Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Belanja Keperluan Bumil


__ADS_3

Setelah menutup panggilan teleponnya, Dara menyegerakan diri untuk membersihkan diri dengan merendam dirinya di dalam bath up. Sebuah fasilitas tersedia yang jarang ia nikmati sebelumnya.


“Ternyata enak juga jadi istri orang kaya,” gumamnya. “Bagaimana kalau aku masih jadi istri Chandra, pasti aku tak seenak ini.”


Namun mengingat nama itu membuatnya kembali teringat sosok Chandra yang pernah ia miliki selama tiga tahun lebih. Selama ini Dara tidak pernah menduga bahwa Chandra bisa menjadi pria yang sedemikian rusak. Tiga tahun lebih bersamanya memang selalu ada riak-riak kecil dalam hubungan mereka berdua, namun tak sedikit pun Dara mengetahui lebih tentang apa-apa kebiasaannya. Dia hanya berusaha saling mempercayai, itu saja. Apa mungkin dirinya sajalah yang terlalu polos, atau tidak peka, seperti apa yang dikatakan Alif padanya?


Sejenak ia memikirkan bagaimana nasib istri-istri Chandra. Kasihan juga mereka, pikirnya. Sebab masuknya merek ke dalam kehidupan Chandra adalah karena lelakinya yang mengizinkannya membuka pintu. Kalau tidak—mereka tidak akan masuk. Semua kekeliruan tidak akan pernah terjadi.


Usai mandi, Dara mengganti pakaiannya dengan home dress bertali spageti berwarna pink selutut. Semenjak menikah dengan Alif, entah mengapa dia gemar mengoleksi baju-baju minim bahan seperti ini. Pria itu selalu memujinya dan memuat dia yang sebelumnya pemalu menjadi lebih percaya diri.


Ponsel berbunyi, membuat Dara mencukupkan kegiatannya merias diri dan segera mengambil ponsel.


“Aku ada di depan, tolong bukakan pintu,” pesan dari Alif.


“Loh, Alif sudah pulang?” Dara heran kenapa dia sampai tak mendengar suara mobilnya sama sekali. Tiba di pintu, Dara langsung menemukan pria itu tersenyum.


“Selamat sore Cutie.”


“Maaf, Lif ... suara mobilmu tak terdengar sampai ke dalam.”


“Tak apa ...” Alif masuk dengan merangkul istrinya ke dalam.


“Aku lagi mandi tadi jadi pintunya aku kunci.”


“Bagus, jangan sampai teledor kalau soal ini.” Alif mengecup rambut wangi Dara dan secara tiba-tiba dengan sekali sentak, pria itu menarik Dara ke arah sofa dan mendudukkan ke pangkuannya. “Katanya kangen.”


“Apa harus di sini?” tanya Dara tak setuju.


“Aku sudah pernah bilang, aku bisa melakukannya di mana pun.”


“Aku malu ....”


“Mulai sekarang di biasakan. Kita di rumah bukan di tempat umum.”


Kecupan bertubi-tubi melayang di bibir Dara membuat wanita itu terengah-engah dan kepayahan. Dan kali ini, Dara harus mengenyahkan rasa malu, sebab Alif sudah menurunkan pakaiannya di ruang tamu. Hal yang tidak pernah mereka lakukan selain di kamar mereka. Kini tubuhnya mengejang saat Alif men cumbu dadanya dan memainkannya sangat liar. Membuat Dara berkali-kali mele nguh dan pasrah saat tubuhnya bergetar karena belaian.


“Kenapa?” tanya Alif setelah beberapa saat kemudian. Dia mengira bahwa Dara sudah tak lagi dapat menahannya lebih lama. Dara terdiam dengan roman wajah yang tentu saja sangat menginginkan lebih.


“Lif ... apakah mesum adalah nama tengahmu?”


Alif tertawa pelan.


“Kamu yang membuatnya seperti ini ....”


“Seperti apa?” godaanya.

__ADS_1


“Jangan pura-pura tidak tahu,” Dara menjawab.


“Tergila-gila dengan sentuhanku?” Alif memperjelas membuat wanita itu mengangguk. “Bilang kamu mencintaiku,” titahnya. “Aku mau dengar.”


“I love you.”


Alif kembali mere mas dadanya dengan sangat gemas. Namun beberapa saat kemudian, Dara kembali berprotes saat Alif membenahi pakaiannya lagi. “Kenapa berhenti?”


“Tapi sayangnya aku belum mandi, jadi aku harus mandi dulu.”


“Beraninya kamu memulai, tapi tidak mau mengakhiri, dasar suami durjana!” kali ini Dara yang bersungut-sungut kesal.


“Akan aku lanjutkan nanti setelah aku bersih,” balas Alif dengan seringaian senyum. Dia merasa menjadi lelaki yang paling beruntung di dunia ini bisa memiliki Dara dan memenangkan hatinya. Kini wanita itu tak bisa lepas dari dirinya lagi.


***


Alif dan Dara baru saja keluar dari rumah sakit. Keduanya tersenyum lebar pada saat melihat hasil USG anak mereka yang ternyata sudah berkembang dengan baik. Janin sudah mulai terbentuk bagian-bagian tubuhnya meskipun masih sangat kecil. Berdasarkan penjelasan dokter barusan, Baby Cil masih berukuran sebuah ceri. Sungguh. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari sebuah pasangan ketika mereka memiliki buah hati.


“Aku sudah tenang,” kata Dara kepada lelaki yang ada di sampingnya. “Anak kita baik-baik saja. Tapi lain kali frekuensinya dikurangi lagi ya.”


“Tidak bisa janji.”


“Kenapa begitu?”


Namun Alif memilih untuk tak mengindahkannya. “Kita tinggal berangkat besok,” Alif menanggapi. “Apa yang belum kamu persiapkan?”


Alif menunjukkan kursi yang tak jauh dari mereka. Baru saja jalan sedikit, dara sudah mengeluh. “Apa kamu perlu kursi roda?”


“Untuk apa? Aku bukan orang sakit. Malu kalau pakai itu.” Dara kembali memikirkan apa-apa saja yang belum ia persiapkan.


“Perbanyak membawa pakaian hangat.”


“Aku tidak punya banyak pakaian hangat di sini. Semua ditinggal di rumah Ibu.”


“Mau beli dulu?”


“Apa tidak bisa ambil saja di sana?”


“Jangan konyol, Ra?” kata Alif tak habis pikir. “Mana mungkin kita berangkat menunggu pakaian hangatmu sampai di sini. Memangnya dari sini ke Pluit, dekat. Rumahmu ada di pelosok, sampai di sini paling cepat tiga atau empat hari. Lagi pula aku bisa membelikannya yang baru. Sebanyak apa pun kamu mau.” Alif menggelengkan kepala mendengar sang istri yang masih saja perhitungan.


“Kalau kamu mengingatkanku dari kemarin, aku sudah minta tolong sama Ibu untuk mengirimkannya.”


“Jangan merepotkan orang tua. Tinggal beli saja.” Alif mengulang. Gemas dengan tingkah laku istrinya yang aneh ini. Benar-benar betina lain.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Mall untuk berbelanja. Dan pada saat mereka tiba di sana, Alif memaksanya untuk naik ke kursi roda agar wanita itu tak merasa kelelahan.

__ADS_1


“Aku malu, Lif. Aku malu. Aku bisa jalan sendiri, ya?” tolak Dara lembut.


Alif menggeleng, ia telah membawakan kursi rodanya dari bagian informasi. Di sana memang disediakan khusus untuk disabilitas. “Duduk di sini, Ra.” sambil menggerakkan tangannya.


“Aku bukan disabilitas, Alif,” Dara tetap menolak, "tidak mau.”


“Tapi kamu wanita hamil. Jangan ambil risiko. Ayo, jangan membantah. Jangan pikirkan kamu sendiri. Ada nyawa lain yang harus kamu jaga. Kasihan Baby Cil.”


“Ya sudah,” kata Dara setelah terdiam beberapa lama. Melihat ketegasan suaminya membuat Dara tak bisa membantah. Dia duduk di kursi roda dengan menahan perasaan yang sangat malu. Namun mungkin orang-orang akan tahu sebab dirinya sudah menggunakan dress hamil yang berbahan longgar di bagian perutnya.


“Aku malu ....”


“Untuk apa malu? Kita langsung ke outlet pakaian, sekalian kamu beli dress lagi buat beberapa bulan ke depan.”


“Oh, iya. Aku belum pernah memikirkan itu sebelumnya. Apa kita akan membeli pakaian untuk Baby Cil juga?”


“Kalau untuk itu nanti saja, kita bisa balik lagi nanti. Yang penting kamu dulu.”


Mereka masuk ke dalam toko pakaian dan mulai memilah-memilih, hingga tak terasa keranjang yang mereka bawa sudah penuh. Mungkin karena hamil, Dara gampang tertarik dengan segala sesuatu, terutama dengan warna cerah. Sehingga wanita itu langsung menunjuk-nunjuk dan meminta Alif memasukkannya ke dalam keranjang. Tanpa takut berapa tagihan yang harus suaminya bayar.


“Ini bagus, ini juga bagus,” gumam Dara mencocokkan syal ke lehernya. “Ambil dua-duanya boleh?” wanita itu menatap Alif dengan senyum menggemaskan.


“Hmmm.”


'Katanya menolak belanja, tiba di sini kamu menguras uangku. Oh ... burung Dara.'


“Kamu mau beli apa, masa cuma aku?”


“Aku belum butuh. Pakaianku masih banyak.”


“Loh? Alif, Dara?”


Mendengar seseorang memanggil membuat keduanya sontak menoleh.


“Kalian belanja di sini?” tanyanya lagi. “Kenapa kalian jalan berdua? Apa kalian sudah saling mengenal?”


“Kami sudah menikah,” jawab Alif tegas. Wanita ini adalah mantan Alif yang dahulu pernah tinggal bersebelahan dengan kontrakan Dara. Andari Pangesti. Alif sendiri sering memanggilnya Esti.


***


Bersambung.


Gak ada lakor2an di sini yah. Aku hanya memunculkan untuk riak-riak aja. aku tekankan lagi, Alif itu cinta mati sama Dara.


Jadi tenang, pemirsa. Namanya juga novel gak berasa seru kalau lempeng2 terus.

__ADS_1


Happy reading.


__ADS_2