Terima Kasih , Untuk Luka Ku

Terima Kasih , Untuk Luka Ku
PART 32 SEPARUH MASA LALU


__ADS_3

SEPARUH MASA LALU


Tidak terasa kehamilan vita sudah masuk bulan ke tujuh.


Dia sudah jarang mual pagi hari, tapi porsi makanya terus bertambah sehingga berat badannya naik drastis.


Bram selalu setia menemani vita selama kehamilannya, apalagi masalah jadwal periksa dan juga keterangan yang diberikan dokter, semua di utamakan bram.


Sekarang vita berjalan sudah sangat berat, bentuknya sudah seperti badut katanya, bram suka senyum bahkan ketawa kalau istrinya itu mengatakan dirinya mirip badut.


Tapi bram selalu memperhatikan vita, bram tidak mau melakukan kesalahan sekecil apa pun. Vita dan anaknya harus diutamakan.


Sekarang amelda sudah punya baby sister khusus pilihan ibu leli ketika dia harus kembali ke suaminya di luar negeri.


Ibu leli pun sudah kembali ke singapura tapi selalu intens tiap hari telepon vita. Bahkan apa yang dikonsumsi vita tiap hari selalu dia tanyakan.


Hari ini mereka berencana membeli perlengkapan bayi.


Sebenarnya bram bisa aja suruh cici sekretarisnya sama leo, tapi dia ingin terjun sendiri bersama vita. Dia ingin merasakan moment membeli perlengkapan bayi seperti semua calon ayah.


Mereka pun menuju salah satu mall yang bonafit. Bram tidak ingin vita tidak nyaman berbelanja. Dia harus mengutamakan kenyamanan vita dulu.


"Langsung ke toko perlengkapan bayi dulu atau kamu ingin makan sesuatu dulu" tanya bram penuh perhatian.


Vita yang sudah berat untuk berjalan harus hati -hati dan pelan-pelan. Bram tidak pernah melepaskan tangannya dari vita. Bram harus mengimbangi langkah vita juga yang sudah pelan dan berat, tapi entah kenapa ada kebahagiaan tersendiri buat bram. Memapah istrinya yang berjalan sudah kayak badut emank, tapi itu sangat membaggakan baginya.


"kak, aku sudah kayak orang sakit ya" ungkap vita saat mereka di eskalator.


"siapa yang bilang begitu, kamu itu bukan orang sakit sayang, tapi sedang membahagiakan suami dan berkorban untuk suami dan anak" ujar bram senyum sambil menatap istrinya.


Tapi belum juga mereka sampai di toko perlengkapan bayi, kemesraan mereka harus terusik dengan seorang wanita yang sangat modis dan dandanan kayak artis.


“Hai honey, how are you?” tanya seorang perempuan sambil langsung memeluk bram.

__ADS_1


jedarrrr


Reflek bram melepas tangan vita dan berusaha menghindar dari pelukan wanita tersebut.


Mungkin bagi mereka itu biasa tapi tidak bagi vita. Wajahnya langsung berubah sedih berubah sedih, marah, kesal bergantian.


Bram yang masih kaget dengan kedatangan feni juga diam mematung di tempatnya dan otaknya blank untuk beberapa detik. Tapi beda lagi pendapat vita, yang mana menurut vita bram senang dengan perempuan ini.


“Saya baik-baik aja, ngapain kamu disini? Tanya bram menatap feni, tapi justru itulah yang membuat vita makin cemburu dan marah.” Oh ya kenalin ini istriku”, ucap bram sambil menarik tangan vita.


Ternyata vita masih jutek apa lagi dengan hormon kehamilannya. Tapi dia tetap mengulurkan tangannya, feni menyambutnya acuh tak acuh apalagi melihat vita hamil besar.


“Really, dia istrimu, tapi kok hamil? Anak siapa?” Ucap feni seperti menghakimi.


“Oh ya aku tahu bram tidak bisa punya anak, trus anak siapa yang kamu kandung” sindir feni tanpa beban karena dia lihat vita hanya wanita biasa aja.


Vita sangat marah, walaupun biasanya pembawaan vita selalu kalem dan tenang, tapi tidak untuk kali ini. Dia sangat marah.


“Masa, tapi sekarang dia sangat perkasa. Anak ini buktinya, anda kali yang berlebihan”, sanggah vita to the point mengingat kata ibu mertuanya bahwa mantan istrinya mengatakan bram mandul.


“Emanknya kamu siapa sh, siapa orang tuamu, bidang apa usahanya,” tantang feni yang merasa anak orang paling kaya dan berpengaruh.


Mendengar tentang orang tua jelas aja vita sedih. Vita sedih mengingat sekelabat orang tuanya di kampung. Orang susah. Bahkan orang kaya kampung seperti orang tuannya rendi pun sudah selalu menghina orang tuanya. Apalagi seorang feni. Vita melihat ke arah bram yang masih bengong, berharap ada pembelaan dari suaminya, tapi nihil.


Tak terasa air matanya mengalir dari tempatnya menetes di pipi tembemnya. Bram yang masih bengong jadi kurang fokus kepada vita membuat vita merasa sama sekali tidak di bela oleh suaminya.


Vita melihat bram lagi yang hanya bengong diam memaku, yang menurut vita bram tidak ingin membelanya di hadapan mantan istrinya.


“Hei sebelum kamu kenal bram saya duluan, separuh nafas hidup bram sangat mencintai saya. Kami susah dipisahkan, tau ngga?"Cerocos feni karena dia merasa di atas angin bram tidak membela istrinya sama sekali.


Entah apa yang ada di dalam isi kepala bram pada saat itu, hingga sesak yang dirasakan oleh vita saat itu membawanya pergi dan berlari meninggalkan mereka berdua.


Vita sudah tidak kuat di hina oleh feni mantan istri bram, sementara bram pun tidak berusaha membelanya sama sekali. dia berlari padahal perutnya sudah sangat besar dan berat. sejujurnya berjalan normal aja sudah susah apalagi ini berlari.

__ADS_1


Saat itulah bram sadar dan mengejar vita. Tapi terlambat vita sudah sempat berlari walaupun akhirnya bisa dikejar oleh bram , vita sudah marah dan sedih. saking sedihnya vita sama sekali kurang memerhatikan jalannya.


Vita tetap berjalan tanpa memperhatikan jalannya lagi sehingga ngga sadar apa yang ada di depannya.


bruggghhh


Dia menabrak troly dan tasnya terlempar ke samping dan tubuhnya hampir terjatuh, untung ditangkap oleh bram.


Dia menabrak troly karyawan toko yang sedang membawa barang dari gudang.


"maaf pak" ucap karyawan toko itu ketakutan.


Sekejap kemudian vita sudah tidak sadar.


Bram berteriak histeris minta tolong, apalagi di pakaian istrinya sudah ada darah, lalu dia dan beberapa karyawan toko membopong tubuh vita ke mobilnya dan membawa vita menuju ke rumah sakit terdekat.


Bram minta tolong salah satu supir toko itu untuk mengantar mereka karena dia ingin memegangi istrinya itu.


Sambil memegangi istrinya bram telepon sang asisten untuk segera menyusulnya ke rumah sakit, karena bram yakin otaknya sudah tidak bisa mikir lagi.


Begitu sesampai nya di rumah sakit vita pun langsung ditangani oleh dokter. Sepanjang menunggu vita airmata bram tiada hentinya. biarlah dia dibilang cowok cengeng. Tapi satu yang pasti demi apapun dia sekarang ketakutan, takut istrinya kenapa - napa, takut anak kembarnya kenapa - napa.


Tidak berapa lama sang asisten sudah tiba di rumah sakit.


"maaf pak, apa yang terjadi dengan ibu vita" tanya asisten bram


"ini salah saya leo, saya tidak bisa menjaga istriku dan anakku, aku tidak berguna leo, tidak berguna aaa" teriak bram sambil menggaruk kepalanya sambil menangis.


"tenang dulu pak " ujar leo setengah bingung melihat kegalauan bosnya.


Dukung terus ya guys


like, coment dan vote

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2