
MERTUA
Mendengar kabar kehamilan vita kedua mertuanya pun langsung bertolak kembali ke indonesia. Tidak terkira kebahagiaan mereka di usia senja. Baru aja mereka bahagia karena melihat anaknya bram yang sekarang lebih ceria dan terlihat lebih bahagia, sekarang kebahagiaan lebih datang lagi ke rumah mereka, yaitu memiliki cucu dari anaknya bram. Padahal memiliki amel aja bram sepertinya sudah bahagia apalagi sekarang dia memiliki anak lagi.
Ibu mertuanya dan bapa mertuanya sudah sampai di jakarta. Mereka bukanya langsung kembali ke rumah besarnya, mereka malah langsung menuju apartemen bram dan vita.
Begitu sampai di apartemen bram, dengan tidak sabar Ibu mertuannya langsung mencari vita begitu sampe. Vita yang lagi lemas mencoba berjalan perlahan mendengar di luar ada suara tamu, tapi dia masih susah berjalan cepat. Ibu mertuanya pun langsung masuk kamar dan melihat vita yang berjalan dengan lemah.
“Sudah sudah sudah kamu masih lemah, jangan dipaksakan”, kata ibu leli sambil memeluk vita. Ibu leli masih sangat bahagia dia menciumi vita seperti anak kecil.
Sedangkan vita sudah menangis, ntah kenapa airmatanya mengalir aja dengan sendirinya. Ibu mertuanya yang melihat itu memeluk vita
“jangan menangis kasian cucuku didalam kalau mamanya sering nangis”, ucap bu leli sambil mengusap pipi vita. Vita hanya menatap ibu mertuanya karena bingung harus jawab apa, dia masih lumayan kaget melihat ibu mertuannya itu tiba-tiba tiba ada di appartemennya mereka.
Vita masih sesenggukan, ibu leli pun diam sejenak.
"kenapa menangis sedih nak" tanya ibu lely lembut sambil masih mengusap punggung menantunya.
“Kalau ada bebanmu, kalau ada yang kamu pikirkan kamu boleh berbagi sama mama,” kata bu leli sambil menatap vita. Vitamin merasa senang mendengarnya, dia merasa memiliki seorang ibu. apalagi dia melihat ketulusan di mata mertuanya.
“ Aku mikirin amel ma,” jawab vita menangis lagi.
“Emang amel kenapa,” tanya bu leli karena dia pikir amel dapat masalah.
“Apa dia sakit,” tanya bu leli makin gencar sementara bapak mertuanya masuk ke kamar sambil menggendong amel. Tapi bu leli perhatiin amel baik-baik aja. Melihat bapa mertuanya masuk vita langsung mencium tangan mertuannya. Bapa mertuannya pun mengusap-usap kepala amel.
“Kamu kenapa menangis vit,” tanya
bapa mertuanya heran.vita pun jadi bingung menjawabnya. Dia paksakan untuk tersenyum supaya bapa mertuanya tidak curiga.
“Ya sudah kita ngobrol diluar aja”, kata bapa mertuanya sambil berlalu keluar.
“Ma, sebenarnya aku hanya kasian sama amel, aku hamilnya terlalu cepat. Nanti amel pasti terabaikan. Kasian dia ma,” jawab vita masih sendu. “apa kak bram nanti masih sayang sama amel kalau dia sudah punya anak?" Terang vita tentang perasaanya.
__ADS_1
“aku juga salah sh, mengingat dulu kata mama kak bram ngga bisa punya keturunan makanya aku tidak kb mah, makanya biarpun malam itu aku tidur sama kak bram aku ngga kepikir akan hamil. Itulah pertama kali kami tidur bareng ma, ehhh ternyata langsung hamil. Berarti kak bram laki-laki sehat ma, tidak perlu berobat” jelas vita panjang lebar.
"ha benar vit"? tanya ibu mertuanya lumayan kaget. Dia sih tahu bram dulu hanya ingin menolong amal, tapi masa putranya itu sama sekali tidak tergoda sama vita.. Dan sekarang sekali mereka tidur langsung jadi, berarti anaknya bukan sakit dong, batin ibu lely.
“Iya sayang, berarti yang dibilang feni tidak benar,” jawab bu leli.
“Sayang, tentang amel, kamu jangan ngomong gitu tentangng amel, dia cucu pertamaku. Sampai kapanpun dia adalah cucuku,” ucap mamanya tulus sambil memeluk vita. Jauh di lubuk hatinya pun memang ibu lely sangat menyayangi amel, dan sekarang amel malah mengajak adiknya, mana mungkin aku tidak menyayangi amel.
“Kamu adalah istri bram, dan aku tahu kamu orang baik, kami sudah menerima kamu utuh nak. kamu sudah membawa pengaruh baik di hidup bram, kalian adalah bagian dari perjalanan hidup bram dan membangkitkan semangat bram .” Katanya masih memeluk vita tapi saat itu vita pengen muntah dan dia lari ke kamar mandi.
"kenapa vit" tanya ibu mertuannya
vita hanya menggeleng karena mulutnya serasa sudah penuh ingin dikeluarkan.
Mertuanya berlari ikut ke kamar mandi, diapun dengan setia memijitin tengkuk vita menantunya.
Setelah vita sudah merasa sedikit tenang mereka menuju ruang tengah menemui bapa mertuanya.
Tidak berapa lama bram datang membawa ayam goreng garing pesanan vita. Selama hamil vita memang paling suka daging dan ikan yang di goreng garing.
"mama mana, ngga ikut"? tanya bram sambil matanya mengitari seluruh ruangan.
"noh di kamar, sama vita" ucap papinya masih bercanda sama amel.
"ohhh aku ke kamar dulu ya pa"
"hmmmm"
"vita " panggilnya
"ehhhh ma, ternyata ada di sini, kapan datang"? sambil mencium tangan maminya.
"baru aja bram, dari bandara langsung ke sini" ucap maminya senang.
__ADS_1
"ngga bilang sih kan bisa di jemput " ujarnya
"ngga usah, kamu jaga cucuku sama istrimu aja " ucap bu lely sumringah.
Lalu vita mencium tangan suaminya dan merekapun duduk berdampingan.
“Mba tolong siapin ini buat istri saya ya, biar dia langsung makan,” suruh bram ke mba lala artnya sambil menyerahkan bungkusan yang dia bawa.
“Selama hamil dia senang makan yang garing-garing ma,” beritahu bram ke mamanya. “porsi makannya nambah tapi kadang-kadang dimuntahin lagi,” lanjut bram lagi dengan sumringah.
Terlihat sekali kalau bram lagi sangat bahagia, pikir bu leli. Vita memang pembawa berkah, batinya lagi.
“Wanita hamil memang begitu bram,” tukas bu leli.
"ya sudah vit, kamu kuat ga, kita kedepan ya"?
"iya kak ayo" ujar vita setuju
Akhirnya mereka berjalan beriringan keluar dari kamar.
“Oh ya papa sama mama sudah makan, atau mau istirahat dulu,” tanya bram keorang tuannya. Lagi-lagi orang tuannya saling pandang, bingung karena bram perhatian ke mereka hal yang sangat jarang bahkan berapa tahun kemarin kayaknya bram tidak pernah tanya kabar mereka.
“Kita nanti gampang nak, vita aja dulu ya. Dia kan harus makan banyak, apa lagi anak kalian kembar. Trus kalau dia suka daging-dagingan konon katanya sering laki-laki. Pantas aja porsi makannya nambah, harusnya tiga kali lipat malah”, terang bu leli sambil menatap vita.
“Iya kamu urus vita dulu, nanti kita gampang,” kata bapanya menambahkan.
“Ayo vit, makan dulu ya,” kata bram sambil menggandeng vita ke meja makan. Vita pun makan dengan lahap menghabiskan tiga potong ayam ditambah jus buah. Bram pun dengan setia menemani vita dan dia mau membantu vita membagi-bagi ayamnya menjadi kecil- kecil supaya vita tinggal makan. Dia benar-benar melakukannya dengan sabar.
Setelah makan vita pun ingin istirahat dulu, lalu dia masuk kamar dan tidur karena kekenyangan jadi ngantuk.
Halo readers setiaku
Dukung terus ya
__ADS_1
like, coment dan vote
Terimakasih