Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Dia Hanya Butuh Waktu


__ADS_3

Malam itu, Alif tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun. Rasanya sama sekali tidak mengantuk karena kepalanya dipenuhi dengan masalah. Bahkan mengisi perut saja tidak bisa hingga paginya terasa pedih. Namun saat di saat dia mencoba untuk makan, perutnya malah justru bertambah sakit sampai mual dan muntah. Tidak salah lagi. Maag dan asam lambungnya kumat sehingga ia memutuskan untuk mengonsumsi obat yang memang selalu tersedia di dalam tasnya.


Usai memakai pakaian rapi, Alif mengetuk pintu kamar bawah. Tentu saja untuk berpamitan karena dia akan berangkat sekarang juga. “Ra ... aku berangkat, ya. Sarapan sudah ada di atas meja.” Bukan hanya sepiring nasi goreng, tetapi juga catatan permintaan maafnya.


‘To my wife. Morning, Ra. Jangan lupa sarapan ;-) love you.’


Hal yang tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya adalah memasak. Namun dia berjuang keras untuk bisa, hanya demi Dara.  


Usai memanaskan mobil, Alif terlebih dahulu menuju ke rumah uminya untuk menemui Vita. Dia memang ada urusan dengannya karena Alif yakin—kepada Vita, Dara bisa bercerita banyak hal.


“Eh, ada Alif bata,” ucap Umi Ros senang ketika mengetahui putranya datang. Beliau sedang menyiapkan sarapan pagi dengan art-nya.


“Pagi, Mi. I love you,” balas Alif seraya mencium pipi uminya.


“Sudah sarapan belum?” tanya Umi, namun belum sempat Alif menjawab, Umi sudah menduganya sendiri, “pasti sudah, ya. Kan sudah punya istri sekarang.”


Alif hanya mengangguk, sedangkan matanya mengedar mencari-cari Vita dan Yudha karena kedua orang itu tidak sedang berada di luar kamar.


“Cari siapa?” tanya Umi. “Abangmu sudah berangkat.”


“Oh, Vita mana?”


“Vita sedang memandikan anak-anak. Kenapa memangnya? Tumben mencari kakak iparmu?”


“Iya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan, Mi.”


“Sebentar lagi juga turun.”


“Sepertinya lama. Nanti siang saja,” ujarnya memutuskan, kemudian meminta Umi untuk mengulurkan tangannya, “Alif pergi dulu, takut telat.”


“Hati-hati di jalan, ya, Nak.”


“Iya.”


Sepeninggal Alif dari rumah, Umi Ros bertanya-tanya sendiri. Beliau begitu penasaran kenapa putranya mencari Vita. Pasti ada masalah penting, pikirnya. Namun beliau bukan tipe orang tua yang suka kepo dengan urusan orang, meskipun Alif adalah anaknya sendiri.


Dan pada jam makan siang, barulah Alif bertemu dengan Vita di VY Cafe. Setelah sebelumnya mereka terhubung melalui sambungan telepon bahwa dia memintanya untuk melakukan pertemuan.


“Thank you sudah menyempatkan diri untuk datang,” kata Alif begitu Vita duduk di depannya. Dia hanya datang seorang diri tanpa pendampingan siapa pun. Ya, begitu yang Alif tahu karena Vita turun dari mobil taksi.


“Iya sama-sama,” jawab wanita tersebut. “Kenapa mukamu tegang sekali, ada masalah?” tanyanya berpura-pura tidak tahu apa-apa karena Vita belum mengerti, apa tujuan Alif memintanya untuk datang.


Alif berdecak malas, “Come on ... langsung saja, Vit. Jangan basa-basi, pasti kamu tahu itu.”

__ADS_1


“Ok, ok, baiklah,” kata Vita menghela napasnya sejenak. “Dara memang bertanya denganku kemarin, Lif. Dan semua bukti-buktinya memang mengarah ke kamu. Tetapi bukan berarti aku mengomporinya, sama sekali tidak. Aku tetap berada di tengah-tengah. Tidak memihak sana-sini—jika pun, kamu memang benar-benar bersalah.”


“Dari siapa Dara tahu?”


“Dia menyelidikinya sendiri.” Vita tersenyum. “Dara marah denganmu?”


Alif mengangguk.


“Kalau Dara sampai marah, berarti kamu memang ....”


“Ya, aku pelakunya,” potong Alif segera. “Kenapa? Kamu heran? Atau kamu ingin marah setelah tahu aku pelakunya? Pelaku pemer kosa sahabatmu?”


“Alif ... tahan emosi kamu, Lif. Aku mau datang ke sini bukan untuk mengadili perbuatanmu, aku bukan hakim.”


“Dara minta pulang, dia sama sekali tidak mau berbicara denganku,” kata Alif tak lama berselang.


“Begini, Lif ...,” kata Vita sangat hati-hati. Dia mencoba untuk menjadi penengah untuk menjembatani mereka berdua agar tetap bisa saling terhubung. Karena bagaimana pun, dia adalah orang pertama yang tidak ingin mereka berpisah. Pasti selalu ada jalan keluar, pikirnya. “Kamu cinta sama Dara?”


Alif mengangguk. “Karena itulah aku mengejarnya ke sana.”


“Aku tahu itu dan baru aku sadari sekarang, bahwa ternyata—inilah alasan kenapa kamu membangun usaha di sana,” ucap Vita menjeda sesaat. “Sekarang ... posisikan diri kamu jadi Chandra, Lif. Andaikan kamu jadi dia, kamu sangat mencintai Dara dan kalian menikah. Tapi ... kejadiannya sama; saat kamu menanti-nanti Dara selama ini, istrimu malah terlebih dahulu diperkosa laki-laki lain di malam pertamanya. Apa perasaan kamu? Marah ‘kan?”


“Aku akan membunuh laki-laki itu!” sembur Alif segera dengan sangat jengkel.


“Tapi aku sudah mengakuinya, bukan?” tanya Alif tak mau kalah. Bukan merasa dirinya paling benar—sama sekali bukan. Tetapi dia juga merasa tak sepenuhnya salah.


“Alif ...,” ucap Vita seraya menggeleng. “Kalau kamu ada di posisi Dara, kamu tidak mungkin bisa mengatakan ‘tapi aku sudah mengakuinya’. Kamu sudah mem perkosanya, Lif. Tidak ada wanita yang diper kosa lantas senang, tertawa bahagia. Sudah jelas Dara pasti marah. Masih beruntung dia perempuan yang kuat. Kamu harus tahu, perbuatan ini bisa membuat orang lain depresi berat loh, Lif. Karena dia harus menerima kenyataan dan tekanan. Banyak kasus-kasus seperti ini di Rumah sakit. Dan penyembuhannya tidak sebentar, butuh waktu bertahun-tahun.”


Ada jeda sejenak sebelum Vita melanjutkan, “Tolong kamu sabar, Dara butuh waktu. Beri terus dia perhatian-perhatian kecil supaya hatinya bisa lunak lagi.”


“Sampai kapan aku harus sabar?” tanya Alif. “Sekarang saja dia sudah minta pulang ke rumah orang tuanya. Aku hanya menunggu bom meledak.”


“Sekarang kamu cerita, ya. Apa yang menyebabkanmu berani melakukan ini?”


“Tanya, sama Hilman kenapa aku bisa melakukannya!” balas Alif meninggi. Sehingga membuat seorang laki-laki yang mucul tiba-tiba menggebrak meja, BRAKKK!


“Beraninya kamu bentak-bentak istriku?!” katanya dengan amarah yang memuncak. Tak terelakkan, sebuah pukulan pun mendarat di wajah Alif dengan sangat keras hingga pria itu terjungkal. BUKK!!


“Mas Yudha! STOP!”


“Memalukan kamu, memalukan keluarga!” BUKK!! Pukulan kembali mendarat di wajahnya tanpa perlawanan. Alif pasrah apa yang akan menimpa tubuhnya.


“Sudah, Mas! Sudah!” Vita memekik dan menahan tubuh Yudha agar pria itu tak mengulangi perbuatannya di muka umum.

__ADS_1


Namun Yudha tidak peduli, dia tetap memaki Alif. “Adik tidak tahu diri, sudah menyuruh kakak iparmu jauh-jauh ke tempat ini malah kamu bentak-bentak. Aku saja suaminya hampir tidak pernah melakukannya.”


Alif tersenyum smirk, “Hampir tidak pernah melakukannya tapi poligami. Itu jauh lebih sakit, Bang ... uhukk! Uhukk!” ujarnya seraya terbatuk-batuk.


“Ayo pulang, percuma menasihati batu sepertinya.”


“Mas, dia tidak bermaksud membentakku tadi, dia hanya terbawa emosi saja,” kata Vita membelanya.


“Mulai sekarang jangan urusi masalah mereka. Percuma. Alif bukan orang yang paham terima kasih.”


“Mas Yudha, itu Alifnya ditolong dulu.”


“Jangan konyol. Tidak mungkin aku menolong orang yang baru saja kupukuli,” kata Yudha tak habis pikir.


“Mas, tolongin Alif ....”


“Pulang, Vita, pulang!” Yudha tetap membawa istrinya keluar dari tempat itu. “Tidak usah keluyuran, kamu itu bukannya di rumah. Ingat apa kata dokter kemarin, jangan terlalu capek.”


Vita memutar bola matanya malas. Dia tak kuasa melawan misuanya.


***


Sore harinya, Alif pulang dalam keadaan wajah yang sudah membiru. Rasanya sangat ngilu, bahkan untuk sekadar menggerakkan bibir saja rasanya tak sanggup. Sehingga ia putuskan untuk tak banyak bicara dulu untuk kali ini.


‘Pukulan ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang Dara dan Chandra terima, jadi tidak usah merasa paling terzolimi,’ batinnya mengatakan. Bahkan dia juga harus beruntung karena Chandra tak sampai menghabisinya. Dia hanya berharap, semoga Chandra tak sampai mengetahuinya. ‘Ya cukup Tuhan saja yang tahu.’


Namun kini bibirnya mengu lum senyum, lebih tepatnya tersenyum menahan sakit. Karena dia mendapati piring nasi goreng di tempat pencucian piring sudah dalam keadaan kosong. Berarti Dara mau memakan masakannya. Hanya demikian saja dia sudah terasa sangat bahagia.


‘Aku akan lebih banyak melakukannya, demi kamu, dower!’


Alif membuka kulkas, dia mengambil es batu di sana untuk mengompres lukanya sendiri. Tanpa dia ketahui, ada seorang wanita yang sedang diam-diam memperhatikannya.


‘Berantem sama siapa dia?’


“Awhh! Uhuhu ... sakit sialan ....”


Mendengar Alif berulang kali mengerang membuat Dara kembali membatin, ‘Nah rasakanlah akibatnya!’


***


Bersambung.


 

__ADS_1


__ADS_2