Terjerat Cinta Sang CEO Kejam

Terjerat Cinta Sang CEO Kejam
Amarah Verrel


__ADS_3

Seseorang baru tiba di Rumah dengan keadaan yang tidak baik-baik saja, wajah yang di hiasi babak belur, darah keluar di sudut bibirnya menandakan bahwa pria itu itu seperti habis di keroyok atau sehabis berkelahi.


Erlangga masuk ke rumah dengan langkah pelan, sesekali ia meringis pelan sembari memegang pipinya yang sudah membiru akibat kuatnya pukulan akibat perkelahian tadi. Sesampainya di depan pintu, Erlangga di sambut dengan wajah panik dari Cassandra dan Verrel yang terlihat panik melihat muka memar tersebut.


"Kak Erlangga, Kakak kenapa?" tanya Cassandra panik, seraya membantunya untuk duduk di sofa.


"Erlangga apa yang terjadi kenapa wajah kamu bisa memar seperti itu? Apa kamu habis berkelahi?" tanya Verrel yang ikut panik.


Cassandra duduk di samping Kakaknya, perempuan itu menatap iba sang kakak yang sudah babak belur itu, matanya berembun ketika melihat Erlangga yang meringis menahan sakit.


“Sudahlah, aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil,"sela Erlangga tak mau merepotkan keduanya.


“Apa yang kakak bilang? Ini luka kecil? biarpun kecil ini sungguh membuatku khawatir," sentak Cassandra ketika mendengar kalimat enteng dari mulut Erlangga,sedangkan Verrel.

__ADS_1


Verrel menatap Erlangga dengan tatapan amarah dan emosinya yang hanya diam seraya memperhatikan rintihan sakit yang terdengar olehnya.


"Aku akan mengambilkan kompresan dan obat P3K," sambung Verrel, berlalu ia beranjak dari tempat berdirinya tadi.


Cassandra kembali menatap kakaknya, tangannya mengusap lembut rambut Erlangga yang sudah acak-acakan akibat perkelahian tadi.


Verrel tengah sibuk mencari kotak P3K, laki-laki itu bolak-balik ke dalam laci tapi nihil tidak ada kotak yang biasa digunakan untuk mengobati luka, percayalah! Akibat terlalu besar rasa emosi yang ia rasa saat ini sehingga kotak sekecil itu pun ia tidak bisa untuk ia menemukannya.


"Siapa sebenarnya orang yang sudah membuatnya babak belur seperti ini. Apa semua ini ulah dari si brengsek itu?" gumamnya dengan mengepalkan kedua tangannya,dengan cepat mengambil beberapa obat yang ia perlukan, karena takut kelamaan, setelah selesai ia kembali menutup lemarinya dan juga kembali ke ruang tengah, tapi baru saja ia ingin melangkah keruang tengah, laki-laki itu kembali menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik tembok, ketika kedua saudara kandungnya itu berbicara.


"Semua ini adalah ulah si brengsek bernama Richard. Dia duluan yang mencari gara-gara dengan menewaskan anak buah ku. Jadi pukulan yang barusan aku berikan padanya itu semua adalah balasannya. Biar pun kenyatannya aku belum mampu untuk membunuhnya sekalipun!"


Verrel keluar dengan wajah tegang, laki-laki itu seperti sedang emosi, kedua tangannya mengepal menandakan ia benar-benar sedang emosi.

__ADS_1


Ia berjalan dengan tergesa-gesa, laki-laki itu masuk ke dalam ruangan itu, langkahnya yang menghampiri dua saudaranya. Berlalu ia membanting pintu kamar dengan sangat kuat, laki-laki itu mengepalkan tangannya dan meninju sekilas dinding di sampingnya membuat tangannya yang putih itu sedikit memar.


Verrel membanting benda sebagai pelampiasan kemarahannya. Erlangga mau pun Cassandra yang melihatnya mereka nampak sangat terkejut.


"Verrel apa yang kamu lakukan?" tanya Erlangga yang mencoba menahannya untuk jangan melukai dirinya sendiri.


"Kak Verrel tahan emosi kamu,tahan!" titahnya yang ikut menghalangi Verrel untuk jangan melukai dirinya sendiri.


"Sudah aku duga dialah orang dibalik kekacauan ini. Selama ini aku sudah sangat bersabar menghadapinya tapi apa? Semakin lama ia dibiarkan ia tambah semakin ngelunjak. Jadi sekarang giliran ku yang akan menghabisinya, jika kamu tidak sanggup untuk membunuhnya karena ia adalah sahabat kamu biar aku saja yang melakukannya." Amarahnya yang semakin memuncak, beberapa kali ia berniat akan pergi tapi kedua saudaranya dengan kompak menghalangi dan memeluknya dengan erat.


"Jangan halangi aku, sudah cukup anak buah kita menjadi korbannya jadi sekarang giliran ku yang akan menghabisi bedebah itu. Lepaskan aku! Lepaskan aku!"


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu untuk melakukan itu. Apa kamu sadar cara ini bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah, jadi tahan emosi kamu tahan!"sergah Erlangga.

__ADS_1


"Tahan kamu bilang! Dalam satu hari ia mampu menghabisi dua orang sekaligus apa itu masih kurang cukup. Apa kamu masih menginginkan dari kita yang akan jadi korbannya barulah kamu bisa akan melawan dan menghabisinya? Apa kamu akan terus mengalah darinya?" bentaknya yang langsung menepis kedua saudaranya hinga tersungkur kelantai. Wajah yang tadinya tak terlihat akan amarah, kini dalam hitungan detik amarahnya seketika memuncak dengan nafasnya yang tersengal-sengal.


BERSAMBUNG


__ADS_2