
Berada didalam ruangan yang terlihat sangatlah sepi tanpa ada seseorang sekalipun dan hanya sendiri dalam kondisi kedua tangan dan kaki yang masih dalam keadaan terikat beberapa kali Cassandra mencoba menenangkan pikirannya yang selalu kacau, sekaligus bingung apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.
Setiap detik banyak sekali pertanyaan tentang nasib buruk yang tengah ia pikirkan. Namun hal yang paling ia takuti dari semua itu adalah kematian, ia takut jika orang jahat yang sedang menyekapnya akan bertindak nekat untuk mencelakai dirinya.
Belum juga rasa was-was nya hilang ia sudah dibuat terkejut sekaligus ketakutan setelah pintu yang tiba-tiba terbuka dengan berbarengan langkah kaki seseorang yang mulai menunjukkan sepatu berwarna hitam yang perlahan-lahan mulai menghampirinya
Pandangan sekaligus matanya seketika terdiam bahkan tidak berkedip setelah ia tahu siapa seseorang yang mulai menghampirinya
beberapa kali Cassandra mencoba menenangkan pikirannya yang selalu kacau, sekaligus bingung apa yang sebenarnya akan pria itu lakukan padanya.
Melangkah menghampirinya yang sedang duduk di atas kursi dengan kondisi kedua tangan dan kakinya yang terikat.
"Apa yang kamu lakukan?" apa kamu berniat ingin memberitahu seseorang tentang perlakuan ku ini padamu?" tanya pria itu dengan wajah geramnya.
"Apa maksud kamu aku tidak mengerti?" dan satu hal jika kamu ingin menuduhku maka lihatlah apa yang terjadi pada dirimu ini?" apa kamu memang pantas berkata seperti itu?" suami!" seorang suami harusnya menjaga Istrinya yang sedang terbaring lemas di Rumah sakit, tapi apa yang lakukan?" apa kamu melakukan semua itu, apa kamu melakukan kewajiban kamu sebagai seorang Suami untuk menjaga Istrinya?"
__ADS_1
"Apa kamu sedang memarahiku?" apa kamu tidak sadar dengan siapa kamu berbicara saat ini?
Richard memicingkan mata, memperhatikan makhluk di hadapannya saat ini.
"Kau satu-satunya manusia yang tidak gentar melihat wajahku dengan tatapan tajam seperti itu gadis bodoh. Apa hanya kau yang memiliki mata sehat di muka bumi. Apa kamu sangatlah pemberani sampai-sampai dengan beraninya mempermainkan seseorang sepertiku ,"
Richard mendekati Cassandra dengan senyuman menyeringai. Richard seakan merasa ada perlawanan yang menantang dalam diri Cassandra.
Seperti biasa, Cassandra hanya diam memperhatikan setiap gerak gerik yang Richard lakukan. Wajahnya sama sekali tidak menampakkan ingin menjawab setiap kalimat yang dilontarkannya. Bagi Cassandra waktunya terlalu sia-sia dengan hal yang tak berguna untuk ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan pria kejam yang berada dihadapannya.
Memperhatikan setiap tatapan yang ditunjukkan pada Pria kejam ini. Cassandra akhirnya buka suara karena ia tahu dengan berdiam diri mungkin cara itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Apalagi musuh yang ada dihadapannya bukanlah seseorang yang biasa.
"Apa sebenarnya mau mu?" apa kamu ingin membunuhku?" jika kamu ingin membunuhku silahkan karena aku tidak akan pernah takut.
"Apa kamu bilang. Apa kamu mengancam ku?" tegas Richard.
__ADS_1
Kenapa anda begitu terkejut, saya memang berkata jujur. Kau bahkan mampu menghabisi anak buah papaku dengan satu tembakan, bukan? lihatlah, betapa hebatnya dirimu ini."
"Kau sudah berani rupanya
"Iya aku berani karena jika aku hanya berdiam diri dihadapan Pria kejam seperti mu itu tidak akan menyelesaikan masalah. Apa yang kamu lakukan pada keluarga ku dan kakak ku itu sudah sangat keterlaluan. Biar pun kamu mengira jika aku yang membunuh adikmu aku rasa itu sudahlah terlihat kalau anda adalah pria yang sangat bodoh. Anda sangat bodoh karena hanya percaya dengan satu penglihatan tanpa harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi itu ucapan kamu. Baiklah jadi ini yang kamu inginkan, Reno.
"Iya Tuan ada apa?.
"Ambilkan cambuk dibelakang sana," perintahnya dengan pandangan tajam kearah Cassandra.
"Baik Tuan.
BERSAMBUNG
__ADS_1