Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Bertemu


__ADS_3

Dengan gemulai, gelisah kembali menyentuh ranum kedamaianku. (yuliashafira14)


.


.


.


“Percayalah pada perasaanmu sendiri.” Mantra Gibran pada dirinya sendiri, aahh tetap saja ada secuil keraguan yang menebang kepercayaan diri pria itu.


Gibran melonggarkan dasi yang menjuntai indah pada bagian tubuhnya, sudah cukup lama berkas dan pena menunggu sentuhan pria itu. Tapi naas, perhatian Gibran memang bukan untuk mereka.


Mengingat kembali tatapan Aarav pada Qiandra cukup membuat Gibran terganggu, bukannya dia tidak percaya diri. Hanya saja dia sedikit risau, bagaimana tidak. Aarav cukup tampan dan mapan walau tidak sebanding dengannya. Haha dasar!


Mereka tinggal di Apartemen yang sama, walau di unit yang berbeda. Bukankah wajar jika dia kian khawatir?


“Gibran!” sentak seseorang yang menarik paksa kesadarannya, “Kenapa?” lontar pria itu dengan wajah datar.


Dia menatap malas pada seorang pria yang sedari tadi duduk di sofa ruang kerjanya, yang tentu saja kehadiran pria itu sempat dilupakan Gibran. 


“Kau yang kenapa? berhentilah melamun!” Darel menegak soda dari kaleng, dan mengubah tempat Gibran menjadi kantin dadakan. Tampilannya? lusuh! seperti pria yang ditolak casting Sutradara sebagai pemeran pengganti, ck. Gibran menggeleng!


“Anu-“ Ingin rasanya Gibran meminta pendapat tapi, ah sudahlah jangan katakan. Darel juga punya masalah jadi, dia tidak perlu membebani sahabatnya itu.


“Ahh lupakan!” timpa Gibran.


“Ya sudah!” cuek Darel, dan kembali sibuk mengunyah makanan ringan dan yang mengenaskan di atas meja tamu.


“Makan siang sana,” titah Gibran. Kasian juga melihat teman seperjuangannya itu, dia hanya menganjal perut dengan makanan ringan.


“Nantilah, mmm-“ ingin rasanya dia mengetahui kabar Kalya.


“Apa?” selidik Gibran, dia tahu jika Darel merindukan gadisnya.


“Kalya?” ucap Gibran, dia tidak merespon. Tapi tatapan mata Darel sudah mewakili, seberapa besar keingintahuan pria itu. Dasar!


“Dia kecewa karena tidak bisa melihat tunangannya, entahlah kemana pria itu.” Sindir Gibran, dan langsung memancing rasa penasaran Darel akan kelanjutan ceritanya.


“Kalau penasaran, tanya sendiri sana.” Belum sempat Darel melayangkan reaksi, Gibran malah memaksanya berdecak karena kesal.


“Tadi Claretta menghubungiku, sepertinya dia akan segera pulang ke Indonesia.” Gerakan Gibran terhenti, dia ingin memastikan bahwa dia tidak salah mendengar ucapan Darel barusan. Claretta?


“Makanya kalau punya ponsel dicek, dia menelponmu tapi kau malah mengabaikannya.” Semprot Darel, bersikap seperti guru Matematika yang killer.


“Dia menghubungiku? kapan?” dengan cepat dia mengambil ponsel, dan menekuri riwayat panggilannya. Dan benar saja, tertera satu nomor yang berulang kali mencoba menghubungi Gibran. 


Darel menangkap wajah tanya Gibran, sejak kapan bos besarnya itu bisa melupakan hal tentang Claretta.


“Iya yang itu, bukannya kau tahu dia sudah mengganti nomor ponsel? kenapa malah bingung sendiri. Jangan bilang kau belum menyimpan nomornya?” selidik Darel, astaga. Dia melupakan Claretta!

__ADS_1


Gibran terlalu sibuk dengan perusahaan dan tentunya Qiandra, jadi tidak heran jika dia bisa melupakan hal lain yang tidak penting. Tidak penting?


“Pantas saja dia menelponku dan marah-marah, ternyata kau mengabaikan panggilannya?” tanya Darel tidak percaya.


“Hahaha, benarkah?” tawa Gibran pecah. 


Dia tahu bagaimana watak Claretta, satu-satunya sahabat perempuan yang mereka miliki. Gibran selalu ingat bagaimana dulu dia begitu menjaga potret mereka berempat yang terpajang di Apartemennya, persahabatan mereka begitu hangat. 


“Aku mengira dia yang melupakan kita, ternyata aku yang terlalu sibuk sampai melupakannya.” Timpa Gibran, dan dihadiahi tatapan tidak percaya Darel.


“Aku penasaran bagaimana reaksi Fahar saat mengetahui kepulangannya?” Gibran menyetujui akan hal itu, dia tahu sebesar apa rasa Fahar pada Claretta.


Fahar menyukainya dalam diam, dia punya alasan yang cukup kuat sehingga bersikap seperti itu. Yang jelas dia hanya menjaga persahabatan mereka, karena dia tahu siapa pria yang disukai Claretta.


******


“Qia bagaimana kalau kau bertemu dulu dengan si Ara itu sebelum kita kembali?” ide Kalya itu berhasil membuat gerakan Qiandra terhenti, jelas saja. Dia menunggu kelanjutannya!


“Kau bicara dengannya, dan yakinkan dia untuk membatalkan perjodohan ini. Siapa tahu kan dia bisa membantu?” serunya Kalya.


"Tapi, kau ikut kan?" harap Qiandra.


"Tentu saja, tapi aku akan menunggumu di meja yang berbeda." Senyum Qiandra redup, tidak apalah. Daripada dia datang seorang diri kan?


Tapi tunggu, hanya berdua? bersama pria yang tidak dikenalnya? membayangkan saja sudah membuat Qiandra tidak nyaman.


“Dikasih solusi malah bengong!” ucap Kalya mengagetkan, Qiandra hanya memutar bola matanya mendengar ucapan gadis itu.


Kalya hanya menggeleng, itu bukanlah hal yang sulit. Gadis itu segera mengambil benda pipihnya, dan mencari nomor yang dikira mampu menjadi penyelamat atas kegundahan gadis itu. Qiandra? dia hanya diam dan terus mengamati.


“Halo Om, ini Kalya. Apa Kalya bisa bicara sama Papa?” tanyanya langsung.


"Iya, tunggu sebentar ya Nona." Pria yang dihubungi Kalya adalah Asisten Papa Agam, usia pria paruh baya itu hanya terpaut beberapa tahun lebih muda dari Papanya.


“Halo sayang,” sambut hangat diujung sana. Yang membuat senyum Kalya memgembang, dia mengenali suara ini.


“Halo Pa, kenapa ponsel Papa sama Mama mati?” keluhnya langsung.


“Maaf sayang, ada apa sampai anak Papa yang cantik ini menelpon hmm?” tawa gemas Agam membuat gadis itu hanya mengerucutkan bibirnya, dasar Kalya.


“Itu Pa, Qia minta nomor ponsel calon suaminya.” Ucapan usil itu, berhasil disambut dengan tatapan tidak percaya Qiandra.


“Apa Qia sudah tidak sabar sampai meminta nomor Ara?” tawa meledak pun terdengar di seberang sana.


“Sepertinya Pa,” Kalya menjulurkan lidah pada Qiandra. Lihatkan, dia memang sengaja mengejek sahabatnya itu.


“Ya sudah, nanti akan Papa kirimkan.” ungkap Agam berwibawa, dan hanya menggeleng. Dasar anak muda, ungkapnya dalam hati.


“Makasih Pa,” jawabnya.

__ADS_1


“Sama-sama sayang, Papa tutup ya.” Pamit Agam.


Panggilan itu berakhir, mereka menunggu dan menatap iba ponsel Kalya. Berharap benda itu memberikan tanda dan kabar baik. Dan, ponsel berbunyi. Tanda pesan telah masuk, saat membukanya terlihat beberapa digit angka pada pesan itu.


“Cepat telepon dia,” Saran Kalya. “Aku?” jelas Qandra. 


“Tentu saja, masa aku?” serunya.


“Katakan, kau ingin bertemu dengannya malam ini.” Titah itu berhasil membuat Qiandra semakin tidak percaya, kenapa harus secepat ini.


“Malam ini?” selidiknya, bukankah ini terlalu cepat? pikir Qiandra.


“Bukankah itu lebih baik? Lusa kita berangkat, jadi kau harus segera bertemu dengannya.” Benar juga, ungkapnya dalam hati.


“Baiklah,” dengan mantap Qiandra mengambil ponsel dan mengetik nomor yang ditampilkan Kalya. Tanpa ragu dia menekan icon hijau untuk memanggil, tersambung. Cukup lama dia menunggu, dan-.


“Halo,” sapaan itu membuat Qiandra mendadak lupa dialog.


Kenapa suara pria ini terdengar familiar? Kalya menyenggol dan menanyakan dengan isyarat, apa panggilannya sudah tersambung. dan Qiandra otomatis mengangguk.


“H-alo, apa ini dengan Ara?" tanyanya terbata. Cukup lama untuk pria itu menjawab, sepertinya dia pun terkejut karena panggilan tiba-tiba dari gadis yang disukainya itu. Qiandra mengecek ponselnya, memastikan panggilan mereka masih tersambung.


“Halo?” sapa Qiandra kembali.


“Iya aku Ara. Ini siapa?” tanyanya memancing, sebenar pria itu tahu siapa gadis ini. Hanya saja, dia ingin meyakinkan diri jika gadis itu benar-benar Qiandra.


“Aku Qiandra, maaf karena mengganggumu. Itu, mmm apa kau punya kesempatan malam ini? Aku ingin bertemu denganmu.” tanyanya sedikit kikuk.


“Malam ini? bertemu denganku?” ulangnya tidak percaya, dia bahagia karena ajakan itu.


"Iya, apa kau bisa?" selidik Qiandra.


“Tentu, kirimkan aku jam dan tempatnya. Aku akan datang.” ucapnya lantang, sampai membuat Qiandra sedikit terkejut akan reaksi itu.


“Baiklah,” Jawabnya.


******


Restoran Jepang


Qiandra dan Kalya sudah sampai di tempat parkir Restoran, mereka sengaja memilih tempat ini untuk menghindar opini teman kerjanya. Bukankah aneh jika dia datang bersama pria lain selain Gibran?


Gibran, kenapa tiba-tiba dia merindukan pria itu? Qiandra masih mengunyah permen karetnya, berharap hal itu menetralkan rasa cemas yang tiba-tiba mengetuk konsentrasinya.


Malam ini, Qiandra mengenakan Lace Dress berwarna coklat susu. Makeup polos menghias tampilannya, Tas tangan berwarna senada pun telah digenggam cukup erat. 


Saat memasuki Restoran, Kalya langsung menempati mejanya. Dia akan memantau Qiandra dari sini. Manik gadis itu berkelana untuk mencari, dan langsung menangkap seorang pria yang tengah duduk membelakinya. Dia telah menempati meja yang telah di reservasi sebelumnya.


Qiandra melirik jam pada ponselnya, termyata pria itu sangat antusis. Dia datang 15 menit lebi dulu dari kesepakatan mereka, dia menghampiri mejanya. 

__ADS_1


“Maaf aku terlambat, apa kau sudah la-“ ucapannya terjeda karena tidak percaya. “Kau?” 


Pertemuan selalu menciptakan kenangan. Qiandra tidak pernah menduga, jika pria yang menatapnya itu adalah pendar bercahaya dalam gulita. Tapi sayang, sinar yang dimilikinya tidak mampu membuat Qiandra terpana. 


__ADS_2