
Hidup akan membuatmu tersesat agar dapat merasakan betapa besar rasa ini. Kapan, dimana dan bagaimana bisa terjadi ??? Hal Itu masih menjadi tabir. (yuliashafira14)
“Kau baik-baik saja ?? Sepertinya aku mulai merinding dengan tingkahmu saat ini” tanya Fahar saat mereka berada di dalam mobil, acara makan malam telah usai dengan kejutan yang tidak terduga sebelumnya.
“Tentu saja, sangat baik malah. Ternyata Darel dan Kalya aaahhh aku benar-benar bodoh tidak menyadarinya saat itu” jawab Gibran dengan suara begitu lega saat mengingat kembali pertemuan mereka, saat itu Qiandra tidak pernah sendiri.
“Apa yang membuatmu tersadar ??” tanyanya penasaran.
“Kau ingat gadis yang pernah ku ceritakan tempo hari ?? Qia adalah sosok itu. Aku berpikir dia adalah tunangan Darel, karena saat malam itu aku bertemu Qiandra bukan Kalya” jelas Gibran dengan tersenyum bodoh.
“Apa dia yang menjadi alasan kau tampak seperti mayat hidup selama sepekan ini ??” tanya Fahar di balik kemudi dan menatap Gibran di sisi kirinya, menatap penampilan pria itu dari bawah sampai ke ujung rambut hitam yang sedikit berantakan tapi tidak mengurangi pesonanya.
“Sepertinya, aku merasa patah hati saat mengetahui sesuatu yang keliru mengenai pertunangan itu. Melihat dia tersenyum bersama Darel ternyata membuatku tidak nyaman, perasaanku pada Qia sudah ada sejak pertemuan pertama kami” ungkapnya.
“ Ya ya ya sepertinya kau benar-benar jatuh cinta pada Qiandra, bisakah kau tidak memperjelasnya. Apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui hal ini ?? Sepertinya Qia tidak tertarik padamu” tanya Fahar yang membuatnya terdiam.
“Bisakah kau menyemangatiku terlebih dulu sebelum mengatakan fakta" ucapnya kesal "Aku akan mendekati dan membuat dia menyukaiku, mungkin ini tidak akan mudah ke depannya. Tapi aku tidak akan tahu hasilnya kalau tidak mencoba bukan ??” tanya dengan memainkan kedua alisnya dan Fahar hanya bisa menganggukkan kepalanya.
“Kenapa kau tidak ikut mobil mereka tadi ??” Darel mengantar Kalya dan Qiandra di mobil berbeda, sedangkan Fahar tetap bersama Gibran.
“Ayolah...duduk bersama Qia dengan tampilan seburuk ini, aku juga tidak punya alasan yang pas untuk ikut” ujarnya setelah mobil yang ditumpangi itu sampai di tempat parkir.
“Tampilanmu tadi dan saat ini tidak ada yang berbeda. Masih berantakan dan sangat kusut apa yang membuatmu khawatir” gelak tawa Fahar terdengar dan membuat Gibran keluar dari mobil untuk menuju lobby dengan umpatan halus yang lolos dari mulutnya, saat melewati pintu masuk dengan langkah yang cepat dia menuju kamarnya dan berhenti menatap pantulan diri melalui cermin “Astaga, aku benar-benar berantakan” ujarnya tidak percaya.
__ADS_1
Perasaan memang perkara yang sulit dijabarkan untuk setiap insan, semua emosi berada dan berbagi tempat yang sama di dalamnya untuk menunggu giliran saat menampakan diri. Tuhan maha baik, DIA memberikan sesuatu dengan kadar yang sesuai. Bayangkan !!! Kita hanya perlu menutup mata dan membayangkan bagaimana mungkin manusia bisa bertahan dengan kesedihan berkepanjangaan tanpa suka cita sebagai balasannya.
******
“Apa kau kehabisan obat” tanya Qiandra tiba-tiba dan ikut duduk bersama Kalya untuk menikmati segelas susu hangat.
“He’em, aku merasa membutuhkan obatku…Darel” jawab Kalya dengan terus tersenyum mengingat tunangannya itu.
“Cih, kau terlihat seperti ABG tua yang kasmaran saat ini. Apa kau tahu ??” tanya Qiandra yang melihat tingkah Kalya masih sama sedari tadi, apa wajahnya tidak kram saat terus tersenyum untuk waktu yang lama ??? Pikir Qiandra.
“Benarkah ???” tanyanya “Aku tidak tahu kalau itu terlihat sangat jelas” dan tawa menyebalkan yang sempat lolos membuat Qiandra melihat Kalya dengan perasaan aneh.
“Qia maafkan aku karena sempat mencurigai Darel menyimpan rasa padamu, dia telah menceritakan semuanya tadi di Restoran” jelas Kalya dengan penuh sesal dan menggenggam erat tangan Qiandra.
“Ya, karena dia tipeku” ucapan Qiandra terpotong saat kalimat Kalya menengahi.
“Ya ya ya dia tipemu yang sempat tidak kau akui, pria itu bersungguh-sungguh padamu. Dan kau ???” ucapnya dengan memperhatikan Kalya
“Bahkan orang asing pun tahu kalau kau saat ini dalam masa pubertas” lanjutnya dan mengundang tawa Kalya.
“Sikapnya begitu manis” ujar Kalya kembali “Aku tahu, semua tergambar jelas di wajahmu saat ini” jawab Qiandra.
“Tapi Qia, apa kau tidak melihat tampilan Gibran tadi ??? Sepertinya dia begitu lusuh” pancing Kalya untuk melihat respon sahabatnya itu.
__ADS_1
“Tentu aku melihatnya, dia kan makan di meja yang sama dengan kita” jawabnya dan kembali meneguk susu coklat yang suhunya masih sama hinggap di bibir merah Qiandra, hangat.
“Yang aneh Gibran bersinar saat Darel memperkenalkan aku sebagai tunangannya, dia bahkan terus tersenyum sampai kita pulang. Apa jangan-jangan dia punya kelainan ??? Aku bahkan merinding saat kembali mengingatnya” Kalya memeluk tubuhnya sendiri seakan bulu kuduk itu berdiri tiba-tiba.
“Apa kau membicarakan dirimu sendiri” dengan tidak percaya Qiandra melihat sahabatnya itu “saat ini kau terlihat lebih menyeramkan dari dia” ucapan itu memicu tawa keduanya.
“Kalya apa kau bahagia setelah mengungkapkan perasaanmu yang sesungguhnya ??” tanya Qiandra penasaran, ini bukan yang pertama bagi Kalya untuk dekat dengan pria tapi dari rona bahagia yang dipancarkan ada banyak perbedaan yang bisa ditangkap.
“Sangat...kau tahu, perasaan untuknya berbeda Qia. Darel pria yang begitu manis” ucapnya sumringah mengingat kembali kejadian yang mampu membuat debaran tidak karuan tepat di hatinya itu.
“Ya terlihat jelas perbedaannya, dan aku begitu bodoh karena masih bertanya padamu” balasnya.
“Suatu saat kau akan kembali merasakannya Qia” harap Kalya yang penuh binar dan menatap sahabatnya itu.
“Benarkah ??” senyum itu merekah, alasannya bukan karena kebahagiaan tapi karena ingatan tentang luka yang tiba-tiba kembali berebut tempat agar Qiandra mengingat semuanya.
“Semua sama untukku Kal, dalam skenario yang aku lalui tidak ada kebahagiaan di sana. Menjalani dan kembali mendapatkan luka yang sama sepertinya itu bukan ide yang bagus” entahlah, rasa sesak itu enggan pergi dari Qiandra dan membuatnya terhenti untuk beberapa saat sebelum melanjutkan “Bermimpi saja aku tidak berani Kal” senyumnya tampak menyedihkan saat ini bagi Kalya.
“Jangan tersenyum seperti itu kalau kau merasa terluka” ungkapnya dan memeluk untuk menenangkan Qiandra kemudian segera melepaskan untuk mencari tahu sesuatu “Apa aku juga luka untukmu” tanyanya penuh selidik.
“Tentu saja…” ucapnya menggantung dan dihadiahi wajah masam Kalya “Kau pengecualian” lanjutnya dengan keisengan yang tergambar jelas.
“Dasar, awas saja sampai kau mengatakan yang bukan-bukan” ancamnya.
__ADS_1
Perbincangan itu berlanjut hingga waktu istirahat tiba dan tentu saja didominasi Kalya, dia benar-benar seperti ABG tua yang bermain di taman bunga dengan banyaknya kupu-kupu di sana. Cinta memang aneh, perasaan itu hadir bahkan di saat kita tidak menginginkannya, dan benci adalah satu kata untuk menyamarkan bahwa sahnya cinta itu sebenarnya ada untuk dia yang kamu benci.