
Lelaki itu memang sudah berusia enam puluh tahunan, namun secara fisik masih sangat sehat, berbadan tegap dan bersuara keras. Beliau adalah Haikal Al Fatir. Seorang muthawif sekaligus salah satu pengusaha Tour and Travel muslim yang cukup terkenal.
Bukan hanya kalangan biasa, agen wisatanya juga sudah sering memberangkatkan beberapa menteri dan para pejabat ke destinasi muslim yang ada di berbagai belahan dunia. Bahkan sudah pernah mendapatkan penghargaan tingkat nasional.
Kedatangannya ke sini ialah untuk memastikan sendiri bagaimana bentuk dan jalannya usaha yang sedang dijalankan oleh putra keduanya—yang terdengar menghabiskan dana sangat besar. Benar atau tidaknya karangan cerita tersebut? Atau hanya alasan belaka supaya dia bisa lebih bebas berbuat kenakalan di kota ini?
Kini beliau dan istrinya sedang berada di ruangan khusus. Umi Ros duduk di belakangnya, sementara beliau sedang berjalan mondar-mandir di depan Alif dan Dara untuk mengadili perbuatan mereka yang tertangkap basah sedang saling berpelukan di muka umum.
“Sudah lama kalian berhubungan?” pertanyaan Abah terdengar seperti mengultimatum.
Alif menjawab tanpa memberanikan diri untuk mendongakkan kepala, “Belum, Abah. Dara belum bercerai.”
Abah segera menyela, “Sudah tahu Dara masih berstatus istri orang, tapi kamu mendekatinya.”
“Sedang otewe janda, Abah.”
'Bisa-bisanya dia menjawab seperti itu di saat keadaan sedang tegang begini, astaga!' batin Dara tak habis pikir. Ingin sekali dia menoyor kepalanya yang tak tahu diri itu!?
“Atau jangan-jangan, Dara mau bercerai gara-gara kamu?” tudingnya tak segan-segan. “Semakin lama dibiarkan kamu malah semakin tidak terarah. Sudah sampai kepala tiga kamu masih begini-begini saja. Abah sama sekali tidak melarang kamu dekat dengan perempuan—perempuan mana pun, karena berarti kamu sedang berusaha mencari pendamping. Tapi bukan dengan merebut istri orang. Tidak punya etika!”
Dara sontak menyela untuk membela prianya, “Maaf, Abah ... Dara memotong. Dara bercerai bukan karena Alif, tapi karena suami Dara selingkuh. Alasannya, Dara menolak di madu.”
Tak berapa lama Abah mengangguk. Penjelasan ini diterima, namun tidak dengan kontak fisik yang mereka lakukan.
“Terus kenapa tadi kalian harus berpeluk-pelukan? Di depan umum pula. Apakah pantas?” kata Abah lagi. Posisi beliau kini sudah berada di dekat putranya dengan tangan yang digendong ke belakang, layaknya seorang guru yang sedang menghukum murid-muridnya.
"Di tempat umum saja kalian berani seperti itu, apalagi di tempat yang lebih sepi? Entahlah apa yang terjadi. Kalian bukan anak kecil. Tahu kan, apa yang Abah maksud?"
“Alif hanya sedang berusaha menenangkan Dara, Bah. Tidak lebih. Dara baru saja terkena musibah. Ayahnya masuk rumah sakit karena stroke,” Alif mencoba beralasan. "Lain kali tidak aku ulangi," ujarnya lagi serupa orang yang sedang berjanji.
“Benar begitu, Dara?” tanya Abah kepada Dara.
Dara mengangguk. Tanpa disadari matanya menggenang. Ini bukan pura-pura untuk mencari simpati. Dia memang benar-benar nelangsa mengingat kondisi Ayahnya yang sekarang masih berada di ruang ICU.
“Sekarang keadaan ayahmu bagaimana?”
“Masih di ruang ICU, Bah,” jawab Dara masih dengan kepala menunduk.
__ADS_1
“Kami turut prihatin dengan kondisi ayahmu. Kami pastikan, nanti sebelum kami pulang, kami akan menyempatkan waktu untuk menjenguk,” suara Abah terdengar melembut berikut dengan tatapannya. Berbeda ketika beliau berbicara dengan putranya yang justru terlihat dan terdengar sangat menyeramkan.
“Terima kasih, Abah,” ujar Dara kemudian.
“Dan kamu Alif,” Abah menunjuk putranya. “Berhenti main perempuan. Kalau kamu suka sama Dara, nikahi dia segera usai masa idah. Minta sama ayah dan ibunya. Kalau kamu kesulitan, minta kami untuk membantumu. Jangan sok hebat, apa-apa kamu jalankan sendiri tanpa melibatkan kami.” Abah Haikal mengangkat dagu Alif agar dia mendongakkan kepalanya. “Dengar Abah, pasang telingamu ini baik-baik.”
“Iya, dengar, Bah,” jawab Alif terdengar lirih.
“Petantang-petenteng seperti orang yang tidak punya keluarga!” Abah menggerutu. Beliau semakin tersulut amarah, apalagi saat melihat domisili yang tertera pada salah satu kartu identitas Alif yang menyatakan bahwa dia sudah menjadi warga sini.
“Abah tekankan, Abah tidak mengizinkanmu menetap di sini. Kamu sudah punya rumah di sana, jadi kalau kalian menikah, kalian tinggal di sana. Paham?!”
“Paham, iya, paham.”
“Ingat apa kata-kata Abah tadi. Simpan di sini baik-baik.” Abah menunjuk jidat putranya yang tertutup rambut tebal. “Jangan ulangi perbuatan tadi sebelum kalian halal.”
“Umi mau ngapain?” tanya Alif ketika Umi tiba-tiba mendekatinya. Wajah Alif berubah menjadi sangat panik. “Umi?”
“Rasanya tidak fair kalau Umi hanya diam saja. Sepertinya kamu juga perlu hukuman dariku,” kata Umi terdengar sangat geram. Kini satu tangannya maju untuk menarik paksa telinga Alif yang sebenarnya tidak salah apa-apa.
“Umi jangan Umi, ampun. Ampun!” Alif berusaha menghindar, namun kalah cepat dari tangan Uminya.
“Auuw! Sakit Umi, sakit ...,” Alif mengaduh dan berusaha melepas tangan Umi Ros dari kepalanya.
Dara yang sedari tegang sontak tertawa melihat interaksi mereka berdua, begitu juga dengan abah yang malah justru mendukung istrinya menyakiti anak sendiri. Hal ini sudah lama tidak mereka lakukan karena Alif selama ini jauh dari mereka.
“Sakit, ha? Sakit?”
“Ra, bantu aku, Ra,” kata Alif terdengar sangat memohon. “Aku bisa botak Umi Sayang, Umi cantik, Umi masih muda.”
“Aku tidak mempan dengan mulut buayamu,” balas Umi Ros dengan masih menambak dan menjewer telinga anaknya.
Dara begitu geli melihat Alif yang terbisa terlihat cool itu sekarang tak berdaya di bawah hukuman seorang emak-emak.
“Aduhh, Ya Tuhan ... ampuni dosaku. Sakit sakit sakiiiit!”
“Hati-hati kamu sama dia, Nak. Dia itu modus. Otaknya ini licik. Jadi jangan sampai tertipu. Banyak sekali akalnya,” kata Umi kepada Dara seraya menunjukkan otak pendek anaknya tersebut.
__ADS_1
Dara semakin tertawa mendengar penuturan Umi Ros. Dara pikir dia akan ikut dihukum karena kejadian ini—tapi ternyata tidak. Mereka justru menunjukkan kasih sayangnya dan malah meminta Alif untuk menikahinya jika memang lelaki itu bersungguh-sungguh padanya.
Sorean itu, sementara keluarga Al Fatir sedang berkumpul di Bistro (berembug), Dara berniat mencuri start pergi ke rumah Alif untuk mengambil semua barang-barangnya karena tak ingin keluarga Alif menduga-duga jika mereka datang ke sana, lantas menemukan banyak pakaian perempuan.
“Aku pergi dulu ya, Ta,” pamitnya kepada Vita.
Vita mengangguk dan bertanya, “Kamu mau balik ke rumah sakit?”
“Salah satunya itu,” Dara menjawab.
“Umi bilang tadi kami semua akan menyusulmu.”
“Ok fine, thank you.” Namun kemudian Dara terkejut karena Vita menariknya ke tempat yang agak jauh dari sekumpulan orang-orang itu. “Eh, ini ada apa, Ta? Kenapa kamu menarikku?”
Usai menjauh, Vita kemudian tertawa kecil. “Apa aku boleh jujur, Dar?”
Dara mengerutkan kening. “Aku benar-benar tidak tahu apa maksudmu.”
“Maaf, ya. Aku adalah orang yang paling bahagia mendengar kamu mau bercerai. Terus menikah sama Alif, hihihi.”
“Dasar teman lucknut,” kata Dara tak habis pikir. Lihat teman susah malah bahagia.
“Karena berarti kita akan jadi kakak adik, Dar.” Raut wajah Vita terlihat begitu antusias.
“Doakan saja yang terbaik.”
“Apa memang kamu cinta sama Alif?”
“Pertanyaan apa itu, Ta?”
“Ayo jujur, apa jangan-jangan kamu suka sama Alif sudah lama, ya? Kenapa kamu diam saja, kalau iya sudah aku bantu. Ahahah, tapi apa pun itu, of course aku benar-benar senang. Kenapa tidak dari dulu kalian menikah? Inikah yang dinamakan jodoh yang tertunda?”
“Sudah, Ta, sudah! Aku mau pulang dulu sebentar.”
“Aku baru tahu kemarin dari Jack kalau kalian ternyata tinggal bersa—hmmhh!” Dara membungkam mulut cerewet temannya yang tengah menyerocos tanpa henti.
“Awas, jangan bilang siapa-siapa, kalau tidak—aku menolak jadi adik iparmu.”
__ADS_1
***
To be continued.