Terima Kasih , Untuk Luka Ku

Terima Kasih , Untuk Luka Ku
PART 5 AWAL DERITA


__ADS_3

AWAL DERITA


Sore itu langit benar-benar mendung.


Sepertinya akan turun hujan yang sangat lebat. Motor rendi menyusuri jalanan menuju kampung mereka dengan kecepatan sedang.


Keduanya diam sekarang. Setelah mereka berjalan sekitar satu jam, benar saja hujan sudah turun dengan sangat lebat. Dan keadaan jadi agak gelap padahal masih sekitar jam limaan. Rendi bingung, mau lanjut jalan atau mereka neduh dulu. Kalau lanjut jalan sepertinya ga kuat nerobos karena hujannya lebat banget.


Tapi mau neduh dimana, posisi jalan yang mereka lewati adalah ladang-ladang penduduķ. Akhirnya dia bertanya sama vita. Dia menepikan motornya tanpa membuka helmnya. “ Gimana vit, kita lanjut apa neduh dulu”? Kata rendi sampai berteriak karena suaranya kalah ama hujan.


“Terserah abang aja”. Kata vita.


“ Jalan dulu bang, nanti kalau ketemu tempat neduh kita neduh”, lanjut vita seperti berteriak juga.


Rendi pun langsung mengerti dan melajukan motornya kembali dengan pelan-pelan. Sambil melirik kekiri dan kanan jalan. Tidak berapa lama dia melihat gubuk petani diladang tersebut.Rendipun langsung menepikan motornya dan mengajak vita untuk berteduh dulu di gubug itu.


Vita yang langsung mengerti dengan maksud rendipun langsung turun dari motor, dan tanpa membuka helmnya dia langsung berlari kegubug tersebut yang berada agak ketengah ladang. Dan setelah rendi mengatur posisi motornya juga tanpa membuka helm dia langsung mengikuti vita.


Hujan masih deras. Cuaca sudah gelap biarpun masih sore. Setelah sampai digubug itu vita pun membuka helmnya. Rambutnya yang panjang separoh sudah basah. Hanya rambut yang ketutup helm yang masih kering.


Bajunya semua sudah kuyup, biarpun tadi dia pakai sweater, sekarang sweater itu sudah sangat lepek. Rendi yang melihat keadaan vita pun kasihan, dia pasti kedinginan ,pikirnya.


“Buka dulu sweaternya vit biar abang peras, daripada begitu udah netes terus airnya.nih kamu pake jaket abang dulu.” Katanya sambil membuka jaketnya.


Jaket rendi memang basah juga Cuma karena dia dari Bahan khusus untuk hujan jadi tidak sampai kuyup hanya luarnya saja. Vita pun membuka sweaternya dan memakai jaket rendi, karena dia memang sudah kedinginan. Rendi pun memeras sweater vita, dan menggantungnya ditiang gubug itu.


Rendi pun berpikir apa yang bisa menghangatkan tubuh mereka sekarang. Diapun mencari korek api disana, karena biasanya petani selalu ada korek api ditiap gubugnya yang diselipkan di atap gubug itu.


“Nah ini dia, biar abang nyalain api vit, biar agak hangat”, kata rendi. Vita masih diam karena saking dinginya memang dia sudah tidak bisa ngomong apa- apa lagi.

__ADS_1


Sepertinya berat untuk menggerakkan bibirnya. Dia hanya memperhatikan apa yang dilakukan rendi.


Setelah beberapa waktu api sudah menyala, beruntung yang punya gubug juga menyimpan beberapa kayu bakar disana.


Api sudah menyala, sedikit agak lebih hangat, dan tambah lama api makin besar sehingga di dalam gubug itu sudah hangat biarpun diluar hujan.


“Dekat sini vit, biar hangat,” panggil rendi. Biar vita duduk disampingnya yang berhadapan langsung dengan api itu. Tanpa pikir panjang vita pun mendekat, karena dia memang sudah kedinginan. Dia pun mengambil satu kayu yang agak besar untuk dia duduki. Dan benar aja badanya langsung hangat sedikit biarpun baju yang menempel dibadanya semua basah.


“Masih dingin,? Tanya rendi sambil melingkarkan tangan kirinya dibahu vita.


“Lumayan bang, tapi syukurlah ada apinya.” Jawab vita sambil memperhatikan api yang didepannya. Sedangkan rendi dari tadi memperhatikan wajah vita, wajah yang cantik,sederhana ga pernah make upan, selalu ceria dan tidak banyak menuntut. Itulah yang rendi baca dari seorang rosvita.


“ Kok abang liatin aku sh,”? Tanya vita risih dan jadi salah tingkah.


“Tambahin lagi kayunya bang,” lanjut vita sambil menunjuk kayu yang didekat rendi.


Tapi rendi tidak mendengarnya karena pikirannya sudah fokus sama vita. Dia mendekatkan kepalanya kevita, vita pun melihat rendi yang juga terus menatap matanya.


Ntah dorongan darimana, dan keberanian darimana rendi mencium bibir vita sekilas. Vita bengong, karena dia belum pernah melakukan ini sebelumnya.


Dia ga ngerti, hatinya deg deg deg an lebih cepat. Tapi dia bingung tidak tahu harus berbuat apa, berpikir gimana. Yang pasti dia kaget.


Belum terjawab kekagetan vita rendi sudah langsung menciumnya lagi. Vita yang bingungpun tambah diam.


Tapi ciuman rendi membuat semua badanya menegang. Tidak merasakan dinginnya udara luar lagi srkalipun masih hujan. Dengan perlahan tangan kiri rendi menekan kepala vita kedepan, sehingga ciuman mereka semakin dalam. Vita yang bingungpun hanya bisa diam, tidak membalas tapi tidak juga menolak. Mungkin ini karena didukung keadaan.


Rendi cukup lama ******* bibir vita, tapi vita masih kaku. Rendi tahu ini pertama kalinya buat vita. Karena tidak ada reaksi, rendi yang sudah mulai menginginkan lebih, mencium belakang kuping vita dengan lembut. Vita yang merasa geli akhirnya mendesah, dan itu malah membangkitkan semangat rendi untuk melakukan lebih lagi.


Karena suasana yang gelap hanya ada api yang juga sudah menyisakan arang, sementara rendi dari tadi tanpa kata-kata tapi banyak aksi membuat vita terbuai. Terbuai oleh suasana yang dingin.terbuai oleh sentuhan-sentuhan lembut dari rendi. Tanpa mereka sadari mereka sampai kelewat batas. Tidak tahu bagaimana mulanya lagi vita sudah tidak duduk lagi, tapi sudah terlentang diatas tikar karung yang ada digubug itu. Vita menjerit, karena kesakitan. Dan ternyata itulah awal penderitaanya. Yang tanpa dia sadari sudah didepan mata.

__ADS_1


Setelah membenahi pakaianya vita terus menangis. Rendi pun minta maaf dan berusaha meyakinkan vita, bahwa semua akan baik-baik saja. Akhirnya setelah jam delapan malam hujanpun agak reda, dan mereka pun keluar dari gubug tersebut.


Rendi melajukan motornya perlahan. Dan setelah setengah jam mereka sampai didepan rumah vita.


Vita yang dari tadi menangis langsung turun dan berlari membuka pintu rumahnya tanpa menunggu rendi pulang. Rendipun mengejar vita sebelum vita masuk rumah dan meyakinkan vita lagi bahwa semua baik- baik aja. Dia juga minta maaf sama vita sekalian mohon pamit.


Rendi sangat menyesali perbuatannya sebenarnya. Dia bukan cowok yang suka memanfaatkan keadaan, tapi tadi sepertinya sudah diluar kendalinya.


Vitapun langsung masuk, dan melihat kedua adeknya lagi nonton televisi. Sementara kedua orang tuanya berarti sudah masuk kamar.


“Baru pulang kak, kejebak hujan deras ya”,? Tanya riko. Kami aja tadi masih kena dikit lagi,” jelas riko lagi..


“Iya dek, tadi kejebak hujan, makanya lama, neduh dulu tadi”, jawab vita sambil berlalu kekamarnya, ngambil handuk dan langsung ke kamar mandi.


Sampai di kamar mandi,Dia mengguyur semua badanya sambil menangis..hancur..hancur dalam hatinya.


Sakitnya tubuhnya sekarang tidak sebanding dengan ketakutannya akan menghadapi hari esok.


Semuanya bayangan masa depan jadi buram dan gelap. Apa nanti jadinya? Bagaimana kalau sampai dia hamil? Bagaimana kedua orang tuanya? Bagaimana dengan kedua orang tua rendi? Begitulah banyak bayangan yang ada dibenak vita, dan sialnya lagi semua pertanyaan itu buntu, gaada titik terang jawabannya..ya Tuhan.....apa ini...teriak vita dalam hatinya.


Setelah cukup lama dikamar mandi dan dia sudah merasa agak dingin dia pun mengambil handuk yang tergantung dan melilitkanya di tubuhnya. Setelah dia memakai semua pakaiannya dia pun langsung masuk ke kamarnya.


Dear readers setiaku


masih baca kan


Dukung terus ya


like, coment dan vote

__ADS_1


Terimakasih🙏


__ADS_2