
Dara segera membenahi pakaiannya lagi dan gegas keluar dari kamar itu untuk mencari di mana suaminya berada. Pikiran yang kalut membuatnya tak bisa berpikir jernih tentang apa yang akan dilakukan selanjutnya selain berkata jujur. Ya, itu saja, tidak ada jalan lain.
“Pada awalnya mungkin Mas Chandra akan kecewa, itu wajar dan sangat manusiawi. Tapi pelan-pelan, pasti dia bisa menerima keadaanku. Ini hanya masalah ...” Dara terlalu kelu untuk menyebutkannya. Terus terang, ia pun jijik dengan dirinya sendiri yang entah di gerayangi oleh makhluk astral seperti apa. Tetapi dia terus mencoba meyakinkan dirinya yang sudah hilang setengah kewarasan.
“Mas Chandra mencintaiku—ya, sangat mencintaiku dan dia tidak akan menceraikanku.”
Mata Dara mengedar ke seluruh ruangan. Mulai dari ruang tengah, ruang tamu, garasi, kemudian teras rumah sembari menyerukan nama suaminya.
“Mas Chandra! Mas Chandra!”
Dia beralih ke dapur, namun ia tak menemukan Chandra di sana. Ke mana suaminya itu? Apa dia ada di atas?
“Mas plis, kamu di mana. Beri kesempatan aku untuk bicara sebentar. Jangan cepat ambil keputusan yang salah ... ini sama sekali bukan mauku.”
Menemukan keran air di wastafel, dia membasuh wajahnya agar kepalanya terasa dingin.
“Ayah, Ibu ... gimana ini? Tolong Dara.” Lagi-lagi dia menangisi nasibnya yang begitu malang. Dia membuka kulkas dan langsung menenggak sebotol air mineral hingga tandas.
Usai berdiam diri sebentar untuk menenangkan diri yang masih gemetaran, Dara menuju ke atas. Ia yakin suaminya sedang berada di sana.
Rumah ini tak terlalu besar, semestinya tidak akan sulit mencari Chandra terkecuali lelaki itu tak pergi dari rumah. Tetapi mana mungkin dia pergi? Sebab Dara masih melihat mobil dan motornya terparkir rapi di garasi.
“Apa dia sedang berada di ruang kerjanya?”
Tetapi setahunya ruang kerja juga masih berantakan karena meja dan kursinya baru datang tadi siang. Dara belum mengetahui secara persis bagaimana keadaan ruangan itu. Namun setelah dipikir-pikir, besar kemungkinan Chandra berada di sana karena di kamar mereka pun kosong.
Tok tok tok!
“Mas Chan, buka, pintunya, Mas! Aku tahu kamu ada di dalam, kita perlu bicara.”
__ADS_1
Tok tok tok!
“Aku hanya minta waktumu sebentar.” Kembali mengetuknya lagi seperti tadi. “Mas Chandra, plis. Dengarkan aku ....”
Dara menyandarkan kepalanya di pintu sembari berkali-kali mengusap matanya yang basah. Perasaannya sungguh tak karu-karuan dan hampir putus asa.
“Kalau kamu saja kecewa, bagaimana dengan aku yang mengalaminya sendiri? Aku sedang terkena musibah. Bukan malah kamu menghakimiku juga seperti ini. Mas Chandra tidak akan pernah tahu kebenarannya kalau Mas Chandra menutup diri untuk mendengarkan penjelasanku.”
Dara tak ingin menyerah. Dia tetap berbicara karena Dara yakin Chandra sedang mendengarkannya di dalam sana.
“Malam itu aku memang menemukan surat yang memintaku untuk keluar gedung. Tapi sesampainya di luar, aku dibekap oleh orang tak dikenal. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi. Yang aku tahu, aku tiba-tiba bangun di tempat Mas Chandra menemukan aku.”
Tok tok tok.
“Mas Chandra ... plis ....”
Chandra tetap tidak membuka pintunya sampai malam menjelang. Sepertinya dia butuh waktu untuk sendiri.
***
Entah berapa lama Dara terlelap di sana, dia terbangun karena mendengar kunci pintu diputar. Jelas terdengar karena suasana dalam keadaan sangat hening. Namun langit sudah nampak cerah terlihat dari kaca yang belum ditutup dengan gordyn.
Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat Chandra membuka pintu. Namun kemudian langkahnya diurungkan karena terhalang tubuhnya yang sengaja malang melintang.
“Pagi Mas Chan,” ujarnya sontak berdiri dan menghambur ke pelukannya. “Aku senang akhirnya kamu membukakan pintu. Aku menunggumu dari semalam.”
Chandra menjauhkan tubuhnya dari Dara. Dara tersenyum pedih melihatnya suaminya bersikap demikian.
“Jangan cari penyakit.”
__ADS_1
Hanya itu yang dikatakannya kemudian langsung menuju ke kamar mereka. Dalam keadaan demikian Dara mengesampingkan rasa malu. Tak peduli dikatakan bebal sekalipun. Dia mengikuti langkah suaminya dan berusaha menghentikannya agar diberi kesempatan untuk berbicara.
“Aku hanya takut kamu pergi.” Dara berucap dengan air mata yang lagi-lagi mengalir tanpa bisa ia kendalikan.
Ternyata sesakit ini diabaikan oleh orang yang dicintai. Dara baru tahu rasanya karena perjalanan cinta mereka selama ini selalu mulus tanpa hambatan.
Chandra selalu memperlakukan dirinya layaknya seorang ratu. Menuruti semua kebutuhannya, mengantar dan menjemput dirinya ke mana pun pergi. Kemudian membawanya ke tempat-tempat indah—dan tak jarang pula dia memberikan kejutan-kejutan atau hadiah tak terduga yang membuatnya secara cepat dapat mengendapkan sebuah rasa; rasa percaya, nyaman, terlindungi, hingga puncak rasa tertinggi, yaitu sayang dan cinta.
Tidak pernah terpikirkan olehnya akan terjadi tragedi sedemikian mengerikan yang berhasil membuat hubungannya porak-poranda. Namun apakah hanya sebatas ini ukuran cinta Chandra yang katanya lebih dari segala-galanya?
Tak ingin lepas lagi setelah menunggui suaminya dari semalam, Dara berlari cepat dan memasang badan tepat di pintu kamar mandi. Karena Dara dapat memperkirakan ke mana arah Chandra kemudian setelah mengambil pakaian ganti dan handuknya.
“Berhenti!”
“Minggir, Ra. Aku mau mandi,” ujarnya tak lagi menggunakan nada tinggi seperti semalam.
“Plis tanggapi aku, Mas. Dengarkan! Aku hanya minta waktu sebentar saja, SEBENTAR! Tolong luangkan waktumu.” Dara terpaksa menggunakan nada lebih tegas daripada biasanya agar dapat diterima di telinga Chandra. “Aku tidak mau masalah ini sampai berlarut-larut. Kita selesaikan segera. Ini akan menyiksa kita berdua.”
“Tidak usah pakai urat bisa ‘kan?” kata Chandra. “Kamu berbicara dengan suamimu. Bukan dengan kucing jalanan.”
“Jangan sok-sok’an mengajariku bagaimana harus bersikap kepada seorang suami. Itu berlaku kalau suami mau mendengarkan kata istrinya. Sementara kamu tidak!”
Dara sudah mulai menunjukkan kekesalannya. Dia akui bukan wanita yang mempunyai kesabaran luas untuk merima segala jenis persoalan yang bertentangan dengan pikirannya. Dia bukan tipe wanita yang lebih memilih diam setelah diperlakukan kurang menyenangkan.
Dara sengaja tidur di kerasnya permukaan lantai, menahan diri dari dinginnya angin malam demi menunjukkan kesungguh-sungguhannya menyikapi masalah ini dan ingin segera memperbaikinya. Bukan sikap dan tanggapan seperti ini yang ingin Dara lihat—sama sekali bukan. Setidaknya, Chandra tunjukkan sedikit saja rasa kepeduliannya sebagai seorang suami yang katanya berperan menjadi pelindung dan penanggung jawab.
“Apa hanya sebatas ini ukuran cintamu? Hanya karena aku tidak perawan, lantas kamu tidak menginginkanku lagi?” tanya Dara dengan suara nyaring, untuk membukakan mata lelaki bodoh di depannya itu. “Tidak ada wanita yang menginginkan dirinya diper kosa, Mas! Kecuali kalau wanita itu memang sudah gila!”
Helaan napas terdengar dari bibir Chandra sebelum ia akhirnya mengatakan uraian panjang. “Apa pun yang kamu bicarakan tidak akan pernah bisa mengembalikan semua yang telah terjadi, Dara. Mengertilah! Ini bukan soal perkara perawan atau tidak perawan. Aku ini sedang kecewa, dan untuk menyembuhkannya aku butuh waktu yang tidak sebentar. Aku juga bukan orang gila yang marah tanpa alasan. Justru aku bisa dikatakan gila kalau tidak marah denganmu. Aku seperti ini karenamu, karena aku mencintaimu!” jelas Chandra panjang lebar. Ada jeda sesaat sebelum dia kembali berujar, “Telah banyak waktu yang aku korbankan untuk menunggumu, siapa pun pasti kecewa kalau apa yang seharusnya menjadi haknya terlebih dahulu direnggut oleh orang lain. Belum lagi mungkin getah yang nanti aku terima dari perbuatan bejat ini, kau paham?”
__ADS_1
***
Bersambung.