
KELAHIRAN
Setelah beberapa waktu dokter yang melakukan tindakan caesar pun keluar, bersama rombongannya dan memberitahukan operasinya berhasil, tapi kedua bayinya harus masuk inkubator.
Tidak berapa lama bidan yang mendampingi dokter tadi pun keluar juga dan memberi tahu bahwa bayi mereka sudah di inkubator boleh dlihat di ruang bayi tapi hanya dari luar kaca dan hanya boleh satu orang yang masuk mendekat.
Bram dan Kedua orang tua brampun menuju ruang inkubator terlihat dua bayi mungil yang masih kecil banget.
Ibu leli sangat terharu melihat kedua cucu mungilnya, apa lagi terlihat ada gerakan kecil bibirnya seolah mencari asi ibunya.
Jangan menangis sayang, mamamu pasti kuat batin ibu leli.
Melihat anaknya yang masih kecil bram kembali menangis seharusnya mereka masih tergantung sama mamanya. Aku yang menyiksa mereka, batin bram.
“Sudah jangan menangis, sekarang mending kamu temani vita. Berdoa biar dia cepat sadar,” ucap papanya setengah memerintah karena melihat bram dari tadi menangis.
Biarpun dia sangat marah tadi, tapi melihat putra semata wayangnya sedih jelas aja papanya bram ngga tega juga.
“Anakmu sudah diurus perawat,” jelasnya.
"iya pa" jawab bram lemas
Tapi saat bram bertanya kapan kira - kira istrinya sadar, perawat itu bilang biasanya sekitar enam jam karena ini termasuk operasi besar.
Bram kembali ke ruangan anaknya dan menceritakan kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua bram akhirnya pulang dulu ke rumah untuk mandi, karena tadi mereka langsung dari bandara ke rumah sakit.
Setelah hampir 6 jam vita pun sadar.Yang pertama dia lihat adalah wajah bram yang sangat khawatir. Vita masih dibawah pengaruh sisa obat bius. Dia masih terlihat belum sadar seratus persen.
“Sayang, syukurlah kamu sudah sadar,” ucap bram langsung ingin mendekap istrinya yang terbaring lemah. Vita menyimak ucapan bram lalu meraba perutnya yang agak perih kalau bergerak.
“Anakku”, ucapnya sambil meraba perutnya dan melihat bram.
“ Anak kita prematur, sekarang lagi di inkubator.” Bram menjelaskan semua ke vita.
” Tapi anak kita sehat-sehat kok, Cuma masih kurang umur doank,” tambahnya lagi sambil menggenggam tangan vita dan mencium keningnya.
“Maafkan aku ya vit, aku kemarin membiarkan kamu sakit hati oleh feni,” sambil mencium punggung tangan vita.
“Aku bukan masih memikirkan feni, justru dengan pertemuan kemarin aku menguji hatiku ternyata aku sama sekali tidak terpengaruh lagi sama feni,” ngomongnya jujur.
“Aku pikir aku peduli kamu karena kamu sedang menhandung anakku, tapi ternyata tidak vit, waktu dokter bilang anak kita selamat tapi kamu belum sadar aku merasa paling hampa, aku tidak tahu ini apa, tapi aku takut kehilangan kamu vit,” jelas bram panjang lebar sambil menatap lekat vita.
Vita yang mendengar ucapan bram mencoba memperhatikan wajah bram, tapi sepertinya tidak ada kebohongan disana. Tapi sepintas vita ingat pertemuannya dengan feni mantan istri bram.
“Kemarin aku memang kaget banget ketemu feni, makanya aku terpaku sementara waktu. Terbayang masa laluku yang kelam. Belum sempat aku mencerna isi hatiku yang sebenarnya kamu sudah langsung marah dan akhirnya masuk kesini”, jelas bram jujur.
“Jangan begitu lagi ya sayang, kamu adalah vitaku yang tenang menghadapi setiap hal,” ucap bram lagi sambil memeluk kepala vita dan menciuminya.
Vita masih setia dengan diamnya dan mendengarkan semua penjelasan bram. yang vita pikirkan bram masih perduli feni ternyata salah. vita mendengar semua penjelasan bram pun agak tenang.
__ADS_1
"iya" akhirnya jawabnya singkat
Sebenarnya tadi siang memang kejadiannya sangat cepat. Entah kenapa Vita langsung emosi, padahal biasanya dia orang yang bisa tenang.
Tapi mungkin juga bawaan hamilnya sehingga semuannya jadi begini. Bram juga sebenarnya tidak menunjukkan kalau dia belain feni, Cuma karena vita lagi hamil emosinya ngga stabil.
“Apa aku boleh lihat anak kita kak,” pinta vita ke bram.
“Aku tanya dokter dulu ya sayang”, jawab bram.
Bram pun memencet bell panggilan, tidak berapa lama muncul seorang perawat.
“Ada apa bu, pak,” tanya perawat.
“Ini sus, istri saya pengen lihat anak kami, apa sudah boleh,” tanya bram.
Perawat itu pun mendekati vita dan menanyakan vita.
"apa ibunya sudah kuat"? tanya perawat itu.
“Ibu sudah belajar guling atau duduk”,? lanjut Tanya perawat lagi.
"belum sus"
“Harus latihan ya bu,” perintah perawatnya.
"iya sus"
sambil mendekati vita dan menyibak selimutnya. Vita melirik ke suaminya.
“Saya aja sus, kasi tau aja caranya,” ucap bram yakin sambil mendekati istrinya .
"seperti biasa aja pak, gimana orang mau duduk dari tidur, tapi pelan ya pak takut lukanya sobek lagi"
"iya sus"jawab bram.
Bram mendekati istrinya dan memapah istrinya untuk belajar duduk setelah itu belajar miring.
Bram melakukannya dengan telaten.
”kalau sakit jangan di paksa ya bu”, ucap perawatnya.
"iya suster" jawab vita
“Sakit ngga”, ucap bram
“Ngilu,” keluh vita
“Tapi tetap harus dilatih ya bu jangan keburu kaku,” jelas perawatnya lagi.
__ADS_1
“Iya sus,” bram langsung menjawab.
Bram dengan telaten mengusap punggung istrinya untuk mengurangi rasa sakit di lukanya saat duduk atau saat mencoba miring.
Setelah sudah bisa miring dan bisa duduk sorenya vita boleh menjenguk anaknya.
Bertepatan dengan kedatangan kedua mertuannya kerumah sakit. Ibu leli dan bram membantu vita naik kursi roda.
Vita bisa melihat kedua bayi mungilnya yang masih sangat kecil di banding bayi normal lainnya.
Setelah melihat kedua anaknya yang kecil vitapun terharu dan bertekad harus menyusui anaknya.
Tidak lama vita pun dibawa lagi ke ruang perawatan.
“Vit, tadi mama sama papa sudah belanja peralatan sikecil semuanya.” Jelas mertuannya.
“Maaf ya ma, jadi ngerepotin mama,” ucap vita.
“Siapa yang direpotin, kamu ngga tau antusiasnya mama tadi,” tambah papa mertuannya.
“sampe dia lupa makan,” lanjutnya. Ibu leli pun tersipu malu karena memang benar begitu.
“ namanya juga untuk cucu pa, iya ngga vit,” tanya bu leli.
“Papa lihat ngga wajahnya baby boi kayak mama semua,” kata ibu mertuanya sambil tertawa lebar.
"bayi masih berubah-ubah kali ma wajahnya" ujar papanya bram ngga kalah antusias.
“Kalian kasi nama siapa” tanya papa mertuanya.
“Kenzo pa sama kenzi,” ucap bram.” Apa papa mau nambahin”? Tanya bram karena nama pemberian mereka juga terlalu pendek menurutnya.
“ya, kenzo dinata saputra dan kenzi dinata saputra”, ucap bapanya antusias.
"itu nama belakang keluarga kita" lanjutnya.
Mereka semua pun tertawa lepas, karena boleh di bilang doa mereka sudah dijawab walaupun awalnya tadi vita sempat membuat semua mereka khawatir.
Hai readersku yang setia
dukung terus ya
like
coment
vote
Terimakasih
__ADS_1