Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Kenapa Bisa Sampai Seperti Itu?


__ADS_3

“Jack mau izin cuti sebentar ke sini. Menemui keluarganya,” jawab Alif.  


Sudah dari kemarin, Jack terus-menerus menghubunginya lantaran kakeknya sedang tidak sehat dan sangat membutuhkannya saat ini. Tetapi Alif selalu memberi alasan karena dia memang belum mempunyai longgar waktu. Jadwal closing akhir bulan kerap membuat pekerjaannya menumpuk—sebab semua laporan akan melewati tanda tangannya terlebih dahulu yang merupakan tanggung jawabnya sebagai direktur operasional; posisi yang pernah ditinggalkannya di perusahaan menengah ke atas ini. Memang bukan perusahaan besar yang mempunyai gedung tinggi, namun karena usaha inilah semua keluarga bisa hidup dengan cukup dan bisa sedikit berbagi terhadap sesama.


Kembali kepada mereka berdua, “Boleh kan?” Alif mengulang. “Hari ini saja, Ra. Besok aku sudah pergi.”


Dara mengangguk. “Tapi hanya tidur. Bukan yang lain.”


“Iya ...,” kata Alif tahu diri. Masih diberi kesempatan saja, dia sudah sangat bersyukur.


“Ini minumnya!” Dara menyodorkan teh yang ia buatkan barusan. “Makanya kalau buat teh itu cicip dulu gula sama garamnya supaya tidak selalu tertukar. Masa begitu saja kamu tidak tahu, Lif. Payah.”


Alif meringis. Dia juga melihat stoples yang berisi dua benda tersebut telah dipasang masing-masing catatan gula dan garam.


“Ra, kamu sudah janji mau memaafkanku, bukan?” kata Alif bermaksud mengingatkan. “Kesalahanku ini bukan termasuk perselingkuhan.”


“Memangnya aku nenek-nenek yang lupa sama janjiku sendiri?” Dara menjawab.


“Jadi, apa jawabannya?”


“Ya, aku maafin. Tapi belum untuk lain-lain seperti sebelumnya. Aku masih butuh waktu.”


“Jangan terlalu lama.”


Dara hanya menjawab dengan deheman singkat.


Malam itu, mereka tidur dengan begitu mesra. Sebetulnya mungkin bisa saja Alif menyerangnya malam itu karena Dara terlihat pasrah saat dia peluk dan kecupi tengkuknya dari belakang. Tampaknya Dara juga menikmati meski mulutnya terus meracau penolakan. Namun dia takut caranya ini malah dianggap sebagai sebuah kelancangan. Maka dari itu, Alif menahan diri, menunggunya sampai Dara meminta sendiri.


Dan demi kenyamanan, dia pun melakukan tanpa harus melakukan. Tahu maksudnya bukan? Memalukannya memang, tetapi hanya itulah satu-satunya cara supaya tetap berada di posisi aman.


Untuk saat ini, sepertinya Dara memang tidak bisa diperlakukan semaunya sendiri. Dia butuh diperjuangkan secara pelan-pelan. Begitulah kiranya.


Keesokan harinya, Alif memasukkan sendiri pakaian-pakaiannya ke dalam koper. Dia terlalu sungkan untuk menyuruh Dara melakukan ini. Lagi pula Dara sepertinya sedang kondisi yang kurang sehat. Karena dia melihat wanita itu bolak-balik ke kamar mandi. Mungkin diare, pikirnya. Tidak biasa-biasanya juga dia membuat susu pagi-pagi. Benar-benar aneh.


'Gampang banget sakit kamu, Ra. Makanya kalau kangen ngomong!'


“Kalau kamu merasa kurang sehat, tidur di rumah Umi saja selama aku pergi. Takutnya ada apa-apa tidak ada yang tahu,” ujarnya setelah ia memasukkan koper ke dalam mobil.


Dara menggeleng. Dia merasa lebih nyaman tidur di rumah sendiri.


“Ya sudah terserah, yang penting kamu baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa, cepat kabari aku.” Lagi-lagi Dara tak menolak pada saat Alif kecup keningnya. “Aku berangkat dulu, ya. Bilang sama Umi maaf aku tak sempat berpamitan.”


“Iya, buaya ...,” jawab Dara dengan nada agak memanjang.


Alif tersenyum pada saat melihat Dara sudah mau mengejeknya lagi. Dan karena terlalu rindu, dia kembali memeluknya lagi seakan tak rela bila ia tinggalkan pergi.


“Kamu tidak mau ikut?” tanya Alif setelah merenggangkan pelukan. Dan alisnya semakin mengkerut pada saat melihat roman wajah Dara yang semakin masam, lama-kelamaan menyembur air mata dari dalam bola mata itu disusul dengan suara tangisan.

__ADS_1


“Hwaaaa ... kamu sengaja mau meninggalkanku di sini, ya?”


Alif bingung, “Kenapa kamu malah menangis dower?” dia mengusap pipi istrinya yang sudah basah air mata. “Keras sekali lagi nangisnya, nanti tetangga bisa mengira aku KDRT sama kamu, Ra.”


Dara semakin tersedu.


“Atau kamu mau ikut?”


Namun Dara menggeleng sehingga membuat Alif semakin bingung. “Jadi kamu maunya apa?”


Karena semakin keras, Alif terpaksa membungkam mulut Dara dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dia tak ingin suara tangisan ini sampai terdengar oleh orang-orang di sekitar. Memalukan.


“Ayo, bilang. Kamu mau apa?”


Lagi-lagi Dara menjawab tanpa suara. Hanya kepalanya saja yang bergerak; mengangguk atau menggeleng hingga membuat Alif hilang kesabaran. Bila diperhatikan baik-baik, Dara seolah memintanya untuk peka—tetapi dirinya sendiri tidak pernah mau memulai. Benar-benar perempuan yang egois!


“Kamu benar-benar tidak jelas! Ya sudah, aku mau pergi. Baik-baik di rumah.” Alif mengucap salam pada saat dia keluar dari pintu.


Dan pada saat itulah Dara semakin terisak. Tega-teganya pria itu meninggalkan dirinya yang masih dalam keadaan seperti ini?


Dara merasakan pergolakan pada batinnya. Terus terang dia sangat merindukan Alif, namun entah kenapa jika dia membenci pada saat pria itu berada di dekatnya. Bukankah kelakuan itu mirip serupa kelakuan orang yang sakit jiwa?


***


Pukul tiga sore akhirnya Alif sampai di Bristo. Kali ini perjalanan terasa sangat lama sehingga ia sampai di sana cukup telat melebihi waktu perkiraan. Dia wara-wiri berhenti di rest area karena kembali mengeluhkan sakit perut. Tapi tak mengapa, yang penting sekarang dia sudah sampai dengan keadaan selamat.


Setelah memastikan mobil dalam keadaan aman di tempat parkir, Alif langsung menemui Jack yang pada saat itu tengah mengantuk di pojokkan.


“Bangun hei!” ujar Alif mengagetkannya. Membuat Jack agak gelagapan. “Makan gaji buta kau ya?”


“Baru saja tidur, kamu langsung datang,” ungkap Jack seraya mati-matian membelalakkan mata.


“Barunya berapa jam?”


“Dua jam,” jawab Jack sangat jujur. “Mumpung kamu datang, aku langsung pulang malam ini, ya.”


“Pakai apa?”


“Naik kereta saja. Tapi sebelum itu, aku mau balik dulu ke rumah. Mau mengambil beberapa barangku di sana.”


Keduanya pulang bersamaan karena Alif juga ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar di sana.


“Aku butuh uang, Al. Apa kamu mau membantuku?” kata Jack ketika mereka sudah sampai di lokasi.


“Untuk?” jawab Alif seraya melepas sepatunya. Setelah masuk, dia langsung mengistirahatkan tubuhnya di sofa. Demikian dengan yang sedang Jack lakukan.


“Aku memang ada perlu,” jawab Jack singkat.

__ADS_1


“Mau kawin kamu?”


“Kawin sudah, memangnya kamu doang yang bisa.”


“Berapa kamu butuh?”


“Transfer 30 juta untukku. Aku bayar pakai tenaga.” Alif mengangguk tanpa merasa keberatan karena selama ini Jack sudah sangat membantunya.


“Omong-omong, katanya kamu lagi bentrok besar sama istrimu?” tanya Jack kemudian. “Kenapa? Sudah ketahuan?”


“Sudah,” jawab Alif dengan roman wajah yang langsung berubah masam.


“Haha, sial kali hidupmu Jhon!” Jack mengejeknya puas. “Baru sebentar aye-aye, sudah banyak masalah. Tapi sepertinya kamu harus banyak bersyukur karena perbuatanmu ini tidak sampai membuat rumah tangga kalian end.”


“Mungkin hampir,” kata Alif menanggapi.


“Sekarang bagaimana hubunganmu dengannya? Masih berantem?” tanya Jack lagi sangat cerewet. “Tapi sangat wajar sih, kalau dia marah sekali denganmu. Aku juga kesal apalagi dia.”


Alif langsung menyela segera dan menyalahkannya balik. “Bukannya kamu yang mengajariku begitu?”


“Kamu saja yang bodoh. Masa di ajak sesat kamu mau, bodoh! Dahlah aku mau pulang. Cepat transfer.” Jack memasukkan barang-barang pentingnya ke dalam tas, bersiap akan pergi sekarang juga. Namun sebelum Jack benar-benar beranjak pergi, ia malah justru mendapati Alif menge rang seperti menahan sakit.


“Bro!” serunya amat panik. “Kamu kenapa, hei! Jangan buat aku panik!”


Alif tak menjawab, dia meletakkan tangannya di bagian perut yang terasa begitu sakit. Sakit yang tak tertahankan seperti sedang di pelintir.


Tak ingin terjadi sesuatu, Jack langsung memutuskan untuk membawanya ke dalam mobil. Membawanya ke rumah sakit terdekat.


Beberapa puluh menit kemudian.


Jack mondar-mandir berjalan di depan ruang IGD. Mungkin karena bingung, dia sampai lupa tak mengabari siapa pun sedari tadi. Hingga ia putuskan untuk menghubungi Dara sekarang juga!


“Halo, Dar. Suamimu masuk rumah sakit!” kata Jack langsung tanpa basa-basi begitu telepon tersambung, sehingga membuat wanita di seberang sontak menyentak.


“Ke-kenapa, bisa masuk rumah sakit?!” terdengar sangat panik.


“Diagnosa sementara Alif terkena usus buntu. Kalau memang sudah benar-benar parah, kata dokter malam ini juga dia akan di operasi.”


“Kenapa bisa begitu, Jack?” mungkin karena panik, Dara mengulang pertanyaan yang sama sehingga membuat Jack semakin kesal dan tak kalah meninggi.


“Mana saya tahu? Bukannya kamu istrinya?!”


Panggilan langsung di putus dengan sangat tidak menyenangkan. Dia tahu, wanita itu sedang sangat panik setelah mendengar kabar ini.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2