Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Wajah Berbeda


__ADS_3

Nyanyian cinta menyapa, apa hal itu harus ku sambut dengan jeritan? Aku berbeda, euforiaku terbang bersama camar dan meliuk di udara. (yuliashafira14)


“Benarkah? Aku belum bisa mempercayainya, saat ini saja pandanganmu ini begitu berbeda!” Fahar yang masih belum bisa menerima akan perubahaan Gibran beberapa waktu yang lalu, kini sibuk memastikan kenormalan sahabatnya itu.


“Berbeda bagaimana? Sudahlah kalau kau tidak percaya, mulutku bisa berbusa jika berbicara terus denganmu!” Jawab Gibran dengan wajah yang datar, pertanda tidak ada gairah lebih saat dia berbicara dengan Fahar saat ini.


“Pandanganmu itu penuh cinta, bukankah kau bisa melihat hal yang sama denganku Darel? Coba lihat matanya itu, ada kilatan penuh kasih di sana!” mendengar bualan Fahar, membuat tawa Darel pecah. Bukankah saat ini dia begitu mengenaskan? Apa ini efek samping karena pria itu melajang terlalu lama?


“Yah ada kilatan kasih di sini, tapi yang jelas ini bukan untukmu!” Tegas Gibran, pria itu sudah meluruskan kesalahpahaman yang sempat terjadi lewat ponsel beberapa hari yang lalu, tapi Fahar? Pria itu selalu saja menggoda Gibran dengan membicarakan hal aneh. Bukankah dia yang terlihat menggelikan saat ini?


“Sepertinya kami ketinggalan sesuatu?” Kalya dan Qiandra menghampiri ketiga pria itu, dari kejauhan keduanya bisa menebak seberapa seru pembahasan mereka sedari tadi.


“Ahh itu-“ Penuturan Darel tertelan dengan bentakan Gibran “Hentikan, orang lain bisa salah paham kalau kau membicarakan kekeliruan!” Pria itu menutup mulut sahabatnya, sebelum kebocoran dari mulut ember Darel mengakibatkan martabat agungnya jatuh.


“Kau bisa membuat tunanganku kehabisan nafas, lepaskan tanganmu dari mulutnya!” sergah Kalya diiringi dengan pukulan pelan di punggung tangan Gibran.


“Aww,” pria itu meringis, apa hal yang dilakukan Kalya terasa sesakit itu? bukankah Gibran terlalu berlebihan?


“Kau tidak apa-apa?” nada kekhawatiran Qiandra benar-benar begitu merdu di telinga pria itu, dan tanpa sadar Qiandra dengan lancang menyentuh sumber keluhan Gibran. Apa yang dilakukannya berhasil membuat Kalya dan yang lain melebarkan senyuman!


“Ahh aku hanya ingin memastikan tangannya baik-baik saja, bukankah kita akan kerepotan jika dia sampai masuk Rumah Sakit?” Jelasanya ketika menyadari sesuatu. Astaga Qiandra, tapi kenapa kau malah mengatakan hal aneh seperti itu!


Mendengar penjelasan Qiandra membuat tawa yang lain mendominasi, bagaimana mungkin orang akan masuk Rumah Sakit hanya karena hal yang dilakukan Kalya? Bukankah hal itu terlalu dipaksakan? Dasar aneh!


“Maksudku, ahh sudahlah!” gadis itu tahu kebodohan apa yang dilakukannya saat ini, dia menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Berharap hal itu mampu membuat wajah meronanya bisa disembunyikan.

__ADS_1


“Baiklah, mmm kenapa kalian belum memesan makanan?” ungkap Kalya dan sesekali membersihkan sisa air yang tergenang di area matanya, tawa tadi benar-benar membuat maniknya basah.


“Kami menunggu Kalian! Melihat kursi ini kosong membuat hatiku juga merasa hampa.” Tutur Gibran, kalimat itu bukan jawaban untuk Kalya. Tapi, pernyataannya bagi seseorang. 


“Astaga, apa kau berencana menghabiskan energimu untuk berbicara seperti itu setiap saat? Ckckck, kau dan Darel benar-benar duplikat!” timpa Fahar, entahlah. Dia sedikit mual mendengar ucapan Gibran dan Darel yang memiliki efek samping itu.


“Sudahlah, oke? Kalian ingin makan apa?!” Kalya menengahi perdebatan keduanya, jika dia tidak melakukan itu maka acara makan siang ini akan berlangsung hingga malam hari. Perdebatan mereka tidak akan usai begitu saja, karena kekalahan? Mereka tidak akan sukarela menerimanya.


“Pesankan saja yang biasa Kal.” Ucap Gibran dan disetujui oleh yang lainnya, dengan segera gadis itu meminta teman kerja mereka menyiapkan pesanan mereka.


Acara makan siang itu berlangsung seperti biasanya, hubungan mereka sekarang benar-benar seperti permen karet. Begitu manis dan sangat lengket! Tapi itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba.


“Qiandra kau di sini?” sapa seseorang, suara ini? Astaga, kenapa harus mendengarnya lagi?! Mereka yang mendengar pertanyaan itu menghentikan aktivitas makan segera.


Deg...


“Hai, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Ternyata ada benarnya ungkapan mengenai dunia ini yang sangatlah sempit.” Ada apa dengannya? Kenapa dia bersikap berbeda seperti ini pada Qiandra?


“Maaf pak Gibran, silahkan dilanjutkan makan siangnya. Kami permisi, ayo!” Aksa sedikit memaksa, dia tidak ingin Indira melakukan sesuatu yang merugikan rencana kerja sama mereka.


“Bagus, pergilah sana! Jangan pernah kau menyapa Qiandra lagi bahkan jika kalian tidak sengaja bertemu!” ungkap Kalya, dia benar-benar merasa muak dengan kedatangan sepasang manusia munafik itu.


“Maaf nona, aku menyapa Qia karena dia adalah sahabat lamaku. Bukankah wajar jika kita saling bertegur sapa? Bukan begitu Gibran?!” lancang sekali dia melihat Gibran seperti itu, lihatlah wajah centil Indira saat ini! Dasar penggoda, benar-benar membuat Qiandra kepanasan!


“Apa yang kau lakukan hah? Jangan menyebut pak Gibran seperti itu, kau sangat tidak sopan!” Aksa kesal dengan tingkah Indira, kenapa dia menyapa rekan bisnisnya seperti itu?!

__ADS_1


“Aku hanya menyapanya, apa yang salah dengan itu?” tegas Indira, suaranya memancing pandangan orang sekitar tersita ke arah mereka. Bukankah itu memalukan?! Sangat!


“Kau sudah menyapanya, jadi kalian bisa pergi sekarang!” Suara dingin Gibran membuat Indira membeku, wajahnya datar. Dan matanya? Mata itu benar-benar terlihat tidak suka akan kehadiran mereka yang begitu mengganggu.


“Baik, baik. Aku akan pergi setelah mengatakan sesuatu pada Qiandra,” Kekehnya.


“Apa yang ingin kau katakan?” tegas Qiandra, tatapan teman-temannya meminta gadis itu tidak meladeni Indira. Tidak apa-apa! Lewat isyarat mata, gadis itu meyakinkan mereka.


“Maaf, aku hanya ingin meminta maaf. Aku sungguh menyesali setiap hal buruk yang pernah terjadi diantara kita. Kau mau memaafkanku kan Qia?” wah, permohonan yang tidak pernah Qiandra dengar selama ini. Kini dengan mudah terlontar tanpa tercekat, ada apa dengan Indira? Kenapa tiba-tiba gadis itu seperti ini?!


“Aku juga minta maaf padamu atas kejadian tidak mengenakkan terakhir kali.” Tatapannya kini beralih pada Gibran, apa dia tengah melakoni drama? Kenapa aktingnya begitu buruk! Pikir Gibran.


“Aku akan memaafkanmu jika Qiandra mengatakan hal yang sama!” sergahnya, dan menatap lembut gadis yang tengah menatapnya saat ini!


“Qia apa kau mau memaafkanku?” desaknya, membuat Kalya memutar bola mata. Ingin sekali dia mencelupkan wajah angkuh itu ke dalam wadah sup hangat.


“Kita lihat nanti, aku akan memaafkanmu tergantung bagaimana sikapmu selanjutnya. Aku ingin melihat apa penyesalan itu benar-benar ada di hatimu atau tidak? Ah dan 1 hal lagi, aku melakukan ini bukan karena kita masih bersahabat. Aku melakukannya hanya karena rasa kemanusiaan! Apa kalian bisa meninggalkan kami sekarang?” Jelas Qiandra, yang membuat senyum teman-temannya mengembang. 


Kesal? Indira begitu amat kesal, bisa-bisanya dia diperlakukan seperti itu oleh Qiandra?! Mau tidak mau dia keluar dari Restoran dengan mulut yang tidak henti menggerutu! Dan Aksa? Dia ingin meminta penjelasan atas tindakan tunangannya barusan!


“Wooo, aku tidak tahu kau punya sisi seperti ini.” Ungkap Darel.


“Kau terlihat keren!” timpa Fahar dan diangguki Kalya, “Jika saja Darel tidak menahanku, sudah dipastikan aku telah mengusir mereka.” Sambungnya


“Kalian berdua, berhenti memuji Qiandra!” Tunjuk Gibran pada Fahar dan Darel, dasar pria protektif! Apa Gibran tengah merasa jika dia adalah segalanya untuk Qiandra saat ini? Ck…

__ADS_1


“Apa kau sedang memperjelas sesuatu tuan?” goda Kalya, dan itu berhasil membuat Gibran salah tingkah. Kenapa dia selalu lepas kontrol jika menyangkut Qiandra? Pria itu benar-benar tidak habis pikir!


Cinta yang menjejak piaskan setumpuk rindu. Selaksa kasih, hembusan rindumu hilangkan sepiku. Poros yang bergerak menuntunku ke arahmu. Kembalilah cinta! ku tahu. Ku tahu kau mendambanya agar kembali.


__ADS_2