
KEHILANGAN
Sementara bibinya yang belum menyadari kepergian Vita mulai mencari vita, katanya ke toilet kok nggak balik-balik, batin bibinya.
Dia pun keluar dan mencari vita ke toilet umum yang disana, tapi tidak ada. Kemana vita, batinnya. Dia pun kembali ke warung menemui suaminya, dan mengatakan kalau vita ngga ada di toilet. Mereka kaget dan bingung. Jangan-jangan dia melakukan seduatu yang buruk, seperti bunuh diri karena dibelakang warung itu ada satu aliran sungai yang deras. Mereka pun panik, bertanya kesana kemari. Tapi benar-benar tidak ada yang tahu keberadaan vita, karena waktu vita naik bis memang tidak ada orang disana.
Bibi pun mencoba menghubungi handphone vita, tidak aktif. Lengkaplah sudah. Vita hilang tidak tahu bunuh diri atau pergi kemana. Setelah seharian mencari didaerah aliran sungai itu dan tidak ada hasilnya mereka pun pulang ke kampung.
Bibinya benar- benar merasa bersalah kepada orangtua vita.
**
Sementara vita begitu sampai dikota dia mengaktifkan handphonenya kembali dan menelponberta supaya jemput dia diterminal.
Begitu ketemu berta, mereka berpelukan erat namun sedih. Berta adalah orang yang agak bar - bar tapi baik. Vita benar-benar curhat semuannya. Mulai dari janji rendi, ketidak sukaan orang tuannya yang baru Vita tahu dan juga kehamilannya yang mau di gugurkan oleh keluarganya. Untungnya berta mau mendengar curhatannya dan ikut mencarikan solusi.
lalu berta menelpon kakanya yang di jakarta, minta tolong bisa ngga bantuin vita di Jakarta.
Setelah mereka lama berunding dengan kakanya berta akhirnya berta pun membantu vita untuk pergi ke jakarta. Nanti di sana Vita harus siap kerja apa saja yang penting halal. kakaknya Berta yang juga masih anak gadis hanya bisa membantu nompang dulu di tempat tinggalnya.
“Ya udah datang aja dek, Cuma kaka ga bisa janji cari kerjannya ya, Soalnya kamu bilang dia lagi hamil. Dia paling bisa kerja dikerjaan rumahan “, kata kakanya berta.
“Ngga apa-apa kak, pokonya kaka bantu dia seperti kaka bantu aku ya,” kata berta karena dia sangat kasian sama Vita.
“Iya, iya, tapi kamu harus belajar yang benar ya,” kakak akan bantu temanmu,” lanjutnya lagi.
Akhirnya berta sudah bisa meyakinkan kakanya untuk membantu vita. Dan sore ini mereka sepakat untuk mencari tiket bis menuju jakarta karena kalau naik pesawat takut pemborosan uangnya yang pas-pasan.
“Apa kamu yakin secepat ini berangkat, tidak istirahat dulu dikostan ku barang dua hari,” tanya berta.
Karena dia tahu vita benar-benar butuh istirahat sekarang.
“Terimakasih ber, tidak usah. Aku langsung berangkat aja ke jakarta.” Jawab vita. Akhirnya mereka pun pesan karcis bis untuk malam hari. Berangkat jam 10 malam perkiraan sampe jakarta 48 jam kemudian, sekitar 3 hari perjalanan.
__ADS_1
Malam harinya berta mengantar vita ke terminal bis jakarta, merekapun tidak bisa lagi menahan tangis. Apalagi vita, dia sudah tidak tahu lagi cara menghentikan air matanya dari kemarin.
Segala apapun yang dia pikirkan pasti berakhir dengan tetesan airmatanya di pipi.
“Kalau kamu butuh tempat curhat, telpon aku ya vit, aku selalu ada untuk mendengarmu,”
bisik berta masih sambil berpelukan
.”Jaga dirimu ya”, tambah berta..
"kamu tenang aja vit, semua pasti berlalu, di balik masalah pasti ada berkat tersembunyi" ucap Berta masih memeluk Vita lagi.
vita pun sudah tidak bisa bicara lagi karena airmatanya terus mengalir, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya perlahan.
Setelah itu dia melambaikan tangannya dan masuk kedalam bis yang akan membawanya jauh dari tempat ini.
Selamat tinggal semuannya, batinya
Selamat tinggal bang rendi, walaupun sebenarnya bukan aku yang meninggalkanmu tapi kamulah yang meninggalkan aku, gumamnya kembali meneteskan airmata.
'Tapi kenapa harus terjadi padaku Tuhan' Isak Ester di dalam bis itu.
Kegelapan malam di terminal itu jadi saksi betapa hancurnya hati Vita saat akan pergi jauh ke negri orang yang belum pernah dia datangi. Hanya modal nekat menuju Jakarta.
Yang ada di pikiran Vita sekarang adalah jauh dari orang - orang yang mengenalnya. Dia tidak sanggup melihat keluarga dan orang tuannya di hina orang.
Setelah semua penumpang naik, pintu bis pun tertutup pertanda bis segera berangkat.
Vita pun melihat keluar kaca mobil dan melihat disana berta melambaikan tangannya, vita pun semakin terisak sambil melambaikan tangannya. Tidak dapat lagi di gambarkan bagaimana perasaan Vita. Padahal biasanya wanita hamil muda pasti di manja oleh suaminya dan keluarganya. Tapi Vita, dia tidak muluk- muluk , yang penting anaknya bisa lahir selamat dia sudah bersyukur.
Tidak bisa lagi dia jelaskan apa isi hatinya saat ini, semua sesak jadi satu.
Lindungi aku Tuhan, doannya dalam hati.
__ADS_1
'Pakai aku sesuai rencanamu' doanya dalam hati
' kuatkan aku melewati semuannya'
Bis pun bergerak semakin jauh meninggalkan terminal. Selamat tinggal semua kenanganku.
Selamat tinggal orang-orang yang aku cintai.
Selamat tinggal bang rendi, gumam Vita sekali lagi.
Semua kenangan vita terbawa bersama angin malam yang menemani perjalanannya malam ini.
Lampu-lampu yang kelap-kelip dipinggir jalan seolah tidak terlihat oleh vita karena hatinya sudah dipenuhi kabut gelap.
Dia sekarang hanya mengikuti arus yang membawanya kemana. Dia juga belum tahu kehidupan kedepanya bahkan dia belum tahu bentuk dan gaya hidup di Jakarta.
Tapi dia harus pergi, dia tidak mau orang tuannya menanggung malu karena anaknya hamil tanpa suami. Sementara bang rendi yang berjanji akan bertanggung jawab bagai hilang di telan bumi.
Dia juga tidak ingin menggugurkan kandungannya karena dia tidak mau menambah dosa lagi setelah salah langkah sama rendi.
Jika di jakarta aku harus jadi pembantu asal bisa bersama anakku, tidak apa-apa, batin vita.
Tapi bagaimana aku melahirkan Tuhan tanpa suami? Batin vita kembali sangat sedih.
Segala pikiran dan gambaran masa depan yang kurang bagus sudah Vita bayangkan, tapi dia harus kuat karena dia sekarang sendiri di negri orang. Kalau selama ini ada masalah bisa mengeluh ke mamanya, saat ini harus mandiri.
Karena kelelahan menangis terus ,akhirnya vita ketiduran di bis yang membawanya. Dia melupakan sejenak semua beban hidupnya. Karena sudah beberapa hari ini dia tidak tidur cukup saking banyaknya beban pikirannya.
Apapun yang terjadi besok, hadapi saja, toh bahkan yang terpahit sudah Vita terima. Diusir mamanya rendi seperti sampah yang menjijikkan. Tidak ada hal yang lebih sakit dari itu, tapi bisa di lewati oleh Vita.
Dukung terus author ya
like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih