
Dara terkejut pada saat dia mendapati bangun di tempat yang berbeda. Namun ia segera dapat memahami ketika merasa ada sesuatu yang berat di pangkuannya. Yakni kepala Alif yang masih ada di sana dengan mata yang juga sama-sama tertutup.
“Kita sama-sama ketiduran, ya?” dia bergumam. “Pantas kakiku terasa kebas. Ternyata dia tidur di sini dari tadi.” bahkan sangat pulas, pikirnya.
Drrrt drrrt ....
Terdengar suara ponsel bergetar membuat Dara mencari di mana sumbernya berasal. Hingga tak butuh lama dia menemukan ponsel itu yang ternyata berasal dari dalam tasnya sendiri. Tapi yang membuatnya susah bergerak adalah kepala ini.
“Alif ... aku mau mengangkat telepon,” ujarnya pelan agar dia tak tersentak. “Pindah dulu, ya.”
Alif hanya berdehem, kemudian berganti posisi menjadi duduk dengan kepala bersandar ke sofa.
“Ya, Bu?” kata Dara ke seberang.
“Ada di mana kamu, Nduk? Sudah mau maghrib kamu belum juga pulang. Kamu itu calon pengantin. Seharusnya kamu itu di pingit, bukan malah keluyuran.”
Dara tersenyum getir. Bagaimana cara dia menyampaikan hal ini agar diterima dengan lapang di hati ibunya?
“Nduk?”
“I-iya.”
“Ibu kira teleponnya mati, tadi. Ya, sudah, cepat pulang, ya? Ibu tunggu di rumah.”
“Iya, Bu. Dara secepatnya pulang.”
Usai panggilan ditutup, dia memandangi Alif yang masih dalam keadaan bingung. Kemungkinan dia masih mengumpulkan kesadarannya.
“Kenapa?” Alif bertanya.
“Aku disuruh pulang,” jawab Dara.
“Mau aku antar?”
“Terus motorku gimana? Aku kan bawa motor.”
“Gampang,” Alif menjawab seraya beranjak menuju ke wastafel untuk membasuh wajahnya.
Dara mengikuti di belakangnya. “Lif ... boleh minta pendapat?”
“Apa?”
“Menurutmu, bagaimana cara menyampaikannya ke ibu?” ucap Dara. "Maksudku yang tadi kamu bilang ..." dia memperjelas.
Alif menoleh dan mencium Dara secara tiba-tiba yang sontak membuat wanita itu agak tersentak. “Aku yang akan menjelaskannya nanti.”
“Izh, bikin kaget, tahu!” tapi lagi-lagi Alif menyerbunya dengan kecupan bertubi-tubi seperti orang yang tengah kelaparan. Kendatipun Dara menolak dan menjauhkan wajahnya, namun Alif tetap memaksa dan malah justru semakin menyerang. Dara yakin bahwa pria itu bersedia melahapnya saat itu juga jika saja tak terdengar motor berisik Jack berhenti di depan rumah.
“Awas aargh!” lantaran kesal, akhirnya Dara terpaksa menggigit bibirnya dan membuat pria itu mengaduh cukup keras.
"Duh, sakit, sakit!" Alif berusaha menyelamatkan diri.
“Nah, rasakanlah akibatnya!”
__ADS_1
“Kamu itu bikin candu. Bikin aku terDara-Dara,” Alif mengaku.
“Dasar tukang bual.”
“Hei, sedang apa kalian berdua?” tanya Jack ketika sudah masuk ke dalam ruangan. “Jangan-jangan ....”
“Jangan-jangan apa?” Alif mendelik sebal.
“Belum waktunya saudara-saudaraku. Nanti dosa. Nanti bisa masuk neraka. Di neraka itu kalian nanti bisa di siksa, di setrika, dipanggang bolak-balik.”
“Jarkoni,” Alif menanggapi.
“Apa itu?”
“Bisa mengajar tapi tidak bisa melakoni.”
“Damned!” Jack merasa tersindir.
"Sederhananya diam adalah sikap yang paling baik," kata Alif.
"Alif mesum!"
Namun Alif mengajak calon istrinya keluar, “Ayo. Jangan dengarkan dia.”
Dara melambaikan tangan, “Dadah Jack ... aku tinggal dulu, ya.”
“Awas bunting sebelum waktunya, Dar!” Jack memperingatkan sebelum mereka benar-benar pergi. “Alif itu mesumnya tak tertolong.”
“Sat!” umpat Jack.
“Cuci sepatumu yang busuk itu!”
Dara tertawa geli. “Pantas saja aku merasa ada yang bau semenjak Jack datang. Ternyata bau kapal.”
“Masuk ke mobil,” titah Alif.
“Tapi motorku gimana? Siapa yang mengantar?” dia masih saja memikirkan kuda besinya yang nasibnya masih kurang jelas.
“Motor butut begitu saja kamu khawatirkan. Tidak akan ada yang mau memungutnya biar kamu buang ke sawah pun.”
“Biar begini blackly bisa mengantarkanku ke Pasar, Lif. Dara memang menamakan motornya si blackly. “Kita pulang saja pakai ini,” Dara memutuskan. “Come on!”
“Ya sudah kalau itu maumu.” Akhirnya Alif mengalah dan menyetujui naik blackly. Mereka berboncengan membelah jalanan yang sudah hampir petang. Di perjalanan mereka kembali bersenandung seperti saat di rumah sakit waktu lalu.
***
“Akhirnya sampai juga,” ucap Dara ketika mereka sudah sampai di depan rumah.
Keduanya masuk ke dalam setelah terlebih dahulu mengucapkan salam.
Di sana, Dara mendapati saudaranya sudah berdatangan yakni Pakde, Bude serta anak-anaknya sedang bercakap-cakap seraya sibuk melakukan persiapan. Mulai dari membereskan ruangan (mengaturnya agar tertata seperti meja untuk akad), kemudian ada yang masak-masak, menata perabotan, prasmanan, serta-merta mengecek pengeras suara yang akan digunakan untuk besok.
Karena kabar yang mereka dapatkan, Alif akan membawa sedikitnya tak kurang dari tiga puluh orang, mereka bahkan sampai menyewa tenda yang dipasang di depan rumah. Agar tempatnya lebih memadai.
__ADS_1
“Oh, ini calonmu, Ra?” tanya Bude Naima kepada pria yang baru saja dibawanya pulang.
“Iya, ini yang namanya Alif, Bude,” jawab Dara memperkenalkan calonnya.
Alif mengulurkan tangannya dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Terang saja dia merasa agak risik, sebab wanita yang Dara panggil Bude itu melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Yang ini malah lebih oke daripada yang kemarin, Dar. Koyo bintang iklan elemen. Di mana kamu mencarinya, Dar? Ada tak, yang seperti ini buat Haliza?” ucap Bude Naima memberondong. Haliza adalah anak perempuan satu-satunya yang terakhir dari ketiga bersaudara.
“Ya ampun Bude, Haliza bukannya masih SMA?”
“Tapi kalau ketemu yang begini mau langsung Bude kawinkan saja, takut diambil orang,” tatkala berucap demikian, mata Bude Naima tak bisa lepas memandang Alif, sehingga pria itu nampak semakin geli.
“Izh, Bude, memang aneh. Orang anaknya lagi sekolah malah disuruh kawin.”
“Eh, kamu sudah pulang, Nduk?” kata Ibu Ratna dari arah belakang sembari membawa seloyang kue basah untuk diletakkan ke meja besar.
“Iya, tadi ke rumah Alif karena ....” namun tiba-tiba Alif menginjak kakinya tanpa mereka sadari sehingga Dara sontak menghentikan ucapannya barusan.
“Ada yang kami bahas mengenai acara besok,” Alif melanjutkan. Setelah melihat semangat mereka, tiba-tiba dia merasa tak tega jika harus mematahkan hati keluarga Dara yang sudah mempersiapkan segala rupa acara ini.
“Oh, begitu,” kata Ibu selanjutnya. “Ya sudah, Ibu mau ke rumah Pak RT dulu. Mau minta izin sekaligus mengundang beliau supaya hadir besok.”
Setelah Ibu berlalu, Alif langsung mengajak Dara ke depan. Ke tempat yang jauh dari orang-orang.
“Ada apa, Lif? Padahal tadi aku sudah mau menjelaskan. Tetapi kenapa kamu malah menginjakkan kakiku?” tanya Dara agak keras sehingga Alif kembali menginjak kakinya. “Kenapa kakiku malah diinjak lagi?” sentak Dara berang.
“Tolong kecilkan suaramu. Aku mengajakmu ke sini karena ada yang ingin aku sampaikan dan tidak ingin orang lain dengar.”
“Apa?”
“Kita akan tetap menikah besok.”
“Ha? Serius?” kembali suara Dara meninggi.
“Kecilkan dulu suaramu burung Dara ...,” kata Alif pelan dan berusaha untuk sabar.
“Izh, jahatnya.” sesaat terlihat bibir Dara maju satu cm. “Tapi aku senang, ding. Kalau kamu berubah pikiran.”
“Setelah melihat ke dalam, membuatku berpikir lagi,” ujar Alif. "Tidak tega membuat keluargamu kecewa. Padahal aku yang berjanji."
“Wah, berarti ada untungnya juga ya, aku membawamu pulang,” ujar Dara sangat senang.
“Aku langsung pulang setelah ini.” Alif mendekatkan wajahnya ke telinga. “Jangan lupa persiapkan jatah malam yang paling spesial untukku besok. Paling spesial.”
Dara tersenyum membayangkan malam spesial yang akan terjadi. Bersama Alif, pasti sangat menyenangkan!
“Jangan khawatir,” Dara berujar yang disertai dengan kedipan mata sebelah.
***
Bersambung.
__ADS_1