
HARUS PERGI
Sepulang dari rumah rendi, bibi erna pun menceritakan semuannya ke orang tua vita. Dan suaminya pun menaruh uang itu di depan mereka.
“jadi bagaimana bang, apa kita cari tempat untuk menggugurkan aja”. Tanya bibi erna.
"Kita paksa juga kalau mereka ga mau menerima vita, pasti vita akan sengsara disana. Aku lihat mamanya rendi tadi sangat benci sama vita. Dan dia juga sangat merendahkan kita tadi, mungkin memang lebih baik vita menggugurkannya. Dia masih muda, masih ada masa depannya,” jelas bibinya panjang lebar.
“Ya udah, tolong kamu urus dek,” kata bapaknya vita dengan sangat lesu. Lalu dia berjalan kearah kamarnya.
Vita benar-benar hancur melihat bapaknya begitu sedih, lalu dia bangun dan langsung ambruk dikaki bapaknya.
Dia menangis sampai sesenggukan disana. “Maafin vita pak, vita khilaf...huk hukuuukkk." ucap Vita pilu sekali bahkan Seluruh tubuh vita bergetar saking dia terus sesenggukan dikaki bapaknya.
Bapakny diam mematung, airmatannya kembali menetes. Lalu dia melangkahkan kakinya melewati vita. Vita semakin terpuruk, bahkan sekarang ayahnya sudah sangat marah padanya sampai sudah tak perduli dengan semua airmatannya.
Lalu dia harus kemana? Siapa yang bisa dia harapkan sekarang. Dia ingin mati aja sekarang. Dia ngga kuat dengan semua ini. Mamanya yang sedari tadi duduk diam pun bangun dan melewati vita yang masih seperti posisi bersujud untuk menyusul suaminya ke kamar.
Vita benar-benar ngga kuat, ditambah lagi karena dia sedang hamil, dan dari pagi belum makan. Akhirnya bibi erna dan suaminya mengangkat vita supaya berdiri dan masuk ke kamarnya.
Setelah itu bibinya dan suaminya pamit ke mamanya vita untuk pergi mencari tahu tentang tempat dan cara menggugurkan kandungannya. konon katanya di suatu desa ada seseorang yang bisa menggugurkan kandungan.
Didalam kamar, vita hanya bengong. Aku benar-,benar sampah seperti kata mamanya rendi. Apa yang harus aku lakukan sekarang, batinnya. Tidak lupa airmata itu tetap datang dengan setia menemani Vita, sekalipun wajah Vita sudah sembab.
Lalu dia teringat kata-kata rendi” kalau ada apa-apa telpon abang”. Diapun mengambil handphonenya dan menelpon rendi. Nadanya masuk tapi tidak diangkat. Dia coba sampai lima kali tapi tetap tidak diangkat.
Karena tidak berhasil menelpon rendi, vita pun kirim beberapa pesan whatsap.
Bang lagi sibuk send
Bang tolong hubungi aku segera ya bang send
Ada hal penting yang mau aku bicarakan send
Semua pesan vita belum dibaca, tapi sudah centang dua.
Mungkin dia lagi kuliah pikir vita. Lalu dia pun bersender didinding kamarnya, mungkin karena bebannya yang terlalu berat atau bawaan bayi diapun tertidur dengan posisi nyender. Tidak tahu dia tidur sudah berapa lama, yang pasti dia terbabangun karena suara kedua adiknya yang berebut bola.
__ADS_1
Berarti sudah sore, karena kedua adiknya sudah pulang dari sekolah. Lalu dia mencoba bangkit dan pergi kekamar mandi, setelah itu dia balik lagi ke kamarnya. Dia mencari handphone nya, melihat balasan pesan rendi. Tapi belum ada jawaban, tidak dibalas sama sekali padahal sudah di baca. Lalu dia mencoba telepon lagi dan telepon lagi. Tidak diangkat sama sekali. Pikiran vita makin kacau, benar-benar kacau. Dia merebahkan dirinya dikasur tipis di kamarnya. Menangis dan menangis itulah yang bisa terjadi tanpa bisa dia kendalikan. Orang tuannya jadi menanggung malu, dia jadi terhina walaupun wajahnya cantik tapi dia adalah perempuan yang sudah ternoda. TERNODA..kata itulah yang paling tajam seolah-olah menikam jantungnya. Lalu aku harus bagaimana? Aku harus pergi, harus... tapi kemana.?
Diapun mencoba menghubungi sahabat karibnya sewaktu sma. Sekarang dia lagi kuliah di kota, tapi mereka masih intens berkomunikasi. Lalu diapun menelpon sahabatnya berta lagi.
Sambil sesenggukan karena menangis diapun menceritakan semuannya. Dia cerita ingin pergi tapi kemana? Tanpa dia sangka-sangka sahabatnya sangat mendukung dia. Mending kita ketemu dulu, kamu datang ke kota A ya, tempat temannya sekarang kuliah. Sedikit vita merasa tidak sendiri. Dia pun bertekad untuk pergi dari kampung ini, yang sudah tidak ada tempat yang damai baginya.
Diam-diam vita pun memasukkan bajunya ke dalam tas, tidak lupa ijazah dan semua yang berkaitan dengan dirinya. Tapi dia melakukannya tidak mencolok takut ketahuan orang tua dan adiknya. Semua dia lakukan sambil berurai air mata. Semua sudah hancur, hubungannya dengan rendi juga sudah tidak bisa diharapkan.
Sore harinya bibi erna datang menemui orang tua vita. Mereka sudah menemukan tempat untuk aborsi. Mumpung hamilnya masih kecil harus segera dilakukan.bibi dan orang tuanya sudah sepakat besok pagi membawa vita kesana, lebih cepat lebih gampang menurut orangnya.Bibinya pun memanggil vita, biar gimana pun dia harus siap-siap besok pagi sebelum matahari terang, supaya tidak ada orang kampung yang melihat.
“Kamu jangan cengeng lagi, ini juga akibat ulah kamu, jangan nambah ribet,” kata bibinya ke vita karena melihat vita yang sudah sangat lusuh, mata bengkak dan lesu seperti tiada harapan. Sebenarnya bibinya sangat sayang sama vita, tapi rasa kecewanya lebih besar sekarang.
“Besok pagi kamu bangun cepat, biar kita berangkat lebih pagi. Malam ini kamu harus tidur, karena kalau besok kamu kurang fit orangnya tidak mau ambil resiko. Kamu mau perutmu makin besar dan semua orang tahu kalau kamu hamil tanpa nikah”. Cecar bibi erna yang makin membuat vita nangis.
Bibi erna mengambil uang yang tadi siang dikasi mamanya rendi, yang dia taruh aja dekat tv tadi, lalu memberikanya pada vita.
" bawa ini besok”. Sambil dia lemparkan ke dekat kaki vita. Lalu dia pergi dari rumah vita.
Vita merebahkan dirinya dikasur tipis yang ada dikamarnya. Dia merenungi nasibnya. Sambil menatap langit-langit rumahnya airmatanya kembali menetes.
Apa kamu puas melihatku sekarang, hancur seperti sampah yang sangat menjijikkan. Dimana janjimu kemaren bang, kalau ada apa-apa aku harus telepon kamu, batin vita sambil menangis terus.
Aku harus hubungi abang gimana bang?
Aku harus kemana, tolong jawab pesanku bang, teriak vita dalam hati.
Dia mencoba mengirim pesan whatsap lagi.
Ping send
Bang, tolong balas bang send
Angkat telponku bang send
Tapi pesannya hanya centang satu. Kenapa handphonenya ga aktif. Segitunya kamu bang menghindari aku. Batin vita. Ternyata sekarang, aku benar-benar sendiri. Aku harus gimana ya Tuhan, batin vita kembali meneteskan airmata.
Sampai tengah malam berlalu dia belum bisa tidur. Dan ga ada tanda-tanda rendi akan menghubunginya. Akhirnya jam tiga subuh dia sudah berkemas, karena jam lima bibinya sudah akan menjemputnya. Jam 4 subuh dia sudah kelar dan rapi, dia duduk dikamarnya, dia pandangi sekeliling kamarnya. Aku akan merindukan tempat ini batinnya.
__ADS_1
Selamat tinggal semuannya, selamat tinggal kenangan buruk, batin Vita sangat sedih sekali.
Semoga kedepan ada kemudahan, batinnya.
Dan tidak lupa dia berdoa minta ampun sama Tuhan dan memohon ditunjukkan jalan baginnya. Dia tidak berpesan atau menulis pesan apapun ke orang tua dan adik-adiknya.
Dia pikir untuk saat ini dia bingung mau ngomong apa.
Jam 5 lewat 20 menit bibi dan suaminya sudah datang, dengan seorang tetangga yang akan membonceng vita.mereka harus menempuh perjalanan sekitar 1 setengah jam menuju tempat aborsi. Bibi erna sudah bicara dengan orangtuannya vita.
Mereka berempatpun berangkat dari kampung. Vita membawa tas agak besar, bibi erna heran..
“Kamu bawa apa aja itu, kok banyak banget, cukup bawa beberapa kain aja,” jelas bibi erna sambil menatap vita.
Wajah vita sangat layu, dari kemarin gada masuk makanan ke perutnya. Ditambah dia menangis sepanjang malam. Sebenarnya bibinya kasihan melihatnya tapi mau bagaimana lagi.
Dia juga pusing dan kecewa. Vita diam aja lalu naik ke boncengan motor yang akan membawanya.
Akhirnya mereka berempat berangkat. Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, mereka pun sampai dijalan raya yang dilewati bis antarkota. Haripun sudah siang, sudah hampir setengah tujuh pagi.
“Kita istirahat sebentar minum tehmanis,atau kopi”. Kata bibi erna. Mereka sudah turun dari motor. Mereka menuju satu warung kopi yang ada di pinggir jalan. Mereka bertiga pun masuk karena vita minta izin ke toilet sebentar. Ketika vita mencari kamar mandi umum kebetulan bis antarkota berhenti menaikkan penumpang, tanpa pikir panjang vita pun naik tanpa sepengetahuan bibinya. Begitu bisnya jalan lagi vita merasa lega, karena bibinya belum menyadari kalau dia sudah pergi.
Maafkan saya bi, saya sudah banyak merepotkanmu, mudah-mudahan suatu saat saya bisa membalas kebaikanmu, katanya dalam hati.
Aku harus melupakan semuannya, aku harus jauh dulu dari orang- orang yang benar-benar menyayangiku, yaitu keluarganya yang sudah dia buat malu.
Setelah sekitar duapuluh menit, diapun mencari handphonenya berharap rendi menghubungi dia, ternyata nihil.
Kamu benar-benar tega bang, batinnya.
Setelah itu dia mematikan handphonenya dan tidak berapa lama dia tertidur.
Hai semua dukung terus ya
like, coment dan vote
Terimakasih
__ADS_1