
ENAKNYA SUASANA KAMPUNG
Selama dikampung sikembar sangat bahagia. Hari pertama mereka dikampung sudah berkeliling kampung memetik jeruk, melihat kerbau yang menarik gerobak, dan membakar jagung. Saking senangnya berkeliling kampung mereka ingin lebih lama dikampung. Apalagi delon adiknya vita sangat memanjakan keinginan mereka. Kapan saja ingin bakar jagung tinggal petik, mau makan jeruk tinggal peti, mau jambu banyak depan rumah, mau tomat tinggal petik. Pokoknya seru banget mereka bertiga foto-foto layaknya ditempat yang sangat spesial. Padahal itulah suasana kampung yang sebenarnya.
Setiap bertemu satu sama lain pasti saling menyapa. Tidak seperti dikota besar satu sama lain jarang bertegur sapa.
Pagi hari disini sangat sejuk, subuh diingatkan oleh ayam berkokok. Benar-benar masih asri dan sejuk.
Sekali seminggu mereka ke pasar yang ada di kecamatan. Mereka membeli perlengkapan buat seminggu. Benar-benar kehidupan yang sederhana yang sangat apa adanya tapi tidak neko-neko alias banyak maunya.
Ketiga anak vita yang dibesarkan di kota pun sangat menikmati hal yang baru buat mereka, sebelum besok atau lusa mereka pulang ke kota. Mereka akan merekam semua momen indah dikampung dan bersyukur untuk kesempatan pulang kampung.
“Paman, boleh ngga kita bakar jagung nanti malam sambil begadang”? Tanya kenzo ķe pamannya delon.
“Memangnya kamu mau ngapain begadang, memang kamu kuat dinginnya,” balik tanya delon.
“Kuatlah paman, kan nanti kita buat api unggun, iya ngga kak,”? Tanya kenzo ke kakanya amelda.
“Iya pasti seru paman,” sahut amel juga.
“Ya sudah terserah kalian, jagungnya nanti kita petik sebelum gelap,” ucap delon.
__ADS_1
“Paman ada gitar ngga?” tanya kenzi “ biar nanti kita sambil nyanyi-nyanyi,” lanjut kenzi.
PAMIT
Walaupun anak-anaknya sangat menikmati suasana kampung tapi mereka juga harus balik ke jakarta, karena kerjaan bram pasti sudah menumpuk begitu juga amelda.
Rencananya besok mereka terbang siang hari. Jadi bisa berangkat pagi dari kampung. Malam ini amel rencananya akan pamit sama rendi.
“Bi tolong bawa amel ke rumah rendi,” ucap vita ke bibi erna minta tolong.
“Ma aku harus ngomong apa disana,” tanya amelda ke mamanya.
“Ikuti kata hatimu nak, beri semangat karena dia lagi jatuh,” ucap vita sambil mengelus rambut anaknya.
Dirumah orang tua rendi ternyata mereka lagi ngumpul. Ada rendi dan istrinya dan juga anak angkatnya. Mereka semua lagi nonton tv. Begitu melihat kedatangan bibi erna mereka semua kaget, tumben bibi kesini. Rendi yang paling semangat bertanya duluan dia berharap ada kabar dari vita untuk bertemu anaknya.
“Bi ada apa bi,” tanya rendi sudah berdiri dan menyambut bibi vita dan suaminya karena delon dan amel masih diteras rumah itu.
“Ini vita menyuruh saya kesini, karena besok mereka sudah pulang. Biar jangan ada lagi kesalah pahaman katanya, dan kita lupakan semua masa lalu, kita bangun masa depan. Bukan begitu kak,” ucapnya mengarah ke mama rendi.
“Iya er, saya juga minta maaf sekali lagi untuk yang lalu, sebenarnya saya sudah mendapat ganjaran atas semua itu,” ucap mama rendi sendu. “Tapi ya sudah terlanjur, mau bagaimana lagi, hanya bisa berlapang dada,” lanjut mama rendi.
__ADS_1
“Justru itu bu saya kesini, vita ingin stop membahas masa lalu, kedepannya semua harus bahagia.” Ucap bibi erna. “karena besok pagi mereka sudah berangkat dari sini karena pesawatnya siang ke jakarta”, ucap bi erna lagi.
“Pa angel, masuk kslian,” panggil bi erna
Delon pun masuk di ikuti amel.
“Ini ren, biar gimana pun kita sama-sama tahu siapa amel, jadi vita ingin amel pamit baik-baik.” Ucap bibi vita sambil menggandeng tangan amel.
“ayo sayang pamit sama nenek dan kakekmu,” ucap bi erna. Sementara rendi yang dari tadi sudah tidak tahan menahan haru mendekati amel tanpa mendengar penjelasan bibi erna lagi.
“Apa boleh aku memelukmu sekaliiii aja nak,” ucap rendi sudah bercucuran airmata begitu juga semua orang yang ada disana. Benar- benar suasana yang sangat mengharukan pertemuan ayah dan anak setelah hampir 20 tahun di dalam kesalah pahaman padahal saling mencintai.
Amelda pun mengangguk atas permintaan ayahnya.
“Anakku uu uu,” ucap rendi sambil sesenggukan memeluk amel.
“Kenapa Tuhan hukum ayah seperti ini nak,” ucap rendi sambil memeluk amel.
Mama rendi yang menyaksikan keharuan itupun tidak tahan juga, dia memeluk rendi dan amel yang lagi berpelukan sambil menangis sesenggukan juga.
“Kalian hanya korban, akulah yang paling bersalah sama kalian. Aku yang egois,” ucap mamanya masih tangis -tangisan.
__ADS_1
“Tolong jangan benci ayahmu amel, dia tidak bersalah, dia juga frustasi sepeninggal mamamu, benci aja aku, aku ngga pantas jadi nenekmu,” mama rendi terus merasa bersalah.