Terjerat Cinta Sang CEO Kejam

Terjerat Cinta Sang CEO Kejam
Rahasia yang akhirnya terkuak


__ADS_3

Fokus didepan layar laptop dan menahan rasa kantuknya akibat fokus mengotak-atik isi data dari sim tersebut.


Mata yang sudah mulai pegal lantaran berjam-jam ia fokus menatap kearah layar tak lama apa yang ia cari akhirnya mulai ia ketahui. Yang dimana setelah berjam-jam ia kesusahan mengotak-ngatik isi data dari ponsel tersebut akhirnya perlahan-lahan misteri mulai terkuak setelah ia melihat rekaman Video yang tersimpan dalam ponsel Sandra.


"Rekaman Video? rekaman Video apa ini. Dan tanggal yang tertera, ini tanggal yang sama tepat dimana Amelia dibunuh. Tidak, ini tidak mungkin. Dia ...dia tidak mungkin pelaku yang sebenarnya?"


Rasa ingin tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Dengan kedua mata yang terbuka lebar, kepercayaan Richard mulai luntur setelah perlahan-lahan ia mulai menonton rekaman video itu yang hanya ber-jatah waktu hampir satu jam.


Menonton video tepat dihadapannya. Tangan Richard mulai mengepal setelah ia melihat Amelia yang terlihat berdiri berhadapan dengan Roland yang tak lain adalah seseorang yang selama ini sudah Richard anggap sudah seperti Ayah kandungnya sendiri.


Melihat sendiri Roland menusukkan pisau itu tepat ke-perut Amelia. Dan mendorongnya dari atas gedung. Amarah Richard akhirnya berhasil memuncak. Bahkan meja atau pun benda-benda yang berada disampingnya menjadi sasaran amukkan nya.


PYAR...


PYAR ...


PYAR ...


Suara benda terjatuh pun akhirnya melayang tepat dilantai dan benda berbentuk persegi empat yang tadinya berada dihadapannya kini dalam hitungan detik, barang itu pun sudah hancur berserakan menjadi beberapa bagian. Bahkan barang yang sudah tertata rapi pun dengan seketika hanya menghitung menit semua benda itu sudah pada berserakan dilantai tanpa ada yang tersisa utuh sedikit pun.


Para anak buah Richard yang tadinya berada diluar ruangan pribadi Richard sembari ngobrol. Seketika obrolan mereka pun teralihkan sesaat mereka mendengar suara kegaduhan besar yang terjadi didalam ruangan pribadi Richard.

__ADS_1


Tanpa menunggu mereka semua pun bergegas masuk dan mendapati semua barang-barang sudah hancur lebur menjadi beberapa bagian, bahkan telapak tangan Richard terlihat terluka dan berdarah setelah ia memukul tembok untuk melampiaskan semua amarahnya.


Melerai Richard agar tidak terlihat bodoh lantaran melukai dirinya sendiri para anak buahnya pun akhirnya berhasil.


"Tuan, sadarlah, Tuan, sadarlah. Apa yang Tuan lakukan sekarang, Tuan sadarlah. Kemarahan yang Tuan rasakan saat ini tidak akan membuat masalah menjadi hilang Tuan sadarlah," bentak Reza dengan menahan tubuh Richard akan tidak memukuli tembok tersebut.


"Laki-laki brengsek itu berani sekali ia mengkhianati-ku..beraninya dia mengkhianati-ku dan membunuh Adikku, Reza lepaskan aku ... lepaskan aku ... yang kamu katakan memang benar Reza dengan aku berdiam diri, aku tidak menyelesaikan masalah. Jadi yang harus aku lakukan sekarang aku harus membunuhnya, aku harus membunuhnya hari ini juga, lepaskan aku ... lepaskan aku."


"Tuan, jangan tuan tindakan yang tuan lakukan ini tambah akan membuat masalah tambah semakin besar masih ada cara untuk menghentikannya jadi sabarlah tuan, sabarlah...."


"Sabar kamu bilang, kamu tidak tahu seperti apa rasanya dikhianati oleh seseorang yang paling kita percayai. Kamu tidak pernah merasakan gimana rasanya dikhianati oleh seseorang yang sudah kita anggap sudah seperti ayah kandung kita sendiri.


Berpuluh-puluh tahun dia hidup bersama bahkan pada saat usiamu yang masih menginjak usia 8 tahun setelah kedua orang tuaku meninggal dan dia seseorang yang berhasil menjadi Ayah pengganti-ku.


"Mama...Papa...jangan tinggalin Richard, Mama...jangan tinggalin Richard.


Suara tangisan seorang anak kecil yang usianya masih menginjak 8 tahun yang harus mengikhlaskan kepergian Mama dan Papanya setelah adanya perampokan yang baru saja dialaminya malam kemaren.


Dengan tangisan tersedu-sedu dan kelopak mata yang mulai terlihat bengkak anak itu pun terus menangis berpelukan dengan saudara kandungnya ya itu Amelia.


Akan tetapi dengan menangis dipangkuan sang bibik tidak membuat mereka untuk bisa berhenti menangis. Setelah melihat jasad kedua orang tuanya yang mulai dimasukkan ke liang lahat tangisan pun pecah hingga orang-orang yang melihatnya merasa sangat kasihan hingga akhirnya seorang laki-laki bersama anak kecil perempuan pun datang menghampirinya. Dan laki-laki itu pun memberikan pelukan hangat untuk mereka.

__ADS_1


"Sayang cukup jangan menangis seperti ini, mereka akan tambah bersedih ketika melihatmu menangis seperti ini, berhentilah, berhentilah."


"Bik apa saya boleh membawa mereka pergi dari pemakaman ini?" tanya Wanita itu pada Bibik.


"Ba..baik silahkan!" balas Bibik yang akhirnya laki-laki itu pun menggendong keduanya dan membawanya pergi dari pemakaman ini, bibik yang melihatnya ia lantas mengikutinya.


"Sayang jangan nangis ya, kamu itu anak laki-laki kamu harus kuat dan tabah. Dan mereka sudah bahagia di Surga jadi kamu tidak boleh menangisi kepergian Mama dan Papa kamu seperti ini, kamu yang kuat ya," ucap Roland dengan membelai rambut keduanya.


"Tante..tante siapa kenapa tante baik sekali kepadaku?" tanya Richard kecil dengan sedikit suara tangisannya.


"Saya adalah Om Roland. Saya adalah teman dari kedua orang tua kamu semasa kuliah dulu, hubungan kita sangatlah dekat bahkan aku sudah menganggapnya sudah seperti kakak tante sendiri, jadi kamu jangan menangis ya ada Om yang siap jadi ayah pengganti buat kalian jadi jangan menangis lagi ya," balas Roland yang memberikan pelukan lagi untuknya. Richard yang menerima pelukan itu, ia pun mendekap tubuh laki-laki itu dengan berbarengan tangisan yang lagi-lagi keluar menyertai anak kecil bernama Richard dan Amelia itu.


FLASE BACK ON.


"Aku sudah menganggapnya sudah seperti Ayah kandungku sendiri. Bahkan biar pun aku bukanlah anak kandungnya ia tidak pernah memarahiku mau pun membentak-ku, ia menyayangiku sudah seperti menyayangi Putra kandungnya sendiri.


Kasih sayang yang ia tunjukkan kepadaku sudah berhasil membuat Trauma masa laluku yang aku alami sudah berhasil menghilang dari bayang-bayang mimpi yang selalu menghantuiku setiap malam, kamu tidak pernah merasakan gimana rasanya, kalian tidak pernah merasakannya," ucap Richard yang akhirnya tubuhnya mulai merosot kebawah dengan air matanya yang keluar.


Bagi seseorang melihat hal seperti ini memang sangatlah langka. Apalagi melihat seorang psikopat yang sudah dicap sangat kejam yang ternyata ia juga mampu meneteskan air matanya dan terlihat rapuh dan tidak berdaya seperti ini.


dengan berlutut dibawah lantai dan berdiri dihadapan mereka semua, membuat anak buahnya yang melihatnya bukannya malah meninggalkannya, mereka malah memberi dukungan kepada Richard dan membangkitkan kembali tubuh Tuannya yang telah berlutut dihadapannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2