
Richard yang sudah tidak tahan lagi ia lantas menarik dan menjambak rambut Cassandra. Dan dengan kasarnya ia menyeretnya tanpa memperdulikan rintihan sakit yang dirasakan Cassandra saat ini.
Cassandra yang tidak tahan lagi ia berusaha untuk berdiri tapi apa daya tenaga yang dimiliki Richard terlalu kuat yang membuatnya sulit untuk berdiri dengan sendirinya.
"Ingat biar pun kamu adalah Istriku jangan berharap kalau aku akan bersimpati atau pun merasa kasihan padamu karena itu tidak akan pernah terjadi apa kamu mengerti?
"Lepaskan aku Richard lepaskanaku...sakit...lepaskan aku...
"Richard paling tidak suka dengan orang yang dengan beraninya menantang ku. Dan kamu?" aku sudah memberimu waktu tapi apa yang kamu lakukan? kamu dengan berani telah menentang ku jadi rasakan semua ini karena semua ini pantas untuk kamu dapatkan.
Mendorong tubuh Cassandra didalam ruangan yang sangat sepi dan hanya bertikar selimut kecil, Richard menguncinya dari dalam sana tanpa memberikan ampunan lagi.
Berusaha mendobrak pintu sekeras mungkin tapi apa yang ia lakukan nyatanya tak membuahkan hasil. Tak perduli mendengar teriakan yang dilontarkan istrinya sendiri Richard hanya bersikap biasa tanpa mau memperdulikannya.
"Buka pintunya buka...buka," teriak Cassandra tapi tak dihiraukannya.
"Ingat jangan ada yang berani untuk membukakan pintu ini apa kalian paham?
"Iya Tuan kita paham.
"Awas saja kalau aku sampai tahu kalian berani membukanya dan membiarkannya untuk kabur lagi maka taruhannya adalah kalian sendiri paham!.
"Paham Tuan.
__ADS_1
Dalam sebuah tempat terdapatlah beberapa orang yang sedang merapikan beberapa senjata mereka. Dan semua pandangan mereka hanya terlihat menatap kearah senjata yang sudah pada berjejer rapi dan ada juga beberapa orang yang terlihat murung yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Dan semua pandangan yang tadinya sibuk menatap dan fokus ke urusan pribadi masing-masing kini dalam hitungan detik mereka pun terkejut setelah melihat siapa seseorang yang baru aja menginjakkan kakinya memasuki markas ini.
Berjalan dengan perlahan, langkah kaki dengan memakai sepatu sekaligus pakaian serba hitam membuat tatapan mereka terdiam. Dan berlalu mereka pun menghampiri seseorang itu sembari menundukkan kepalanya kebawah. Dan seseorang itu yang tak lain adalah Richard.
"Aku mau kalian jaga baik-baik wanita itu. Dan ingat jangan sampai kalian ceroboh lagi apa kalian paham!"
"Iya Tuan kita paham," balasnya dengan hanya menundukkan kepalanya.
"Nyonya sekarang sudah saatnya anda untuk makan jadi makanlah ini perintah dari Tuan Richard.
"Untuk apa anda menyuruhku makan, jika kalian sendirilah yang menyiksaku disini. Kalian benar-benar jahat dan tidak punya hati jadi jangan berusaha membujukku untuk makan karena aku tidak akan pernah mau.
Dimasa lalu lebih tepatnya belasan tahun yang lalu.
## 25 Tahun sebelumnya. ##
Dalam ruangan yang terdapat dua seseorang wanita dan dua anak kecil yang berusia 5 sampai 8 tahun yang sedang bersantai bermain diruang tamunya. Dengan didampingi dua wanita yang nampak bahagia itu, dua anak kecil nampak sangat bahagia. Dan terlihat jelas dari raut wajah mungilnya.
Beberapa saat kemudian datanglah seorang laki-laki yang dengan tiba-tiba langsung memeluk kedua anak kecil itu dengan pelukan kasih sayangnya.
Wajah bahagia terpancar dari kedua anak kecil tersebut.
__ADS_1
"Papa...," teriak Richard kecil dengan berlari memeluk papanya dengan sangat erat.
"Papa...," teriak Amel membalas pelukan papanya.
"Putra-putri Papa ternyata sangat pintar ya. Papa juga sangat kangen dengan kalian sini peluk dan cium Papa,"
Beberapa kecupan telah didapat olehnya. Melihat kedua buah hatinya terlihat sangatlah bahagia, laki-laki itu nampak ikut merasa senang dan cukup lega.
"Bik bawa Richard dan Amelia masuk kedalam kamarnya nya Bik," pintanya pada sang asisten rumah tangganya.
"Baik Tuan saya akan mengantarkannya mari Den Richard non Amel," ajak sang Bibik.
"Baik Bik.
"Papa ini keterlaluan kenapa Papa tidak memberitahu Mama kalau hari ini pulang kan Mama bisa bersiap-siap," ucapnya dengan wajah cemberutnya.
"Mama ini lagian apa yang mau Mama siapkan untuk Papa, biasanya Mama juga tidak pernah memperhatikan Papa," balasnya dengan menahan tawa.
"Papa," teriaknya dengan mencubit perutnya.
"Ya sudah sekarang sudah malam jadi cepat papa istirahatlah.
"Baiklah.
__ADS_1