Resepsionis yang bertugas?” balas Darel dengan sedikit keheranan di seberang sana.
“Seandainya semudah itu bertanya pada mereka aku tidak akan menelponmu, katanya aku belum membuat janji temu. Karena hal itu membuatku kesulitan untuk bertemu dengan Gibran.” Apa Qiandra tengah berkeluh kesah saat ini? sangat nampak memang!
“Berikan ponselmu pada Resepsionis itu, biar aku yang bicara dengannya.” Perintah Darel, pria itu ingin terdengar cool tapi jatuhnya begitu songong untuk orang lain.
“Maaf, tapi seseorang ingin bicara denganmu.” Dia menyodorkan ponsel pada gadis yang bertugas sebagai Resepsionis itu, bingung? Sempat dirasakannya, tapi sejurus kemudian dia menerima ponsel Qiandra.
Entah apa yang keduanya bicarakan, yang jelas ada perubahaan dari wajah gadis itu setelah mendengar suara yang menjadi lawan bicaranya. Qiandra ingin melihat seberapa besar pengaruh Darel di perusahaan itu saat ini!
“Baik Pak.” Ucapnya dan mengembalikkan ponsel Qiandra.
__ADS_1
“Maaf karena bersikap tidak sopan nona, silahkan anda bisa langsung masuk. Ruang pak Gibran berada di lantai 30, ruangan paling besar dari yang lainnya. Apa perlu saya antarkan?” luar biasa, sikap yang bertolak belakang dari yang tadi, nada bicaranya saja terdengar begitu gusar.
“Tidak perlu nona aku bisa pergi sendiri.” Setelah drama itu akhirnya Qiandra menuju lift, saat berada didalam sana beberapa karyawan melihat ke arahnya dan berbisik-bisik. Mereka tidak bisa menahan rasa penasaran, kenapa gadis itu menekan angka 30? Ada urusan apa dia menuju lantai yang sulit ditembus itu? Dasar kepo memang! Tapi, Qiandra tidak peduli. Tujuan utamanya adalah bertemu Gibran dan memastikan keadaan pria itu!
“Ternyata sama saja, apa gunanya berbisik kalau orang lain masih bisa mendengar percakapan mereka?” Gumamnya setelah mereka keluar, Qiandra sempat berpikir bahwa orang-orang yang bekerja di tempat berkelas akan memiliki sikap yang sama dengan tempat kerjanya. Tapi ternyata itu hanyalah sebuah opini yang keliru!
“Permisi nona, apa pak Gibran berada di dalam?” tanyanya saat sudah berada di samping meja yang tidak jauh dari pintu besar di lantai itu.
“Apa anda nona Qiandra?” gadis itu malah berbalik bertanya, tapi yang aneh kenapa dia bisa tahu namanya?!
“Iya,” Jawab Qiandra dengan rasa penasaran.
“Silahkan masuk, Pak Gibran berada di dalam.” Ucapnya dengan tersenyum begitu ramah, perlakuan yang berbeda menurutnya.
“Mmm, apa dia baik-baik saja?” entahlah tiba-tiba saja nyalinya kembali ciut, padahal sebelumnya gadis itu bersikap begitu khawatir.
“Anda bisa mengeceknya sendiri nona, silahkan!” baik sekali, dia bahkan mengantarkan Qiandra. Padahal pintu itu tidak begitu jauh, kenapa dia harus menyusahkan diri sendiri?!
“Masuk,” Jawab seseorang dari dalam bilik itu.
“Maaf pak ada tamu yang ingin menemui bapak.” Ujarnya, Qiandra belum berani menunjukkan wajahnya.
“Bukannya aku sudah mengatakan bahwa tidak ingin menerima tamu saat ini?” pria itu hanya ingin menenangkan diri, yah dia ingin menenangkan diri dengan bekerja. Aneh bukan? Sangat!
“Tapi nona Qiandra sudah di sini pak.” Pernyataan sekretaris itu membuat Gibran menghentikan kegiatannya.
__ADS_1
“Saya permisi.” Pamitnya, sayang kedua orang yang saling pandang saat ini terlalu hanyut dengan pikiran mereka sehingga tidak menggubris perkataan sekretaris yang bertugas itu.
Hening…
Kemana Qiandra yang begitu khawatir tadi? Kenapa ruangan sebesar ini begitu sepi, apa mereka tidak berniat mengatakan sesuatu untuk mengusir kehampaan yang tercipta?!
“Apa kau sibuk? Apa aku harus pergi?” hei ayolah pertanyaan macam apa itu, dasar!
“Tidak, aku sangat santai saat ini. Lihatlah mejaku kosong dari berkas-berkas jadi kau tidak perlu kemana-mana!” Gibran melirik objek yang sempat dikatakan kosong. Ups sayang meja itu berbanding terbalik dengan pernyataan pria itu sebelumnya, kosong? Bahkan meja itu begitu penuh sekarang.
“Ah ini, kau tidak lupa bukan bahwa aku adalah bos di sini. Sebagai pimpinan yang baik aku harus melakukan ini, memeriksa kinerja mereka.” Elaknya, tapi apa Qiandra mengatakan sesuatu? Kenapa pria itu menjadi salah tingkah!
“Sepertinya kau baik-baik saja, syukurlah.” Ada kelegaan di hati Qiandra saat melihat Gibran bersikap seperti biasanya. Bukankah itu pertanda bahwa dia tidak perlu khawatir lagi?
“Kau mengkhawatirkanku?” tanyanya dan berjalan mendekati Qiandra yang masih berdiri di samping sofa. Gadis itu tidak ingin bersikap tidak sopan dengan duduk tanpa diminta, tapi sepertinya Gibran yang kehilangan sopan santun karena membuat Qiandra berdiri sedari tadi.
“Kau pergi begitu saja setelah aku membuatmu sedih, dan kata Kalya kau membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata jadi mana mungkin aku tidak khawatir?” sepertinya saat ini Qiandra bersikap lebih terbuka dari awal pertemuan mereka.
“Kau yang menyuruhku pergi dan membuatku sedih, jadi apa yang bisa aku lakukan jika kau saja tidak nyaman dengan keberadaanku.” Dengarlah ucapan pria itu, bagaimana mungkin dia berbicara dengan sangat tepat dan berhasil menyentil hati orang lain?
“Maaf.” Dia benar-benar merasa bersalah, lihatlah ekspresi penyesalan Qiandra yang tidak bisa disembunyikan itu!
“Duduklah jika kau benar-benar menyesal.” Lanjutnya.
“Tidak perlu, aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Aku bisa langsung pergi sekarang karena kau baik-baik saja.” Ceh, gadis itu begitu buruk untuk menerima perlakuan baik seseorang.
__ADS_1
“Apa aku harus melukai diriku agar bisa membuatmu tetap tinggal? Aku terluka Qiandra, di sini. Rasa sakitnya membuatku kesulitan, apa yang akan kau lakukan untuk membuatku lebih baik?” Gibran menyentuh dadanya, dia hanya ingin memperjelas dimana letak rasa sakit itu bersarang.
Pada hakikatnya kita adalah bagian dari tulang rusuk seseorang, kau dan aku diciptakan agar dapat bertemu. DIA begitu menyanyangi kita dengan menciptakan pasangan dari bagian tubuh terapuh, bukankah alasan itu cukup untuk kita berhenti menahan semuanya sendirian?!