
Dara baru saja keluar dari gedung sekolah setelah sebelumnya masuk ke gedung rumah sakit untuk melamar pekerjaan. Dia tampil feminim classy dengan blazer krem dan pleated skirt berwarna peach. Sengaja berpenampilan berbeda agar lebih terkesan namun tetap menonjolkan kerapian.
Sebagaimana nama jurusannya, prospek kerja lulusan Tata Boga berhubungan dunia kuliner. Ilmu gizi yang di pelajari pun membuka peluang menjadi seorang konsultan gizi atau pun tenaga pendidik, seperti di rumah sakit, sekolah, klinik, panti jompo dan sebagainya.
Sebenarnya bisa saja Dara berwirausaha sendiri karena mungkin lebih mudah. Namun dia belum mempunyai modal yang cukup.
Memang ada salah satu teman kuliahnya yang menawarkan bantuan untuk menggelontorkan dana dengan sistem profit sharing—namun syaratnya dia harus mau menikahinya, dan Dara menolak untuk menerima ide gila tersebut. Karena waktu itu dia sudah bertunangan dengan Chandra. Sebenarnya banyak teman lelaki semasa kuliahnya yang menyukainya, namun Chandra selalu menghalang-halangi.
“Semoga beberapa hari ke depan mendapat serta kabar baik,” gumamnya.
Sepulang ia dari sana, Dara berinisiatif untuk mampir ke tempat Alif. Tidak ada dia selama beberapa hari belakangan ini membuatnya merasa kehilangan. Sepi, hampa, seperti tidak ada teman, demikianlah kiranya.
Selama ini Dara memang seperti tidak menganggap Alif adalah sebagai pasangannya, tetapi lebih kepada seorang teman. Hanya di depan Alif, dia tidak perlu jaim atau jaga image yang merupakan suatu perilaku untuk menyembunyikan sikap yang sebenarnya. Dara cukup menjadi diri sendiri yang biasa periang, banyak bicara, banyak protes dan banyak makan. Tampaknya berpasangan dengan Alif dia merasa lebih baik karena mereka satu prekuensi.
“Kapan Alif ke sini lagi?” tanya Dara kepada Jack yang sedang berjaga di sana.
“Tahu,” Jack mengedikkan bahu.
“Apa kamu tidak bisa mengubah sikapmu sedikit. Kita itu sudah kenal, loh. Tapi selalu saja jutek. Padahal mau aku kenalkan ke gadis cantik.”
“Cantik seperti apa?” mata Jack berubah berbinar dan segera menarik kursi di depannya.
“Giliran aku bilang gadis cantik, saja kamu langsung antusias. Dasar mata kenjarang!”
“Keranjang, doboh!”
“Aku kangen sama Alif ...,” kata Dara seraya menatap ke sekeliling. Melihat para karyawan yang sedang sibuk bekerja melayani para customer.
“Jaman sekarang ada HP, tinggal di hubungi saja apa susahnya.”
“Tolong tanyakan dia, Jack. Aku lupa tidak membawa ponsel.”
“Astaga, benda sepenting itu saja bisa kamu lupakan? Apalagi pasangan?”
“Tergantung pasangannya!” sela Dara agak meninggi. “Kalau pasangannya mata kenjarang untuk apa juga aku ingat-ingat.” Lagi-lagi lidah Dara terpeleset, mungkin saja lidahnya sudah berlumut dan jarang digunakan sehingga menyebabkan daerah itu menjadi licin. Tetapi tampaknya Jack sedang tidak berusaha untuk mempermasalahkannya.
“Kasih tagar #nyindir-nyindirmantanclub,” kata Jack menanggapi. “Habis dari mana kamu, rapi amat. Untung Alif tidak tahu kamu berpenampilan seperti ini, ya. Kalau tahu, kamu sudah dijilatnya karena terlalu manis.”
Dara tergelak. “Ya Tuhan, Jack. Ada-ada saja. Aku habis melamar pekerjaan,” ujarnya menjelaskan. Karena takut Jack mengira dia telah bepergian ke suatu tempat tanpa ada maksud dan tujuan yang jelas—mengingat dia adalah orang kepercayaan Alif.
“Memangnya bisa langsung?” tanya Jack heran. “Di dunia yang serba digital seperti sekarang ini, sebagian besar lamaran pekerjaan dapat dikirimkan melalui surel. Sama halnya, iklan pekerjaan untuk suatu posisi biasanya dipasang di situs web perusahaan dan situs web iklan lowongan pekerjaan.”
“Aku sudah lebih dulu melihat iklan lowongan itu, Jack. Mereka meminta pelamar untuk datang langsung ke sana. Mereka lebih mempertimbangkan pelamar yang jaraknya lebih dekat.”
Jack menganggukkan kepalanya mengerti. “Tidak ada niat untuk merantau lagi ke kota besar?”
“Mengingat kondisi ayahku yang masih sakit, sepertinya aku belum bisa, Jack.”
__ADS_1
“Tapi kalau Alif mengajakmu menetap di sana?” tanya Jack karena begitu penasaran. “Maksudku kalau kalian sudah menikah,” imbuhnya agar lebih jelas.
“Nanti akan aku pikirkan lagi,” jawab Dara tak ambil pusing.
“Orang tua kamu sudah tahu kalian ada hubungan? Termasuk Chandra. Apa dia tidak pernah curiga kamu pernah kabur sebulan dari rumahnya?” tanya Jack lagi. Meskipun terkesan kepo, namun Dara dengan ramah tetap menjawabnya.
“Aku belum pernah bilang. Tapi kalau pun ibuku sudah tahu—sepertinya ibuku juga tidak masalah aku berhubungan dengan siapa pun, asalkan aku bahagia. Mengingat beliau sudah pernah menjodohkan aku dengan orang yang salah, jadi sekarang mereka terserah aku.”
Jack mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka meneruskan obrolan seputar perkembangan bisnisnya, begitu juga dengan nasib percintaan Jack yang sekarang di ujung tanduk. Karena keluarga si perempuan menolak menerima Jack yang notabenenya adalah seorang bujangan yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, serta keluarga yang jelas. Sebab dia adalah anak haram dari hubungan terlarang yang tidak mengetahui jelas siapa ayahnya. Sedangkan ibunya sendiri sudah tiada semenjak melahirkannya. Dia dibesarkan oleh kakek-nenek yang saat ini ia tinggalkan karena tugas negara.
“Apa kamu tidak berusaha mencari ayahmu, Jack?”
“Untuk apa?” kata Jack menanggapi. “Kalau dia tidak merasa punya anak, untuk apa aku merasa punya Ayah?”
“Aku kurang setuju dengan kata-katamu itu, Jack. Bagimana pun kelakuannya, dia tetap ayahmu. Tapi—ya, mau bagaimana lagi. Kamu yang mengalaminya dan kamu sendiri yang tahu. Sedangkan aku hanya mendengar. Aku doakan yang terbaik buat kamu, ya.”
Jack menaikkan alisnya sekilas sekadar menanggapi perkataan Dara yang terakhir.
Tatkala Dara mengangkat kopinya, dia baru menyadari bahwa gelasnya sudah kosong. “Astaga,” ujarnya begitu terkejut karena dia sudah mengeluarkan tenaga dalam. “Aku pikir masih ada, hahaha.” Dara tergelak puas.
Jack tersenyum. Ternyata seasyik itu berbicara dengan Dara. Pantas saja Alif terDara-Dara kepada wanita ini.
Tak lama kemudian, tanpa di duga, Dara tak sengaja mendapati Chandra masuk ke dalam Bistro bersama dengan Indira. Keduanya masuk ke dalam dengan saling berangkulan. Sama seperti yang pernah ia lihat tempo lalu di Hotel. Tampak olehnya perut Indira sudah sedikit membuncit.
‘Di depan mataku Chandra selalu terlihat seperti lelaki yang paling menderita. Tapi di belakangku, dia terlihat bahagia, kok. Sangat mesra malah. Dia memang pintar sekali akting.’
Sedikitnya masih ada rasa terhina dan sakit hati, namun Dara berusaha untuk tidak menunjukkannya. Dia menunduk dan menutup wajahnya agar tidak dikenali. Muak rasanya kalau harus berbasa-basi dengan pasangan itu.
‘Aku sedikit menyesal datang ke sini.’
Namun tiba-tiba Dara merasa tangannya sedang di genggam lembut. Tak hanya itu, dia juga mendengar suara yang sangat Dara kenal. “Aku di sini.”
Perlahan, dia menurunkan buku menu dari wajahnya. Dan dugaannya benar. Suara itu adalah suara Alif yang menggantikan posisi duduk Jack yang tadi berada di sana.
Dara bahagia. Jantugnya juga berdegup lebih kencang layaknya orang yang tengah kasmaran.
Kenapa dia selalu datang tiba-tiba dan di saat dia memang tengah membutuhkannya? Apa Alif memang malaikat yang sengaja dikirimkan untuk menjaganya? Sangat aneh jika memang ini sebuah kebetulan bukan?
“Kapan kamu sampai?” ujar Dara tersenyum dengan suara agak berbisik.
“Baru saja. Tadinya aku ke rumahmu, tapi Jack bilang kamu ada di sini.”
“Ngapain ke rumah?”
“Mau bicara sama Ibu Ratna.”
Dara tersenyum mendengar Alif mau mengutarakan niat baiknya.
__ADS_1
“Apa kita bisa di duduk di sana?” ajak Dara kemudian ke tempat duduk di samping Chandra yang kosong.
“Untuk apa?” tanya Alif tak mengerti. “Aku malas.”
“Please, Lif. Aku ingin menggoreng mantanku. Aku terpaksa sembunyi karena aku sendiri. Tadinya mau pamer sama Jack, tapi sayangnya wajah Jack tidak terlalu mendukung. Takutnya dikira turun salero. Ya sudah."
"Kalau sampai kamu melakukan itu sama Jack, langsung aku potong gajinya!" kata Alif bersungut-sungut.
"Kan tidak jadi."
"Lebih baik kita pergi sekarang," ujarnya memutuskan.
"Lif," Dara menggeleng. "Ya, mau, ya? Please,” kata Dara terlihat begitu memohon. “Kali ini saja ... sekali-kali aku juga mau bikin dia panas. Jangan dia melulu.”
Alif terdiam seperti sedang mempertimbangkan.
“Nanti aku kasih kiss.” Dara mencoba memberikan tawaran menggiurkan agar Alif merasa tertarik. Seingga akhirnya, Alif pun mengangguk. Keduanya beranjak berdiri dan duduk di sebelah pasangan buntelan itu persis.
“Sayang ... nanti kita mau bulan madu ke mana?” tanya Dara kepada Alif dengan suara yang agak di keraskan.
Kentara sekali Chandra sangat terkejut dengan kedatangan Dara yang secara tiba-tiba dan langsung membahas bulan madu. 'Hah, Dara? Dia bilang mau menikah? Sama laki-laki itu?' batinnya.
“Ke Cappadocia,” Alif menjawab.
“Benarkah?” tanya Dara memastikan.
“Iya. Kalau kamu mau ke Burj Khalifa Dubai juga kuturuti.”
“Mas, kita juga mau babymoon ke Maladewa dong,” rengek Indira yang Dara rasa sudah mulai tergoreng. “Di sana katanya pantainya bagus.”
“Kita ke Monas saja nanti,” jawab Chandra.
'Babymoon ke Monas? Mau beli cilok? Atau kerak telur?' Dara membatin sambil menahan tawa.
“Mas Chandra!” sela Indira. “Aku mau babymoon. Kenapa kamu malah mengajakku ke Monas?”
Dara langsung menutup wajahnya dibalik buku menu. Di sana lagi-lagi dia menahan tawanya setengah mati.
Mana mungkin Chandra akan mengajaknya ke Maladewa? Untuk sewa Hotelnya permalam saja tak cukup 30 juta. Belum lagi biaya transport dan lain-lain. Yang ada bisa gadai rumah dan kebun warisan peninggalan nenek moyang.
***
To be continued.
__ADS_1