Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Tentang Qiandra


__ADS_3

Apa kau tahu ??? Terjatuh membuatku kembali merangkak dalam kesunyian seorang diri, baktiku kau khianati dan yah ini kegetiran. Mengakhiri segalanya adalah tuntutan (yuliashafira14)


“Siapa yang menyuruhmu bermain hujan semalam, apa kau yakin tidak ingin dirawat ???” saat ini Darel dan Fahar berada di Apartemen Gibran, sahabat mereka itu mengalami demam dan diharuskan untuk beristirahat lebih lama.


“Kau berlebihan, aku hanya demam. Pulanglah, aku butuh tidur !!! Melihat kalian di sini membuatku kelelahan” ujarnya tanpa tenaga, entah sejak kapan Gibran menjadi selemah ini. Mungkin hujan bukan satu-satunya hal yang membuatnya merasa sakit. Mungkin ?!


“Ck, dasar !! Katakan apa yang sebenarnya terjadi padamu ?!” oke, rasa keingintahuan Darel kurvanya semakin naik jika terlalu lama di sana.


Helaan nafas Gibran yang berat mengakui semuanya, ada yang hilang dari pantauan kedua pria itu.


“Katakan !!!” Fahar yang biasanya hanya diam dan mengamati pun ikut andil saat memberi perintah, mereka saat ini duduk di sofa yang berada di dalam kamar Gibran. Setelah dokter memeriksa keadaannya, menetap lebih lama di Apartemen itu adalah pilihan yang lebih bijak untuk mereka saat ini.


Pembicaraan antara pria itu pun berlangsung cukup lama, dia menceritakannya semua hal dengan detail. Dan yah, dia ingin masukkan serta saran saat ini. Karena bukan hanya para gadis yang butuh teman ketika seperti ini bukan, siapa tahu Darel dan Fahar punya solusi untuk masalahnya itu ?!


“Dia menolakmu ?? Hahaha tidak bisa dipercaya, aku rasa hujan bukanlah satu-satunya alasan yang membuat fisikmu lemah saat ini” ralat, tidak ada solusi dari Fahar. Pria itu malah menertawakannya dan Gibran secara otomatis melemparkan guling ke arahnya !!


“Tapi, aku rasa dia punya alasan kenapa bersikap seperti itu” jawaban bijak dari Darel membuat Gibran menoleh tanpa diperintah, “Apa maksudmu ??” tanya pria itu segera.


“Kalya pernah menceritakan sesuatu padaku mengenai Qia, dari awal pertemuan mereka dia memang gadis yang tertutup. Karena masa sulitnya membuat Qia semakin membatasi diri dari apapun termasuk pria” Darel mencoba meluruskan sesuatu pada Gibran, setidaknya dia ingin bersikap dewasa dalam hal ini.


“Katakan semua yang kau ketahui !!! Perintah Gibran tidak sabar, entah kekuatan dari mana yang didapatkan saat ini. Demamnya ??? Jangan tanyakan, rasa penasaran mengalahkan segalanya !!!


“Katakan !!!” ulangnya, ketika melihat Darel yang ragu untuk menceritakan. “Apa tidak sebaiknya kau mendengarkan hal ini dari Qia secara langsung ???” tanya pria itu kembali, yaa dia merasa tidak pantas membicarakan itu lebih jauh.

__ADS_1


“Apa kau pikir Qia akan sukarela menceritakannya padaku, dia belum sepercaya itu. Buktinya dia mengacuhkanku selama ini” ucap Gibran lemah.


“Pulanglah kalau kau tidak ingin menceritakan” lanjutnya sedikit kesal.


“Kalau kau tidak mau melanjutkannya untuk apa kau menyinggung hal itu tadi ?! Apa kau tidak lihat pria itu terlihat sangat sensitif" jawab Fahar yang ikut jengkel, dan Darel melihat kearah Gibran. Ada wajah butuh pertolongan mewakili pria itu "Baiklah" ucapnya menyetujui.


“Qiandra gadis sebatang kara Gibran, saat dia dilahirkan ayahnya meninggal. Dan kau tahu dia merasa bersalah akan hal itu !!! Sebelum melahirkan Qia, ibunya keguguran lebih dari 2 kali. Dan saat kelahiran Qia ibunya justru kehilangan seorang suami. Dia merasa sang ayah menebus kelahirannya dengan nyawa itu. Dia hidup dengan pandangan dan pemikiran keliru selama ini” ucap Darel terpotong dan mengambil nafas yang cukup dalam.


“Bahkan saat bersama keluarganya dia semakin tertutup, tanpa alasan yang jelas mereka memperlakukan Qia berbeda semenjak ibunya tiada" sambungnya kembali.


"Dan yang lebih parah, tunangan Qia mengkhianati perasaannya. Mereka batal menikah 3 tahun lalu, pria tidak tahu diri itu menyebut Qia membawa dampak buruk. Dia menyalahkan, bahkan tidak meminta maaf sedikitpun dan gadis itu hanya bisa tersenyum getir atas semua perlakuan buruk semua orang” ucapnya dengan nada rendah, seakan ikut merasakan sesuatu.


“Sebelum berpisah pria itu berkata. Memang benar dia memulainya bersama Qia, tapi ingin menikmatinya bersama orang lain. Kalimat itu yang membuat Qiandra semakin hancur. Jadi mungkin kejadian buruk yang pernah dialami menjadi alasan sikapnya, dia lebih memilih bertahan seorang sendiri ketimbang penuh luka bersama seseorang !!! Dia melindungi dirinya Ran” sambung Darel, dan Gibran ??! Jangan ditanya bagaimana perasaan mendidihnya saat ini.


“Kenapa kau tidak menceritakan hal ini padaku sejak kemarin ??!” tanyanya.


“Kau tahukan aku sibuk mempersiapkan acara Perayaan untuk Perusahaan dan terakhir kali aku sedang punya masalah pribadi bersama Kalya. Jadi pikiran untuk mengatakannya tenggelam dengan kedua hal itu. Dan yang pasti aku tidak berhak mengatakannya” ucap Darel membela.


“Ada untungnya aku masih sendiri, lihatlah kalian berdua begitu berantakan jika berkaitan dengan masalah Perempuan” ucap Fahar tiba-tiba, apa pria itu tengah bersyukur dengan kesendiriannya ?! Astaga sungguh miris.


“Kau akan merasakannya nanti, dan aku akan bersyukur jika kau berada di posisi ini” jawaban telak Gibran.


******

__ADS_1


“Kenapa makanmu sedikit sekali, apa kau tidak enak badan ??” tanya Kalya saat melihat Qiandra yang hanya menyendokkan makanan dengan sedikit paksakan “Tidak” ucapnya yang langsung sadar dan melahap makanan itu dengan segera, hal itu terlihat dibuat-buat di mata Kalya.


“Kau mudah ditebak, apa kau memikirkan Gibran ???” tanyanya, yah gadis itu telah menceritakan semua yang terjadi pada Kalya, tapi jawaban Qiandra tidak kunjung keluar.


“Darel mengatakan pria itu sedang demam, apa kau tidak ingin menjenguknya ??” pertanyaan yang berhasil membuat Qiandra teralihkan.


“Kau membiarkannya kehujanan tentu saja dia demam, sepertinya Gibran harus dirawat” okelah kadang kita harus berbohong agar orang lain bisa berlaku jujur bukan ??? Anggap saja memicu Qiandra adalah hal terbaik saat ini.


“Tidak” gagal, gadis itu ternyata lebih keras kepala pikir Kalya.


“Minumlah” Kalya menyodorkan segelas air putih, sesaat kemudian Qiandra meneguk habis minuman itu. Kalya berharap kalimat penolakan berhenti keluar dari mulutnya setelah menghabiskan air putih yang disodorkan tadi !!!


“Dia sakit karenamu Qia” ujar Kalya kembali.


“Apa maksudmu ???” jawab Qiandra “Itu maksudku, apa maksudmu Qiandra Almira ??? Kenapa kau menyeret Gibran karena masa lalumu, dengar !!!  Sikapmu selama ini begitu acuh tapi dia tetap hangat, tidak cukupkah hal itu menjadi tanda akan keseriusannya. Aku tahu perasaanmu, dan aku mengutuk pria yang membuatmu semakin parah itu” ujar Kalya merujuk pada mantan tunangan sahabatnya itu.


“Aku ingin kau bahagia, jadi berhenti menghukum dirimu sendiri atas kesalahan orang lain. Kau berhak untuk hidup bahagia” Qiandra terdiam !!!


Yah Kalya menyayangi Qiandra dengan sepenuh hati, ini bukan iba tapi bentuk kasih sayang yang sebenarnya. Melihat orang yang kita kasihi dilimpahi kasih dan cinta, bukankah itu bukti nyatanya ?!


Ketika kita merasa duka tidak berujung, kita mencari alasan untuk menyalahkan. Membuat orang lain terjebak diantara lubang duka yang didiami, Kita terbuai dengan menjadi orang yang perasa.


Merasa hanya kitalah orang yang paling menderita dari segelintir yang lain, apakah kita mengetahui bahwa ada orang lain yang pernah merasakan luka yang sama bahkan lebih berat dari yang pernah kita tanggung ??? Sekarang karena kejujuran seseorang, membuat kita turut andil membentuk luka itu pada orang yang tidak pantas untuk mendapatkannya !!! 

__ADS_1


__ADS_2