
BOLEHKAH
Mendengar itu orangtua rendi merasa kaget. Mereka tidak menyangka bahwa selama ini mereka sudah punya cucu kandung yang disayangi oleh orang lain. Bahkan bram dengan bangga memeperkenalkan amelda dengan nama belakangnya.
“Vit, apa boleh kami kasihtahu ini sama rendi, apa boleh rendi bertemu dengan amel,”? Tanya papa rendi serius seperti memohon. Siapa tahu ini pemacu bagi semangat hidup rendi, pikir bapanya.
Vita dan bram saling tatap melirik lagi ke amel.
“Saya belum bisa putuskan om, ini menyangkut mental anak saya.” Ucap vita to the point.
“Saya harus bicara dulu dengan anak saya, karena dia sudah dewasa,” ucap vita sangat yakin Sambil memeluk amel.
Orang tua rendi pun mengerti dengan keadaan ini, mereka akhirnya undur diri dari rumah orang tua vita.
“Kalau begitu kami pamit dulu vit,” ucap papanya rendi serius.
“Iya, mari om,” ucap vita dan bram.
kEdua orang tua rendi pun pulang ke rumah mereka dengan berbagai perasaan. Sepanjang jalan mereka melangkah hanya dibawa kakinya aja, karena pikiran mereka berdua sudah ke anaknya rendi.
Rendi punya anak tapi ngga bisa dia peluk, ngga mau ngerepotin dia, ngga memanggil ayah. Sementara dia mengambil anak dari saudara dekat istrinya. Menyedihkan.
Sampai di teras rumahnya mereka belum menyadari kalau mereka sudah sampai. Mereka langsung masuk rumah dan melihat rendi masih tiduran sambil nonton tv.
__ADS_1
“kamu masih disini Ren, ...ternyata amel itu anakmu,” ucap ayahnya perlahan sudah menahan haru.
“Apa papa sudah bicara sama vita,”? Tanya rendi serius
“Sudah , dia sudah bilang kalau dia tidak menggugurkan kandungannya, dan anak ini sudah dewasa. Tapi dia bilang jangan ungkit lagi masa lalu, sekarang ini adalah putri pertama bram saputra, bahkan ayah minta untuk mempertemukan kamu secara pribadi pun dia belum setuju,” jelas papanya rendi.
“Kamu harus berbesar hati nak, yang penting kamu ternyata punya anak dan anak itu hidup dengan sangat baik, kamu doakan aja”ucap papanya rendi pasrah.
“Apa saya ngga boleh ngobrol sekali aja pak,? Tanya rendi penuh harap.
“ mungkin anak itu juga ngga mau ketemu kamu ren,” kata papanya lagi.
“Hahhhh ya sudahlah pak, mau bagaimana lagi,” kata rendi sambil melangkah dengan lesu. Sepeninggal rendi kedua orang tuanya pun masih terduduk ditempat masing-masing memikirkan anaknya. Terutama mamanya yang paling merasa bersalah dengan semua ini.
Dirumahnya rendi juga masih termenung. Andai saja dia bisa bersama anaknya sekarang, andai saja anaknya datang dan meminta ini itu padanya, andai saja anaknya datang untuk memeluk ayàhnya. Bolehkah vit? Bolehkah aku memeluk dia vit? Batin rendi dalam hati.
Setelah kedatangan vita ke kampung lagi, orang tuannya sangat bersyukur. Begitu juga adiknya riko yang selama ini telah menikah juga dan tinggal dikota lain.
Hari kedua kepulàngan vita hampir semua orang kampung sibuk. Semua orang kampungdiundang oleh orang tua vita untuk berpartisipasi. Mereka semua sibuk dan siangnya makan bersama. Setelah selesai makan bersama masih ada acara perkenalkan suami dan anak-anaknya ke keluarga terutama baru ke teman sekampung. Semua acara itu dihadiri oleh rendi dan keluarganya. Tapi perhatian rendi hanya selalu ke putrinya, dari cara jalannya, cara bicara, cara ketawa persis lah kaya rendi versi cewek.
Ternyata apa yang dilakukan rendi diperhatikan oleh bibi erna. Setelah acara selesai sore harinya bi erna pun bicara dengan vita dan suaminya.
“Vita dan kamu bram, bibi lihat rendi sangat ingin melihat amel sebentar aja secara pribadi, kasihlah mereka waktu untuk bicara, kasihan dia, dia hanya korban mamanya,” ucap bi erna serius.
__ADS_1
Vita dan bram saling pandang dan akhirnya bram mengangguk.
“Kami sh sebenarnya tidak keberatan kalau hanya sekedar ketemu bi, tapi semua terserah amel.” Ucap vita.“Kita coba tanya amel aja”, ucap vita lagi.
“Amel mel”, panggil vita
“Iya ma,”
“Sini sayang,” ucap vita sambil menunjuk sebelahnya lalu amel duduk dekat orang tuannyà.
“Nak, apa kamu ingin bicara dengan ayahmu? Mungkin dia kangen sama kamu,” tanya vita.
“Amel terserah mama aja,” ucap amel
“Jangan begitu donk sayang, mama kan ngga tahu keinginan hatimu,” ucap vita lagi.
“Gimana ya ma,amel juga bingung,” ucapnya lagi.
“Selama ini kan amel udah anggap papa bŕam ayahnya amel. Tiba-tiba bukan, amel kaget sh, Cuma karena papa juga sayang kita bertiga begitu juga oma dan opa, jadi ngga ada yang berubah dihati amel. Hanya nama seorang ayah yang muncul, tapi pengaruhnya masih kalah dengan papa bram ma,” jelas amel panjang lebar.
“Tapi kalau mama memang menyuruh aku untuk menemuinya saya akan menemuinya ma,” ucap amel.
“Baiklah nak, besok sebelum kita pulang kamu sempatkan bertemu ayahmu ditemani nenek erna.” Ucap vita
__ADS_1
“Bi sebelum kami pulang besok temani amel kerumah mamanya rendi,” suruh vita minta tolong.
“Iya vit,” jawab bibi erna