Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Dia Harus Tahu Siapa Aku!


__ADS_3

Lantaran merasa tidak nyaman dengan keadaan sekitar, Alif beranjak berdiri untuk meninggalkan sekumpulan orang-orang alim di sekitarnya.


Alif tidak ambil pusing dengan orang-orang yang tengah melihatnya karena menjadi peserta paling awal meninggalkan majelis. Mungkin beberapa orang jemaah juga menganggapnya pemuda berandal yang tidak suka mendengarkan nasihat dan kebaikan agama.


Demikian kenyataan ini membuatnya menjadi terasing. Asing terhadap diri sendiri dan perasaannya yang belakangan ini sudah benar-benar berubah. Terlebih semenjak dia melakukan hal keji kepada seorang gadis di malam pertamanya—yang lantas membuat hari-harinya menjadi tidak tenang.


“Kalau mereka tahu pasti akan membunuhku.”


Sudah Alif niatkan, suatu saat dia pasti akan menyerahkan diri. Tapi kalau dia sudah memastikan bahwa Dara sudah menjadi janda dan hanya mencintainya.


Alif pikir berada di dalam sel tahanan lima atau sepuluh tahun tidaklah membuatnya terlalu tua. Masa bodoh dengan penilaian orang-orang terhadapnya nanti, apa peduli mereka?!


Semua ini terjadi karena kekhilafannya, terhasut oleh mulut seseorang. Dia Jack, salah satu teman dekatnya yang bisa dikatakan berkelakuan agak sesat.


“Seharusnya cari istri dulu, baru bangun rumah,” kata Jack suatu hari di rumah Alif. Pria yang berusia sebaya dengan Alif itu melihat ke sekeliling bangunan rumah sia-sia karena tidak ada yang menempatinya.


“Lantas kalau sudah dapat mau ditempatkan di mana?” Alif menanggapi.


“Oh iya, ya?” Jack kemudian memikir-mikir. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Alif barusan.


Kemudian dia kembali ke permasalahan inti yang sedang mereka bahas semenjak tadi. Tidak secara sengaja membicarakannya, hanya kebetulan saja. “Yakin, tidak pingsan setelah melihat orang yang kita cintai bersanding sama laki-laki lain?”


“Aku di undang,” jawab Alif menatap kosong.


“Kamu bisa beralasan.”


“Aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali.”


“Ya ampun, seorang Alif sampai segitunya cinta sama perempuan. Masih banyak gadis-gadis cantik di luar sana, Al!” ujarnya agak menyentak di akhir kalimat. Jack gemas karena Alif menjadi tak seru lagi sebab karena seorang perempuan yang tidak tahu diri dan tidak peka atas perasaan temannya itu. Karena ayahnya pula dia menjadi sosok yang sedemikian menyedihkan.


Jack kembali menyambung. “Aku bahkan iri denganmu karena banyak yang mengejar tanpa harus bersusah payah. Coba kalau aku? Sekadar melihat saja, perempuan tak sudi.”


“Tapi Hilman bilang aku tidak layak bersanding dengan putrinya,” kata Alif kemudian. Wajahnya pucat. Sangat pucat dan memprihatinkan. Semenjak terhina oleh lelaki tua itu, dia hampir tidak pernah bisa tersenyum lagi. Alif benar-benar lupa kapan terakhir kali dia tersenyum, karena perkataan itu begitu menyakitkan hatinya dan membuat dirinya kehilangan kepercayaan diri. 

__ADS_1


“Lupakan apa kata tua bangka itu, Al!” kata Jack tak ingin alif terus-menerus terpuruk. Tetapi sepertinya percuma saja—sebab bagaimana pun dia memberikan saran, tetap tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalahnya karena ini menyangkut masalah cinta.


“Aku cukup terguncang,” kata Alif setelah beberapa saat kemudian.


“Coba untuk memulai hubungan baru dengan gadis lain. Barangkali itu bisa menambal rasa sakitmu.”


“Sudah berulang kali, tapi justru aku merasa bersalah sendiri karena hanya menganggap mereka sebagai pelampiasan.”


“Aku sedih melihatmu, Al. Semoga cepat move on, seram sekali melihat wajahmu begitu. Kamu itu sebenarnya lebih keren kalau bisa merawat diri dan mencoba hidup lebih happy.”


“Aku ingin seperti ini agar tidak ada gadis yang menyukaiku selain ...” Alif menggantungkan kalimatnya membiarkan Jack mencari sendiri wanita mana yang dia maksud.


“Tapi nyatanya?” Jack merentangkan kedua tangannya.


Alif mengangguk membenarkan perkataan sahabatnya, “Apa menurutmu aku ini terlihat sangat buruk?” jeda sesaat, dia menambahkan, “dari segi apa pun.”


“Orang lain mungkin bisa beranggapan begitu. Tapi bagiku, kau tampak biasa saja.”


Namun di sela-sela percakapan, tiba-tiba pikiran Alif tertuju pada sosok Chandra dan Dara yang sebentar lagi akan berbahagia. “Arggrgrgrgrh! Aku benar-benar tidak rela Chandra memiliki gadisku. Aku tidak bisa membayangkan tubuh brengseknya menjamahnya lebih dulu, sialan!” umpatnya menggebu-gebu.


Alif menggeleng. Tidak setuju dengan ucapan Jack barusan. Dia sadar betul pintu memang sudah tertutup dari awal dia berjuang. Dan yang Alif sesalkan—kenapa hanya menemukan jalan buntu.


“Apa yang kamu lakukan kalau ada diposisiku?” tanya Alif sembari menunjuk dada temannya. “Tolong pakai perasaan. Bayangkan jika Nada kekasihmu, menikah dengan lelaki lain.”


“Kalau menyangkut soal Nada, tentu aku akan merebutnya. Sudah pasti aku akan menidurinya dulu agar dia tak punya pilihan lagi.”


“Itu gila!” ujar Alif segera dengan nada menyentak.


“Aku hanya menjawab pertanyaanmu. Apa salahnya? Semua orang bebas berpendapat.”


“Tapi kau bilang barusan, tidak semua bisa kita miliki.”


“Ini menyangkut soal Nada, Al. Nada segalanya bagiku.”

__ADS_1


Alif sontak mengumpat. “Berarti kita sama, bodoh!”


Jack kemudian meringis. Ternyata berkoar-koar memang selalu lebih mudah daripada menjalaninya.


Tepat pada malam resepsi, untuk pertama kali itu juga dia menenggak minuman haram yang hampir membuatnya hilang kewarasan. Guna agar tidak terlalu larut dalam kehancurannya malam itu. 


Sebenarnya Alif tidak bersungguh-sungguh ingin menjalankan misi gila ini meskipun dia begitu dendam kepada si tua bangka.


Namun dia kembali dibuat jengkel karena pada saat dia selesai menemui Dara, dia langsung di usir oleh security lantaran dicurigai akan membuat kekacauan. Entah siapa yang telah menyuruh mereka. Tapi Alif yakin sekali ini ada kaitannya dengan pertemuannya dan Hilman sebelumnya.


Alif tidak dapat menahan lagi rasa malunya karena dia di usir di depan banyak orang. Perihal ini Yudha dan Vita tidak tahu karena mereka sibuk mengurus anak-anak mereka di lain tempat.


Emosi Alif tak terkendali, kemungkinan karena pengaruh alkohol. Menjelang larut malam Alif kembali dan mengajak kerja sama dengan orang-orang dalam. Awalnya mereka bersikeras menolak, tetapi mata uang selalu berkuasa di atas segala-galanya—hingga akhirnya tragedi itu benar-benar terjadi. Yang kemudian membelokkan jalan hidupnya ke arah lain.


***


Sudah semalaman Dara terbaring. Namun kini tubuhnya sudah lebih bertenaga daripada kemarin pagi. Semalam, dia juga sudah bisa menelan makanan sedikit demi sedikit. Kemungkinan jika kondisinya terus membaik, besok dia sudah bisa keluar dari ruang sempit dan membosankan ini.


Benar apa kata orang sehat itu mahal harganya. Tetapi mungkin ada untungnya Dara sakit agar bisa menjauh terlebih dahulu dengan Chandra yang saat ini sedang berperilaku sangat menyebalkan.


“Biar saja dia kelimpungan mencariku. Aku akan menjauhinya seperti yang dia mau,” gumamnya. “Sekarang aku harus jual mahal. Dia harus tahu siapa aku. Seenaknya saja dia memperlakukanku begini. Awas saja kalau dia sakit, pasti akan aku balas!”


Dia memang sengaja memblokir nomor Chandra selama beberapa waktu. Itulah sebabnya Chandra tidak bisa menghubunginya.


“Selamat pagi, Bu Dara,” sapa seorang dokter dan juga perawat yang masuk dengan membawa sekaligus sarapan dan obat-obatannya yang harus di konsumsi pagi ini.


“Pagi juga, Dok, Sus,” jawab Dara.


“Sudah agak baikkan, Bu?” tanya sang dokter sembari memeriksa keadaannya. Mengecek tensi, detak jantung dan juga suhu basal.


“Sudah, Sus.”


“Tensinya bagus, panasnya juga sudah mulai turun.” Dokter perempuan itu mengangkat jempolnya. “Rajin minum obat ya, makan yang banyak biar cepat pulih.”

__ADS_1


Dara mengangguk, “Terima kasih, Dok.”


Tak lama kemudian pintu terdengar diketuk disusul dengan knop yang memutar, menampakkan wajah pria yang dihubunginya kemarin sore.


__ADS_2