Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Hal Tersulit


__ADS_3

Tahukah ?? Ku punya cinta untukmu tapi sulit merekatkannya, hanya dengan memejamkan mata mampu membantu menyatukan. Ku ingin mendekati, bersama dan mencintaimu dengan ketulusan, bantu aku menghilangkan rasa bimbang ketika ingin seimbang dengan rasamu. (yuliashafira14)


Sore menjelang malam hari jalanan kembali ramai setelah para pejuang rupiah berlomba ingin sampai ke rumah masing-masing untuk melepas penat setelah seharian bekerja, lampu lalu lintas yang berganti warna dan bunyi klakson tidak sabaran dari beberapa kenderaan menambah kebisingan yang mampu membuat beberapa orang akan mendengus kesal karena perilaku itu. Tapi hal berbeda justru ditujukan Gibran, ulasan senyum yang terpatri masih setia menghiasi wajah tampannya sejak makan siang tidak terduga dengan Qiandra.


“Melihatnya membuatku susah mengendalikan diri, apa yang harus aku perbuat ?? Ini salah tapi mengabaikan perasaan ini juga terasa sulit. Aku terlalu menganggap remeh ketertarikan ini dari awal” gumam Gibran setelah mengingat sesuatu yang keliru mengenai Qiandra dan Darel, seketika keceriaan hilang dan bersembunyi di balik wajah sedih miliknya.


Saat tengah berkendara dengan pikiran yang sama, mobil mewah itu membawa Gibran ke salah satu Apartemen kelas atas miliknya. Sejak merintis usaha Gibran memang telah tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya dan akan berkunjung setiap akhir pekan untuk melepas rasa rindu. Saat memasuki ruangan kesan pertama yang menyambut adalah warna Dark Gray dengan kesan modern klasik, semua bersih tertata rapi dan tentu saja aroma maskulin lebih mendominasi seperti kebanyakan pria pada umumnya.


Langkah lunglai membawa Gibran memasuki kamar utama untuk membersihkan diri, rasa lelah akan bertambah saat hati juga merasakan kegelisahan. Dengan mengenakan pakaian santai dan nyaman membuat perutnya semakin menuntut minta di isi, saat tengah asyik memakan makanan yang telah tersedia fokusnya itu teralihkan saat dering ponsel memanggil.


“Halo Ma” jawab Gibran setelah melihat nama yang tertera.


“Sayang kamu lagi ngapain ??” tanyanya.


“Lagi makan malam, kenapa Ma ??” sejenak Gibran menghentikan aktivitas makan malam.


“Apa orang tua butuh alasan untuk menelpon anaknya ??” jawabnya.


“Maaf Ma bukan begitu maksud Gibran” elak Gibran tidak enak karena merasa salah dengan ucapannya.


“Sudahlah ngga apa-apa, Mama mau kasih tau besok Papa sama Mama akan pergi perjalanan bisnis jadi Mama harap kamu bisa jaga diri. Makan teratur supaya maag kamu ngga kambuh, kalau capek istirahat oke ??” seperti kebiasaan yang dulu, selalu ada wejangan untuk Gibran jika perjalanan bisnis orang tuanya itu berlangsung lama.


“Iya Ma, kan di rumah ada asisten rumah tangga yang masakin” jawaban menenangkan itu membuat wanita paruh baya di seberang bisa bernafas lega.


“Kamu kerja aja besok, ngga usah anterin Mama sama Papa. Kasian kamu kalau capek kan besok ada rapat juga” sebelum bertanya sang Mama tau putra satu-satunya itu akan menawarkan untuk mengantar mengingat itu adalah kebiasaan.

__ADS_1


“Tapi Ma-“ kalimat itu terpotong saat sang Mama melanjutkan perkataannya “Ngga pake tapi-tapian”.


“Mmm Baiklah, Mama sama Papa hati-hati nanti” jawabnya.


“Iya sayang, bye” kemudian suara indah ibunya terputus begitu saja.


***


“Qia menurutmu Gibran gimana ??” tanya Kalya saat mereka tengah asyik duduk di depan tv.


“Bagaimana apanya” jawabnya dengan masih fokus dengan tontonan menarik di layar kaca.


“Semua tentang dia, bukankah kau sudah bertemu dengannya berulang kali. Apa tidak ada kesan yang membuatmu terusik ?? Bahkan ketampanannya lebih dari milik Darel” ujarnya yang mampu membuat Qiandra mengalihkan pandangan ke samping kiri di mana Kalya duduk berselonjor dengan menyesap minuman kalengnya.


“Apa kau merindukan Darel saat ini sampai mengingatnya saja butuh alasan” goda Qiandra mengalihkan.


“Kenapa kau membahasnya, sejak kapan Gibran jadi topik saat kita menonton acara kesukaanmu” ujar Qiandra, ada yang membuatnya aneh dengan Kalya yang sejak pulang tidak henti membicarakan Gibran.


“Apa kau tidak merasa kalau Gibran menyukaimu, sorot mata itu benar-benar berbinar kalau melihatmu. Sepertinya kau tidak menyadari karena fokus menunduk” apa yang dikatakan Kalya mampu membuat Qiandra tersedak walau tidak memasukan apa-apa ke dalam mulutnya.


“Khuk khuk khuk” mungkin efek terkejut membuatnya terbatuk tanpa alasan, “Kalya berhentilah berasumsi dan yang jelas aku tidak merasa dia punya rasa suka itu” jawabnya.


“Jangan menutup diri lebih lama Qia, kau bukan tidak bisa merasakan tapi kau memilih untuk mengabaikannya bukan ?? Aku mengenal dan bersamamu selama 5 tahun dan itu bukan waktu yang singkat, kau tahu tatapan Gibran sangat dalam saat melihatmu. Aku yang baru mengenalnya saja bisa merasakan dia pria yang baik dan jelas berbeda” ujarnya panjang lebar tanpa jeda.


“Kalya aku tidak ingin membahas ini, plis” jawab Qiandra yang sempat diam beberapa saat dengan wajah yang menyimpan kesedihan di sana.

__ADS_1


“Maaf Qia aku tidak bermaksud-“ Kalya sadar akan kebodohannya kali ini, Qiandra punya masa lalu yang sangat buruk tapi tanpa sengaja dia membuat sahabatnya itu mengingat kembali apa yang harusnya dikubur dalam. “Tidak apa-apa, tapi aku mohon berhenti membicarakannya” sela Qiandra dan anggukan persetujuan dilakukan Kalya.


Dddrrttt


Dering ponsel milik Kalya memecah keheningan keduanya, tanpa melihat siapa yang menelpon Kalya mengangkatnya.


“Halo” sautnya.


“Kalya, ini aku Darel. Apa besok kau punya waktu luang” tanyanya tho the point, sejenak dia terdiam dan Qiandra menyadari itu kemudian bertanya tanpa suara “Siapa ??”. Dengan cara yang sama Kalya menjawab “Darel” kemudian melanjutkan pembicaraannya.


“Tidak punya, kau mendapatkan nomor ponselku darimana ??” tanyanya.


“Tentu saja orang tuamu siapa lagi, baiklah kalau kau tidak punya waktu aku yang akan menghampirimu di Restoran. Selamat malam mempelaiku” tanpa menunggu persetujuan panggilan itu terputus dan berhasil membuat wajah Kalya memerah antara kesal pun malu.


“Kenapa wajahmu ??” tanya Qiandra menahan tawa.


“Darel akan datang besok ke Restoran dan tadi dia menyebutku mempelainya, apa dia gila ?? Kita bahkan belum bertunangan tapi panggilannya-“ kalimatnya terpotong saat mendengar tawa Qiandra menggema.


“Sepertinya Darel begitu menyukaimu, dan kau tidak punya alasan menolak Kal” ujarnya dengan tawa sambil menghapus cairan bening di ujung kelopak matanya.


“Kalya Darel pria yang baik, orang tuamu tidak akan menyetujui pertunangan ini kalau dia bukan orang yang pantas bukan ?? Biarkan dia dekat denganmu” sambungnya.


“Apa kau akan melakukan hal yang sama” dengan pelan Kalya bertanya, Qiandra yang paham arah pembicaraan itu langsung menjawab.


“Tentu tidak, posisi kita berbeda Kal. Dia tunanganmu” jawabnya dan hanya hembusan nafas Kalya yang terdengar.

__ADS_1


“Tidurlah, kau akan bertemu mempelaimu pastikan tidurmu berkualitas” ejek Qiandra dan berlari menuju kamarnya dan meninggalkan Kalya yang berteriak “Qiiiaaa”, suara tawa dapat Kalya dengar dari kamar itu.


__ADS_2