Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Ternyata Kamu Pelakunya


__ADS_3

“Dara ...,” ucap Vita lembut menggenggam sahabat sekaligus adik iparnya. “Aku tidak melarangmu untuk mencurigainya. Tapi kalau kamu memang benar begitu, kamu bisa tanyakan dengannya secara baik-baik.”


Kedua wanita itu saling menatap lekat-lekat. “Aku percaya Alif itu orang baik. Andai pun dia memang benar-benar pelakunya, kamu harus mendengarkan dulu penjelasannya sampai selesai.”


"Bagaimana aku bisa memperlakukannya dengan baik setelah dia merenggut kehormatanku dan menghancurkan hidupku tanpa ampun, Ta? Aku begitu sengsara oleh karenanya. Dia mencurinya dariku di saat aku sudah berstatus istri, celakanya lagi di malam pertama. Wajar kalau aku marah ...."


Air mata yang sedari tadi tertahan kini telah memecah. Di pelukan saudara perempuannya, Dara terisak-isak. “Dunia ini benar-benar tidak adil, Ta ....”


“Ini belum pasti benar, Dar. Pastikan dulu semuanya, ya?”


Namun Dara tak mau mendengar, dia sudah begitu yakin dengan dugaannya, “Sebegitu tidak pekanya aku, sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa aku telah masuk ke kandang pemangsaku sendiri? Bahkan dengan bodohnya aku malah meminta tolong sama dia untuk menyelidiki. Sekarang, pantas kalau Alif tidak menemukan apa-apa, karena nyatanya dia sendirilah pelakunya.”


Sementara Vita sendiri hanya berupaya menenangkan. Dia berusaha menahan diri untuk tak mengatakan apa pun apa yang dia dan Yudha rahasiakan selama ini. Lagi pula, Yudha memintanya untuk menutup mulut. Bukan untuk menutupi kesalahannya—bukan. Namun aib ini memang tidak bisa mereka ungkapkan di mana pun karena takut bakal mengecewakan banyak pihak. Terutama menyakiti hati Abah dan Umi, membuat mereka malu, kecil hati dan merasa gagal menjadi orang tua.


“Aku mencoba berada di posisimu, Ta. Menangislah sepuasmu mumpung hanya ada aku di sini.”


“Aku harus bagaimana, Ta? Kenapa Alif tega melakukan ini? Apa salahku sama dia?” tanya Dara di sela isak.


“Aku benar-benar tidak tahu, Dar. Tapi pasti dia punya alasan besar. Kamu boleh tanyakan ini sama dia nanti setelah Alif pulang. Tapi ...,” Vita menjedanya sesaat. “... tolong, jangan sampai Umi dan Abah tahu masalah ini dulu, aku takut mereka kenapa-kenapa. Apalagi Umi yang keadaannya baru saja sehat. Mereka sedang dalam keadaan senang karena anak keduanya akhirnya dan baru saja menikah. Aku takut mereka kecewa lagi.”


“Kamu gampang ngomong seperti itu, Ta. Coba kalau kamu jadi aku, kamu juga pasti akan teriak sekencang-kencangnya.”


“Dara ... Dara, please. Aku bukannya egois. Aku juga pernah ada di dalam posisi kamu. Menanggung kehancuran sendirian, bahkan rasanya benar-benar lebih sakit dan kamu tahu itu. Tapi aku berusaha menahan diri untuk tidak membebani umi Ros dan juga Abah. Mereka tidak tahu apa-apa. Kesalahan ini murni dibuat oleh anak-anaknya.”


Dara semakin terisak. Dia meletakkan kepalanya di meja dan membiarkan rambut panjangnya menutupi semua wajahnya.


“Keluarkan semuanya, Dar. Supaya kamu merasa lega,” kata Vita masih menggenggam tangan Dara kuat-kuat.


“Mama, Onti nangis?” tanya Umar mendekati mereka berdua.


“Ssstt, no sayang. Onti Cuma lagi kecapean,” jawab Vita mengelus rambut lebat kepala putranya. “Kaka Umar main lagi sama Adek ya, Nak.”


“Tapi Ontinya nangis,” ucap Mauza lagi dan malah justru ikut-ikutan menangis. "Hwaaa ...."


Begitu juga dengan Umar yang lama kelamaan menyusul sehingga ruangan menjadi sangat ramai. Vita lupa bahwa anak-anaknya tidak bisa melihat orang lain sedih, maka demikianlah akibatnya.


“Aduh, gempa,” gumam Vita sembari memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Di ruangan ini hanya dia saja yang waras, sementara tiga nyawa lainnya sedang banjir air mata.


***


Pukul empat sore Yudha sudah sampai di rumah. Dan mungkin hari ini adalah kepulangan Yudha yang paling cepat karena biasanya dia pulang ketika hari hampir petang. Tentu saja ada sebabnya, yakni karena permintaan istrinya. Katanya, ada hal penting yang harus dibicarakan.


Baru saja sampai dia di teras rumah, ketiga anak-anak sudah berlarian menyambutnya. “Papa!”


“Aduh!” ucap Yudha karena ketiga bocah-bocah kecil itu menabrak tubuhnya. “Papa mau cuci tangan dulu, Nak ....”


“Aku mau dendong!” seru Mauza seraya mengulurkan kedua tangan mungilnya, meminta untuk di rengkuh.

__ADS_1


“Aku juda-aku juda!” teriak satu lagi tak mau kalah, yakni Umar.


“Aku juga, Papa,” pun dengan kakaknya, Rayyan. Jika Yudha menggendong kedua adik-adiknya, berarti Rayyan juga harus mendapatkan perlakuan yang sama agar tak merasa cemburu atau merasa dibedakan.


“Ya sudah-ya sudah, Papa gendong semuanya. Mauza sama Umar, Papa gendong di depan, terus Kaka Ray gendong belakang,” tunjuk Yudha ke bagian tubuhnya. Dan tak berapa lama, ketiga anak-anak itu sudah menempel di tubuh Papanya seperti anak-anak koala.


Sesampainya di dalam, Vita langsung menyambutnya dengan gelengan kepala karena mendapati suaminya sedemikian kepayahan. “Apa kamu baik-baik saja, Mas?”


“Pinggang berpotensi encok,” jawabnya sangat jujur.


“Nanti kalau lahir satu lagi mau di taruh di mana?”


“Aku taruh di kepala,” jawabnya sudah tak tahan dengan berat bocah-bocah gembul ini. “Sudah, ya? Kan sudah sampai di dalam. Kita turun ....”


“Ayo turun, Nak. Kasihan Papa, masih capek baru pulang kerja. Papa mau mandi dulu,” ucap Vita membujuk anak-anaknya dan membuat mereka seretak mengangguk. Mereka turun sama-sama setelah Yudha sedikit menurunkan tubuhnya ke bawah.


“Nanti kita main lagi, ya, Pa?” kata Mauza.


“Iya, Nak. Nanti malam main lagi kalau Papa sudah mandi,” Yudha menjawab. Tak berapa lama setelah itu mereka kembali mengacak-acak mainan yang memang disediakan oleh baby sitternya agar tak berlarian ke mana-mana.


“Ada apa?” tanya Yudha bermaksud menanyakan sesuatu yang Vita sampaikan tadi siang. Karena dia baru mendengar tentang masalah Alif saja. “Kedengarannya sangat penting.”


“Memang ini penting, Mas. Sangat-sangat penting,” jawab Vita sangat bersungguh-sungguh. “Sebaiknya Mas Yudha cepat sembuh, nanti kita bicara di kamar.”


“Its ok,” jawab Yudha seraya mengecup pipi istrinya kanan-kiri. Tanpa menyadari ada seseorang di sana yang sedang mengawasi, yakni seorang pria tua.


“Ehmm.” dehemannya terdengar sangat keras dan dibuat-buat seperti habis menelan biji alpukat.


“Di atas, jangan di sini!” ucap beliau sengit.


“Abah ngiri, ya?” Yudha menyindir.


“Nganan!” lagi terdengar lebih sengit.


***


“Kenapa sama Dara?” tanya Yudha sambil mengeringkan rambutnya di depan kamar mandi. Menatap istrinya yang tengah duduk di kursi rias seraya mengusap-usap perut buncitnya. “Apa dia ribut sama Alif?” imbuhnya. “Perasaanku mereka baru menikah.”


“Banyak yang belum kamu tahu, Mas. Tapi kali ini aku mau cerita karena ini menyangkut adikmu.”


Yudha mengangguk menanti ucapan Vita selanjutnya.


Terlebih dahulu dia menarik napas sebelum akhirnya memulai ceritanya dari awal. “Dara itu sebenarnya diper kosa di malam pertamanya.”


“Apa?” ucap Yudha terkejut dan agak menyentak. “Kenapa bisa?”


“Ya, karena sebab itulah dia bercerai dengan Chandra,” jawab Vita tak lama berselang. "Meskipun itu bukan alasan utama."

__ADS_1


“Bukannya karena mantan suaminya selingkuh? Apa aku yang salah dengar?”


Lantas Vita menjelaskan secara gamblang bagaimana insiden itu terjadi, bagaimana cara Chandra menyikapinya, bagaimana kesulitan Dara mencari bukti seorang diri, lalu berakhir diselingkuhi. Dan sebelum perceraian itu terjadi, datang sosok Alif yang entah kenapa selalu ada untuk Dara setiap saat. Rasanya, semua yang terjadi bukanlah suatu kebetulan kecuali memang ada yang merancang skenarionya.


“Kamu sudah menangkap garis besarnya, Mas?” tanya Vita setelah beberapa saat Yudha terdiam dan nampak sangat emosi.


“Parfum yang Dara cium sama persis dengan parfum yang menempel di pakaian pengantinnya. Bukan hanya itu, kamu juga pernah menemukan sesuatu di—Mas!” namun tak terselesaikan karena Vita langsung menahan tubuh suaminya yang terlihat akan keluar dengan membawa semburat amarah. “Mau ke mana?”


“Memberinya pelajaran!” kata Yudha sangat emosi hingga urat-urat di rahangnya terlihat sangat kentara.


Selama ini, Alif sering menghinanya bahwa dia adalah lelaki paling brengsek dan dusta di dunia ini. Tetapi nyatanya—dia sendiri malah lebih buruk dari padanya. Bahkan sampai mengakibatkan rumah tangga orang lain hancur berantakan.


Benar-benar perbuatan yang biadab?! Yudha pikir adiknya itu memang bukan manusia, karena manusia itu biasanya punya otak?!


“Tolong, tahan emosimu. Mas sangat boleh menegur Alif, tapi tidak seperti ini caranya, pikirkan Abah sama Umi. Mereka bisa shock kalau sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi.”


“Aku bisa menyelesaikannya!” emosi Yudha terdengar semakin memuncak.


“Yudha, tolong berhenti di sini!?” seru Vita tak kalah meninggi agar Yudha mau mendengarkannya. Dia memasang badan di belakang pintu agar Yudha tak sampai keluar.


“Minggir, jangan coba-coba menghalangiku!”


“Tahan emosimu, Mas. Masalahnya justru akan bertambah besar kalau kamu malah datang untuk membuat mereka semakin panas.”


“Tapi ini masalahnya—”


“Mas PLEASE?!” Vita menggeleng dan menahan tubuh Yudha dengan sekuat tenaganya. “Aku tahu kamu sangat marah sama Alif, tapi bukan sikap seperti ini yang harus kamu tunjukkan.” Vita memeluk Yudha untuk dapat menenangkannya. “Berikan mereka waktu karena mereka sendiri pun belum saling berbicara.... Tarik napas dalam-dalam supaya kamu tenang, ya. Kita bisa bicara nanti sama mereka kalau memang Alif sudah mengakui perbuatannya.”


Beberapa saat kemudian, napas Yudha berangsur-angsur tenang. “Aku benar-benar merasa bersalah kepada keluarganya yang sudah kami pinta putrinya secara baik-baik kemarin. Bagaimana kalau Abah dan Umi mendengar kelakuan Alif? Apalagi ... keluarga Dara?”


“Aku juga sama sekali tak menyangka, Mas, kenapa Alif tega berbuat seperti itu. Padahal dia anak dari keluarga baik-baik,” kata Vita dengan suara yang sudah jauh lebih rendah. “Kita akan bantu pikirkan bagaimana solusinya, Mas. Karena sekarang ini ... Dara sedang dalam keadaan shock. Aku tahu bagaimana rasanya jadi dia ....”


Tak berapa lama Yudha akhirnya mengangguk.


Keduanya kembali berpelukan untuk saling menenangkan.


Sementara di tempat lain ....


Alif baru saja sampai di depan rumah. Dia langsung masuk setelah memarkirkan mobilnya di garasi. Pria itu berlari-lari kecil ke kamar, tak sabar untuk segera menemui istri kesayangannya.


"Ra, aku pulang!" serunya berteriak sangat senang.


Namun apa yang terjadi setelah Alif tiba di sana?


Dia mendapati Dara dalam keadaan yang sedang sangat berantakan.


“Ternyata kamu pelakunya!” kata Dara langsung begitu melihatnya, tanpa ia tahu maksud dari ucapan wanita itu.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2