
Dara segera mengusap air matanya ketika pembicaraan mereka hampir selesai. Namun bukan berada di ruang rawat itu tadi, melainkan di sebuah Cafe yang terletak di lantai dasar. Dara merasa Razka tidak perlu mendengarkan pembicaraan mereka yang cukup sensitif ini, karena tidak ingin terjadi hal-hal buruk. Dara sangat tahu betul akan sifat adiknya yang gampang sekali tersulut emosi. Maklum, Razka masih darah muda yang belum terlalu bisa mengendalikan diri.
“Jangan dipikirkan, Nduk. Semua sudah terjadi dan Ibu juga sudah meminta maaf atas nama ayah kepada suamimu,” ujar beliau sembari mengulurkan tisu. "Ibu minta maaf sama Dara juga karena sudah ikut menyembunyikannya. Waktu itu ... Ayah melarang Ibu untuk mengatakannya karena takut pernikahanmu dengan Chandra sampai batal."
'Nyatanya memang batal juga kan, Bu? Tega-teganya kalian menyembunyikan semua ini dariku. Kalau saja kalian tahu, bahwa imbas dari kekejian ini membuatku di per kosa. Bahkan aku juga takut sekarang ini Alif masih dendam dan ingin membalas perbuatan Ayah dengan cara menikahiku.’
“Nduk ...,” panggil Ibu sekali lagi membuat Dara akhirnya mau menatapnya. “Jangan memikirkan macam-macam nanti kamu malah jadi stres, tidak baik untuk janinmu yang sedang dalam masa pertumbuhan.” sambil mengusap lembut perut putrinya.
“Maafkan kesalahan Ayahmu, ya. Mungkin pada saat itu Ayahmu sedang khilaf sehingga beliau marah secara berlebihan."
Dara mengangguk.
"Cuci mukamu dulu, gih. Baru nanti kita kembali ke atas.”
Dara beranjak berdiri dan mencari wastafel, lantas kembali ketika wajahnya sudah terlihat lebih segar. Tetapi apa yang Dara temui di mejanya ketika dia kembali? Dara menemukan Chandra di sana sedang berbicara dengan ibunya.
“Ibu sama Dara, tuh dia anaknya,” tunjuk Ibu Ratna kepada putrinya sendiri. Sehingga membuat Dara sedikit memaksakan senyum.
“Sedang apa di sini, Ra?” tanya Chandra tersenyum sangat lebar seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
'Cih, bebal kalilah kamu ini Mas. Dasar muka tembok.'
“Habis periksa kandungan,” Dara menjawab.
“Kamu hamil?” kata Chandra terdengar kaget bercampur kecewa. “Memangnya kamu sudah menikah?”
“Sudah,” jawab Dara acuh.
“Kapan menikahnya?” tanya Chandra lagi. “Bukannya kamu seharusnya masih dalam keadaan masa idah?”
“Kalau kamu ngaji seharusnya paham kenapa aku melewatkan masa idahku,” jawab Dara yang lagi-lagi terdengar singkat dan terkesan malas menjawab pertanyaannya. “Kita kembali ke atas, Bu.”
Meskipun Ibu Ratna agak bertanya-tanya dengan ucapan putrinya barusan, tetapi beliau memutuskan untuk tidak mau mengetahui lebih lanjut. Sebab beliau tidak ingin membebani kepalanya lagi dengan sejumlah persoalan masalah. Dara sudah bercerai dengan Chandra, sudah bahagia karena bisa mendapatkan suami yang lebih baik dan akan mempunyai bayi. Ya, itu saja sudah cukup!
“Sayang, kamu mau pesan apa?” tanya seorang wanita yang tengah memesan makanan di depan etalase. Entah kenapa Dara dan ibunya refleks menoleh, dan di saat itulah mereka mendapati seorang perempuan yang tengah memanggil mantan suaminya. Tetapi anehnya, dia bukan Indira, melainkan perempuan lain lagi.
“Baru lagi, Mas?” tanya Dara tak habis pikir. Kok bisa?
“Eh, yang benar ya, kalau Anda bicara!” sembur perempuan itu. “Dia itu suamiku satu-satunya!”
Dara sontak menunjukkan ekspresi mual di depan mereka. Entah kenapa dia ingin tertawa puas saat mendengarnya. Dia juga merasa sangat bersyukur karena sudah dipisahkan dari pria seperti Chandra yang gemar sekali bergonta-ganti pasangan tanpa takut tertular penyakit mengerikan yang di sebabkan oleh aktivitas ewewita. ‘Untung dia tidak pernah menyentuhku.’
“Sembarangan Loe, pakai melet-melet segala lagi. Kurang ajar sama suamiku dia itu pria terhormat.”
“BAHH!” Dara mencibir. Punya istri kok tidak ada yang benar termasuk aku hehe, batinnya menertawakan.
“Sudah, Li ... sudah!” sergah Chandra, “pesan makanan segera. Bukankah kita sudah mengambil nomor antrean?”
“Hah? siapa namanya, Li? Lidya?” ucap Dara terkekeh. "Wah kasihan sekali yang jadi Kinan ya? Layangannya putus. Huh, dasar Mas Aris sialan!"
"Sudah, Nduk, jangan diteruskan. Lebih baik kita ke atas saja sekarang.”
Dara kembali ke atas. Di dalam lift dia tak berhenti menertawakan lawakan dari perempuan itu.
“Haduh, perempuan mana lagi yang di tipu sama Mas Chandra, Bu. Kasihan tuh orang.”
__ADS_1
“Kenapa Chandra jadi begitu sekarang ya, Nduk? Perasaan dia dulu anak baik-baik. Sepertinya dia salah pergaulan. Dia kan di pabrik banyak sekali temannya, bahkan dari kota mana saja. Kalau tidak bisa menjaga diri ya seperti itu akibatnya.”
“Entahlah, Bu. Dara kasihan sama Mama Dwi sebenarnya,” Dara menanggapi. “Oh, iya. Mama Dwi kabarnya baik kan?”
“Baik, beliau masih sering berkunjung ke rumah sama si Laras.”
“Salam buat beliau ya, Bu.”
“Iya nanti kalau ketemu lagi Ibu sampaikan,” kata Ibu ratna sebelum akhirnya mereka kembali masuk ke kamar ranap. Kebetulan Umi Ros dan juga Abah Haikal sudah tiba lebih dulu di sana dengan membawa beberapa kotak makanan. Semua anggota keluarga melakukan makan siang bersama terkecuali satu orang, yakni Alif yang hanya bisa mencium aromanya saja.
“Nasi Padang ya?” tanyanya sangat menginginkan. Terlebih dari pagi ia hanya diberi makan bubur dan sup saja.
“Iya ... tapi tolong tahan dulu ya, pemirsa!” balas Dara mencibirnya.
“Coba sedikit, Ra,” katanya lagi dengan wajah yang begitu memelas. Sehingga membuat semua orang yang ada di sana tertawa.
“Mana boleh?”
“Bolehlah ....”
“Belum boleh, nanti tunggu kamu sembuh dulu.”
Alif malah justru menyalahkan semua orang. “Seharusnya kalian jangan pada makan di sini tadi.”
“Lalu suruh makan di mana? Di farmasi?” Abah menyahut. “Hanya menahan makanan saja tidak akan membuatmu mati, Lif. Bersabarlah. Nanti boleh makan apa saja sepuasnya setelah kamu sembuh.”
‘Bukan hanya makan, Bah. Aku juga akan menggiling istriku sepuasnya,’ batinnya dendam kesumat.
***
“Ra, apa kamu mengingat sesuatu?” bertanya sambil menatap pintu kamar utama.
“Jangan bahas yang aneh-aneh masih ada orang tua,” jawab Dara penuh peringatan. Sedangkan matanya seraya melirik kedua orang paruh baya yang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Abah menonton berita, sedangkan Umi Ros sedang menyapu lantai. Entah terbuat apa tulang wanita tua itu seolah tak pernah mengenal lelah.
“Berarti kamu ingat, ya?” bisiknya.
“Mana mungkin aku lupa, Lif. Mang kenapa?”
“Ingin mengulang kenangan.”
“Nanti jahitanmu bisa lepas.”
“Jadi kapan kita balik ke Jakarta lagi?” tanya Abah kepada mereka semua.
“Pulang besok pagi saja, Bah. Ini sudah hampir malam, sedangkan kita belum melalukan persiapan apa-apa sekarang. Semua pakaian kita juga masih ada di laundry,” sahut umi Ros.
“Cucu kita sudah menelepon terus.”
“Cucu yang mana?”
“Yang paling cantik.”
“Oh, Mauza ....”
Saat mereka membahas seorang cucu, mata Alif refleks menatap perut datar istrinya yang sudah beberapa hari ini belum ia sentuh. Dan dia pun segera berbisik, “Aku merindukan kalian.”
__ADS_1
Tak berapa lama, keduanya masuk ke dalam kamar. Di sana Alif langsung memeluk Dara dan menghujaninya dengan kecupan. Dara yakin bahwa pria itu akan melahapnya saat itu juga seandainya dia dalam keadaan sehat.
“Jangan berlebihan, Lif. Nanti kamu kebablasan,” kata Dara mengingatkan.
‘Aku hanya tak tahu bagaimana cara mengekspresikan rasa rinduku, Ra,’ batinnya seraya terus mencium dan memeluknya erat. Pria itu mencukupkan diri ketika mulai merasa tak nyaman pada perut bagian bawahnya.
“Lif ...,” ucap Dara ketika keduanya sudah berbaring. “Hari ini aku tahu sesuatu.”
“Tahu apa?” Alif menoleh.
“Kamu menyembunyikan semua ini dariku selama ini ya, Lif? Kenapa?”
“Apa maksudmu, Ra?” tanya Alif dengan dahi mengkerut. Dia sama sekali tak mengerti ke mana arah pembicaraan ini yang sepertinya sangat penting. “Hubungan kita baru saja membaik. Alangkah baiknya jangan bahas apa pun yang bisa memicu keributan. Kamu harus ingat apa kata dokter. Tidak boleh stres.”
“Biarkan aku menyelesaikannya sekarang juga supaya tidak ada lagi ganjalan di antara kita.”
Alif tersenyum sumbang, “Kamu mau menuntutku?”
“Lif ... siapa juga yang akan menuntutmu. Yang ada, aku malah rugi kalau kamu di penjara. Apa kabarnya nanti kalau kasus kita sampai tersiar ke semua media: istri tuntut suami yang mem perkosanya atau wanita menikahi pria yang—ya, begitulah kiranya. Tahu kan maksudku?" ujarnya menjeda sesaat. "Apalagi aku lagi hamil sekarang. Aku butuh kamu untuk bertanggung jawab atas perbuatanmu ini. Minimal nyuci pupuk."
Satu alis Alif terangkat tinggi. Mungkin lidah istrinya sedang kepleset.
Hening.
Agak lama keduanya terdiam sebelum akhirnya, Dara kembali menanyakan sesuatu, “Apa kamu menikahiku karena dendam?”
Sontak Alif menyentil keningnya. Tak!
“Aduh!” keluhnya dengan mata melebar. “Kenapa kamu menyentilku? Sakit.”
“Sekali lagi kamu bilang begitu, aku kasih kamu pelajaran.”
Dara tak menjawab, dia justru mengucapkan hal lain, “Tolong maafin Ayah ya, Lif ....”
Alif menatap wajahnya lamat-lamat. Dia menduga Dara telah mengetahui semuanya yang selama ini disembunyikan. “Siapa yang memberitahumu?”
“Jack. Tapi aku mendengar yang lebih jelas dari Ibu tadi siang.”
“Sini, sini!” Alif meminta Dara untuk merapat kepada dirinya. “Mulai sekarang ... lupakan semua pikiran burukmu itu. Aku menikahimu karena aku lope-lope sama kamu, bukan karena dendam. Are you mudeng?”
Dara langsung tergelak, “Hahahhh ... bahasa daerah mana itu?”
“Bahasa buaya.”
“Ya, buaya yang buduk and gatal,” ucap Dara semakin menyerukkan kepalanya di dada pria ini. “Apa kamu sayang aku?” tanyanya kemudian. Meskipun sudah tahu jawabannya, tetapi dia selalu ingin mendengarnya sesering mungkin. Wanita memang selalu butuh pengakuan.
“Oh, sayang banget,” jawab Alif segera.
Semakin lebar senyum Dara. Keduanya larut dalam ciuman panas dan sentuhan-sentuhan lain untuk saling menyalurkan rindu yang kemarin sempat tertahan.
***
Bersambung.
Laik dlu dong eheeeeeeee....
__ADS_1