Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Perasaan Yang Sama?


__ADS_3

Asmaraku terbentang, sungkawaku dibatasi jarak. Damaikah? Tidak, selama rasa itu masih terselip anggun. (yuliashafiara14)


Pria tampan itu berjalan dengan gagah, pesona yang dimilikinya benar-benar sulit untuk dibendung. Sosok itu selalu saja tampak bersinar di mata lawan jenis, Apa dia masih single? Aku ingin menjadi istrinya! Oh astaga dia benar-benar begitu keren. Kalimat-kalimat memuja itu sering menghiasi langkah dan pendengaran Gibran, tapi sayang pria itu tidak melambung karena hal yang dielukan oleh para gadis, dan alasan hanya satu. Gibran tidak pernah menemukan Qiandra dalam diri mereka, dan pasti dia tidak akan pernah menemukannya pada sosok manapun. Karena gadis itu jelas berbeda!


Gibran dan para bodyguardnya, ups. salah! Maksud, adalah sahabat-sahabatnya hehe. Mereka baru saja tiba dan langsung menuju meja yang biasa mereka tempati, Tapi ada yang aneh. Meja itu kosong! Dimana Qiandra? mata Gibran langsung mencari gadis itu, sosok yang selalu mengusik ketenangan hatinya. Oh astaga, pria itu bahkan tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak bertanya.


“Dimana Qia?” tanyanya pada salah seorang teman kerja Qiandra, “Nona Qiandra sedang keluar bersama nona Kalya tuan, ada yang bisa saya bantu?” tawarnya, dia tahu sosok Gibran. Hampir seluruh orang-orang yang bekerja di Restoran itu mengenal dirinya. Bagaimana tidak, hampir sebulan ini pria itu selalu datang dan tidak pernah menutupi dirinya yang terang-terangan mendekati Qiandra. Salah satu Owner, dari tempat mereka bekerja.


“Keluar? Ke mana?” lihatlah sikapnya, begitu kentara bukan? “Maaf saya kurang tahu, jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi saya permisi tuan.” Ucapnya tersenyum, dan langsung di angguki oleh pria tampan itu. Gibran begitu perhatian pada Qiandra, tapi malah membuat teman kerjanya yang dibuat salah tingkah. Pesona pria itu, benar-benar membuat gadis-gadis salah paham!


“Duduklah dulu! Bukankah kau tadi begitu kelaparan?.” Ejek Fahar. Inilah part yang paling dia sukai dari sahabatnya, apa lagi kalau bukan mengganggu dan mengusik kegelisahan mereka yang sedang kasmaran. Ceh, Dasar jomblo karatan!


“Qia dan Kalya hanya bertemu dengan orang yang menjadi pemasok bahan makanan di Restoran ini, sebentar lagi mereka pasti sudah kembali.” lontar Darel menenangkan.

__ADS_1


“Apa kau tidak melihat seberapa tenang diriku sekarang? Kontrol perasaanmu, agar tidak terlihat seperti pria yang telah dikhianati oleh seorang gadis.” Puji Darel pada dirinya sendiri, mengontrol diri? Pria pencemburu itu? Bohong, dia bersikap setenang ini pasti karena sudah bertukar kabar dengan Kalya.


Mereka duduk di meja yang sama, makanan pun telah tersaji. Tapi, Ada yang kurang menurut Gibran. Tentu saja gadis manisnya, pria yang sebelumnya mengatakan begitu kelaparan. Kini malah terlihat tidak begitu bernafsu untuk menyentuh makanannya, mereka seperti kumbang jalan yang tersesat. Khususnya Gibran!


“Hai, kalian sudah lama?” sapa Kalya yang menghampiri mereka, disusul oleh Qiandra yang berjalan tepat di belakang gadis itu. Mata Gibran berbinar melihat Qiandra, seakan melihat tiara berkilau di dasar laut. Astaga, hanya karena tidak melihat Qiandra di akhir pekan saja, sudah membuatnya merindu sedalam ini.


“Hampir 20 menit kami menunggu. Katamu hanya sebentar, tapi kenapa malah selama ini?” Jawab Darel dengan nada datar, ada apa dengannya? Bukankah tadi dia mengatakan bisa mengontrol diri? Tapi, ada apa dengan wajahnya saat ini? Fahar tidak habis pikir dengan emosi dan jalan pikiran mereka.


“Maaf sayang, tadi jalanan begitu macet. Dan ponselku mati sedang Qia lupa membawa ponselnya, kami sudah berusaha cepat kembali. Karena tahu kalian sedang menunggu, apa kau marah?” Wajah imut yang dibuat Kalya, tidak bisa membendung senyuman yang terbit di wajah Darel. Dasar kekanakan! “Bagaimana aku bisa marah, jika melihat wajahmu yang seimut ini. hmm?” Jawabnya, tapi dengan nada yang terdengar begitu menjijikkan di telinga Fahar.


“Dia sedang sakit,” Lontar Fahar yang sengaja berbohong. Tapi kenapa dia bergurau seperti itu?


“Benarkah? Apa yang kau rasakan? Apa kau sudah memeriksakan diri?” Gibran menggeleng polos, tunggu! apa pria itu tengah memainkan peran? Dasar! Gelengan Gibran membuat Qiandra sedikit gusar. Entahlah, nada dan wajahnya begitu khawatir. Perasaan khawatir gadis itu begitu disukai Gibran!

__ADS_1


“Tenanglah, kau sudah di sini jadi dia tidak perlu lagi untuk diperiksa. Kau cukup sebagai penawar untuknya.” Gibran hanya tersenyum mendengar penuturan Fahar, kenapa bisa sahabatnya itu bisa sepengertian ini? 


Qiandra tampak bingung, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan Fahar. “Dia sakit karena menunggumu begitu lama, lihatlah wajahnya! Semenjak kau datang dia seperti itu. Tersenyum seperti orang yang kurang waras, aku bahkan sempat berpikir jika dia tidak perlu makanan lagi. Melihatmu saja sudah membuatnya bisa bertahan hidup.”  Timpa Fahar. Dasar berlebihan! Tapi, Gibran harus berterima kasih pada Fahar. Karena telah berbicara mewakili perasaannya, dia benar-benar pengertian. Ingin sekali Gibran memberikan bonus karena jasanya!


“Astaga, aku pikir kau benar-benar sakit. Jangan bercanda seperti itu lagi! Kau, makanlah ini. Aku akan duduk di sini dan menemanimu!” perintah Qiandra, dan memberikan beberapa potongan daging pada Gibran. Apa gadis itu tidak bisa melihat bagaimana ekspresi yang lainnya saat ini?


“Terima kasih, kau juga pasti kelelahan. Jadi makanlah ini dan ini!” Gibran pun melakukan hal yang sama pada Qiandra, sepertinya sejoli itu merasa meja makan kini hanya ditempati oleh mereka saja.


“Kami di sini!” jelas Kalya dengan melambaikan kedua tangannya, gadis itu benar-benar menganggu. Lihatlah wajah Qiandra! Dia begitu malu, karena telah memperlihatkan sisinya yang seperti ini. “Anu, hmm Gibran akan sakit jika tidak makan dengan benar. Jadi kalian jangan berpikiran macam-macam!” apa ada yang mengatakan sesuatu? Penjelasan yang diberikan Qiandra, malah semakin memperjelas betapa gugupnya dia saat ini.


“Hm, hm. Kenapa kau begitu panik nona?” goda Kalya dengan senyum jahilnya.


“Berhenti menggodanya Kal! Jangan pedulikan mereka, makanlah makananmu!” Gibran membela, oh astaga Fahar tidak bisa menahan tawa melihat ekspresinya. Acara makan siang mereka pun berlangsung seperti biasa, dipenuhi kehangatan. Dan, cinta!

__ADS_1


Qiandra mulai merasa, jika kini dirinya telah terseret semakin dalam bersama kebahagiaan yang sedang dirasakan. Apa gadis itu akan baik-baik saja dengan semua ini? Matanya masih setia memandangi Gibran, ingin rasanya Qiandra menggandeng pria itu. Tapi, dia belum sepenuhnya yakin dengan debaran yang menganggunya. 


Gibran, senyumnya benar- benar telah melilit sanubari. Kesungguhan yang dia tunjukkan membuat Qiandra bimbang, perlakuannya bahkan membuat gadis itu semakin hari semakin terusik. Saat tidak melihat Gibran? Gadis itu pun sama. Dia merindu! Cakrawala yang dilihat Qiandra kian memukau, dan hal itu karena sosok yang dipandanginya kini. Gibran!


__ADS_2