Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Bertamu


__ADS_3

Aku bersenandung ingin jumpa, sepi mulai merangkai dan memenuhi separuhku. (yuliashafira14)


.


.


.


Matahari yang semula begitu terik perlahan mulai menyongsong ke ufuk barat, rembulan tampak tidak sabar untuk berganti peran dan menyusup untuk menguasai hamparan luas langit jingga.


Keberadaan benda langit itu sungguh mengusik malam setiap orang, bagaimana tidak? Lihatlah! Cahayanya begitu indah dan mampu mengalihkan fokus pemukim kota. Wulan di atas sana tidak hanya terlihat indah, tapi sungguh begitu benderang bahkan mampu menemukan sosok yang bersembunyi dalam kegelapan sekalipun.


“Bulan akan membuat malam ini akan semakin indah, bagaimana menurutmu?” lihatkan! Bahkan Darel dibuat begitu takjub, tapi sayang. Hanya Gibran satu-satunya yang tidak tertarik dengan hal itu, karena di hatinya ada rembulan yang lain. Dan tentu saja tidak ada yang bisa menggantikannya, sekalipun itu bulan yang sesungguhnya.


“Mmm,” hanya gumaman yang bisa diberikan Gibran. Darel menatapnya malas, bahkan gelengan kepala atas jawaban yang terdengar itu membuat dia semakin ogahan menatap sahabatnya.


“Kau tahu di mana rumah orang tua Kalya?” yups, hanya itu yang ingin dipastikan Gibran sejak kedatangan mereka beberapa saat yang lalu. Bahkan rasa lelah, dan wajah lusuh mampu dielaknya dengan begitu baik.


“Tentu saja, aku ini calon suaminya. Aku bahkan tahu di mana dia biasa menghabiskan waktu jika sedang merajuk pada orang tuanya!” lontar pria itu dengan bangga, bahkan senyum bak malaikat Darel begitu mengganggu mata hitamnya. Sayang, keceriaan yang ditawarkan ini belum mampu menyibak gelisah Gibran yang telah bertebaran sejak beberapa jam yang lalu.


“Kalau begitu kembali ke kamarmu, dan bersiaplah!” titah Gibran dengan wajah datar. 


“Astaga, bisakah kita beristirahat lebih lama? Aku bahkan belum menghubungi tunanganku.” Saat ini mereka tengah rehat sejenak di salah satu hotel berbintang, ayolah tubuh Darel mulai mengeluh dan mengajukan protes.


“Tidak! Kau tidak perlu menelponnya, saat kita ke sana kau bisa langsung menemui Kalya. Jadi kita harus segera bersiap, apa kau bisa menahan rasa rindumu lebih lama? Aku bahkan terasa sulit bernapas jika tidak bertemu Qiandra.“ yah coretan rindunya sudah tidak menyisakan ruang kosong lagi dalam dada, dia harus segera melepaskan rindu ini secepat mungkin.


Memang benar kata orang, jika gelora adalah hal sensitif bagi siapapun. Tanpa perintah kedua Darel langsung bangun, dan segera menuju kamarnya. Untuk apa? Tentu saja bersiap!


Dera wajah indah Qiandra terus menyapanya, gadis itu seperti belibis. Membuat Gibran harus menempuh batas yang tidak terkira, tapi yang aneh adalah pria itu sukarela melakukannya.


“Apa kota ini menjadi salah satu alasan yang membuat kau menyerah dengan kehidupan cintamu?” nyanyian yang mengandung unsur penasaran itu kembali dilantunkan Gibran.


******

__ADS_1


“Bagaimana penampilanku?” tanya Kalya dengan tangan yang siap meluncur ke arah bibir tipisnya, dia ingin mengoleskan lipstik pink menyala ke arah sana. Menorehkan warna itu, akan menambah kesempurnaannya malam ini. Pikir Kalya! Entah untuk siapa gadis itu berdandan, padahal mereka hanya akan makan malam biasa. Dan tentu saja tanpa Darel, tunangannya. Jadi untuk siapa dia berdandan? Dasar aneh!


“Apa kau yakin akan memakai itu?”mata Qiandra mulai mengamati dress merah jambu model sabrina yang dikenakan Kalya, apa dia tidak kedinginan memakai itu? Pikirnya.


“Tentu, apa ini terlihat biasa?”  tanya Kalya penasaran. Ayolah biasa apanya!


“Kau terlihat cantik, bahkan saking cantiknya aku mengira kau akan ke pesta saat ini.” lanjut Qiandra, gadis itu mengenakan dress yang serupa dengan milik Kalya. Tapi, dengan model yang berbeda. Gadis itu telah memoles wajah ayunya dengan sedikit bedak, dan tidak lupa kecupan lip gloss untuk menambah kesan manis untuk bibirnya.


Tawa mereka menambah riuh suasana kamar Qiandra, bilik yang bernuansa kuning pastel tersebut turut menambah kesan ceria keduanya ketika berdandan.


Saat sedang sibuk bercengkrama, ragu semilir angin ingin mengatakan pada mereka bahwa tamu yang ditunggu kehadirannya kini sedang memarkirkan kendaraan di bawah sana. Tidak patah arang, bisikan angin sepertinya mampu mengganggu Kalya yang cekikikan. Dia berjalan mendekati jendela, dan berkata.


“Aarav sudah datang, dan dia datang sendirian. Apa kau sudah selesai siap?” Qiandra menghentikan gerakan tangannya saat akan mengikat rambut yang sempat digerai, gadis itu terhenti bukan karena perkataan Kalya mengenai Aarav. Tapi, secara mendadak siluet dan suara seseorang kini tengah memenuhi ingatan dan pendengarannya.


/“Jangan diikat! Kau akan terlihat lebih cantik jika mengikatnya, Aku tidak ingin berbagi hal itu pada orang lain. Jadi biarkan rambutmu tergerai!”/ kehadiran sosok yang berharga itu membuatnya beku, dia belum bertukar kabar seharian ini. Tapi sekalinya teringat, pria itu langsung mendominasi Qiandra.


“Qia!” panggil Kalya bingung, Qiandra sedang bercermin tapi yang aneh dia malah membeku di sana. Apa dia sedang terpesona dengan kecantikannya sendiri saat bercermin, hingga tidak merespon perkataannya tadi? Hmm.


“Hah?” dengan kebingungan, Qiandra menoleh ke arah sahabatnya itu.


“Apa yang kau katakan tadi?” bukannya menjawab, Qiandra malah kembali bertanya.


“Aarav sudah sampai, apa kau sudah siap?” ulang gadis itu. Dia mendekat berniat untuk memastikan jika kesadaran Qiandra telah kembali.


“Benarkah? Kalau begitu, ayo kita turun.” dia melangkah terlebih dulu dan meninggalkan karet gelang bermotif polkadot tadi di atas meja rias. Gadis itu tidak ingin mengikat rambutnya sesuai permintaan Gibran, dia tidak ingin membuat pria tersebut kecewa. Sekalipun itu hanya bayangannya!


Kalya memandangi punggung Qiandra, “Aku kira dia akan merasa gugup karena acara malam ini. Sepertinya aku yang terlalu khawatir, terlihat sekali jika dia telah menyiapkan diri dengan begitu baik." 


“Itu Qiandra!” kalimat tersebut membawa arah pandang Aarav menuju gadis itu, netranya kembali disajikan dengan visual yang selalu cantik setiap saat tersebut. Langkah indah Qiandra menuntun dan kian mendekat, sosoknya bahkan mampu meluluhkan pertahanan Aarav seketika. Ahh bisakah, dia melanjutkan perjodohan ini? Harapnya.


“Duduklah nak!” Qiandra yang diikuti Kalya langsung mendaratkan diri di samping Mama Dyra, yang tampak anggun saat mengenakan pakaian berwarna ungu muda saat ini.


“Jadi orang tua nak Aarav masih berada di Semarang?” tanya Papa Agam, sepertinya mereka sudah terlibat percakapan sebelum kedatangan mereka. 

__ADS_1


Pria itu membisu dengan mata yang masih menatap seseorang, ahh. Bolehkah dia memaksa gadis itu untuk menetap dalam ingatannya? Walau itu hanya bayangan yang selalu mengikuti Qiandra! Bisakah Aarav mencurinya?!


“Nak Aarav,” panggilan tersebut memaksa pria itu kembali dari daya khayal tidak berumur yang sempat memenuhi isi kepalanya. Kasihan!


“Iya om?” tanya Aarav kikuk, Papa Agam menangkap sinyal ketertarikan dari pria itu. Pria ini menatap putri cantiknya tanpa berkedip, bahkan tatapan mendamba kian menambah bukti dugaannya. 


“Orang tua nak Aarav masih berada di Semarang?”ulangnya.


“Iya om, untuk beberapa pekan ke depan Papa dan Mama akan berada di sana. Mereka juga menitipkan salam untuk om dan tante." imbuhnya, dan di angguki oleh orang tua yang ada di depannya saat ini.


“Sebelum kita makan malam bagaimana jika kita membahas topik yang ingin nak Aarav sampaikan terlebih dulu, bukankah itu alasan nak Aarav menelpon beberapa waktu yang lalu?” rasa penasaran orang tua itu menumpuk pada sosoknya saat ini, sedikit bimbang. Tapi dia harus menepati janjinya pada seseorang bukan?!


“Ini tentang masalah perjodohan om, saya dan Qiandra tidak akan melanjutkan ikatan itu. Kami punya visi dan misi yang berbeda, dan itu menjadi alasan ketidakcocokan kami sejauh ini.” tutur Aarav, huft! Dia telah menguatkan hatinya. Tapi kenapa, dadanya seakan di remas oleh sesuatu saat mengatakan kebohongan itu? Qiandra menatapnya.


“Khmm, apa kalian yakin? Om kira kau tertarik pada Qia.” tatapannya beralih pada gadis yang tampak tenang di sisi berbeda.


Kepercayaan Qiandra terbangun, dia ingin meniti hidup bersama orang yang telah mengisi hatinya. Jadi, dia harus memberanikan diri untuk memperjuangkan hal itu. Perasaannya telah tumbuh dengan baik sejauh ini! Jadi tidak ada alasan baginya untuk menerima guyuran rasa cemas bukan?


“Pa, sebenarnya ini permintaan Qia.” Sela gadis itu begitu yakin, semua pasang mata kini menyoroti dirinya.


“Kenapa?” ulik pria paruh baya itu, dia hanya ingin mengetahui alasan yang mendorong Qiandra begitu mantap menolak Aarav.


“Karena, Qia-“


"Permisi," ucapan Qiandra tergantung di pendengaran saat seseorang mengambil alih fokus mereka secara tiba-tiba.


Astaga, apa yang dia lakukan di sini? Mata Qiandra menangkap sosok tampan di depan pintu saat ini. Yah, mereka memang sedang berbincang di ruang tamu jadi akan memudahkan untuk mengetahui siapa yang bertamu kini.


"Kalian?" Kalya tampak mewakili Qiandra, dia segera mendekat ke arah pintu masuk. Gadis itu ingin memastikan jika dia tidak salah lihat!


"Iya, ini kami." senyum Darel merekah, tapi tidak dengan Gibran. Pria itu hanya diam dan mengunci pandangannya untuk Qiandra, dan sosok pria tidak asing yang tengah duduk berhadapan dengan gadisnya saat ini. Bukankah itu Aarav? Untuk apa dia berada di sini?!


"Masuklah nak," suara Mama Dyra langsung membuyarkan fokus Gibran. Dia masih setia menatap Qiandra dengan senyum andalannya, astaga! Qiandra menetralkan perasaan tanya yang memenuhi kepalanya.

__ADS_1


Gadis itu terkesan, senyum cerah Gibran menyambut hangat tatapannya. Rasa gugup berangsur pergi secaraa sukarela, tatapan itu saling menyentuh dalam kebisuan.


__ADS_2