Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Accismus


__ADS_3

Menerka dalam gelap dan aku merasakan sesuatu. Tapi, tidak !!! Itu hanya ilusi kala hadirnya kau paksakan untuk berkenyataan. (yuliashafira14)


“Apa yang membuatmu yakin dengan hubungan ini ???” Kalya dan Darel menikmati waktu mereka di danau yang tenang, pakaian keduanya tidak terlalu formal tapi karena wajah mereka begitu menunjang membuat pakaian itu beruntung dikenakan. Menggunakan apapun mampu membuat pasangan itu terlihat seperti bunga mekar di antara ilalang liar, begitu menawan.


“Karena aku menyukaimu” jawabnya “Kalya apa kau ingat dulu kau pernah mencoba kabur dari rumahmu, dan secara tidak sengaja menabrak seorang pria dan-“ seakan Kalya telah mengingatnya setelah sempat berkelana untuk sejenak. “Dan aku sudah minta maaf tapi selama seminggu aku terus bertemu dengannya, oh astaga bahkan pria itu terus mengikutiku. Mmm...dia pria yang cukup tampan, tapi kau tenang saja dulu aku tidak terpengaruh dengan ketampanan itu” ungkapnya panjang lebar, dan tentu saja membuat Darel menatap manik hitam itu.


“Pria itu mengikutimu ??? Apa kau begitu percaya diri, lihat gadis ini. Untung aku menyukaimu” jelasnya tersenyum, dan menggiring tubuh itu untuk duduk di tepian.


“Aku berterima kasih karena kemurahanmu itu, hmmm...tapi kau tahu dari mana kejadian itu. Padahal itu sudah sekitar 7 tahun yang lalu” ada yang ganjal menurutnya, karena kejadian yang berhasil dikenang tadi hanya dia yang tahu sejauh ini.


“Menurutmu” tangan Darel terdorong untuk mengapit dagu Kalya dengan 2 jarinya, memaksa untuk menyelidik wajah Darel.


“Apa kau pria itu” dan berhasil, dia mengingatnya setelah terjeda beberapa saat. Pria itu tersenyum, berarti tebakannya adalah kebenaran. “Ya, tapi ada yang keliru dari ingatanmu. Aku tidak mengikutimu saat itu” belanya pada diri sendiri, bukankah Darel akan terlihat seperti orang jahat kalau orang lain mendengarnya ???


Gadis itu terkejut “Kalya, aku sudah jatuh hati padamu. Tapi, seminggu setelahnya. Mungkin saat itu kau tidak akan percaya, aku menunggu angkutan kota di sana dan turun di tempat yang sama denganmu. Karena tujuanku kebetulan searah denganmu, 2 hari setelah pertemuan itu aku mulai memperhatikanmu tapi belum menyukai dirimu. Tapi semakin hari perasaan aneh tumbuh, dan ya aku menyukaimu saat tidak bertemu lagi dengan wajah ini saat menunggu angkutan” ungkapnya, Darel sangat suka sensasi menaiki minibus hingga angkutan kota. Orang berduit memang beda ternyata !!!


“Aku mencari, mengikuti dan merencanakan perjodohan ini. Maaf karena melakukannya, karena seperti kata orang tuamu. Kau begitu sulit diatur” nada penyesalan itu dapat didengar Kalya.


“Kau mengikutiku, astaga membuatku merinding saja” jawabnya bercanda “Aku tidak tahu kau sudah menyukaiku sejak lama, ternyata pesonaku benar-benar membuat orang bisa berbuat nekat” lanjutnya agar Darel menghilangkan perasaan bersalah, tapi apa ada yang melihat obat Kalya ??? Bukankah gadis itu kembali kambuh saat memuji diri sendiri, karena pernyataan tadi adalah gejala awal. Kalya, rasa percaya dirinya benar-benar sudah berakar dan beranak pinang pikir pria itu.


Mereka saling menghangatkan perasaan lewat tatapan dan perbincangan ringan dipilih untuk menjadi latar, keduanya sadar ada masa dimana mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih. Kalya juga menceritakan bagaimana hubungannya dan Qiandra, gadis itu ternyata punya darah Sumatera dan Sulawesi. Banyak informasi yang didapatkan pria itu untuk membantu Gibran, setelah mengetahui tentang Qiandra hal itu bisa membantu Gibran agar lebih dekat dengannya. Cukup lama mereka di sana sampai Darel memutuskan mengantar Kalya ke Apartemen mereka, berpegangan tangan dan menautkan jemari. Langkah seakan tahu kemana mereka harus kembali.


Danau ini tidak begitu ramai, Darel dan Kalya ke tempat itu untuk memperoleh ketenangan setelah penuh dengan kebisingan. Secara otomatis, Danau ini telah ditandai sebagai salah satu tempat kesukaan keduanya.


******

__ADS_1


Sky Apartemen 


Terdengar melodi indah di sana tapi Qiandra menulikan pendengarannya. Hening, sesaat kemudian panggilan itu kembali dan memanggil seakan mengiba pada gadis itu. Setidaknya makian saat ini terdengar lebih baik dari kediamannya.


“Qia ponselmu berdering” Kalya bersuara, gadis itu baru tiba 20 menit yang lalu. Dan sekarang pakaian rebahannya telah melekat dengan pas di tubuh dengan sempurna.


“Biarkan” jawabnya dari dapur. Yaaa dia sibuk, bukan lebih tepatnya mencari kesibukkan di ruangan itu. Memasak apapun lebih baik daripada menerima telepon. Kalya mendekati dengan tatapan tanya ???


“Tapi ini dari Gibran, kenapa kau biarkan ???” ada yang aneh, Gadis itu kembali seperti dulu. Dia menutupi cela terselubung yang telah dibuat Gibran.


“Makanlah, aku membuatkanmu ini” menyodorkan makanan khas Sulawesi yang menjadi primadona keduanya, bubur jagung.


“Malam-malam kau makan bubur jagung ???” tanya Kalya, tidak biasanya Qiandra membuat makanan itu disaat seperti ini, terbukti bukan ??? Gadis itu menyibukkan diri.


“Kau tidak mau ??? Ya sudah aku sendiri yang habiskan” segera ingin menarik wadah berisi itu, tapi Kalya “Siapa yang bilang tidak mau” okelah gadis itu tergoda, Kalya menyerahkan ponsel Qiandra yang kembali berdering.


“Halo” jawabnya setelah meletakan sendok makan dan berdiri menghindari tatapan Kalya, gadis itu berjalan menuju balkon.


“Apa kau sibuk ???” tidak ada sapaan diujung sana, hanya nada penuh tanya rasa khawatir.


“Mmm, aku di dapur. Ada apa ???” tanyanya santai karena pertanyaan basa basi itu.


“Ohhh, aku ingin mengundangmu dan Kalya untuk hadir di perayaan Perusahaan lusa malam. Aku harap kau menyempatkan diri untuk datang” jawab Gibran.


“Bukankah kau bisa mengatakan itu besok, kenapa malah menelpon sekarang ???” pertanyaan yang mengganggu Qiandra berhasil dia loloskan.

__ADS_1


“Aku hanya ingin memberitahumu lebih awal” jawaban Gibran terdengar seperti alasan, tapi pada dasarnya itu memang alasan.


“Baiklah, akan aku usahakan” oke hanya itu jawaban yang pas untuk Qiandra utarakan.


Hening...


“Kalau begitu lanjutkan makanmu, maaf karena mengganggu” Qiandra merasa bersalah saat mendengar permohonan maaf itu. “Bukan masalah” setidaknya jawaban itu bisa membuat Gibran lebih baik bukan ???


“Ada hal penting ???” entah sejak kapan Kalya di belakang Qiandra dan membawa makanan di tangannya, mereka menghangatkan tubuh dengan bubur jagung dan gula merah buatan Qiandra tadi.


“Dia mengundang kita lusa” jawabnya seiring dengan mengunyah pelan makanan itu.


“Untung kau angkat panggilannya, sudah aku duga pasti ada hal penting” jawabnya, Kalya tahu itu hanya alasan yang dibuat Gibran agar bisa mendengar suara Qiandra. Sejak kemarin, gadis itu mengabaikan ponsel pintarnya. Kalya sebagai pakar yang tidak bersertifikat paham akan usaha itu, dan dia bertugas menengahi tentunya.


“Apa kau menjauhi Gibran ???” tanya Kalya tapi tatapannya tertuju pada benda langit yang bersinar.


“Tidak” ucapan yang bertolak belakang dengan hati kecil gadis itu.


“Lalu kenapa kau mengabaikan panggilannya” kini mata itu melihat Qiandra yang telah meletakan makanan di atas meja.


“Aku bukan menjauhi apalagi mengabaikan dia tapi hanya membatasi diri Kal” ucapnya.


“Untuk apa kau membatasi dirimu ???” pertanyaan Kalya tidak ada habisnya, seperti telah disusun sebelum ditanyakan.


“Karena ak-“ suara Qiandra tenggelam dengan ucapan Kalya “Karena kau menyukainya bukan ??? Kau tidak akan membatasi dirimu kalau perasaan itu tidak ada. Kau mencoba membunuh itu sebelum benar-benar tumbuh” ucapan Kalya membuat Qiandra tidak bisa memberi alasan.

__ADS_1


Kita lihat bagaimana Qiandra bisa mengontrol dirinya, dulu dia memang tidak pernah melirik atau bergeming dari perhatian pria itu. Tapi itu dulu...tidak ada yang tahu, kapan hatimu sendiri berkhianat saat kau mengatur dan mengekangnya !!!


Note : Accismus adalah keadaan dimana Kita berpura-pura tidak tertarik pada seseorang atau sesuatu tapi sebenarnya Kita tertarik.


__ADS_2