
“Mama, aku mau puyang,” rengek Umar dan juga Mauza kepada Vita.
“Aku juda, mau puyang.”
Mauza ada di depan dada, sedangkan Umar berada di punggung. Memaksa Mamanya untuk bangkit karena sudah terlalu lama mereka duduk. Sementara Rayyan sendiri sedang berada di pangkuan Papanya, fokus mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh Sang Ustaz.
“Ada apa, sih ribut terus tidak enak dilihat sama orang,” bisik Yudha kepada istrinya.
“Ini anakmu minta pulang. Mereka bosan duduk terlalu lama. Lagi pula ini sudah waktunya tidur siang.”
“Ya, sudah, kita balik ke rumahnya Alif,” kata Yudha memutuskan. Mereka terlebih dahulu pamit ke Tuan rumah termasuk Dara yang saat ini sedang mengobrol bersama saudara-saudaranya.
“Umi mau sekalian pulang?” Yudha bertanya karena kondisi uminya belum terlalu baik.
“Sebentar lagi,” jawab Umi Ros. “Umi masih betah mengobrol sama besan. Biar nanti Umi pulang sama Abah saja.”
“Ok, kami pulang dulu ya, Mi.”
“Iya, Nak ....”
“Loh, kok pulang?” tanya Dharma, (Pakde Dara) ketika mendapati Yudha dan anak-anaknya pergi meninggalkan lokasi.
“Anak-anaknya rewel, Pak,” jawab Abah Haikal. “Sepertinya mereka sudah capek dan mengantuk. Maklum, semalam menempuh perjalanan cukup jauh.”
“Oalah, ya pantas,” Pakde Dharma menanggapi. “Tapi anak jaman sekarang jodohnya memang jauh-jauh ya, Pak.”
“Benar Pak Dharma,” Abah setuju dengan perkataan beliau barusan. “Anak saya saja yang pertama tinggal berapa tahun di pesantren, S1 di Yaman, juga sering bolak-balik ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Padahal Jakarta itu sangat luas. Banyak penghuni wanitanya di sana. Tapi tahu-tahu malah bawa pulang istri dari pelosok. Kebun salak.”
Semua orang yang ada di ruangan itu seketika tergelak mendengar cerita Abah Haikal.
“Ini yang kedua juga,” Umi Ros menyahut.
“Jodoh mana ada yang tahu, ya, Um,” timpal Bu Ratna.
Abah kembali berujar, “Tapi bagi kami dari mana pun tidak masalah. Asalkan anak kami bahagia.”
“Betul, Pak. Masalah keterbatasan bisa dicari, masalah kekurangan bisa dipenuhi. Apa pun anggapan dari orang-orang—tergantung dari bagaimana cara kita menyikapi. Saya rasa, terlalu mengikut campuri urusan anak; apalagi yang berhubungan dengan jodohnya, juga tidak terlalu baik. Ini sudah sering terjadi di sekitar kita, banyak contohnya,” seperti keponakan saya sendiri, batin Pakde Dharma melanjutkan. “Saya juga seperti Pak Haikal, membebaskan anak-anak saya berjodoh dengan siapa pun, asalkan seiman.”
Tatkala Pakde berucap demikian, Hilman yang juga ada di sana, bergerak meminta istrinya untuk mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah. Sudah dapat dipastikan bahwa beliau merasa tersindir dengan ucapan kakaknya.
“Omong-omong, ini anak-anak kita bertemu di mana, Pak, Bu?” kembali Pakde bertanya.
“Katanya sih teman lama,” jawab Abah Haikal, “mungkin belakangan ini mereka bertemu lagi lalu kemudian dekat dan merasa cocok.”
Sementara yang diceritakan itu sendiri sedang memisahkan diri suap-suapan makanan di pojok. Merasa kelaparan karena semenjak pagi mereka belum menelan nasi sedikit pun.
__ADS_1
“Ini ayam bakanya enak, pecalnya juga. Aku suka. Ini pasti buatan Budeku. Kalau dijual di Bistromu pasti laris. Sekalian sama pecalnya,” ujar Dara terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Alif langsung berkomentar. “Bistro itu kantin orang Perancis. Aneh kalau ada menu pecal di sana. Memangnya warung lesehan?”
“Hehe, mana tahu ada orang kaya nyasar mau beli pecal, kan bisa saja,” kata Dara tak mau kalah. “Kita bisa namakan pecal itu Salad of Java. Karena menunya bahasa Inggris, jadi kita bisa menjualnya dengan harga lebih mahal. Kalau biasanya di tukang pecal keliling Cuma delapan ribu, kita bisa jual delapan puluh ribu.”
“Itu lebih ngawur lagi,” kata Alif tak habis pikir.
“Eh, tapi benar, loh. Makanan yang pakai bahasa inggris biasanya lebih mahal. Contohnya, ice tea di tempatmu. Bayangkan, es teh biasa kamu kasih harga tiga puluh ribu. Padahal kalau aku beli di warteg, es teh tiga puluh ribu aku bisa dapat sepuluh gelas. Coba, apa bedanya? Sama-sama es teh kan?” kata Dara panjang lebar.
Belum puas sampai di situ, dia kembali menceritakan, “Ada lagi yang membuatku heran sampai-sampai mataku tidak bisa lepas dari buku menu milikmu, yaitu harga kopi. Mentang-mentang namanya black coffee, harganya jadi empat puluh ribu secangkir. Kalau aku beli di warung Cuma—ya, paling mahal lima ribuanlah. Apa bedanya? Sama-sama kopi hitam. Nasi goreng juga. Nasi goreng di pedagang kaki lima cuma belas ribu, tapi kalau pakai bahasa Inggris; fried rice bisa sampai lima puluh ribu satu piring.”
And then Alif menjelaskan, “Semua kopi yang aku jual itu asli di dapatkan dari produsen, bukan beli sachetan di warung. Ada yang memang sengaja diracik khusus oleh Barista untuk penderita asam lambung supaya lebih nyaman untuk di konsumsi. Tempatnya mewah dan nyaman. Pajaknya, karyawannya juga harus aku bayar. Orang nongkrong bisa berjam-jam di sana, bahkan ada yang sampai hampir menginap. Lantas kalau aku patok harga kopi lima ribu, nanti bagaimana cara mengatur perputaran bujetnya?”
“Iya aku tahu. Cuma merasa aneh saja, Lif. Makanya tak heran kalau wisatawan suka berlibur ke Indo, soalnya murah meriah. Berbanding terbalik kalau kita ke luar sana.”
“Tergantung ke negara mananya,” Alif menanggapi.
Beberapa jam berlalu, akhirnya acara pun selesai. Umi Ros dan Abah sudah pulang ke rumah Alif untuk beristirahat sejenak sebelum nanti malam kembali ke Jakarta. Mereka tidak bisa terlalu lama di sini, sebab mereka membawa banyak keluarga yang juga sama-sama mempunyai banyak urusan.
Kini malam itu telah tiba, Alif dan Dara menuju ke rumah sewa agar bisa melihat mereka sebelum kembali pulang.
“Kalian cepat menyusul, ya. Umi tunggu di rumah,” ucap Umi yang kini sudah berada satu mobil dengan Abah.
“Iya, nanti kita ke sana segera,” jawab Alif dan Dara mencium tangan Uminya secara bergantian.
“Om, Om! Ayo puyang!” ajak Umar dan juga Mauza.
“Nanti Om pulang sama Onti D,” Vita menjawabi ucapan anak-anaknya. “Mulai sekarang panggilnya Onti D, ya.”
“Onti ...,” panggil Mauza melambaikan tangannya minta digapai.
Dara menjembil pipi Mauza yang gembung itu sembari berujar, “Manjanya keponakan Onti ini. Ini juga,” bergantian dengan yang satunya lagi, Umar. Tidak mau dianggap pilih kasih, Dara menuju ke keponakan satunya lagi yang selalu menempel di tubuh papanya, yakni Rayyan, “Dadah Rayyan, rajin belajar, ya. Biar jadi anak yang pintar.”
“Thank you Onti D,” jawabnya sangat santun.
“Anak soleh ....”
“Selamat ya, Dar,” Vita tersenyum penuh arti. “Semoga cepat menyusul, seperti aku,” sambil mengelus-elus perutnya.
“Izh, mamak-mamak yang satu ini. Rempong! Banyak anak banyak rezeki ya, Mas?” sindirnya pada Yudha.
Namun lagi-lagi pria itu menjawab, “Tidak sengaja itu.”
“Tidak sengaja-tidak sengaja dari Hongkong,” Alif menyahut yang kemudian ditanggapi dengan kekehan abangnya.
__ADS_1
“Ok, kami pulang, ya. Selamat bulan madu,” kata Yudha memohon diri.
“Dara aku pulang, ya! Cepat menyusul kami ke rumah baru. Biar kita bisa sering ketemu,” kata Vita setengah teriak.
Alif berdecak. “Ketemu iya, merumpi juga iya.”
“Hahaaa ketebak sudah rahasia kita, Ta.”
“Perempuan sama perempuan kalau sudah bertemu sudah pasti gosip.”
Vita dan Dara semakin tergelak.
“Apalah pekerjaan kita, Lif. Kita ini Ibu-ibu yang penat sama segudang urusan rumah. Kalau ada teman ya gunakan kesempatan saling berbagi biar tidak terlalu bunek. Iya kan, Dar?”
Dara segera menjawab, “Benarlah ... makanya usia perempuan itu lebih panjang dari laki-laki. Soalnya perempuan lebih sering mengeluarkan unek-uneknya daripada laki-laki yang cenderung lebih suka memendam perasaan.” Dara menoleh ke samping, ternyata di sana Alif sedang menatap tajam ke arahnya sehingga membuat Dara tergelak. “Hahaaa, tersindir, Mas? Butuh kipas? Sini aku tiup-tiup.”
"Itu-itu saja yang kamu bahas," Alif mendumel sebal.
“Yuk kita jalan, yuk!” ajak Yudha karena roda mobil di depannya sudah mulai bergeser sedikit demi sedikit. “Pulang dulu ya, Lif, Ra. Semoga bahagia selalu.”
“Aamiin, aamiin. Thankyou, Mas Yud,” Dara menjawab.
“Dadah sama Onti, Nak,” ucap Vita kepada anak-anaknya.
“Dadah! Onti, Dadah!” semua bocah-bocah kecil itu melambaikan tangannya. Mereka masih menoleh sebelum akhirnya mobil menjauh dan mendekati gerbang.
Kini tinggallah mereka berdua. Mereka berangkulan masuk ke dalam rumah.
“Pasti aku di usir,” ujar Jack sadar diri. Kedatangan mereka membuat keberadaan pria yang sedang makan itu merasa sangat terancam. Dan celakanya, Alif memang benar-benar mengusirnya.
“Kamar di rumah Dara sempit. Kamar mandinya juga di luar,” Alif memberi isyarat. “Jadi kamu saja yang pergi.”
“Ya Tuhan ... sudah aku duga sebelumnya.” Jack membuka mulutnya lebar-lebar untuk memasukkan popcorn sekaligus banyak ke dalam mulutnya karena merasa geram.
“Kamu bisa menginap di ruang kantorku. Tapi jangan nge-vape di sana.”
“Maaf ya, Jack,” ucap Dara sambil tertawa.
“Kamu makan dulu yang banyak! Biar kuat menghadapi kenyataan!” jawab Jack sambil melintas. Sembari keluar pria itu masih terdengar menggerutu. “Inilah yang dinamakan keluarga sakinah, wagempur, wagaspol. Sakinah, wagempur, wagaspol.”
Mereka menunggu motor berisik Jack menjauh sebelum akhirnya keduanya bebas saling mencolek.
***
Bersambung.
__ADS_1
Mau lanjut MP, sila komentar👇