
Tersungkur ke belakang, hingga akhirnya Richard pun mendorongnya hingga benar-benar terbaring di atas ranjang. Memegang kedua pergelangan tangan Cassandra, mengunci dengan tangannya. Richard menatap wajah Bintang dengan bringas. Memperhatikan pahatan indah dari wajah Istrinya itu.
Sedangkan cengkraman yang dilakukan Richard yang semakin mempersulit Cassandra untuk melarikan diri darinya, sedangkan Richard yang sudah menatapnya dengan tatapan bergairah bibirnya yang hampir saja menyentuh lekuk lehernya. Dan pandangan Richard yang semakin menjadi setelah ia memandang bibir Cassandra yang sangatlah mungil.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu berniat ingin menodai ku?" tanya Cassandra dengan ekspresi geramnya.
"Kenapa? Bukannya ini memang sudah seharusnya untuk kita lakukan? Kan selama kita menikah dan menjadi Suami-istri kita tidak pernah melakukan hubungan itu jadi jika kita lakukan sekarang apa kamu akan keberatan?" tanyanya yang sedikit menggoda.
"Lihat saja jika ia sampai berani mencium ku maka hidungmu yang akan jadi taruhannya," batinnya dengan tersenyum sinis kearahnya.
"Kenapa? Kenapa kamu malah tersenyum apa kamu juga menantikannya," balas Richard lagi.
"Menyingkir dari hadapanku sekarang kalau kamu tidak mau akan menyesal nanti,"tegasnya.
"Menyesal untuk apa aku harus menyesal," timpalnya yang kemudian tanpa berkata lagi, Cassandra akhirnya memberikan gigitan tepat mengenai hidung Tristan. Merasa terkejut lantaran darah mengalir dari hidungnya ia lantas bangkit dari atas ranjang dan mengambil tissue.
"Kamu lihat kan aku bukanlah Cassandra yang dulu dan kapan aja aku bisa bertindak lebih kasar dari ini, jadi jangan coba-coba untuk melawanku!"
"Baiklah aku akui kalau aku kalah, tapi sebagai gantinya kamu tidak akan aku ijinkan untuk keluar dari kamar jadi selamat tidur," timpalnya yang kemudian Richard bergegas berlari dan menguncinya dari dalam. Dan kemudian Richard pun membaringkan tubuhnya seolah-olah tidak ada yang terjadi.
__ADS_1
"Dasar pria gila apa maksud dia bertingkah seperti ini. Dan mana Richard si jahat yang tidak punya hati itu. Apa dia baru aja terbentur sesuatu makanya otaknya jadi geser seperti ini?"
Cassandra pun melangkahkan kakinya, menghampiri Richard yang kini telah tertidur pulas dengan bersandar pada kepala ranjang.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Pria bajingan itu? Apa dia sungguh-sungguh ingin berubah ataukah ia hanya sedang mempermainkan ku saja," batinnya dengan tatapan tajam yang masih menyeringai laki-laki yang telah tertidur pulas.
Lantaran berjalan tanpa melihat adanya kursi didepannya, sehingga kakinya tersandung kursi dan tubuhnya jatuh tepat menimpa tubuh Richard yang masih dalam keadaan tertidur. Terkejut dengan posisinya saat ini, bergegas Cassandra yang ingin bangkit ia pun dibuat terkejut lantaran Richard yang terlebih dulu membalikkan tubuh Cassandra dan menindihnya menatapnya dengan tatapan manisnya.
"Kau ingin menggodaku, kan? Makanya kamu berpura-pura jatuh seperti tadi!" goda Richard .
"Apa maksud kamu? Apa kamu berani menuduhku. Aku tadi benar-benar jatuh jadi jangan berprasangka buruk dengan mengatakan kalau aku ingin mengambil kesempatan darimu apa kamu mengerti!" ucapnya yang kemudian ia pun segera bangkit dari atas ranjang.
"Apa yang kamu perhatikan saat ini, cepatlah tidur ini sudah malam,atau kamu tidak ingin tidur bersamaku?" tanyanya dengan sedikit agak menggoda.
"Jika kamu ingin tidur diatas sana, tidurlah, lagian masih banyak tempat yang lebih nyaman dari pada harus tidur satu ranjang denganmu!" balasnya yang kemudian ia pun menggambil sehelai selimut dan dengan segera ia pun tertidur dibawah yang hanya beralas tikar tipis.
Kemudian ia pun merebahkan diri, berusaha memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuh agar lebih rileks dan melegakan.
Akan tetapi meskipun sudah berjam-jam berusaha memejamkan mata, namun mata indah Cassandra tidak bisa terpejam hanya dalam semenit pun. Hal itu di ketahui oleh Richard yang juga belumlah tertidur lantaran sedari tadi meliriknya.
__ADS_1
Kamar asing yang kini menjadi tempatnya terbaring seakan menjadi alasan mengapa rasa kantuk yang ia rasakan tak kunjung terpejam.
Apalagi dengan adanya Laki-laki yang telah terbaring diatas ranjang membuatnya tambah susah untuk memejamkan kedua matanya.
Di hempaskannya selimut yang berbahan bulu halus nan lembut tersebut, ia turun dari ranjang. Pandangan mata mengarah kearah laki-laki itu
Cassandra yang pura-pura terpejam membuka matanya, dalam gelap memperhatikan laki-laki itu keluar dari dalam kamar ini.
"Mau kemana dia?" batinnya yang tiba-tiba merasa penasaran.
"Apa dia berniat ingin pindah kamar? Tapi kalau itu memang beneran terjadi syukurlah kalau gitu akan tetapi akan lebih baik kalau kamu tunggu dia sampai satu jam, jika dalam satu jam dia tidaklah kembali itu artinya dia benar-benar mengalah," gumamnya dengan pandangan mata yang masih fokus melirik kearah pintu kamarnya.
"Sudah hampir 20 menit dia pergi dan tidak kunjung kembali, apa dia benar-benar sudah kalah dan lebih memilih untuk tidur sendiri diruang tamu?"
Akan tetapi berbeda dari dugaan dan rencana yang Cassandra rencanakan. Gimana belum ada satu jam lamanya Cassandra memutuskan untuk menunggu kedatangan Richard, nyatanya ia yang terlebih dulu diserang rasa ngantuk yang akhirnya membuatnya malah jadi tertidur terlebih dulu. Alhasil Richard yang sedari tadi sengaja tidaklah masuk bergegas ia pun masuk kedalam kamar setelah hampir satu jam ia berpura-pura tidak akan kembali.
Melihat Cassandra yang sudah tertidur pulas dengan memeluk guling dalam dekapannya, Richard yang melihatnya pun malah menjadi tersenyum dan menertawakannya secara diam-diam.
"Dasar, ternyata biarpun kamu berpura-pura benci dan tidak perduli nyatanya semua itu berbeda dari dugaan ku,"ucapnya yang kemudian ia pun kembali keranjangnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG