Terjerat Cinta Sang CEO Kejam

Terjerat Cinta Sang CEO Kejam
Flashback


__ADS_3

"Apa maksud kamu ingin mencambuk ku apa kamu belum puas karena sudah membuat ku menderita selama ini?"


"Iya aku belum puas membuat mu menderita. Apalagi dengan beraninya kamu melaporkan ku ke Polisi dan mengeledah markas ku apa kamu pikir aku akan diam!" tidak, itu tidak akan pernah terjadi jadi mungkin dengan cara cambukan ini kamu akan kembali takut akan siapa aku ini?


"Iya Tuan maafkan saya, ini.


"Kamu lihat ini apa?"


Beberapa kali cambukan sudah berhasil mendarat ditubuh Cassandra. Lengan dan kaki mulusnya yang tadinya terlihat putih merona tanpa adanya bekas memar, kini dalam hitungan menit memar itu terdapat telah melekat di kaki dan lengan tangannya.


Kesakitan yang Cassandra rasa tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang terlihat sedang menahan rasa sakit akibat cambukan tersebut.


Akan tetapi apa yang dilakukan Richard bukannya bersimpati atau merasa kasihan pada Cassandra yang merupakan Istrinya sendiri.


Tertawa renyah dan senyuman khas yang ia miliki layaknya seorang penjahat telah berhasil ia peroleh. Yaitu membuat seseorang yang tak lain adalah adik kandung dari musuh bebuyutannya berhasil ia taklukan dan menangis bersimpuh dihadapannya.


"Apa kamu sudah puas dengan permainan ini?" apa kamu ingin tetap menyiksaku dengan cara seperti ini?" apa lagi yang ingin kamu lakukan padaku?"


Tubuh Cassandra benar-benar lemas, memar sana sini, bangkit dari lantai saja ia tidak bisa. Matanya hampir tertutup rapat, ia mencoba meraih sesuatu agar bisa bangkit, namun karena tubuhnya yang sudah benar-benar lemas dan sakit, saat mencoba untuk bangkit, tubuhnya berkali-kali terjatuh ke lantai.

__ADS_1


Richard yang melihat itu hanya memutar bola matanya dengan malas, lalu memperbaiki tataan rambutnya yang sempat berantakan saat sedang menyiksa Cassandra. Sungguh, Richard tidak merasa kasihan sama sekali, hatinya benar-benar bagaikan iblis.


Suara rintihan terdengar dari mulut Cassandra, melihat kesakitan yang dirasa Cassandra tidak membuat Richard perasaan iba kepadanya.


"Kamu lihat aku bukanlah seseorang yang gampang sekali untuk dibodohi atau pun di tikung. Dan Kamu?" kamu dengan beraninya telah menantang ku jadi inilah yang kamu mau Sekarang. Dan pertanyaan ku sekarang. Gimana reaksi kamu disaat kamu memberitahu para polisi mengenai kasus ku ini yang sering membunuh seseorang tanpa rasa ampun. Apa kamu menjelaskannya secara detail pada mereka?"


"Jika aku tidak nekat menantangnya mungkin dia tidak akan memperlakukan ku layaknya seekor hewan seperti ini." batinnya yang kemudian ia teringat akan sesuatu.


FLASH BACK.


"Sudahlah kata Dokter kamu sudah diijinkan untuk pulang, jadi pertanyaan ku apa kamu masih bersedia untuk pulang ke rumah suami kamu yang jelas-jelas tidak pernah memperdulikan kamu?" apa kamu masih memperdulikannya ketika kamu tahu jika Suamimu sama sekali gak pernah mengharapkan mu?" tanya Gibran dengan pandangannya yang menatap Cassandra, sedangkan Cassandra terlihat memikirkan sesuatu.


"Dia memang tidak pernah peduli akan siapa aku. Tapi sudah seharusnya aku kembali lagi kesana. Apapun yang terjadi nanti itu sudah jadi urusan ku.


Tok...tok...tok...


"Boleh kak kami masuk?" tanya seseorang itu yang tak lain ialah Revan yang seorang polisi dengan didampingi dua anak buahnya.


"Ini ada apa?" kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Cassandra dengan wajah bingungnya.

__ADS_1


"Maaf kami dari pihak kepolisian. Dan niat kita mendatangi anda kesini karena ada sesuatu yang inggin kita tanyakan ke anda sendiri." ucap Revan, kemudian Cassandra menimpalinya.


"Sesuatu, soal apa?" tanya Cassandra balik.


"Anda gak perlu takut sama kita karena kita gak akan berbuat jahat sama anda. Tujuan kita, kita hanya inggin bertanya siapa orang yang sudah tega menembak anda dan membuat anda jadi terluka dan hampir saja kehilangan nyawa beberapa waktu yang lalu dimana anda telah menjadi korban tembakan. Akan tetapi belum berhasil kami berhasil meringkus, anda sudah terlebih dibebaskan oleh seseorang. Karena kita tahu kalau penembakan yang anda alami bukanlah kejahatan tindak pembegalan mau pun pencopetan . Dan dugaan-ku semua ini ada kaitannya dengan geng Mafia atau Psikopath yang selama ini merajalela apa itu benar?" tanya Revan dengan tatapan meyakinkan.


Mendengar seseorang yang ada dihadapannya mengatakan kata mafia, pandangan Cassandra seketika teralih menatap kearah Gibran.


"Sudah saatnya sebuah kejahatan harus dibasmi Cassandra, jadi inilah saatnya kamu untuk memberi pelajaran pada pria sialan itu," balas Gibran dengan sepenuh hati mau mendukungnya.


"Kenapa?" kenapa anda jadi terdiam dan menatapnya seperti itu, apa yang saya katakan tadi memang benar?" tanya Revan lagi.


"Iya. Yang anda katakan memang benar, semua ini ada hubungannya sama mereka, lebih tepatnya semua ini ada hubungan dengan pria bernama Richard yang tak lain ia adalah Suamiku sendiri." balas Cassandra yang kemudian Revan menatap kearah Samuel yang tak lain rekan anak buahnya.


"Sudah aku duga kan Revan, pasti dialah orangnya."


"Iya Sam, sekarang apa yang perlu kita lakukan, kita gak bisa berdiam diri seperti ini sekarang kita harus segera menangkap Richard dan timnya sebelum dia bertindak lebih kejam lagi," tegas Revan yang terlihat bingung.


"Iya Rev, aku juga berfikir seperti itu, tapi gimana caranya?" tanya Samuel yang kemudian, Samuel teringgat sesuatu dan menatap balik Cassandra.

__ADS_1


"Aku tahu sekarang dengan siapa kita membutuhkan pertolongan. Kamu, anda pasti tahu kan dimana Markas persembunyian Tim Black blacer?" tanya Samuel akan tetapi Cassandra hanya terdiam dan memikirkan sesuatu.


BERSAMBUNG


__ADS_2