
BERTEMU KAMU
Sekitar jam 2 siang, satu mobil mewah memasuki pekarangan rumah. Satpam didepan langsung membuka pintu pertanda sudah kenal dengan yang barusan datang.
Vita juga melihat mobil tersebut, tapi dia tidak terlalu peduli karena memang bukan urusannya.
Dari mobil tersebut keluar seorang laki-laki tampan, mungkin itu anaknya ibu lely, batin vita.
Dia pun kembali duduk menatap taman didepannya. Pikirannya pun melayang ke kampungnya. Ibu dan bapak lagi ngapain ya? Delon pasti lagi main setelah pulang ibadah, pikirnya.
Sementara di dalam rumah bram mencari mamanya, biasanya ada diruang keluarga kalau tidak lagi istirahat.
“Bi, mama mana”? tanyanya ke bi sumi art nya.
“Ibu baru aja naik ke atas den, mau istirahat katanya”, jelas bi sumi sambil agak membungkuk ke anak majikannya ini.
Tanpa bertanya lagi bram pun langsung naik ke atas ke kamar mamanya.
Tok tok tok
“ma, mama tidur ya? Ni bram ma, bram boleh masuk,” tanyanya.
Tidak berapa lama pintu terbuka dan terlihat mamanya yang masih memegang handphone sepertinya habis telepon seseorang.
“Masuk bram, kapan datang, sudah lama,? Tanya mamanya bertubi-tubi. Diapun menarik tangan bram masuk dan menggandeng tangan bram, mengajak bram duduk disofa yang ada dikamarnya.
Sepertinya ada yang mau mama omongin nh, batin bram.
“bram mama mau ngomong sebentar sama kamu,” jelas mamanya setelah mereka duduk.
Bram melihat mamanya lebih serius,
sepertinya ini memang mamanya mau ngomong serius nh, batin bram. Ngomongin apa ya? Tanyanya dalam hati.
“Ada apa ma,” tanyanya juga serius.
Mamanya terdiam sejenak, bingung untuk mulai darimana. Tapi sebentar kemudian dia meraih tangan bram, dan menepuk punggung tangannya.
“Dibawah ada seorang gadis yang butuh pertolongan,” lalu diam sesaat.
Tapi bram juga tidak bereaksi, dia diam aja mendengarkan mamanya.
__ADS_1
” Dia sedang hamil, tapi orang tua pacarnya tidak setuju. Lalu dia ke jakarta, tadi mama bertemu dia digereja lalu mama ajak kesini.” Lalu diam lagi sejenak.
Mamanya menghela nafas, lalu dia teruskan lagi ceritanya.
“Bram bagaimana kalau kamu menikahi gadis itu nak,? Tanya ibu lely yang sontak membuat bram sangat kaget. Tapi belum sempat dia jawab mamanya sudah mencecarnya lagi.
“Kamu kan tahu bram, kita sudah berusaha untuk adopsi, tapi tidak memenuhi syarat karena kamu tidak punya istri. Tadi mama kepikiran untuk mengurusnya sampai anaknya lahir, lalu kita beri dia uang kompensasi,Cuma ibu liat dia gadis yang baik, alangkah baiknya kalau anak itu nanti dia yang asuh,” lanjut mama lely seolah-olah tidak memberikan waktu buat bram untuk mencela bicaranya.
“Nanti kita bisa buat perjanjian tertulis dengan dia, kalau kamu takut ribet.” Kata mamanya sambil bersender di sandaran sofanya.
“Tapi pernikahan tidak segampang itu mah”, jawab bram lugas.
” Biarpun kita tidak membedakan bibit bebet bobot, minimal kita tahu asal usul gadis itu.apa lagi mama bilAng dia sedang hamil?Tapi terserah mama aja. Saya sih ngga keberatan asal jangan jadi ribet nanti urusannya. Mama tahu kan saya tidak suka yang ribet.” Tandasnya karena dia lihat mamanya sudah sangat bersemangat.
“Tadi papi juga bilang begitu pas mama ceritain,” jelas mamanya lagi.
“Kalau mama sih yakin dia gadis yang baik bram, kayaknya feeling mama ngga salah,” lanjut ibu leli.
Setelah terdiam beberapa saat dengan pikiran masing-masing ibu leli pun memanggil artnya.
Lalu dia memanggil bi sumi artnya.
“Bi, tolong panggil gadis yang saya bawa tadi kesini,” suruh ibu leli ke bi sumi.
“Non vita dipanggil nyonya ke atas,” kata bi sumi memberitahu vita.
Vita pun langsung berdiri dari duduknya.
” Iya bi, ayo”, lalu bi sumi membawa vita kelantai dua rumah itu. Disana ada seorang laki-laki dan juga ibu lely. Lalu dia menatap laki-laki itu, disaat bersamaan bram juga melihat vita. Bram terkesiap, gadis ini lumayan cantik hanya masih kampungan, pikirnya.
Kelihatannya polos lagi, batinnya.
“Ayo vit, duduk sini dekat ibu, kenalkan ini anak ibu satu- satunya, namanya bram,” ibu lely mengenalkan anaknya.
“Bram ini vita, tadi kami ketemu digereja,” jelasnya ibu vita seolah-olah mereka tadi belum membicarakan apa-apa. Vita mengulurkan tangannya yang disambut bram mengulurkan tangannya juga sambil menyebutkan nama mereka masing-masing.
Sepertinya usul mama tidak buruk, pikir bram dalam hati. Gadis ini sebenarnya gadis yang baik hanya korban pacarnya., batin bram.
Ibu lely memperhatikan bram yang sedikit memperhatikan vita, biasannya kalau disinggung menikah dia pasti langsung dingin dan pamit, tapi ini dia mau memperhatikan vita.
“Bram vita ini, korban dari pacarnya nak, dia dari kampung , jadi sekarang dia lagi hamil. Gimana kalau dia tinggal dirumah ini nak, kasian”. Lanjut ibu lely lagi seolah-olah belum dia ceritakan ke bram.
__ADS_1
“Emangnya pacar kamu nanti ngga nyariin kamu,” tanya bram asal dan langsung dia tujukan ke vita. dia sendiri bingung kenapa dia bertanya begitu.
“Dia sudah tidak mau saya hubungi pak, bahkan sampai nomor handphonènya juga dia ganti, dan kata orangtuanya dia sudah punya pacar sekampusnya,” kata vita meradang mengingat rendi.
Lalu dia terdiam sejenak menarik nafas sebelum melanjutkan ceritannya.
“Orang tuanya juga memaksa saya harus menggugurkan anak ini, mereka tidak mau kuliah dan masa depan anaknya rusak, karena kami keluarga kurang mampu pak.” Dia berhenti lagi sejenak.
"Lalu apa tujuanmu ke Jakarta"?
" awalnya saya hanya ingin menghindari semua orang kampung pak, saya malu" ucapnya
"terus sekarang"
“Sekarang saya tidak perduli sama dia pak, mending saya fokus ke diri saya dan anak saya, karena sampai sekarang Tuhan masih membiarkan anak ini berkembang”, lanjutnya menunjukkan ketegarannya.
“Oh begitu, saya hanya tidak mau dapat masalah besok-besok, tapi baiklah saya percaya sama kamu,” tegas bram.
“Terserah mama kalau dia mau tinggal disini,” kata bram kearah mamanya yang masih manggut-manggut dengan perkataan vita tadi. Lalu tanpa tedeng aling-aling dia pun bertanya sama vita untuk menikah dengan bram.
“Vit, maaf ya, jangan marah. Ibu hanya menyarankan untuk membantu vita. Gimana kalau kamu nikah ama anak saya bram,” vitapun sangat kaget mendengarnya, dan memandang ibu lely serius.
Apa ucapan ibu lely becanda. Tapi ternyata dia tidak menemukan wajah becanda, yang ada wajah serius disana. Vita bingung dia memandang bram dan ibu lely bergantian. Melihat reaksi vita ibu lelypun melanjutkan ucapannya.
“Bram sudah bercerai dengan istrinya 5 tahun yang lalu pada usia pernikahan mereka yang ketiga”, jelas ibu lely.
“Dia belum punya anak”, lanjutnya lagi. Saya hanya berpikir ini akan membantu kamu, supaya anak kamu punya status yang jelas.” Jelasnya panjang lebar.
“jangan takut vit, bram bukan orang jahat,” ibu lely terus mempengaruhi vita.sementara bram hanya diam tidak menolak dan tidak antusias juga.
“Maaf bu, bukan saya tidak mau, tapi saya tidak pantas,” ucap vita kearah ibu lely karena dia memang merasa tidak pantas. Lebih baik jujur pikirnya.
“kita baru kenal, saya orang susah, gadis yang ternoda,” ucapnya makin lemah.
“Saya takut bu,” ucap vita sudah hampir menangis. Dia bingung dengan perasaannya, sedih atau terharu karena ada orang yang ingin menyelamatkan kehormatannya. Tapi dia lihat ibu lely sangat baik begitu pun anaknya bram tidak menghinanya dan menghakiminya seperti keluarga rendi. Padahal kalau di lihat dari rumahnya kekayaan rendi hanya teras dari rumah ibu Lely ini yang sangat mewah.
Hai hai hai semua
Dukung terus ya
like, vote dan coment
__ADS_1
Terimakasih🙏