Terima Kasih , Untuk Luka Ku

Terima Kasih , Untuk Luka Ku
PART 8 TIDAK DI RESTUI


__ADS_3

TIDAK DIRESTUI


Hari ini adalah hari sabtu. Minggu Kemarin rendi berpesan bahwa minggu depan pulang. Berarti hari ini bang rendi pulang, batin vita.


Ntah kenapa apa karena semenjak kejadian sore itu , apa vitanya yang terlalu takut dan khawatir berlebihan, akhir-akhir ini dia kurang bersemangat.


Seringnya murung, nangis dan nangis lagi.


Mengingat hari ini rendi pulang dia mencoba untuk bersemangat, tapi lagi-lagi dia ingat perkataan mama rendi,” punya pacar teman kampus, nanti kamu sakit hati”.


Hahhh mengapa kata-kata itu yang paling sering ada dipikirannya. Bagaimana kalau benar, apa jadinya diriku, gadis yang sudah tidak suci.


Dan akhirnya teman terbaiknya selalu datang, menetes sampai kadang tidak dia sadari. Ya Tuhann, batin vita sambil menangis.


Sore harinya rendi benaran pulang. Tadi delon adeknya vita yang sedang main bola dihalaman temannya melihat rendi pulang.


Begitu selesai main bola dia memberitahu vita kakaknya, rendi pulang.


“ Emank kamu lihat dimana dek”, tanya vita sama adiknya yang masih memegang bola ditangannya dan sekali-kali melambung-lambungkan bolanya ke udara.


“Tadi kak, pas kami main bola,” jawab delon cuek. Karena dia fokus dengan bolannya.


Entah kenapa vita bingung, ada rasa takut, ada rasa curiga tapi dia juga kangen sama rendi. Selama ini mereka baik-baik saja. Jarang ada pertengkaran. Karena baik vita maupun rendi ga pernah aneh-aneh dengan hubungan mereka. Bahkan kalau ada yang coba mendekati vita pun mereka bisa cari solusi sama-sama, begitupun sebaliknya.


Sore harinya rendi belum datang, vita sudah mulai gelisah. Entahlah sekarang dia sangat gampang emosi dan berpikir negatif.


Biasanya kalau rendi pulang, sorenya pasti sudah menemui vita, walaupun hanya sekedar buat janji ntar malam mau datang atau mau jalan kemana. Tapi ini tidak datang sama sekali. Karena sudah hampir magrib vita pun mandi. Mungkin malam bang rendi baru kesini pikirnya.


Benar saja, malamnya rendi datang. Vita yang agak sedikit kesal langsung menuju teras begitu mendengar ada suara motor berhenti depan rumahnya. Setelah membuka pintu dia melihat rendi turun dari motornya.


“Halo vit, kamu sudah nunggu saya ya, kamu pasti kangen kan?” goda rendi sambil berjalan ke teras menemui vita.

__ADS_1


“Apaan sih bang” balas vita malu-malu. Tapi hatinya memang sangat senang dengan kedatangan rendi. Untuk sekejap dia lupa dengan segala kekhawatirannya.


“Mau masuk apa duduk disini aja bang”, sambil menunjuk bangku yang terbuat dari bambu yang ada diteras rumahnya.


“Disini aja vit,” jawab rendi sambil duduk dibangku tersebut. “ om sama bibi udah tidur vit?” lanjut rendi.


“Belum bang, masih nonton tv noh”, jawab vita.” Bentar ya bang, aku bilang dulu sama bapa ibu kalau ada abang,” lanjut vita.


Rendi pun mengangguk dan vita masuk kedalam memberitahu orang tuannya kalau rendi ada diteras. Mereka hanya duduk diteras tidak mau jalan kemana-mana. Orang tuannya pun hanya mengangguk tanda ok.


Vita pun kembali menemui rendi diteras.


Vita melihat rendi cukup lama, membuat rendi kikuk. “ napa vit, kok kamu liatin abang segitunnya” tanya rendi.


Ntah kenapa vita jadi sedih dan dia bingung mau jawab apa. Dia bingung mulai darimana menjawab rendi. Rendi yang melihat vita bingung pun mendekati vita sambil memegang tangannya.


“Kamu kepikiran kejadian kemaren ya”, tanya rendi.” Jangan takut vit, abang pasti tanggung jawab, kamu tidak usah khawatir.” Jelas rendi sambil menatap vita berharap bisa mengurangi kegelisahan vita. Rendi sangat tidak ingin melihat Vita sedih dan berurai air mata.


Melihat itu rendi makin merasa bersalah.


“Bang sepertinya keluarga abang tidak setuju dengan hubungan kita ya”? Akhirnya vita bisa mengeluarkan unek uneknya dengan menunduk.


Rendi sedikit kaget, kenapa vita tahu mamanya kurang setuju. Apa mamanya ngomong sesuatu ke vita.


“Kenapa kamu ngomong begitu, apa mama mengatakan sesuatu padamu,” cecar rendi.


“jadi abang sudah tahu kalau keluarga abang ga setuju samaku,? jadi abang hanya ingin mempermainkanku? Bahkan abang tega mengambil semuannya dari aku.” Tandas vita makin menunduk sambil menghapus airmatanya. Lengkaplah sudah penderitaannya, sudah miskin, tidak di terima keluarga rendi dan sudah ternoda. Dan kata ternoda itulah yang paling menyakitkan untuk Vita bawa seumur hidup.


Hatinya sangat terluka, lukanya sampai menganga, dan mungkin suatu saat tidak bisa dia tutupi.


Rendipun menarik nafas kasar sambil menggaruk kepalannya.

__ADS_1


“Bukan begitu vit, biarkan abang meyakinkan keluarga abang ya, kamu sabar dulu”, lanjut rendi memegang erat tangan Vita untuk meyakinkan sekaligus memberi kekuatan bahwa Vita tidak sendiri, rendi selalu bersamanya.


“Kita tidak akan terpisahkan vit, percaya sama abang,” masih lanjut rendi.


“kemaren abang sudah tanya-tanya teman abang yang kerja part time. Nanti kita bisa sama-sama dikota. Kamu bisa kerja dipabrik, biar kita bisa ketemu tiap hari”. Jelas rendi lagi yang sedang mencari solusi untuk hubungan mereka. Dia tidak mau Vita merasa berdosa terus menjadi gadis yang ternoda padahal dia tidak bersalah dan juga bukan gadis yang centil, semua ini salah rendi.


Vita hanya menunduk, airmata masih menetes dari matanya. Dia benar-benar bingung.


Kalau benar kata mamanya rendi punya pacar dikota, kenapa dia mengajak vita ke kota? Vita benar-benar bingung. Dan malam ini mereka lebih banyak diam sampe tidak terasa sudah jam 9 malam. Rendi harus pulang. Sebelum pulang rendi mendekati vita, sambil mengusap rambut vita dia masih meyakinkan vita.


“Nanti abang hubungi kamu kalau sudah ada lowongan ditempat temanku itu, kamu juga jangan lupa ngomong sama om dan bibi, gimana pendapat mereka." ucap rendi.


Sambil setengah menggoda vita dia mendekatkan wajahnya ke kuping vita sambil ngomong” jangan sering menangis, kalau ada apa-apa kamu harus hubungi abang, jangan dipendam sendiri, “ tandas rendi.


“Apapun yang terjadi nanti, kita hadapi sama - sama, kita harus bersama,” tegas rendi yang diangguki oleh Vita.


“Abang pulang ya vit, selalu kabarin abang, ok". ujarnya sambil sekali lagi mengusap kepala Ester lembut untuk lebih meyakinkan.


"iya bang"


Rendipun berjalan ke motornya dan berlalu dari hadapan vita. Dia sedikit merasa lega karena rendi mampu meyakinkannya. Walaupun dia belum tahu apa yang terjadi besok lusa.


Diapun masuk dan melihat orang tua dan adiknya sudah tidur.


'Apa yang akan mereka katakan kalau tahu keadaanku yang sekarang ya' batin Vita sedih. Kembali airmatanya tidak bisa di ajak kerja sama dan langsung mengalir begitu aja.


Terimakasih semuanya


Tetap like, coment dan vote ya


Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2