
GARA-GARA KAMU
Betapa campur aduk nya perasaan bram saat ini , marah , kesal , sedih serta merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi barusan. Bram merasa sangat hancur.
Bram duduk di sudut koridor dengan tatapan sedih dan takut akan terjadi apa apa pada kandungan vita.
'ini semua gara - gara kamu feni '
'kamu masih aja ingin menghilangkan harapanku feni. Dulu kamu yang bilang aku mandul, sekarang kamu yang bikin istriku celaka ' batin bram geram.
'sial sial kenapa harus ketemu kamu lagi'
'kamunya aja yang bodoh bram, kenapa bisa abai sama vita dan anak kamu. kamu bodoh bram' kata sisi lain bram.
'semoga anak dan istriku tidak apa - apa'doa bram dalam hati.
Setelah sekitar setengah jam dokter keluar dari ruang tindakan dan memanggil bram.
“Bagaimana keadaannya dokter”? Tanya bram khawatir dan tidak sabar.
“Sepertinya ibunya mengalami sesuatu hal yang membuatnya shock banget” jawab dokternya.
“Bagaimana dengan kedua anak saya dok?” tanya bram serius.
“Sekarang ini janinya tidak apa-apa pak tapi kalau kondisi ibunya menurun lagi itu akan mempengaruhi janinnya pak”, jelas dokter panjang lebar.
"Ya Ampun Tuhan, ini semua salahku, bodohnya, bodohnya, bodoh kamu bram" teriak bram untuk dirinya sendiri.
"tolong lakukan hal terbaik untuk mereka dokter " mohon bram
"kami selalu mengusahakan yang terbaik untuk pasien kami pak" ujar dokter itu lagi.
"kalau begitu saya tinggal dulu, kami tetap observasi perkembangannya dan akan tetap kami kabarin ke pada keluarga" ujar dokter itu sambil berlalu.
Bram pun bingung, tidak tahu harus berbuat apa.Pikirannya blank dan bingung. Dia hanya bisa berdoa dalam hati untuk keselamatan anak dan istrinya.
Tadi saat dokter memeriksa vitA bram sudah telepon ibunya.
Dan seperti tebakan bram ibunya pun sudah pasti marah-marah karena kejadian ini. Dia terpaksa telepon mamanya dan menceritakan semuannya, termasuk vita yang berlari karena marah setelah bertemu feni dan direndahkan oleh feni. Bram tidak ingin bohong karena takut terjadi apa-apa dengan vita dan bayinya.
"bodoh kamu brammmmmm" teriak ibu leli ditelepon tadi.
__ADS_1
“Aku memang bodoh, bodoh, bodoh” teriak bram kesal sambil menarik rambutnya.
“Kenapa aku biarin feni menghina vita,” teriak bram lagi.
"maafin aku vit, aku hanya kaget bukan memikirkan feni atau perduli demi lagi, maafin aku vit" ucap bram pada dirinya sendiri.
Setelah dua jam menunggu vita sudah baikan tapi belum bisa diajak ngobrol dulu. Dia masih sangat lemah. Bram hanya bisa melihat vita dengan alat-alat yang terpasang ditubuhnya.
Dia benar-benar ga tega lihat vita lemah begitu. Dia tetap merutuki dirinya yang sempat terkecoh dengan kehadiran feni lagi sehingga vita merasa diabaikan. Padahal cita adalah kebahagiaannya.
Sore hari kedua orang tua bram sampai dirumah sakit. Bapanya yang sudah mendengar sekilas ceritannya langsung memukul bram karena emosi. Sepanjang perjalanan, bahkan di pesawat tadi papanya sudah sangat marah sama bram karena menyebut nama mantan menantunya feni. Menantu yang tidak pernah menghargainya dan bram anaknya hanya karena merasa lebih kaya dan berkuasa.
Plaaaakkkkk
“Kamu memang laki-laki ngga berguna, bukannya menjaga istrinya malah perduliin feni dan membuat cucuku begini, ingat anakmu, feni hanya meninggalkan masalah dalam hidupmu, tau ngga?” teriak bapanya dengan suara yang sangat tinggi, ngga perduli lagi ini di rumah sakit.
Bram tidak membantah sama sekali karena apa yang dibilang bapaknya sangat benar. Tadi dia juga bukannya menanggapi feni dia hanya kaget dengan pertemuan itu sehingga sempat terlintas beberapa kenangan.
“Bram, apa kamu masih mengharapkan feni?” tanya bapaknya dengan suara lebih rendah namun penuh tekanan.
“ kalau iya biar mama sama papa pulangkan vita kekampung atau kami bawa ke luar negeri. karena bagi kami cucu dan menantu kami vita sangat berharga” Jelas papanya lagi sambil menunjuk ke kamar vita.
Ibu leli yang masih menangis juga tidak membantah ucapan suaminya, karena dia memang kecewa sama bram.
Karena sedikitpun tidak ada dalam hatinya untuk kembali sama feni dan meninggalkan vita. Bahkan dalam mimpi pun tidak ada.
“Vita itu sangat baik, dia tidak pantas disakiti.” Tambah papanya lagi.
Sementara mamanya yang sudah menangis dari tadi, lebih fokus ke keadaan vita. Mamanya juga kecewa sama bram karena ngga bisa menjaga vita dan cucunya.
“Bram sangat mencintai vita pa”, jawab bram yakin.
"Kalau kamu cinta kenapa bisa jadi begini bram" geram papanya
Saat itu juga suster memanggil keluarga ibu rosvita ke ruangan dokter. Bram dan kedua orang tuanya langsung menghadap dokter.
"bagaimana dokter, bagaimana keadaan menantu saya"? ibu leli ngga sabar.
“Begini pak, bu” kata dokternya setelah mereka duduk dan bram berdiri dibelakang kursi mamanya.
“Kondisi ibu vita menurun, apa lagi dia hamil kembar. Jadi kami menyarankan untuk mengeluarkan bayinya sekarang”, jelas dokternya.
__ADS_1
"maksud dokter gimana dok" tanya ibu leli ngga sabar.
Bram pun langsung menangis karena dia pikir anaknya sudah tidak ada.
"kita harus segera lakukan tindakan operasi pak bu, untuk menyelamatkan mereka" jelas dokter
"tapi cucu saya ngga apa - apa kan dok" tanya papanya bram
"kita doakan saja ya pak bu" ucap dokternya bijak.
'syukurlah'batin bram
"baiklah dokter, lakukan yang menurut dokter terbaik. kami percayakan mereka ke pada rumah sakit ini" ujar bu leli masih menangis.
“Lakukan yang terbaik dokter, selamatkan mereka”, ucap papanya bram juga ke dokter itu langsung , karena dia yakin dokter sudah memikirkan semuanya.
“Baik pak, segera kami uruskan,” jelas dokter itu.
"kami akan uruskan dokumen untuk ditandatangani pihak keluarga secepatnya. karena lebih cepat lebih baik" jelas dokter.
Lalu bram menandatangani surat yang dari pihak rumah sakit, karena disuruh papanya buru - buru tanpa membaca lagi. Ternyata surat itu adalah surat pernyataan keluarga untuk tindakan operasi pasien.
Bram benar-benar terpuruk dan hancur melihat vita terbaring lemah begitu. Bagaimana anaknya didalam sana.
Hahhhh bram benar-benar frustasi dan menyesali diri.
Menunggu diluar ruang operasi membuat hati bram makin frustasi, dia tidak tahu istrinya di apain di dalam sana. Yang ada dipikirannya hanya takut istri dan anaknya tidak selamat.
Setelah satu jam berlangsung operasinya selesai. Begitu dokter keluar bram dan orang tuannya langsung mendekat.
“Gimana dokter”? Tanya bram harap-harap cemas.
“Operasinya berhasil, kedua putra anda selamat, sedang diurus bidan, istri bapa masih dalam pengawasan mungkin dia sadar 6 jam kedepan.” Jelas dokternya.
Bram nengusap mukanya kasar, terimakasih Tuhan anakku selamat tapi gimana istriku, batin bram.
Selamatkan istriku Tuhan, batin bram.
Hai semua, dukung terus ya
jangan bosan liku, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih