
DIA PUTRIKU2
Mereka pun bersalaman pertama dengan bram baru denģan amel. Dan benar aja dada mamanya rendi deg degan waktu salaman sama amel begitupun ayahnya. Bahkan ayahnya hampir meneteskan air mata.
Wajah amelda mirip rendi lebih dekat lagi dengan mery kaka perempuan rendi.
kEdua orang tua rendi jadi kikuk dalam keadaan seperti itu. Akhirnya papa rendi yang berbicara dan lebih bijak.
“Vita sama nak bram, dulu kami pernah bersalah sama vita, dulu kami berbuat seenaknya sama vita, hanya karena kami punya sedikit uang,” ucap papanya rendi sambil menerawang ke atas menahan air matanya.
“Itulah keegoisan kami waktu itu, yang membuat vita hancur dan harus pergi dari kampung ini dalam keadaan terpuruk,” lanjutnya lagi lalu dia menghela nafas panjang.
__ADS_1
“Tapi sebenarnya bukan Cuma kamu yang hancur vit, rendi malah lebih hancur,” jelas papanya sudah meneteskan air mata.
“Setelah dia tahu kamu pergi dia tidak kuliah lagi dengan benar, tiap hari main judi dan akhirnya kami putuskan membawanya pulang. Setelah dia dikampung sama sekali tidak lebih baik dia selalu menanyakan keberadaanmu pada semua orang. Yang lebih buat dia marah, saat tahu bahwa kamu dan bibimu pernah ke rumah. Disitu dia benar-benar frustasi, merusak dirinya dengan minuman, ngga pernah tidur begadang semalaman.” Ucap ayahnya sudah terisak.”kami sangat menyesal vit, kami sudah merusak anak kami sendiri,” ucapnya sambil memandang istrinya yang menunduk. Mamanya rendi sangat malu pada vita karena sekarang keadaan benar-benar terbalik.
Melihat keadaan itu, vita yang memang sudah tidak menyimpan dendam karena menurut dia itu sudah takdir, menghibur orang tua rendi.
“Om tante, sebenarnya saya sudah melupakan semuannya, saya dan suami tidak ingin menoleh ke masa lalu lagi. Kita jalani aja yang sekarang, biar kita bisa sama-sama bahagia.” Ucap vita yakin yang diangguki oleh bram.
“Kami hanya ingin minta maaf vit, trus om harap kalau bisa kamu dan bram bicaralah sedikit sama rendi. Mungkin itu bisa mengurangi beban rendi,” ucap papanya.
Vita pun melirik suami dan anaknya amel, bram menganggukkan kepalanya tanda mendukung vita. Sementara amel hanya bengong ngga ngasi pendapat.
__ADS_1
“Om tante, sebenarnya saya juga berterimakasih sama om dan tante. Mungkin kalau dulu tante tidak mengusir saya pasti saya sudah jadi istrinya rendi dan hidup disini. Tapi mungkin aku tidak akan pergi ke jakarta seumur hidupku. Tapi karena kejadian itu aku nekad, bahkan mati di jalan pun aku sudah siap yang penting keluar dari kampung ini. Tapi Tuhan berencana lain aku bertemu dengan orang-orang baik yang menghargai aku,” sambil memegang tangan suaminya “ bram dan mertuaku”, lanjut vita.
“Bahkan mereka menerima segala keadaanku termasuk amel anak yang aku kandung waktu itu.” Cerita vita yang membuat wajah kedua orang tua rendi kaget.
Vita dan bram memegang tangan amel untuk menguatkan.
“Ini anakku om yang waktu itu kalian suruh gugurkan, sekarang anakku sudah dewasa, anak yang baik sama kedua orang tuannya. Ngga pernah aneh-aneh sama seperti mamanya.” Terang vita.
“Saya harap om dan tante sudah puas dengan penjelasan saya, jangan bahas lagi masa lalu. Sekarang kami sudah punya kehidupan masing-masing. Dan tentang amel....”, vita terdiam
“Dia putriku”, ucap bram yakin. “Dia adalah putri pertama bramanto saputra, dia adalah amelda saputra,” ucap bram yakin yang diangguki oleh vita dan amel.
__ADS_1