
PULANG
Malam itu semua bahagia, tidak terkecuali ibu leli dan suaminya.
“Pa, coba dulu bram ngga kita jodohkan dengan vita, gimana jadinya hidup bram sekarang ya pa,?” tanya ibu leli ke suaminya sambil merenung.
“Iya ma, dulu sama feni hidupnya sangat kaku, dan tertekan. Saya berterima kasih untuk luka yang dikasih feni ke bram ma, bram jadi bisa menjadi diri sendiri.” Ucap papa bram serius,” mama lihatkan bagaimana vita seĺalu mengutamakan bram, dia sangat menghormati bram” Lanjut papanya bram.
“Saya lihat bram juga sudah sangat sayang sama vita pa, bahkan lebih dari dulu dia sayang sama feni,” ucap papanya lagi.
“Saya sudah menyiapkan asuransi pendidikan untuk ketiga cucu kita ma”, lanjut papanya bram lagi.
“Kok tumben papa kepikiran”? Tanya bu leli.
__ADS_1
“Sekarang tujuan hidup kita kan ketiga cucu kita ma, jadi kita harus merencanakan dengan baik”, kata papanya bram sambil tersenyum.
“Nanti sebelum kita pulang kita bicarakan ini dengan bràm sebagai hadiah ulang tahunnya ma,” lanjut papa bram lagi. Sementara mamanya hanya mengangguk-angguk senang.
Akhirnya bu leli dan suaminya pun tidur tenang.
Sementara vita yang baru memastikan bahwa anak-anaknya sudah tidur, dia meninggalkan kamar anaknya lalu menuju kamarnya. Dia lihat bram sedang senderan di tempat tidur sambil memainkan hpnya. Melihat vita masuk bram pun langsung bangun menyambutnya dan menaruh hpnya.
“Sudah”, jawab vita singkat lalu dia berjalan kearah kamar mandi.
“Perlu dibantu ngga,” ucap bram menggodanya
“Boleh, tolongin ambil baju di koper sayang,” ucap vita dari kamar mandi.
__ADS_1
Bram pun mencari pakaian vita di koper, mulai dari dalaman dan juga baju tidur terusan yang tipis transparan. Lalu bram mengambil bajunya tapi tidak mengambil dalamanya.
Vita yang sudah keluar dari kamar mandi dengan sepotong handuk berjalan kearah bram. Pasti bram akan langsung menerkamku, batinya. Dan vita sudah siap untuk itu. Benar saja bram memegang baju vita yang dia ambil tadi sambil mendekati vita. Bukanya pake baju bram malah menarik handuknya dan mengangkat vita ke kasur. Vita hanya pasrah karena ini sudah ada dalam prediksinya. Bram mulai mencium bibir vita sambil berbisik dikuping vita.
“Aku mau lagi,” ucap bram seperti desahan. Vita tersenyum lagi-lagi dia sudah memperkirakannya.
“Lakukan sebanyak yang kau mau sayang,” balas vita juga seperti desahan makin menggoda bram.
“Hari ini kulakukan sebagai kado ulang tahunmu,” ucap vita sudah mendesah dan menutup matanya karena tangan bram sudah bermain di dadanya.
Melihat itu bram makin menjadi, malam ini mereka melalui malam yang lumayan panjang berdua. Bram benar-benar tidak pernah merasa puas oleh kenikmatan yang dia dapatkan dari istri nya itu, dalam benak bram berkata "betapa memabukan nya rasa itu, selalu menghantui pikiran ku dan membuat darah ku bergejolak setiap menginginkan kenikmatan tersebut". Entah berapa kali dia melakukannya, untung vita bisa ngimbanginya.
Besok paginya mereka semua sudah siap-siap pulang ke jakarta. Bram merasa sangat lemas sehingga memutuskan untuk tidak berkemudi saat itu. Berhubung atas rasa lelah bram menyuruh mang ujang yang mengemudi mobil nya dan akhirnya rombongan mobil papah bram di kemudikan oleh papa bram sendiri karna papah bram tidak ingin terjadi sesuatu di saat perjalanan nanti dan mengalah untuk keselamatan anak dan cucu nya tersebut.
__ADS_1