
BAGAIMANA INI
Begitulah hari-hari vita berjalan seperti biasa. Membantu orang tuangya dikebun, membantu mengurus rumah seperti biasa.
Tapi hari ini badan vita benar- benar lemas. Dan dia juga pusing.mamanya yang mau berangkat ke kebunpun memperhatikan kalau wajah vita sangat pucat.
“Kamu kenapa vit, mukamu pucat banget”, kata mamanya. Vita yang mencoba bangun pun ambruk kelantai. “Hahhhh....pak pak vita kenapa ini pak.” Teriak mamanya.
Setelah melihat itu papanya pun panik dan mengangkat vita keruang tengah dan menidurkannya diatas tikar sederhana.
“Kita bawa kerumah ibu bidan,” kata bapanya. Karena dikampung itu pengobatan yang paling dekat adalah bidan desa.
“Saya pinjam motor bibinya dulu,” tegas bapa vita. “ jaga dia dulu”. Ktanya sambil berlalu dengan panik.
Tidak berapa lama bapaknya datang dengan naik motor, sementara vita sebenarnya sudah siuman.
“Tidak usah kesana pak, vita sudah ga apa-apa,” kata vita dengan suara lemah.
“Kita harus kesana, kita ga tahu kamu kenapa"? Jelas bapaknya.
Dan akhirnya vita pun dibawa oleh orang tuannya ke bidan. Dan betapa terkejutnya kedua orang tuannya mendengar vita sedang hamil.
Ibu bidannya mengucapkan selamat, sudah 6 minggu kata ibu bidannya tanpa tahu bagaimana perasaan orang tuannya Vita.
Akhirnya mereka bertiga pulang dalam diam. Bapaknya yang sudah sangat marah kelihatannya, mamanya yang sudah menangis membuat vita semakin merasa bersalah.
Sampai dirumah bapaknya duduk dipojok rumahnya, sambil menggaruk kepalannya dan mengepalkan tangannya. Tidak tahu apa yang dipikirkannya. Ibunya vita duduk tidak jauh dari suaminya.
“kenapa vit, kamu tega mempermalukan bapak dan ibumu,? Tanya ibunya lembut tapi dengan tatapan tajam..
Vita semakin menunduk, dari tadi airmatanya tiada hentinya mengalir.
Kenapa jadi begini? Kenapa ...kenapa? Tangisnya makin sesenggukan duduk agak jauh dari bapaknya.
“Siapa” teriak bapaknya masih sambil menunduk. “rendi”? Tanya bapaknya.
Vita pun hanya bisa mengangguk karena sudah mengerti arah pertannyaan bapaknya.
“Panggil bibi erna,” kata bapaknya kepada mamanya vita sambil membentak.
“Mau ngapain pak,? Tanya mamanya vita bingung.
“Biar dia yang bawa vita kerumah rendi, dia harus bertanggung jawab”. Tegas bapanya vita.
Mamanya pun beranjak ke rumah bibinya vita untuk memanggil bibinya. Selama mamanya pergi bapaknya dan vita tidak ada yang bicara. Vita masih duduk dipojok, seperti terdakwa.
Airmatanya terus mengalir, ga bisa dia bendung. Bapaknya pun tidak menunjukkan wajah bersahabat. Tidak bisa ditebak isi hatinya, terlihat tidak percaya, bingung dan kecewa.
Tidak berapa lama bibi erna datang. Melihat keadaan ini dia makin bingung, ada apa. Tadi dia bertanya sama ibunya vita Cuma di jawab
“ntar aja kamu tahu”.
“Ada apa ini kak,” bertanya sama bapaknya vita.
Mungkin saking kecewannya bapaknya vita bukanya menjawab malah menangis. Dia merasa gagal sebagai bapak.
“Jangan buat bingung kak” tanya bibinya lagi ke bapaknya vita.
Melihat keadaan suaminya, mamanya vita yang dari tadi juga menangis melihat kearah adik iparnya.
“Vita hamil”, mamanya membantu bapanya untuk menjelaskan. “kakakmu sangat terpukul” kata mamanya vita makin menunduk.
“Apa,? Bibinya vita setengah berteriak. Dia menoleh ke vita yang masih duduk tanpa berani melihat ke mereka. Dia geram, dan dia menarik rambut vita saking kesalnya.
“Vitaaaa, kamu yang sudah bibi banggakan, hahhhhh? Kata bibinya melepaskan rambut vita. Dia benar-benar kecewa sama vita. Karena selama ini dia selalu bangga sama vita, cantik, orangnya kalem, nurut sama orang tua, dan selalu aktif kegiatan-kegiatan yang positif dikampungnya.
__ADS_1
Tapi sekarang....hamil diluar nikah ....
Bibinya benar-benar kecewa. Dia menatap kakak laki-lakinya. “Trus sekarang menurut kakak gimana? Tanya bibi erna ke bapaknya vita.
Bibi erna sangat kasihan melihat abangnya terpuruk begitu.
Bapaknya mengangkat kepalanya, memandang vita seperti tatapan putus asa.
"Antarkan dia ke rumah orang tua rendi, dia harus bertanggung jawab. Mereka harus segera menikah” tegas bapanya vita.
Bibinya mengerti”, ya sudah saya panggil suami saya dulu biar kami bertiga kesana. “
Bibi erna menelpon suaminya untuk datang kerumah vita.
Selama beberapa waktu mereka semua diam dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang bicara. Vita belum bisa berhenti menangis. Begitu juga mamanya, bapaknya dipojok juga diam menunduk, tidak tahu mengapa jadi begini.
Tidak berapa lama suami bibi erna datang.
“Napa ma” tanyanya ke istrinya karena bingung melihat semua ini. Semua orang nangis.
“Temani saya, kita kerumah mamanya rendi sekarang, vita hamil sama rendi,” jelas bibi erna berapi-api.
Suaminya yang mendengar vita hamil sangat kaget pasalnya setahunya vita anak yang baik. Kok bisa, tanyanya dalam hati. Tapi bukan itu masalahnya sekarang sebagai keluarga terdekat dia akan kerumah rendi meminta pertanggung jawaban.
Coba kamu lihat pa, apa orang tuanya ada dirumah,” pinta bibi erna ke suaminya.
“Ada ma, barusan mau kesini, aku lihat mamanya lagi jemur jagung,” katanya.
“Kalau begitu ayo” kata bibi erna seraya menarik tangan vita kasar. Mereka bertiga menuju rumah rendi. Untung aja sepi karena orang masih pada keladang.
Sampai dirumah rendi, mereka sudah melihat mamanya rendi diteras rumahnya. Mamanya rendi juga bingung didatangi mereka bertiga.
Tunggu kenapa vita sepertinya menangis.
“Kami ingin bicara sebentar sama ibu,” kata bibi erna dengan sopan ke mamanya rendi.
“Begini bu”, kata bibi yang masih bingung menjelaskan.
“Ada apa” tanya mamanya rendi seperti menyelidik dan curiga.
“Rendi harus bertanggung jawab, vita hamil”, kata bibi erna yang diangguki oleh suaminya juga.
“Apa”????
Mamanya rendi kaget, dia tahu mereka pacaran, tapi ga nyangka akan sejauh ini. Dia bingung dulu, dia melihat kearah vita. Gadis itu terus menunduk.
“Aku telpon suamiku dulu ,” katanya. Lalu dia menelpon suaminya supaya pulang kerumah dulu.
Kembali dia menatap vita tajam. Pasti kamu sudah menjebak anakku batinnya sambil duduk kembali dikursinya.
Mamanya rendi berpikir keras, kalau rendi harus tanggung jawab berarti harus menikahi vita sekarang-sekarang ini. Berarti kuliahnya akan terganggu, dan juga rendi langsung terikat donk sama vita.
Berarti menantunya sudah dipastikan anak orang susah ini. Dan sudah pasti mereka sekeluarga akan bersandar ke rendi nantinya. Tidak tidak dalam hatinya. Itu tidak boleh terjadi. Anak itu ga boleh ada. Dia harus menggugurkannya.Dia ga boleh mengacaukan hidup rendi batin mamanya.
Tidak berapa lama suaminya pulang.
“Ada apa ini ma” tanya bapaknya rendi bingung. Lalu dia duduk dekat istrinya.
Bibi erna dan suaminya saling pandang, dan akhirnya suaminya mengangguk yang mengiyakan istrinya untuk bicara.
“Begini pak, rendi harus bertanggung jawab, vita hamil,” jelas bibinya vita.
“Kami sebagai orang tua memang merasa gagal mendidik vita, tapi bukan itu masalah pokoknya sekarang. Sekarang gimana rendi harus bertanggung jawab,” lanjut bibi erna.
Biar gimana pun anak ini akan bertambah besar, kita tidak punya waktu untuk berdebat”. Tambah bibi erna.
__ADS_1
“Kalian yang ga bisa mendidik anak, kenapa jadi rendi yang dikorbankan”? Balas mamanya rendi dengan sengit.
” Atau kalian sengaja ya menyodorkan vita ke rendi biar dihamili, biar vita bisa hidup enak tidak susah kayak orang tuanya.” Tambah mama rendi tambah ketus.
“ Dan kamu vita, saya kan sudah bilang jauhi anak saya, kenapa malah kamu tawarkan tubuhmu dengan mudahnya?” pasti niatmu memang biar nompang hidup sama kami kan,?” karena kamu malu miskin”.teriak mamanya rendi berapi-api.
“ Dan lagi juga apa benar anak itu anaknya rendi, rendi kan jarang pulang? Kapan kalian ketemu? Apa niatmu memang sudah disusun, makanya pas ketemu rendi kamu jebak dia begitu?” bentak mamanya rendi semakin berapi-api.
Vita semakin tertunduk, bahkan untuk bicarapun dia sudah tidak mampu.
Airmatanya sudah tak bisa dibendung sampai matanya sudah bengkak.Dan sepatah kata pun tidak ada kluar dari bibirnya walau sekedar menjelaskan.
“Terus mau kalian gimana,” kata papanya rendi bicara karena sejak tadi dia hanya jadi pendengar.
“Ya itu pak, rendi harus menikahi vita” jawab suaminya bibi erna to the point.
“Tidak mungkin anak itu lahir tanpa ayah,”..
“Tapi kan kalian tahu rendi masih kuliah, gimana mau menikah belum bisa cari nafkah”? Tanya papanya rendi.
“Tidak bisa, rendi masih kuliah, masa depannya masih panjang.” Tukas mamanya rendi sambil berdiri. Dia mendekati vita dan dia ingin menjambak rambut vita, untung bisa ditahan oleh bibi erna.
“Kenapa kamu halangi, saya mau hajar perempuan ini, yang sudah lancang menjebak anak saya.” Sambil menunjuk-nunjuk vita seperti kotoran yang sangat menjijikkan.
Vita hanya bisa menangis, mengingat janji rendi bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa dia akan menemani vita menghadapi semua. Apa yang harus aku lakukan sekarang bang, rintih vita dalam hati.
Bahkan untuk bicara pun dia sudah tidak mampu.Airmatanya semakin deras mengalir. Kenapa aku Tuhan, apa salahku sampai Tuhan memberikan ujian ini padaku,teriak vita dalam hati.
Mama rendi kembali duduk dekat suaminya. Dia berbisik pada suaminya. Suaminya diam memaku, tapi istrinya sudah keburu berdiri dan masuk ke kamarnya. Tidak berapa lama dia keluar lagi, dan memegang amplop di tangannya.
“Baik, kalian mau ini kan,”sambil menggoyang-goyangkan uang ditangannya.
“Ini ada 5 jt , ambil, ..gugurkan kandunganmu. Ini lebih dari cukup. Kuanggap aja sisanya buat amalku.“Kata mama rendi dengan sombongnya.
mElihat itu wajah bibi erna langsung merah karena marah.
“Maaf ya bu, kami tidak bisa ambil uangnya”, jelas bibi erna. “ Kami memang miskin tapi kami bukan pengemis”. Tambahnya masih agak sopan.
“Kenapa, malu”. Tidak usah malu. Ambil aja”Mama rendi makin sinis.
“Ibu sudah keterlaluan,” jawab bibi erna sambil berdiri dengan marahnya.
“Sudah sudah sudah, jangan berantem jadinya. Harus ambil jalan tengahnya. Duduk dulu semua,” kata papanya rendi mencoba bijak untuk mengambil keputusan. Sekarang tatapannya kearah vita yang masih menunduk.
“Vita, kamu kan tahu rendi masih kuliah, belum bisa cari nafkah. Kalau kalian menikah juga belum tentu dia bisa bertanggung jawab. Yang paling baik untuk kita semua memang kamu harus menggugurkan kandunganmu. Toh kalau kalian jodoh,pasti akan menikah juga. Tapi setelah kalian lebih matang, tidak dengan suasana sekarang,” tutur papanya rendi bijak.
“Kalau menurut saya itu yang terbaik bu sekarang,” jelas papanya rendi ke bibi erna dan suaminya.” Kita memang sama-sama gagal mendidik anak,” katanya.
Lalu dia mengambil uang yang ditangan istrinya dan menyerahkanya ke bibi erna. Tapi bibi erna belum mau menerima,
" percayalah bu, itu yang terbaik, kalau memang jodoh mereka pasti menikah juga nantinya” ulang papanya rendi ke bibi erna lebih meyakinkan dan meletakkan amplop itu dipangkuan bibi erna.
Bibi erna tidak mau memegang uang itu, setelah menerimanya langsung dia kasih ke suaminya. Lalu dia menyeret vita keluar dari rumah itu. Bahkan untuk berdiri pun vita sudah tidak sanggup.
Aku benar-benar wanita sampah sekarang. Tidak ada nilai sama sekali. Dimana vita yang diperebutkan beberapa laki-laki itu. Vita yang terkenal baik ramah dan paling cantik dikampungnya.
Sekarang bahkan sampah lebih berharga dari diriku, batin vita makin sesenggukan.
Sebelum mereka nyampe teras mamanya rendi mendekat lagi, “ jangan sekali-kali memberitahu rendi, hal ini sudah kelar disini, kalau kalian mencoba mengganggunya aku yakin kalian akan tambah malu,” cibir mama rendi dengan sinisnya. “Dasar sampah ya sampah”. Lanjutnya sambil melangkah masuk.
Bibi erna pun menarik tangan vita dengan kasar untuk berlalu dari tempat itu.
Jangan bosan ya
dukung terus dengan like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih