Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Makhluk Hulk Itu Menyebalkan


__ADS_3

Layaknya di rumah sendiri, tanpa berkata apa pun, dia langsung masuk dan meletakkan buah tangannya yang berbentuk parsel beserta satu paper bag berisi titipan Dara semalam yang isinya adalah beberapa setel pakaian ganti.


Karena Dara datang saat sedang tak karu-karuan, lantas membuat ia mengabaikan semua hal penting tersebut. Sekarang, ia membutuhkannya dan Aliflah yang terpaksa ia mintai tolong. Untuk saat ini, Dara mencoba untuk menebalkan muka dan menekan rasa malunya kerena tidak ada yang bisa dia repotkan lagi.


Oke, kalau perbuatan ini salah? Lantas bagaimana benarnya?


Sebenarnya, Dara tidak berniat untuk menyuruh Alif. Namun untuk saat ini, dia memang tidak bisa menghubungi siapa pun. Dara juga tidak tahu kenapa dia harus meminta tolong kepada pria ini. Dan anehnya, kenapa Alif juga mau jauh-jauh datang kemari? Padahal—ya, padahal ... ah, ini memang aneh! Apa Alif pikir dia sedang sekarat sehingga ia berusaha menyempatkan diri?


“Wah, ada tamu, ini pasti suaminya,” kata Dokter kepada Dara melihat pria berpakaian casual itu. Belum sempat Dara menjawab, dokter dan susternya langsung berpamitan memohon diri. Mereka juga sempat berpesan kepada Alif, agar membantu istrinya untuk sarapan pagi ini.


Sementara Alif hanya tersenyum samar tanpa benar-benar ingin membantahnya.


“Seharusnya kamu membantahnya tadi,” kata Dara saat hanya tersisa mereka berdua. “Eh, tapi aku kaget, Lif. Ternyata kamu benar-benar mau datang. Padahal aku sedang tidak sungguh-sungguh menghubungimu kemarin. Aku jadi malu. BTW terima kasih, ya.”


“Aku memang ada urusan di sini,” jawab Alif singkat.


“Oh, berarti aku kepedean, ya?”


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Alif kemudian tak ingin membahas persoalan tadi lebih lanjut.


“Masih suka pusing, sama mual. Kata dokter selain demam, asam lambungku juga naik.”


Alif mengangguk.


Dara merasa kikuk. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengobrol dengan orang ini.


“Seharusnya kamu menghubungi suamimu,” kata Alif setelah beberapa saat kemudian.


Mengingat Chandra sontak membuat Dara naik pitam. Dia menyemburkan amarah kepada pria di depannya, “Dia sudah tahu aku sakit. Tapi dia tidak peduli dan malah justru pergi meninggalkanku. Jadi biar saja dia sekarang kelimpungan mencariku. Aku malas dengannya. Dia benar-benar egois! Tidak punya hati sama sekali. Aku tidak tahu semenjak kapan Chandra menjadi seperti itu. Benar-benar menyebalkan, sama seperti Hulk!”


Tentu saja Alif terlonjak. Tatkala Dara mengatai Hulk, tatapan Dara mengarah kepadanya seolah dialah objek sasaran itu. “Jangan menatapku begitu!”


“Eh, sorry, sorry, aku terbawa emosi,” katanya seraya tersenyum lepas. Usai berkata demikian Dara menjadi malu sendiri karena hampir tak terkontrol. “Kamu tidak sedang buru-buru ‘kan?”


Alif menaikkan alisnya seolah sedang bertanya kenapa dia mengatakan demikian.


“Aku hanya bertanya saja. Siapa tahu sedang buru-buru, jadi aku tidak akan menyampaikannya sekarang,” sambungnya.

__ADS_1


Sebelumnya Dara hanya mengirim pesan bahwa dia sangat membutuhkan bantuannya, namun dia belum menjelaskannya secara rinci karena Dara pikir, hal ini hanya bisa dibicarakan secara langsung.


“Ceritakan!” kata Alif mempersilakan.


“Aku bingung bagaimana cara menyampaikannya.” Mata Dara berkaca-kaca terlihat kentara walaupun dia berusaha menyembunyikannya. “Vita sudah tahu hal ini. Karena aku sudah membicarakan dengannya sebelum kamu mengantarku pulang waktu itu."


Alif masih menyimak perkataannya.


"Tapi bukan berarti aku menyuruhmu untuk menanyakannya, kamu jangan salah paham.”


Alif berdecak. Ia gemas sendiri mendengarkan Dara bicara. “Kamu itu terlalu berbelit-belit.”


Mungkin karena gelisah, Dara menggigit bibir bawahnya yang sontak membuat Alif memalingkan wajah. ‘Kenapa harus melakukan itu di depanku, sialan!’


“Hubunganku dengan Chandra sedang tidak baik,” kata Dara kemudian.


“Terus apa hubungannya denganku?” telinga Alif berdenging mendengar nama tersebut.


“Izh! Dengar dulu, aku belum selesai bicara!” Dara segera menyela. “Ini gara-gara aku ... aku ... diper kosa.” Dara langsung menutup wajahnya setelah ia mengatakan demikian.


“Astaga!” Mata Dara sontak membeliak saat Alif menanggapinya seperti itu. Mulutnya pun menganga selama beberapa saat. Meski lemas Dara berusaha keras melemparinya dengan sepotong timun yang ada di atas piring makan. "Betapa teganya!"


Alif menahan tawa. “Cih, memangnya siapa laki-laki yang bernaf su denganmu? Aku pikir tubuhmu tidak terlalu menarik.”


“Aaaahhhhhhh jahat banget!” Dara tergelak dan menangis secara bersamaan karena mendapatkan hinaan semacam itu. “Kamu benar-benar tidak menghargaiku sama sekali. Aku sedang serius ....”


“Siapa pelakunya, lalu kamu mau meminta bantuanku untuk apa?”


“Aku ingin kamu mencekiknya sampai mati. Kalau perlu potong burungnya yang pengecut itu,” kata Dara menggebu-gebu. “Dasar makhluk Hulk sialan?!”


“Iya, tunjukkan siapa orangnya?” Alif mengulang karena Dara terlalu sibuk mengumpat.


“Mana aku tahu, aku diculik waktu malam setelah resepsi. Lalu dikembalikan setelah—ya setelah dia memakaiku,” jawab Dara dipelankan di akhir kalimat karena terlalu malu membahas masalah seperti ini di depan orang lain.


“Gara-gara dia rumah tangga aku jadi berantakan. Gara-gara dia juga, Chandra menjauhiku. Dia pasti jijik denganku. Aku benar-benar tersiksa diperlakukan begini.”


Alif berusaha menahan diri dan menyimak kata-katanya. Tanpa Dara ketahui, pria itu memejamkan matanya sejenak karena timbul penyesalan yang begitu besar sehingga terbetik niatnya untuk mengakui perbuatannya saat itu juga. Namun saat bibirnya hendak mengucap, tiba-tiba Dara kembali memohon ....

__ADS_1


“Tolong aku, Lif. Cari orang itu dan bawa ke hadapanku.”


Alif hanya mengangguk. Tenggorokannya terasa kering sehingga ia terasa payah saat menelan ludah.


“Makananmu masih utuh. Kita bisa bahas ini nanti. Kamu harus minum obat bukan?”


“Aku masih malas makan.”


“Mau aku suapi?” ancam Alif dengan senyum menyebalkan seperti biasanya.


“Apaan sih!” cebik Dara kesal sekaligus takut jika Alif benar-benar melakukannya. Dengan segera, dia mengambil makanannya sendiri dan menelannya cepat-cepat.


“Jadi ibumu tidak tahu kamu ada di sini?” tanya Alif setelah beberapa saat kemudian. Tepatnya setelah Dara selesai memakan sarapannya meski masih tersisa separuh.


Dara hanya menggeleng karena sedang berusaha menelan obat.


“Aku tidak mau menyusahkannya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi denganku selain Chandra. Kalau mereka tahu, pasti jadi timbul banyak pertanyaan karena aku datang sendiri ke sini.”


Alif melihat jam di tangan kirinya dan lantas mencari-cari sepatu yang tadi terlepas dari kedua kakinya. “Aku tidak bisa lama-lama di sini, ada urusan,” ujarnya nampak terburu-buru.


“Sok sibuk, memangnya punya urusan apa?”


“Ada, lain waktu kamu akan tahu.”


“Kamu berapa hari di sini?”


“Mungkin akan lama.”


Sebenarnya Dara masih penasaran, namun kemudian dia segera dapat memahami karena melihat raut wajahnya yang berubah menjadi lebih serius.


“Makasih ya, Lif,” kata Dara tanpa bisa menambahi kata lain. Terima kasih itu meliputi banyak hal yang tidak bisa ia katakan secara rinci karena saking banyaknya. Dara tahu persis, meskipun Alif adalah sosok laki-laki aneh dan misterius, tetapi dia sebenarnya adalah laki-laki yang baik. Jauh sebelum ia mengenal Chandra, Dara memang pernah mengaguminya. Terlihat dari bagaimana pria itu melindungi kakak iparnya pada saat Vita sedang berada dalam masalah besar.


Alif tidak menanggapi. Lagi-lagi dia hanya tersenyum samar dan segera meninggalkan ruangan tersebut. Entah apa yang sedang menjadi kesibukannya di daerah ini!


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2