Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Gagal Membuka Hadiah


__ADS_3

“Kamu pulang semalam ini dari mana, Mas?” tanya Indira begitu suaminya masuk ke dalam rumah pukul sepuluh malam. “Apa kamu lembur lagi?”


“Ya, aku lembur lagi,” jawab Chandra singkat sembari menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Merasa lelah karena baru bertualang dengan istrinya yang lain beberapa menit lalu. Entah dengan apa dia beralasan karena setiap hari Chandra selalu bisa pulang ke rumah ini. Benar-benar penipu yang ulung!?


“Banyak dong, uangmu kalau lembur terus. Ya, seharusnya begitu. Tapi kamu selalu saja memberiku uang pas-pasan,” protesnya begitu kesal.


“Lantas maumu seberapa?” tanya Chandra agak kesal karena baru pulang sudah disinggung masalah duit, duit dan duit. “Apa uang pemberianku tiap bulan belum cukup? Uang lima juta itu sangat banyak, loh Di. Kan kebutuhan rumah juga pakai uangku.”


“Jaman sekarang lima juta dapat apa? Buat beli lipstik sebatang saja langsung habis.”


“Lagi pula untuk apa beli lipstik mahal-mahal, Di. Untuk apa? Bermatlah sedikit! Sudah tahu mau melahirkan. Jangan banyak tingkah. Singkirkan semua keinginanmu yang tidak berguna itu, Di. Pikirkan untuk menabung.”


“Enak saja menyuruhku untuk menabung. Jatahku saja masih kurang, kamu memintaku untuk menyisihkan uang lagi. Apa kamu masih waras? Biaya persalinan itu tanggung jawabmu! Masa aku harus memikirkannya juga.”


“Aku ini baru pulang. Keadaanku yang capek, lapar, dan panas ini bisa membuatku cepat emosi. Jadi jangan pancing-pancing kalau tidak mau taringku keluar.”


“Apa pantas aku diam saja setelah kamu memintaku untuk terus berhemat dengan jatah yang kurang?”


“Ya Tuhan ... sudah kubilang, jangan pancing-pancing aku,” geram Chandra dengan sorot mata menajam.


“Aku hanya minta kamu tambahkan uang belanjaku, itu saja. Aku ini butuh skincare. Malu lah sama teman-teman, habis menikah bukannya tambah cantik malah tambah jelek. Suaminya juga bisa dicela nanti karena dianggap tidak mampu membahagiakan istri atau membuatnya minimal lebih baik,” dumelnya panjang lebar. “Lagian pelit sekali sih jadi orang! Sama istri kok perhitungan. Nanti rezekimu bisa semakin seret.”


“Mau kamu poles semahal apa pun mukamu, bagiku kamu tetap sama, MURAHAN.”


Sontak Indira menatap wajah suaminya yang baru saja mengatakan demikian. PLAKKK!


Satu tamparan seketika mendarat di wajah Chandra tanpa pria itu benar-benar berusaha menghindari.


"Ya, aku memang murahan." Indira tersenyum sedih. "Tapi, no problem. Berarti kamu memang hanya mampu membeli harga murahan. Seharusnya kamu sadar diri. Jadi orang kere jangan banyak tingkah!"


Merasa panas pada bagian ulu hatinya, Chandra membalas dengan menamparnya lebih keras. PLAKKK!


Tanpa ragu. Tanpa takut. Sampai perempuan itu terjungkal dari kursi yang dia tempati. Beruntung tak terjadi apa-apa padanya juga terhadap anak mereka.


Ini kedua kalinya setelah dia menampar Dara dulu. Untuk sesaat, dia menatap tangannya yang memerah, lalu melihat istrinya yang tengah menangis terisak setelah terdengar memekik. Namun kemudian ia memegangi kepalanya. Bingung karena matanya mendadak menjadi lamur. Antara percaya dan tidak percaya karena apa yang dilihatnya kini justru sosok Dara. Mengingatkan kembali kejadian ini yang sama persis apa yang terjadi pada malam itu.


“Da-Dara!” ucapnya tergagap.


Indira mendongakkan kepala, bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini dia malah memanggilku dengan sebutan nama itu.


“Apa kamu sudah gila?!” ujarnya menyentak.


“Makanya kamu jangan terus memancingku!” balasnya segera.


“Ma-maaf, Di. Ayo, aku antarkan ke kamar, ya,” kata Chandra lagi setelah beberapa saat kemudian. Pria itu mencoba untuk menggapainya, namun di tepis kasar.


“Lepas!”


“Aku obati lukamu. Kandunganmu baik-baik saja?” dia sangat khawatir.


Namun Indira menggeleng. Dia langsung beranjak ke kamar serta-merta mengunci pintu agar Chandra tak masuk ke dalamnya malam ini. Di dalam sana Indira kembali menangis menyesali perbuatannya serta merenungi diri.


‘Apa seperti ini juga yang Dara rasakan?’ batin Indira. Dia merasa ada yang aneh di dalam diri Chandra. Terkadang dia bisa menjadi pria yang sangat baik dan perhatian, tetapi terkadang bisa berubah menjadi singa mengerikan yang juga bermulut tajam.


Apa lelaki itu mempunyai kepribadian ganda? Atau dia memang psikopat?


Sementara di luar, Chandra sedang memukuli kepalanya sendiri yang belakangan ini sudah sering banyak berhalu. Apa yang dilihatnya terkadang bisa berubah-ubah. Seperti tadi.

__ADS_1


Dia juga bingung, menyadari dirinya sendiri yang kian rusak. Tak puas dengan hanya satu pasangan, sehingga ia putuskan untuk menikah lagi.


Setiap orang, mempunyai karakter sensualitas yang berbeda. Dan Chandra mempunyai fantasi seksual yang cukup liar. Dalam bayangannya dulu, ia bisa terpuaskan dengan hanya Indira saja. Namun mungkin karena di hamil, menjadikan wanita itu pasif dan selalu pasrah jika dia mendatanginya. Dan itu membuatnya cukup bosan.


Lily adalah wanita yang ia temui di sebuah klub malam. Dia datang pada saat gundah dan wanita itu hadir memberikan penawaran bahwa dia bersedia untuk menemaninya.


Awalnya ia hanya menggunakannya satu malam, tetapi di lain hari, dia kembali menemuinya lagi. Hasrat yang terpuaskan serta kecocokan membuatnya merasa membutuhkan wanita itu sehingga ia memutuskan untuk menikahinya saja.


Namun yang menjadi masalah adalah, lagi-lagi Chandra selalu menutupi jati dirinya yang hanya seorang kemendur pabrik biasa. Membuat dirinya semakin tertekan dengan pilihan dan tuntutan hidupnya sendiri.


Ini semua terjadi karena sebab ketidakluasan hatinya untuk menerima Dara sepenuh hati. Padahal di saat itu, mungkin Tuhan sedang menguji sampai di mana puncak kesabarannya. Tapi Chandra malah memilih untuk menyeleweng sehingga berakibat fatal seperti ini.


“Keluargaku pun masih membenciku sekarang. Tapi aku malah sudah bikin masalah baru lagi. Aku harus segera ceraikan Lily,” gumamnya tak karu-karuan.


***


Seminggu berlalu setelah kepulangannya dari Semarang. Begitu juga dengan Jack yang sudah kembali bekerja seperti biasa. Agaknya, pria itu memang sudah betah tinggal di kota itu dan berencana mempunyai istri asli orang sana saja. Dia sudah sangat nyaman dengan pekerjaannya, karena dari sinilah ia mempunyai penghasilan tetap, atasan yang cocok dan paling utama adalah halal.


“Kalau Jack pria baik-baik sudah aku jodohkan sama temanku,” kata Dara di sela-sela pembicaraan mereka. "Sayangnya Jack jelalatan matanya, jadi aku agak ragu mengenalkannya. Kasihan nanti kalau dia sampai di permainkan.”


Orang yang Dara maksud adalah Wiwin. Seorang Advokat hebat yang sudah banyak sekali menangani kasus berat. Alasannya masih sendiri: karena dia terlalu sibuk selama ini sampai lupa memikirkan bahwa dia juga butuh pasangan.


“Tidak selalu yang buruk terlihat buruk,” Alif menanggapi. “Tidak mungkin juga dia berbuat kurang ajar sama perempuan yang menjaga dirinya, apalagi menyentuh tanpa persetujuan wanitanya dulu. Sama sepertiku,” katanya percaya diri.


Dara melengkungkan bibirnya ke atas, pertanda dia tidak setuju dengan ucapan Alif barusan. “Sama dari mana, ha? Kamu pernah menikmatiku tanpa izin.”


“Namanya juga sedang usaha,” Alif menjawab sembari memeluknya dari belakang. Merusuhi istrinya yang tengah menyetrika pakaian. Dan inilah tugasnya akhir-akhir ini, yakni membuntuti ke mana pun Dara pergi. Tak peduli perempuan ini muak dengan segala jenis perlakuannya.


“Kalau aku jahat, aku sudah menikmatimu saat kita tinggal serumah. Tapi aku menahannya,” Alif melanjutkan. Kalau malam itu tak terjadi, pasti ceritanya juga akan berbeda bukan?


“Ya, aku tahu,” jawab Alif. Yang dia-diam memikirkan caranya.


“Bisakah kamu duduk, Lif?” tanya Dara. “Aku risik, panas juga kamu peluk-peluk terus.”


“Aku merindukanmu.”


“Ngawur, kita ketemu setiap hari.”


“Duduklah, Ra. Biarkan saja pekerjaan itu. Kurangi aktivitasmu, kasihan baby Cilnya.”


Dara tersenyum. Selalu terdengar lucu di telinganya apabila Alif memanggil anak mereka dengan baby Cil. Baby Cil adalah kata baby kecil yang dia singkat.  


“Iya, nanti,” jawab Dara masih menggeser-geser alat panas tersebut. “Nanggung.”


“Siapkan berkasnya besok kita urus surat-surat nikah, supaya kita punya bukunya.”


“Hu’um.”


“Karena kamu kemarin menolak bulan madu, jadi kali kamu tidak boleh menolak baby moon.”


“Ke mana?”


“Kita naik kapal pesiar, dari Singapura ke Penang.”


“Mahal itu, Lif sayang uangnya. Berapa dolar?”


“3500 USD.”

__ADS_1


Mata Dara membulat dan menoleh seketika. Otaknya loading untuk merupiahkan berapa jumlah dolar tersebut. “Lima puluh juta rupiah, kira-kira perhitunganku.”


“Tapi sudah untuk dua orang.”


“Aku tidak mau!” tolaknya tegas.


“Jadi maumu apa kalau kamu terus-terusan menolak?”


“Plis, Lif. Jangan hambur-hamburkan uang selagi ada. Takut menyesal. Banyak orang susah di sekitar kita. Aku merasa berdosa kalau beli barang-barang mahal atau liburan enak-enakkan ke luar negeri. Jangan dibiasakan.”


“Apa aku harus memikirkan mereka juga?” tanya Alif tak habis pikir.


“Bukan begitu konsepnya, Bambang!”


Alif melepaskan pelukannya dan kembali duduk, “Tapi Abang sama Vita juga sudah pergi ke mana-mana, resepsi juga. Kamu saja yang tidak mau.”


“Aku lagi hamil Alif ...," kata Dara beralasan. Dia benar-benar malas membahas resepsi dan acara buang-buang uang itu untuk saat ini. "Baiklah, kalau begitu kita liburan ke Monas saja!” kata Dara kemudian sembari tersenyum menyebalkan.


“Parah kamu.” Alif langsung kembali teringat sosok Chandra yang pada saat itu ingin mengajak istrinya baby moon ke Monas.


“Ra?”


“Apa, Lif? Jangan seperti ikan.”


“Maksudnya?”


“Bawel.”


“Bawal ...,” Alif meralat. “Kapan kamu menghentikan itu?"


"Sebentar lagi ...," jawab Dara dengan nada panjang.


"Aku kangen Baby Cil, kangen Mommy-nya juga.”


"Alasan kamu, Lif."


Tak sabar, pria itu kembali mendekati Dara dan mencabut colokan. Mungkin karena sudah tidak begitu merasakan sakit, kini Alif sudah bisa memangku istrinya. Mulai mendaratkan kecupan-kecupannya di sekitar area telinga, leher, pipi, kemudian menyelusupkan tangannya ke dalam pakaian, lalu membuka kaki istrinya dan ....


“Alif! Dara! Ini ada Pak RT!” seru suara Umi dari bawah.


“Pak RT tukang ganggu,” ucap Alif sembari mengumpat dalam hatinya. Tenyom, tenyom, tenyom, tenyom, tenyom, tenyom, tenyom, tenyom. (Dibaca dari belakang)


“Aku sudah bilang nanti malam, Lif.”


“Memangnya kalau mau ibadah harus menunggu malam dulu?”


“Alif! Dara!” seru beliau lagi.


“Iya, Mi. Kami ada di atas,” Dara menjawab.


“Turun dulu sebentar, Nak. Pak RT mau ketemu.”


“Okay!”


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2