Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Rencana Liburan Mereka


__ADS_3

Keesokan harinya, usai Alif pergi ke kantor, Dara menuju ke rumah Umi Ros. Ada hal yang ingin ia tanyakan dengan Vita mengenai liburan mereka ke Bandung minggu depan. Apakah benar suami-suami mereka telah merencanakannya? Sebab sedari pagi Alif terus saja ribut honeymoon ke sana dan tak memberikannya kesempatan untuk menolak. Ya, harus!


“Mas Yudha belum bilang apa-apa sama aku, Dar,” kata Vita sembari menyisir rambut Mauza. Menguncir rambut keritingnya menjadi dua bagian, kanan dan kiri persis seperti anak kambing.


“Sebenarnya aku malas karena aku masih mual, Ta. Gampang pusing juga demam. Apalagi di sana tempatnya dingin.”


“Oh, iya, kamu morning sicknes, ya?” tanya Vita sambil sesekali menatap Dara yang duduk berdampingan dengannya di ruang tamu.


“Hu’um,” Dara berdehem untuk mengiyakan. “Kamu mah enak, Mas Yudha yang mabuk. Aku mah klenger sendirian.”


“Hehee ... iya, mungkin itu karma untuk suamiku karena dia dulu poligami,” kekeh Vita, setelah itu menurunkan anaknya dari kursi, “nah, sudah boleh main lagi. Tapi ingat, jangan jauh-jauh dari Encus, ya?”


“Iya, Mam!” seru Mauza menyusul Umar bermain di teras rumah.


“Mauza baru mandi, kalau Umar sudah mandi, Ta?” tanya Dara karena anak itu tak berada di sini.


“Umar mandi sama Kakak Ray, pagi-pagi sebelum anak itu sekolah.”


“Oh ....”


Vita tersenyum sembari menceritakan kelucuan anak laki-lakinya itu, “Umar itu sebetulnya sudah kepingin sekolah seperti kakaknya. Setiap pagi kalau Rayyan sarapan, bawa tas, bawa bekal, dia selalu meniru. Minta ikut mengantar juga ke kelas ....”


“Kenapa tidak kalian sekolahkan?”


“Sama Papanya belum boleh. Masih terlalu kecil. Biar dia puas main dulu.”


Dara memosisikan duduknya lebih nyaman lagi sembari mengganti chanel televisi. Di sini hanya ada mereka berdua, sebab Umi dan Abah setiap hari pasti pergi ke ruko. Mereka berdua mempunyai kesibukan sendiri di sana dan akan libur setiap hari Jumat Sabtu dan Minggu.


“Kakaaaa ...!” teriak Mauza dari luar kemudian masuk ke dalam berlarian mengejar kakaknya yang membawa boneka miliknya, “Mama, mainan Moza di ambil sama Kaka!”


Umar berlari menubruk tubuh mamanya hingga Vita mengaduh, “Kaka ... jangan nakal, ya. Nanti mainan adik dikembalikan. Kakak kan laki-laki, boneka ini mainan anak perempuan, seperti Mauza.”


“Pinjam sebental Ade ...” kata Umar dengan ramah.


“Tapi Ade mau main itu!” ucap Mauza hampir menangis.


“Ih, sebental, Ade! Ade nakal, hwaaaa!”


Tak terelakkan. Keduanya langsung ribut, menangis dan saling pukul. Vita beranjak untuk menenangkan satunya, pun dengan baby sitternya yang juga melakukan hal sama. Keempatnya menuju ke kamar meninggalkan Dara sendirian. Vita baru kembali setelah beberapa lama kemudian.


“Aku terlalu lama ya?” katanya setelah kembali duduk. Namun dengan membawa piring kosong, pisau serta buah apel. Kemudian mengupasnya di sana.


“Hmm lumayan,” Dara menjawab.


“Mereka rewel karena mengantuk. Memang sudah waktunya mereka tidur siang, sih. Jadi aku temani mereka dulu.”


“Kalau tidur harus dua-duanya?”


“Iya, mungkin karena mereka kembar, jadi apa-apa harus bersamaan. Sakit juga samaan!”


“Ya ampun ... mereka lucu ya?” Dara tersenyum. “Alif sebenarnya mau juga anak kembar. Kemarin pas tahu Cuma ada satu dia agak kecewa.”

__ADS_1


“Programlah habis anak ini lahir.”


“Apa punya banyak anak repot, Ta?” tanya Dara penasaran.


“Iya, tapi kan dinikmati. Itu kan pemberian dari Allah, Dar. Kami tidak pernah rencana punya anak empat sebelumnya. Aku memang suka teledor, tapi kalau Allah belum menghendaki, pasti tidak akan jadi, toh?"


Dara mengangguk.


"Tapi kami senang kok, Dar. Kami bersyukur punya mereka semua. Banyak loh, orang-orang di sana yang susah punya anak. Tidak sedikit biaya yang mereka keluarkan supaya bisa seperti aku,” paparnya menjeda sesaat. “Kebetulan aku sendiri punya suami dan mertua yang mendukung, jadi ya ... bukan masalah sih. Coba kalau mertua tetangga, punya menantu kok, beranak lagi-beranak lagi mirip kelakuan kucing betina.”


Keduanya tergelak bersamaan. Apa yang barusan Vita ceritakan memang nyata di kehidupan kita sehari-hari. Memang ada model mertua demikian yang kadang menekan mental sesama perempuan.


Vita menyodorkan apel yang sudah ia kupas kepada adiknya, “Sambil makan, Dar. Biar pun kamu mual, kamu harus tetap paksa mulutmu buat makan. Jangan sampai baby kamu kurang nutrisi.”


“Itu yang aku takutkan,” jawab Dara menerimanya.


“Kapan jadwal kamu periksa lagi?” tanya Vita.


“Minggu depan.”


“Wah, kenapa sama?”


“Serius?” ulang Dara untuk memastikan, “kamu minggu depan juga?”


“Iya, aku mau lihat jenis kela min anakku yang ini.”


“Memangnya sudah bisa?”


“Sudah, kan sudah mau jalan ke enam,” jawab Vita sambil mengelus perutnya.


“Habis macam mana lagi? Terus memikirkan itu membuat kita darah tinggi. Lagi pula ini sudah yang ke tiga kalinya. Jadi mungkin sudah biasa.”


Dara mengangguk-anggukkan kepalanya, benar juga, pikirnya. Terlalu dipikirkan malah membuatnya menjadi semakin stres.


***


Sorenya, Dara menarik kursi untuk menurunkan koper di atas lemari. Dia merasa dirinya pelupa sehingga memutuskan untuk mencicil persiapannya dari sekarang, walau pun waktu berangkat masih lama.


Terlebih—liburan mereka kali ini agak lumayan lama karena dengar-dengar, Yudha akan mengambil cuti selama seminggu. Entah benar atau tidak, Dara akan memastikannya nanti jika Alif pulang.


“Huft ... jadi kangen sama Alif,” gumamnya setelah bermonolog sendiri. Dia berhenti melakukan apa pun dan duduk di pinggiran ranjang dengan menatap foto pernikahan mereka berdua yang sangat mesra.


“Apa kamu sedang sibuk, Lif?”


Dara akui tidak bisa terlalu lama tanpa pria itu. Dia sayang dan selalu rindu setiap saat meskipun tak pernah tercetus dari mulutnya.


“Sudah jam empat. Sebentar lagi pasti dia pulang. Aku harus segera mandi.”


Namun baru saja ia meletakkan ponselnya di ranjang, pria itu justru menghubunginya melalui video call. Mendadak Dara menjadi panik, dia sontak mengambil lipstik dan menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi. Entah kenapa dia jadi seaneh ini, sebelumnya tidak pernah!


“Sore Cutie ....,” sapanya begitu Dara menggeser ikon panggilannya. Dilihatnya pria itu masih berada di ruang kerja.

__ADS_1


“Sore juga Tiger.” Tiger adalah panggilan untuk dia yang sangat garang di tempat tidur. “Kupikir kamu sudah keluar kantor, atau perjalanan pulang. Ternyata masih di situ.”


“Sebentar lagi, aku habis dari luar tadi.”


“Ketemu siapa?”


“Ketemu cewek.”


“Awas loh, jangan jelalatan!” ancamnya penuh peringatan.


“Jelalatan sama tante-tante?” tanya Alif sembari mengubah posisinya menjadi lebih dekat dengan layar. “Masih mendingan kamu yang perawan kinyis-kinyis,” ujarnya dengan senyum nakal. “Aku tadi rapat sama Tante Moly.”


“Siapa Tante Moly?”


“Selebgram yang mau kami endors.”


“Oh ...,” Dara membulatkan bibir. “Kangen anaknya ...,” cicitnya kemudian.


“Bukan kamu?” tanya Alif tak mempercayainya. “Baby Cil jangan dijadikan alasan. Padahal ibunya yang kangen.”


“Ibunya dikit.” dia masih saja mengelak.


“Banyak juga boleh.”


“Masih ada siapa di sana? Mas Yudha sudah pulang?”


“Masih di luar sama Hans ke kantor Imigrasi.”


“Imigrasi?” Dara minta kejelasan. Dia pikir Yudha yang akan pergi ke luar negeri. Setahunya mereka sudah punya staf khusus untuk itu. Tidak seperti dulu yang harus siap terbang kapan saja. Termasuk Abah Haikal.


“Iya ... biasalah, mau mengurus persiapan calon yang mau berangkat. Mungkin ada masalah dengan pasport atau identitasnya.”


Dara mengernyit pada saat melihat Alif meminum sesuatu di sana. “Kamu minum apa jangan minum sembarangan!” katanya penuh peringatan.


“Hanya minum kopi.”


“Jangan minum itu dulu!” sungut Dara disertai gelengan kepala. “Belum boleh ... Alif ....”


“Minum kopi setiap hari itu membuat kita menjadi lebih muda.” Alif terdengar membual.


“Kata siapa?”


“Kataku,” Alif menjawab, “lebih muda dari Abah Haikal maksudnya.”


“Jangan konyol. Cepat pulang. Aku tunggu di rumah.”


“Mau nitip apa? Madu?” candanya dengan seringaian senyum.


“Pahit.”


***

__ADS_1


Bersambung.


likenya dong jangan lupa.


__ADS_2