
“Lif ...,” ucap Dara masih ada di dada bidang Alif. “Sudah ya, aku sesak.”
“Sebentar lagi,” balasnya karena masih sangat rindu. Pria itu memeluk sang istri sembari memejamkan matanya dan menghirup dalam-dalam wangi lembut yang menguar dari rambutnya. Bahkan berkali-kali ia juga mengucapkan kata maaf karena kemarin pergi meninggalkannya dalam keadaan tak baik-baik saja.
“Mungkin inilah akibatnya,” kata Alif kemudian setelah mereka melepaskan pelukan.
Dara menggenggam tangannya, “Jangan pikirkan itu. Yang penting kamu cepat sehat dan kita cepat pulang.”
“Katanya kamu punya kado spesial, mana?” Alif menagih janjinya.
“Mau tahu?”
“Iyalah.”
“Tapi kamu harus janji dulu. Mulai sekarang kamu harus jaga kesehatan, tidak boleh makan sembarangan lagi. Soalnya kamu harus melindungi kita berdua.”
Untuk sesaat Alif melebarkan matanya yang memancarkan rasa haru luar biasa.
Dara menuntun tangan Alif untuk menyentuhnya, “Tahu maksudku kan?” ujarnya, kemudian menambahkan, “ini hasil perbuatanmu. Yang belakangan ini bikin mood aku jadi kacau.”
Tetapi kemudian Alif berecak. “Seharusnya aku orang pertama yang tahu, bukan Umi atau Abah, atau siapalah,” sesalnya.
“Aku kemarin malam mual di mobil, Lif. Masa aku bohong sama mereka? Tidak baik menyembunyikan keberadaannya. Takut terjadi apa-apa.”
“Pantas saja kemarin aku lihat kamu bolak-balik masuk ke kamar mandi,” kata Alif baru menyadarinya, namun belum sampai berpikir ke arah sana. Sebab kehamilan ini tergolong begitu cepat.
Lantas Dara menjelaskan saat pertama kali dia merasa ada yang berbeda dalam dirinya yang selalu mual saat di pagi hari dan pusing di waktu-waktu tak terduga. Dan bertambahlah keyakinannya apalagi pada saat dia melihat kalender bahwa dia telah melewati masa bulanannya. Selang beberapa hari, dia menuju ke apotek terdekat untuk membeli testpack berbeda merk dan semua hasilnya menyatakan dia telah positif.
“Aku akan memeriksakannya nanti, Lif.”
“Sebenarnya aku ingin sekali ikut. Tapi belum bisa.”
“It’s okay.” (Tidak apa-apa)
“Jaga kesehatanmu, Ra. Sorry belum bisa menemanimu saat susah.”
“It doesn’t matter, (tidak masalah kok)” balas Dara tersenyum. Demikian juga dengan Alif yang terus menyentuh dan menatap hasil mahakaryanya. Dan apabila dia tidak sedang dalam keadaan sakit, niscaya dia akan melakukan selebrasi dengan cara yang lainnya.
Tatkala hari sudah mulai siang, Abah dan Umi Ros kembali ke sana untuk membawakan beberapa makanan dan camilan yang bisa Alif makan. Mereka juga sempat berbincang dengan dokter seputar perkembangan Alif ke depan. Dokter mengatakan bahwa penyembuhan luka bekas operasi memakan waktu yang cukup lama. Oleh karenanya, Alif belum boleh beraktivitas normal seperti biasa, tiga minggu semenjak hari operasi. Dokter juga menyarankan agar perban diganti setiap hari, rutin kontrol, dan memilih makanan yang banyak mengandung protein untuk membantu mempercepat proses pemulihan.
“Untuk obat sendiri bagaimana, Dok? Alif sedikit alergi sama antibiotik,” Umi Ros bertanya.
“Nanti kami berikan resep obat khusus untuk pasien yang alergi sama antibiotik ya, Bu.”
“Baik, terima kasih Dok.”
“Sama-sama.” Dokter juga mengatakan bahwa Alif masih harus dirawat intensif di rumah sakit ini selama beberapa hari ke depan.
“Abah, tolong jangan ke mana-mana dulu, ya. Umi mau menemani Dara periksa kandungan,” ujar Umi ketika keduanya sudah bersiap-siap. Kebetulan sebelum kemari, beliau sudah lebih dahulu mengambil nomor antrean.
“Iya ...,” jawab Abah dengan nada panjang.
“Jangan tidur ya, Bah.”
__ADS_1
“Iyaaaa,” jawabnya lebih panjang lagi.
“Awas, loh kalau tidur. Jan baduto juo lai.” (Jangan berbohong juga lagi)
“Iya Umi ... Ba’a indak picayo jo Abah, Mi, Ya Allah.” (Kenapa tidak percaya sama Abah, Mi, Ya Allah.)
“Sunat lai, do kalau nanti lalok.” (Sunat lagi kalau nanti tidur)
“Lah tuo, apa lai Abah punyo. Iko se alah ketek. Karumuik.” (Sudah tua, apa lagi yang Abah punya. Ini saja sudah kecil. Keriput.)
“Awas, loh!” kembali Umi mengingatkan sehingga membuat mata Abah melebar. Beruntung percakapan ini tak di mengerti oleh anak-anaknya selain hanya membuat mereka bingung dan bertanya-tanya sendiri.
Bukan tanpa sebab Umi Ros mengingatkan demikian. Beliau tak ingin jika sewaktu-waktu Alif tengah membutuhkan sesuatu, Abah malah tertidur. Sedangkan tak ada lagi orang yang berjaga di sana. Alif sering sungkan jika dia harus membangunkan orang.
Keduanya menuju ke Poli Kebidanan. Terlebih dahulu Dara di data dan di tensi untuk kemudian di masukkan ke dalam status pasien, sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
“Selamat pagi,” sapa dokter perempuan yang sedang bertugas.
“Pagi juga, Dok,” jawab keduanya serentak.
“Baik, mau periksa kandungan, ya?”
“Iya, Dok,” Dara menjawab.
“Sudah telat berapa hari, Bu Dara?”
“Tiga hari, Dok.”
“Baik, langsung saja naik ke brankar ya, supaya langsung tahu perkembangan bayinya seperti apa.”
“Kalau menurut dari perhitungan USG sudah lima minggu, ya. Hampir sama dengan HPHT. Dan untuk pertumbuhannya sendiri pas dengan usianya. Hanya saja detak jantungnya belum terdengar. Tolong lebih berhati-hati ya, Bu. Jangan sampai kelelahan dan stres. Nanti kembali ke dokter sekitar dua minggu lagi untuk diperiksakan lebih lanjut.”
Dara mengangguk meskipun agak takut saat mendengarnya, “Tapi bayi saya sehat kan, dok?”
“Sehat, kok, Bu. Jangan khawatir nanti bisa stres. Sejauh ini semuanya masih normal, kok,” kata Dokter kembali ke meja kerjanya untuk mencatat pemeriksaan. “Makan-makanan yang banyak mengandung asam folat, protein, karbohidrat, olahan produk susu dan masih banyak lagi. Nanti Ibu Dara bisa googling, ya.”
“Baik, Dok.”
“Ada keluhan?”
“Ya, suka mual sama pusing.”
“Baik ... nanti saya resepkan obatnya.”
***
“Gimana hasilnya?” tanya Alif begitu kedua wanita itu masuk ke dalam kamar rawatnya.
“Alhamdulillah anakmu sehat, Nak.”
“Satu atau dua?”
“Satu,” Dara menjawab.
__ADS_1
Sedikit kecewa karena Alif sempat berharap mempunyai baby twins, tapi apa pun itu dia tetap bersyukur. “Usianya?” Alif bertanya lagi.
“Lima minggu,” kali ini Umi Ros yang menjawabnya. Dan seperti dugaan mereka sebelumnya, Alif juga seperti Abah yang langsung loading mengingat-ingat tanggal pernikahan yang bila dihitung tidak sinkron dengan usia janin.
“Lima minggu??” ucapnya sangat dramatis.
“Jangan pula kamu tanyakan ini anak siapa, Lif,” kata Dara dengan sorot mata tajam, serupa seekor macan betina yang setiap menerkam mangsanya. Namun tak lama karena Alif segera dapat memahami ketika Umi Ros membantu menjelaskan bagaimana hal ini bisa terjadi.
“Oh, gitu?” kata Alif tersenyum. Merasa bangga terhadap dirinya sendiri yang sangat hebat—karena sekali tendang bisa langsung mencetak gol. “Mana, mana gambarnya?” ucapnya tak sabar.
“Sebentar,” Dara mengeluarkan kertas USG-nya dari dalam tas. Dan lagi-lagi Alif kembali terkejut pada saat melihat bentuknya yang aneh.
“Kenapa anakku jelek begini sih?”
“Astagaaaa!” kedua wanita itu sontak menjewer kupingnya kanan kiri.
“Aaaiyaiyaiayaaaaa!” Alif berteriak sembari menahan sakit karena agak tersentak di bagian lukanya.
“Kamu pikir waktu kamu kecil juga tidak jelek? Bentukmu juga seperti ini, Alif!”
“Iya tapi kenapa, Umi?” tanya Alif masih belum mengerti juga.
“Namanya juga masih kecil, pasti bentuknya begini. Nanti kalau sudah beberapa bulan, baru bisa kelihatan wajahnya, sempurna bentuknya. Semua itu ada prosesnya, paham!”
Abah Haikal mengumpat pelan, “Punya anak kok bodoh. Bodoh ... bodoh.”
Ada lumayan banyak orang yang datang menjenguk pada hari itu termasuk Ibu Ratna dan Razka. Ya, hanya mereka berdua karena Ayah tidak mungkin ikut dikarenakan keadaannya. Beliau juga turut bahagia setelah mendengar bahwa Dara sudah mengandung, karena artinya, akan lahir cucu pertama di keluarga mereka.
“Ayah pasti senang kalau mendengar kabar ini, Nduk,” kata Ibu ketika mereka sedang berbincang. Namun hanya ada mereka berempat karena Abah dan Umi sedang membeli makanan di luar untuk makan siang mereka sama-sama.
“Tolong di sampaikan nanti ya, Bu.”
“Iya, nanti Ibu sampaikan. Kamu jaga kesehatan ya, makan-makanan yang sehat. Biar cucu Ibu juga sehat. Jangan stres, jangan lakukan kegiatan apa pun sebelum bayi kamu lahir,” pesannya beliau protektif. “Mabuk juga, Nduk?"
"Iya kalau pagi."
"Sayangnya kamu jauh, coba kalau dekat, pasti ibu perhatikan kamu tiap hari.”
“Dara bisa kok, Bu. Kan ada Umi.”
“Iya, mertuamu baik sekali. Da kelihatan sekali sayang sama kamu. Kamu harus bersyukur. Banyak, loh perempuan di luar sana punya ibu mertua yang mengerikan.”
“Amit-amit jabang bayi jangan sampai,” kata Dara bergidik ngeri. Kini pemandangan mereka teralihkan melihat kakak beradik yang sedang menciptakan dunia sendiri. Keduanya berbincang sangat seru hingga sesekali terdengar tawa yang lolos dari bibirnya. Bahkan keduanya sangat akrab setelah melihat tangan Razka membantu mengipas-ngipas bekas luka operasi itu agar sakitnya sedikit tersamarkan.
Dan di saat inilah, Dara menggunakan kesempatan itu untuk bertanya sesuatu yang belum ia ketahui. Dia yakin ibunya telah menyembunyikannya selama ini darinya.
“Bu ...,” ucap Dara begitu lirih supaya tak terdengar oleh Alif dan juga Razka.
“Kenapa, Nduk?”
***
Bersambung.
__ADS_1