Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Apa Kalian Berniat Pindah?


__ADS_3

Dara dan Alif meletakkan semua barang-barangnya ke dalam minicamp yang hanya cukup ditempati mereka berdua tersebut. Tempatnya benar-benar pas. Di dalamnya hanya terdapat satu ranjang king size dan satu lemari penyimpanan barang. Ada pun sedikit sisa celah, namun hanya cukup untuk beribadah dan menyimpan barang-barangnya saja.


Hari masih sore, namun mereka sudah tidak bisa menemui matahari, sebab langit sedang mendung. Tertutup seluruhnya. Andai langit cerah pada saat ini, pasti mereka menemui indahnya langit senja di perkebunan teh.


'Sayang sekali.'


“Ini kita mandinya di luar loh, Ra,” kata Alif memberitahu. “Jadi kalau kamu mandi, usahakan bangun paling pagi. Atau kalau tidak, kita mandi paling siang.” Alif mengingatkan demikian karena tidak mau istrinya mengantre.


“Its okay,” jawab Dara. Wanita itu sedang sibuk mengeluarkan pakaiannya untuk mandi sore ini.


"Wastafel juga jauh. Payah."


“Kalau ada bath up, aku mau berendam. Pasti hangat, enak.”


“Di sini hanya ada water heater,” Alif menanggapi. “Sebaiknya mandi besok saja, kita baru sampai.”


“Memangnya kenapa?” tanya Dara.


“Nanti kamu bisa kedinginan lagi, Sayangku,” jawab Alif menyambar bibirnya dengan gemas hingga sampai berbunyi decakan.


Dara berusaha menjauhkan bibirnya dari serangan maut. Dia benar-benar tidak tahu kondisi. “Alif ... stop it!”


“Pindah yuk ah!”


“Alif ...,” ucap Dara lagi menatapnya penuh peringatan. “Aku tahu kamu kurang nyaman. Tapi kesannya jadi kurang baik kalau kita pindah. Mereka bisa mengira kita tidak mau menghargai mereka.”


‘Salah sendiri mengajakku ke tempat seperti ini. Dia sendiri pasti juga sedang menyesal,’ batin Alif.


“Parahnya, mereka bisa tersinggung. Nah, ini paling gawat,” lanjut Dara lagi. "Hubungan kita malah jadi kurang baik."


“Hanya untuk tidur saja, Ra. Kamar kita tidak ada pintunya. Kamu jangan berpikir aku jorok atau seperti apa. Untuk menyimpan barang pun aku merasa tidak aman.”


“Sebaiknya kalau ada barang berharga, kamu titipkan saja ke bagian dalam, Lif,” Dar mencoba memberikan opsi lain.


Akhirnya Alif terpaksa mengalah demi istrinya.


Sementara di minicamp sebelah, Anak kembar pasangan Yudha dan Vita sedang meloncat-loncat riang di atas ranjang. Mereka begitu senang karena menganggap tempat ini adalah rumah bermain khusus untuk anak-anak.


“Papa ... Moja mau bikin lumah-lumahan kaya gini ya,” pinta Mauza.


“Boleh ...,” jawab Yudha yang tengah mengawasi ketiganya.


“Bolah-boleh, bolah-boleh. Nanti setelah kita sampai, aku yang pusing ditagih sama mereka loh, Mas!” gerutu Vita. Bukan hanya sekali-dua kali, Yudha sering demikian; menabur janji kepada anak-anak namun lupa untuk memenuhinya karena kesibukannya.


“Awas loh, jangan Cuma janji-jani melulu,” ancam wanita itu.

__ADS_1


Yudha menoleh dan tersenyum menyebalkan seperti biasanya, “Iya, iya ... memangnya kapan aku bohong?”


“Memang akhirnya ditepati, tapi kan lama, menunggu bibirku dower dulu.”


“Aku suka bibirmu dower, jadi kelihatan seksi.”


“Izh, percuma ngomong sama Papa, Nak,” ucap Vita sembari memeluk Umar yang sudah mulai lelah dan mengantuk. “Kakak ngantuk, ya?”


“Umal mau bobo ...,” pintanya mendongak menatap Mamanya dengan wajah memelas.


“Iya kita bobo, ya.” Vita mengajak Umar untuk berbaring ke tengah. Terlebih dahulu dia membuatkannua susu, kemudian menyelimuti Umar dan mengusap-usapnya pelan sampai mata anak ini terpejam. “Kasihan anak Mama ngantuk ....”


Selama di perjalanan, Umar adalah anak yang paling aktif karena terus berteriak ketika kedua bola matanya mendapati sesuatu yang baru dilihatnya. Merupakan pengalaman yang baru bagi anak kembar itu jalan-jalan ke Puncak.


Setelah lelap, Vita mendekati suami dan putrinya yang pindah di teras.


“Rayyan di tempat Umi ya, Mas?”


“Umi, Abah sama Ratih ke playground. Rayyan mau mandi bola katanya. Mau foto-foto juga Uminya biar bisa posting di grup.”


“Ya ampun, Umi ... Abah ....” Vita geleng-geleng kepala. Ada-ada saja tingkah lucu mereka berdua. Benar-benar masa tua yang bahagia.


Vita ikut duduk di sebelah suaminya. Melihat mereka berdua yang sedang asyik menonton film kartun Nusa.


“Ini kita tidurnya gimana, Mas? Kalau anak-anak ikut semua, pasti tidak akan muat. Aku suka engap. Pegal kalau hanya tidur dengan satu sisi.”


“Mas yakin?”


“Yakin ....”


“Cuuuitt!”


“Apa tuh?” ucap Vita. Sontak ketiganya menoleh ke sebelah kiri begitu mendengar suara cuitan anggota keluarga paling rese. “Oh, si Alif bata.”


“Ada Om sama Onti!” seru Mauza.


"Iya ada Om," Yudha menanggapi.


Alif dan Dara keluar dari huniannya mendekati mereka. Keduanya ikut bergabung dan berdesak-desakan.


“Apa kamu tidak berniat untuk pindah ke Hotel malam nanti?” tanya Yudha kepada adiknya.


“Ya jelaslah,” jawab Alif tak acuh. “Pasti kamu omong seperti ini karena kamu juga demikian.”


Yudha terkekeh dan menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


“Banci!” umpat Alif membuat Yudha semakin tergelak.


“Sepertinya kamu memang sengaja mengerjaiku.”


“Bukan hanya kamu, Lif. Aku juga ... mana aku bisa tidur desak-desakan?” Vita menyahuti. “Tapi ya, sudahlah. Anggap saja kita sedang menyenangkan bocil-bocil, biar mereka semakin banyak pengetahuan dan pengalaman.”


Yudha menyela, “Awalnya tidak bermaksud seperti itu ... aku hanya suka saja sama view-nya setelah melihat postingan di lovagram.”


“Korban iklan ya, Mas,” kata Dara.


“Iya,” jawabnya. “Untuk pengalaman saja ke depannya. Bahwa kita juga pernah ke sini. Lagi pula, ramah juga di kantong. Ke mana lagi ada penginapan murah, enak, cocok untuk healing. Percuma kan, bayar Hotel mahal-mahal tapi pas pulang mengeluh kantong kering. Habis pulang liburan, bukannya senang, kepala malah tambah pusing.”


“Alasan,” sanggah Alif. Seban dia tahu orang ini dompetnya juga tebal. Penghasilan yang di dapatkan ratusan juta perbulan dari berbagai macam usahanya. Kemudian ia beralih kepada Vita, “Mudah-mudahan ke depannya dia tidak mengajakmu menginap di hutan demi alasan murah ya, Vit.”


“Oh, istriku malah senang,” kata Yudha membalasnya dengan candaan. “Tinggal di lubang semut pun dia mau, asalkan berdua sama aku.”


Vita sontak berekspresi ingin muntah. “Konyol. Ssebucin-bucinnya orang, mana mau di ajak tidur di lubang semut. Aku mah ogah!”


Yudha semakin tertawa.


“Ini Cuma ada sebelah, yang satu lagi ke mana, Ta?” tanya Dara bermaksud menanyakan Umar.


“Baru bobo, Ta. Di dalam, tuh.” Sambil menunjukkan bocah tersebut yang tengah lelap. Dan kali ini dia menatap anaknya yang sedang berada di pangkuan papanya. Namun matanya sudah tampak berat. “Ini yang satu lagi juga sepertinya sebentar lagi mau menyusul.”


“Iya, Mauza sudah lima watt. Ngantuk ya, Za?” tanya Dara, “Umi sama Abah, sama Ray ke mana?”


“Mereka lagi ke playground.”


Dara menatap suaminya, “Aku juga mau dong, keliling. Mau lihat sekitar. Pingin juga saya.”


“Jalanlah kalian berdua, mumpung masih belum terlalu sore. Soalnya kurang baik ibu hamil keliaran di waktu maghrib,” kata Vita.


“Kalian sendiri bagaimana? Masa mau di sini terus?”


“Terus cindil kami mau di ke manakan?” Yudha menyahut. “Di tinggal?”


“Ternyata kalian ribet juga,” kata Alif kemudian.


“Jangan bilang begitu, katanya mau punya anak lebih banyak?” bisik Dara hampir tak terdengar.


“Nanti aku pikir-pikir lagi.”


***


To be continued.

__ADS_1


Pemberitahuan. supaya kelen gak kaget, novel ini gak sampai ke bab 80-an yah. aku mang gak bisa bikin novel panjang-panjang. Kalian yang sering ngikutin aku pasti tau dong hehehe...


__ADS_2