Terjerat Cinta Sang CEO Kejam

Terjerat Cinta Sang CEO Kejam
Tertangkap


__ADS_3

Cassandra masih berjalan tak tentu arah. matanya sudah sayu, mungkin kelelahan karena tak berhenti berlari sedari tadi. Gadis itu terjatuh di atas rumput-rumput yang membaluti tanah hutan itu. Sejauh mungkin apapun ia berlari, yang ia lihat hanyalah daun kering yang tak tentu arah Cassandra mengusap keringatnya yang menetes didahi.


Gadis itu meringkuk, memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya dicelah lututnya. Air mata tak henti menetes dari mata bulatnya, entah kenapa hidupnya menjadi seperti ini? gadis bersurai panjang itu masih meratapi nasibnya.


Jika ditanya ia rindu atau tidak dengan kehidupannya yang dulu? maka jawabannya pasti iya! iya sangat rindu dengan kehidupan yang dulu, yang slalu dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Bukan malah seperti sekarang, hidupnya hancur dalam sekejap, hanya sebuah fitnah? memang benar kata orang-orang, 'Fitnah lebih kejam dari pembunuhan'.


Cassandra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang sudah membiru karena lebam. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri, seakan-akan ia sedang dipeluk oleh orang yang sangat ia sayangi. Tapi nyatanya itu hanyalah sebuah khayalan! tidak ada yang menyayanginya lagi di sini.


"Ini sangat sakit, a-aku benar-benar udah nggak kuat lagi. Ka-kapan semua ini be-berakhir? a-aku ingin semuanya usai,” lirih Cassandra dengan mata yang sudah menyiratkan arti lelah yang sebenarnya.


***


Segerombolan laki-laki dengan ekspresi khas masing-masing, mulai mencari keberadaan seseorang yang tak lain, dan tak bukan ialah Cassandra. Mereka semua masuk kedalam hutan itu tanpa rasa takut sedikitpun. Karena mereka sudah terbiasa, bahkan malam hari pun sudah biasa.


"Apa sebaiknya kita berpencar saja kalau seperti ini terus, kita tidak akan bisa menemukan keberadaan wanita itu, bahkan kita bisa kehilangan jejaknya!" ujar Rico yang mendapat anggukan kepala dari Richard..


"Kamu benar! kita memang harus berpencar!" balas Richard mengiyakan ucapan sang anak buah.


Rico hanya mengangguk dan melihat Richard yang mulai berjalan menjauh untuk mengarahkan para bodyguard-nya untuk berpencar.


"Kalian!" dengar ini baik-baik!" untuk lebih memudah pencarian!" sebaiknya kita berpencar!” teriak Richard dengan suara lantang.


"Baik tuan!" balas para bodyguard itu dengan serempak.


“MULAI!”

__ADS_1


semuanya mulai berpencar. Sedangkan Richard dan Rick masih bersama, mereka berdua tidak akan berpisah, karena yang akan berpencar adalah para bodyguard-nya saja.


***


Cassandra masih saja bersandar di pohon yang menjulang tinggi itu. Tubuhnya sangat sakit bila digerakkan, ia tak sanggup menahan perih itu. Jika boleh memohon, ia akan memohon jika Tuhan cepat-cepat mengambil nyawanya, agar dia tidak lama merasakan penderitaan yang amat kejam ini.


Angin sepoi-sepoi menambah suasana dingin di tengah hutan itu. Hingga rasa kantuk mulai menyerang mata sayu milik Cassandra. Baru saja hendak memejamkan mata, tapi suara teriakan seseorang itu membuat kedua mata bulat gadis itu, seakan terbuka dengan paksa.


“Cassandra!”


Bulu kuduknya seketika berdiri, mendengar suara itu seakan dunianya juga ikut terhenti. Cassandra dengan tangan yang bergetar itu mulai meremas tanah di bawahnya. Tak peduli tangannya akan kotor karena tanah itu, yang terpenting ia dapat melampiaskan rasa ketakutannya.


"Cassandra dimana kamu keluarlah aku tahu kamu pasti ada disekitar sini bukan. Ayo keluarlah!" teriakan itu semakin mendominasi suasana hutan yang sangat hening itu. Membuat teriakannya semakin berdengung.


Cassandra kalang kabut, ingin bangkit tapi kakinya tak mampu untuk digerakkan. Dengan sekuat tenaga, tangannya berpagutan di batang pohon Pinus itu. Acha mulai bangkit meski harus menahan rasa sakit yang semakin menjalar di tubuhnya.


Cassandra memegang kakinya, dan kembali melanjutkan jalannya. Dan ya! suara itu memang suara Richard, dan suara itu juga membuat seorang gadis ketakutan. Meredam rasa sakit agar bisa menjauh dari orang itu.


"Ya Allah sakit banget!" lirihnya terisak.


"Cassandra!" teriakan Richard kembali terdengar.


Cassandra kembali berusaha mempercepat langkah kakinya, bahkan ia sudah berlari kecil.


"Aku harus bisa lar---”

__ADS_1


"Akh!" teriak Cassandra ketika kakinya tersandung akar pohon.


Saking paniknya, ia tidak memperhatikan ada akar pohon di depannya. Alhasil kakinya tersangkut dan menyebabkan ia terjatuh. Dan satu lagi, ia berteriak, itu membuatnya semakin panik sendiri. Gadis itu membekap mulutnya dan mencoba untuk bangun kembali namun gagal.


"Awss!" ringisnya, ketika lututnya kembali mengeluarkan darah merah nan kental.


"Hahaha! Apa saya bilang! kamu tidak akan bisa kabur! Cassandra!"


Deg!


"Richard," batin Cassandra tatapannya yang terlihat terkejut. Dan mencoba untuk kembali berdiri dan kabur kembali.


“Satu kali kamu melangkah!" saya pastikan kakimu, akan terpisah dari tempatnya!" ancam Richard, membuat Cassandra mati kutu dan terdiam ditempatnya.


Para bodyguard kembali berkumpul di belakang Richard dan Rico yang tengah tersenyum sinis kearah Cassandra.


"Tangkap dia!" titah Richard tak terbantahkan.


Para bodyguard mulai mengepung Cassandra, sehingga gadis itu berada di posisi di tengah-tengah para laki-laki berbadan besar itu.


"Jauhin aku!" teriak Cassandra memandang sinis orang-orang di sekelilingnya itu.


"Aku bilang! JAUHIN AKU BAJINGAN!" bentaknya, namun tak dihiraukan oleh para laki-laki itu.


Kini tatapan sinis itu beralih kepada Richard. Namun tatapan itu berubah, tak lagi sinis seperti sebelumnya, karena sudah berubah menjadi tatapan sendu. Dan kini bola mata bulatnya yang sayu itu beralih menatap Rico, yang juga tengah menatapnya.

__ADS_1


"Kamu?" panggil Cassandra dengan suara lirih, namun Richard membuang mukanya kearah lain.


BERSAMBUNG


__ADS_2