
Malam yang sunyi tak terdengar akan suara berisik yang akan menganggu tidur dari pemilik kediaman rumah yang terbilang sangat besar yaitu kediaman Wijaya.
Awalnya suasana terlihat biasanya saja akan tetapi tak lama kemudian datanglah langkah kaki seseorang yang perlahan-lahan mulai mendekati Rumah besar ini.
Terlihat dari wajah senyumannya seseorang itu terlihat sedang merencanakan sesuatu. Dengan membawa pisau tajam dan sebuah batang linggis untuk menyongkel pintu yang berada tak jauh dari langkahnya yang tambah semakin mendekati tempat akan tuan dari pemilik rumah besar ini.
Berlalu seseorang itu pelan-pelan ia mulai menghampiri Wijaya dan Istrinya yang telah terbaring diatas ranjang bermotif biru muda tersebut. Pisau yang berada digenggaman nya ia layangkan keatas dan tinggal selangkah lagi pisau itu akan tertancap pada perut wijaya yang masih dalam keadaan tertidur pulas.
Akan tetapi dengan tepat waktu Wijaya yang terbangun dari tidurnya ia langsung mendorong laki-laki itu hinga membuat dirinya jatuh tersungkur.
"Kamu?" apa yang ingin kamu lakukan apa kamu udah gila. Apa kamu sudah gila karena berniat ingin membunuhku dan siapa yang menyuruhmu?"
"Jangan mendekat, jika selangkah aja kamu berani mendekatiku maka pisau tajam inilah yang akan melukai leher wanita yang kamu cintai ini. Apa kamu mau melihatnya terluka?" tidak kan?.
__ADS_1
Mata tajam pria itu yang mengarah tajam kearah istri Wijaya. Dengan adanya pisau yang masih berada di genggamannya membuat pria itu tak segan-segan ingin segera menancapkan pisau ini ke tubuh Wanita itu.
Wijaya yang tidak tingal diam ia berusaha sekuat tenaga menggambil pisau itu dari genggaman Sandra selama hampir beberapa menit mereka beradu akhirnya kemenangan berpihak padanya setelah ia berhasil merebut dan melemparkannya kearah yang agak jauh.
Akan tetapi nasib buruk terjadi pada Wijaya tanpa ia sadari terdapatlah satu buah pisau yang berada diatas nakas bersebelahan dengan sajian buah-buahan. Penjahat itu yang menyadarinya ia segera mengambilnya tak main-main ia kembali menancapkan pisau lancip itu berbalik tepat ke perut wijaya.
Darah segar telah mengalir dari perutnya dan membuat kemeja tidur yang dipakainya berubah menjadi merah darah. Tubuh yang seketika hampir tersungkur, rasa sakit, perih yang tiba-tiba menyerangnya membuat pandangan wijaya menjadi kabur.
Berteriak secara histeris membuat pandangan penjahat itu berbalik memandang kearah Wanita itu. Ketakutannya menjadi satu melihat pria jahat yang bersimbah darah itu perlahan-lahan mulai menghampirinya.
Rasa lemas semakin telah dirasa oleh Wijaya. Tubuhnya yang seketika merosot kebawah yang akhirnya membuatnya tak tahan lagi, dengan bersimbah banyak dar*h akhirnya wijaya pun jatuh tersungkur.
Mulut yang seperti terkunci. Dan tubuh yang tidak mampu ia gerakkan, sesaat kemudian entah apa yang ada dibenak Pelaku saat ini. Melihat seorang yang telah tidak berdaya tepat dihadapannya, tidak ada rasa simpati yang hadir dalam benaknya. Tak tahu apa tujuan pertamanya, Sandra dengan langsung ia melangkahkan kakinya ke depan dan tepat di samping wanita yang dalam kondisi sudah tidak berdaya.
__ADS_1
"Inilah akibatnya karena kamu sudah dengan beraninya menggagalkan rencana ku. Sekarang kamu sudah tidak berdaya lagi bahkan untuk jalan kamu sudah tidak sanggup lagi jadi apa kamu masih sanggup untuk menolong Wanita mu itu. Oo iya atau mungkin kamu mau melihat dia ikut terluka seperti yang kamu alami sekarang ini," ucapnya dengan tersenyum sinis.
"Jangan berani kamu mendekatinya atau aku akan bertindak lebih kasar dari ini.
"Ooo ancaman yang sangat menakutkan. Dan aku menjadi takut dengan ancaman kamu itu.
Selangkah penjahat itu berniat akan berniat ingin mencelakai Istri wijaya, sedangkan Wijaya yang serasa tubuhnya sudah tidak mampu lagi untuk berdiri ia dengan berusaha bangkit berlari kearah istrinya dan mendekap tubuh istrinya dari dalam pelukannya.
Laki-laki yang sudah ancang-ancang sedari tadi berniat ingin menusukkan pisau ini, lagi-lagi tusukan itu telah salah sasaran dan tepat mengenai wijaya yang dimana ia telah mendekap tubuh istrinya.
Rasa sakit yang tidak tertahan telah ia rasa, dengan berusaha ia mendekap dan terus mendekap tubuh yang seketika mati rasa bahkan tenaga yang sedari tadi ia keluarkan untuk bertahan. Pelan-pelan tubuh Wijaya akhirnya merosot kebawah dan pelukan yang ia lakukan perlahan-lahan mulai terlepas kebawah.
BERSAMBUNG.
__ADS_1