Terjerat Cinta Sang CEO Kejam

Terjerat Cinta Sang CEO Kejam
Akankah Gibran mencintainya


__ADS_3

"Gibran apa yang kamu lakukan kenapa kamu ada disini?"


"Tadi kebetulan aku hendak pergi ke-suatu tempat, tapi tak sengaja aku melihatmu dalam keadaan lesu ada apa? Apa sesuatu terjadi sama kamu?"


"Tidak. Aku tidak kenapa-kenapa kok mungkin itu hanya perasaan kamu aja," balasnya tapi raut wajahnya tidak bisa dibohongi.


"Cassandra aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, jadi cepat katakan-lah ada apa?"


"Tidak. Tidak ada apa-apa Gibran kamu ternyata sudah sekali percaya sama seseorang?"


"Baiklah kalau kamu tidak mau curhat padaku, tapi seenggaknya kamu mau kan temenin aku malam siang anggap aja ini aku lagi baik hati mau mentlaktir kamu."


"Baiklah tidak masalah."


Dan selama kurang waktu tiga puluh menit lamanya, mereka pun akhirnya telah sampai disalah satu titik lokasi restoran yang ingin mereka tuju. Sesampainya Cassandra pun dibuat terkejut kemana Gibran membawanya Sekarang.


"Kita sudah sampai, gimana tempat ini cocok tidak buat makan siang kita hari ini.


"Aku kira kamu mau membawa aku ketempat yang mahal, tapi ternyata kamu membawaku ketempat ini, memangnya kamu tidak pernah makan bakso ya?"


"Jujur aku dulu pertama kali pernah berkunjung ke Jakarta dan itu juga sudah lama sekali. Dan kunjungan pertamaku itu aku yang dalam kondisi kelaparan jadi akhirnya itulah awal mula aku mengenal makanan bakso itu. Apalagi kalau disantap pada saat lagi musim hujan-hujanan dijamin sangat menggugah selera pokoknya.


"Iya...iya..aku tahu, ini juga salah satu makanan kesukaan-ku," balas Cassandra yang kemudian mereka mulai memesan.


Pandangannya yang seketika fokus pada satu mangkok yang terdapat hidangan bakso yang sangat menggugah selera. Akan tetapi melihat kenikmatan itu, Cassandra malah terdiam dan melamun mengingat akan kenangan dimana ia beberapa tahun yang lalu pernah duduk ditempat dan lokasi yang sama dimana ia berada saat ini. Dan seseorang itu yang tak lain adalah Erlangga dan Verrel Abang yang selalu ada untuknya tapi sekarang semua kenangan manis ia rasa tidak akan muncul lagi.


Gibran yang tadinya sudah menyantap beberapa sendok, kini pandangannya pun teralihkan sesaat ia melihat Cassandra yang hanya melamun sembari menatap hidangan dalam mangkok tersebut.

__ADS_1


Menepuk pundak Cassandra secara tiba-tiba, lamunannya pun akhirnya buyar, dan berbalik ia pun menatap balik kearah Gibran.


"Kamu kenapa? Apa kamu ada masalah?"


"Tidak, aku tidak apa-apa. A... aku baik-baik saja jadi kita lanjutkan makan lagi."


"Apa kamu melamun seperti ini. Karena kamu mengingat akan seseorang yang tak lain adalah saudara kamu?" tanya Gibran yang spontan membuat pandangan Cassandra pun menatap dirinya.


"Cassandra kamu bisa bohongi perasaan kamu, tapi kamu tidak bisa bohongi aku. Aku tahu kamu melamun karena kamu kangen sosok mereka kan? Dan rindu akan hubungan manis, sifat manja kamu pada mereka kan?"


Menatap kedua bola mata Gibran, air mata Cassandra pun akhirnya kembali meneteskan air mata dari kedua sudut matanya. Dan akibatnya perasaan apa yang selama ini ia pendam, dalam hitungan menit Cassandra pun berani berkata dan mengatakan semua permasalahannya.


"Aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya tapi kenapa kamu selalu mengerti akan kondisiku.


"Cassandra kehidupan manusia sudah diatur. Bahagia ....menderita ...dan kecewa sudah ada yang mengatur. Dan kita? Kita hanya perlu menjalankannya dengan rasa tulus dan kesabaran aku tahu kamu wanita yang kuat jadi aku yakin kamu pasti bisa, kamu pasti bisa.


"Kenapa disaat ada laki-laki yang sangat peduli dan baik kepadaku, kenapa dia bukanlah jodoh-ku ataupun suami-ku. Sedangkan suami yang harusnya menjaga dan jadi tempat curhat disaat masalah menerpa, kenapa dia malah menjatuhkannya ...kenapa?"


Memang aku akui dia juga sangatlah tampan, tapi aku tidak mau merampas kebahagiaannya hanya karena kebaikannya, dan mengorbankan perasaannya demi menutupi luka yang lama.


Biarlah cinta yang tumbuh dengan sendirinya, karena cinta tahu dimana letak rumahnya dan cinta juga tahu dimana ia harus berlabuh mengembalikan cinta itu kembali. Jadi biarlah hatiku perlahan-lahan mulai menerima semua takdir penderitaan ini.


"Cassandra?"tanya Gibran dengan menepuk pundak Cassandra.


"Maaf aku baru sadar," balasnya yang kemudian ia memalingkan pandangannya.


"Apa Erlangga dan Verrel tahu tentang kondisimu yang seperti ini?"

__ADS_1


"Selama ini aku sudah sering merepotkan mereka, jadi aku tidak mau merepotkan mereka lagi. Ini kehidupan-ku jadi aku tidak mau akibat masalah-ku ini mereka harus jadi taruhannya. Apalagi melihat Richard bukanlah laki-laki biasa aku tidak mau Kak Erlangga akan terluka dalam masalah ini cukup aku aja yang menderita janganlah mereka. Jadi kamu mau kan menyembunyikan rahasia ini dari mereka?"


"Aku tidak tahu apa yang membuat-mu terlihat bodoh seperti ini. Kamu berusaha melindungi kakak-kakak kamu tapi disisi lain kamu malah menjebloskan diri kamu sendiri kedalam jurang, tapi kamu tenang aja aku tidak akan memberitahukan masalah ini pada mereka, tapi jika kamu membutuhkan bantuan-ku kamu harus mau mengatakan semuanya padaku apa kamu mengerti?"


Belum juga pembicaraan mereka usai, sebuah suara keras telah berhasil mengagetkan mereka. Menarik tangan Cassandra dengan Cassandra, pria itu berhasil membuat seisi pengunjung berbalik menatapnya dengan tatapan sinis.


"Apa yang kamu lakukan lepaskan aku ! Lepaskan aku!" gertak Cassandra yang berusaha melepaskan cengkraman dari seorang pria yang tak lain adalah Richard.


"Aku bilang ayo ikut aku kalau kamu tidak mau aku lebih kasar dari ini ayo ikut aku,"bentaknya dengan menarik tangan Cassandra dengan kasar.


"Cukup! Dia ini istri kamu apa kamu pantas memperlakukannya dengan cara kasar seperti ini?" gertak Gibran yang kemudian menghalanginya dengan berbalik menarik tangan Cassandra.


"Diam. Ini bukanlah urusan-mu jadi jangan coba-coba iku campur dalam masalah ini, apa kamu paham!"


"Iya ini memang bukan urusan-ku tapi melihat kamu yang kasar memperlakukannya ini sudah jelas-jelas jadi urusan-ku apa kamu mengerti?"


"Ayo ikut aku!"


"Selangkah kamu berhasil menghalangiku maka jangan salahkan aku kalau aku akan memberi perhitungan pada anda," ancamnya dengan tatapan tajamnya.


"Baiklah aku mau ikut dengan-mu," balas Cassandra spontan membuat Gibran terkejut.


"Cassandra?"ucap Gibran.


"Ayo cepat jalan sekarang," gertaknya yang langsung menariknya.


"Astaga kejam sekali pria itu?" ucap para pengunjung yang melihatnya.

__ADS_1


" Aku sadar Cassandra pasti sangatlah tersiksa hidup dengannya, jadi mau gak mau aku harus cari cara untuk menolongnya agar ia terbebas dari masalah ini," batin Gibran yang kemudian mengambil uang 100 ribu dan ia taruh diatas meja sebagai pembayaran kasirnya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2